Malu terlahir tanpa status? Iya.
Tapi, aku tidak pernah malu terlahir dari rahim perempuan bernama Nimas Ayu. Sosok perempuan cantik mengalami gangguan jiwa yang 18 tahun lalu dihancurkan dan dilecehkan.
Kata-kata itu milik Arundaya Dirandra (Dira). Satu-satunya harapan dari ibu yang dipaksa gila oleh dunia. Dan ketika aib itu dibuka, Dira memilih berdiri. Bukan untuk membantah, melainkan untuk berkata “Aku Bangga Menjadi Putrinya.”
Visual ada di IG author: Cichio23
Bagi yang suka menghayal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cichio23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 Pacar Dadakan
Jam pelajaran yang berlangsung hingga sore. Terasa sangat lama buat Dira. Apalagi saat mengingat ucapan Sisil tadi siang. Tentang status sosial dirinya yang hanya orang rendahan serta kotor.
“Dira,” panggil guru matematika yang sama sekali tidak mengalihkan perhatian perempuan cantik berhijab itu.
“Dira,” panggil guru matematika kembali yang lagi-lagi tidak ditanggapi.
Panggilan beberapa kali guru matematika yang sama sekali tidak ditanggapi Dira. Jelas saja membuat Dira menjadi pusat perhatian semua teman sekelasnya, tanpa terkecuali Faza.
Karena tidak ada tanggapan dari Dira yang hanya diam sambil melamun. Membuat guru matematika memutuskan menghampiri Dira. Mengulurkan tangannya untuk menepuk pundak Dira.
Puk.
“Eh, ada apa, Bu?” tanya Dira cepat dengan menampilkan wajah kaget. Serta pandangan matanya mengawasi sekitar yang saat ini mengawasinya.
“Kamu sakit?” tanya guru matematika khawatir.
“Saya sehat, Bu. Saya baik-baik saja,” jawab Dira memastikan kesehatannya.
“Tapi wajah kamu pucat, Dira. Kamu juga tidak menanggapi panggilan Ibu berulang kali.”
“Maaf, Bu.”
“Apakah ada hal yang kamu pikirkan, hingga tidak mendengar Ibu memanggil?”
“Tidak, Bu. Saya baik-baik saja. Ibu tidak perlu khawatir,” ucap Dira.
“Maafkan saya, Bu. Lain kali tidak akan terjadi lagi,” lanjut Dira.
Jawaban yang diberikan oleh Dira membuat Faza langsung menyunggingkan senyumnya. Sudut bibirnya terangkat sedikit. Lalu menggelengkan kepalanya sebagai reaksi atas penuturan Dira.
“Dasar pembohong amatir! Mencari alasan masuk akal saja tidak bisa,” gumam Faza yang bisa didengar sangat jelas oleh Sisil.
Mendengar ucapan serta tatapan mata Faza kearah Dira. Jelas membuat Sisil mengepalkan tangannya kuat. Hingga kuku-kukunya memutih.
Meskipun saat ini Faza tengah duduk di sampingnya. Namun, tetap saja Dira lah yang menjadi perhatian Faza.
‘Dasar perempuan tidak tahu malu,’ geram Sisil dalam hatinya. Karena tidak mungkin dirinya berkata terang-terangan. Apalagi ada Faza di sampingnya.
‘Dia benar-benar sangat pintar mencari perhatian para laki-laki. Dasar orang miskin menjijikan. Benar-benar harus dikasih pelajaran. Awas kamu,’ batin Sisil tidak menyukai Dira sejak awal kenal.
Mungkin karena kecantikan, kelembutan maupun sikap manis yang dimiliki. Pada awal tahun pelajaran banyak laki-laki tertarik pada Dira.
Namun, karena sikap Dira yang cuek dan tidak pernah menanggapi godaan dari teman sebaya. Membuat para laki-laki itu silih berganti menyerah.
Apalagi saat Sisil mulai memberikan peringatan keras pada Dira. Karena bagi Sisil, hanya dia lah yang pantas menjadi pusat perhatian.
“Dira, pimpin doa pulang.”
“Baik, Bu.”
“Perhatian semua, sebelum pulang mari kita berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Berdoa mulai!”
“Berdoa selesai!”
“Beri salam!”
“Selamat sore, Bu.”
“Selamat sore, sampai ketemu esok hari.”
Setelah kepergian guru matematika, para siswa silih berganti keluar dari kelas. Sedangkan Dira memilih untuk tetap berada di kelas menunggu sampai semua pergi.
Sedangkan Faza juga memilih hal sama seperti Dira lakukan. hal itu tentu membuat Sisil merasa kesal atas tindakan yang dilakukan oleh Dira. Menganggap Dira sengaja mencari perhatian pada Faza.
“Faza, maukah kamu pulang dengan…?”
“Tidak bisa, aku ada keperluan,” potong cepat Faza sambil mencangklong tasnya.
Dengan langkah panjang Faza keluar dari kelas. Meninggalkan Sisil yang tampak sangat kesal. Sebab, rasa penasarannya terhadap Faza masih sangat besar. Karena belum berhasil mendapatkan perhatian laki-laki itu.
“Benar-benar bikin kesal,” gerutu Sisil saat keinginannya tidak terlaksana. Lalu memilih pulang dengan perasaan kesal.
Setelah kelas sudah tampak sepi. Dira baru mengambil tasnya.
Sebelum pulang, seperti biasa terlebih dahulu pergi ke kantin untuk mengambil hasil penjualan nasi uduk beserta gorengan hari ini.
“Neng Dira ini uang nasi bungkusnya. Besok kalau bisa ditambah lagi. Banyak yang suka sama nasi uduk bikinan Mbah Sekar.”
“Baik, Bu. Nanti saya sampaikan ke Mbah.”
Setelah mendapatkan uang hasil penjualan nasi uduk. Dira langsung menuju ke parkiran tempat sepedanya berada.
Dari kejauhan tampak sepeda tua yang rantainya tampak berkarat. Hingga akan terasa berat bila dikayuh.
“Alhamdulillah, nasi uduknya habis. Sepertinya aku harus membeli banyak bahan hari ini. Lumayan hasil penjualan nasi uduk bisa untuk menabung biaya ganti rantai sepeda,” ucap Dira dengan penuh semangat.
Senyum cantik yang selalu menghiasi wajah Dira. Membuat aura yang ditampilkan semakin bertambah.
Meskipun tanpa adanya polesan makeup. Serta ayunan sepeda tua yang sangat jarang ada remaja seusianya mau menggunakan.
“Semangat Dira,” ucap Dira menyemangati dirinya sendiri.
Kriet… kriet!
Dira mengayuh sepeda tuanya menuju ke toko bahan sembako. Lagi dan lagi suara rantai yang terdengar cukup nyaring selalu menemani Dira.
Ceklek.
Setelah menstandarkan sepedanya di samping toko. Dira menuju toko siap untuk berbelanja.
“Mau beli apa, Dira?” tanya ibu penjaga toko saat melihat kedatangan pelanggannya.
“Mau beli beras 6 liter, bihun 5 bungkus, garam 1 bungkus, telur setengah kilogram,...”
“Wah, sepertinya ada pesanan ini,” goda pemilik toko.
“Alhamdulillah, iya, Bu.”
Dira menyebutkan barang-barang yang sekiranya akan dirinya butuhkan untuk pembuatan nasi uduk spesial. Tidak hanya nasi uduk saja. Melainkan bahan pembuatan gorengan sebagai teman makan nasi uduk.
“Total semua belanjaan 120 ribu rupiah.”
“Ini uangnya, Bu.”
“Ibu terima pas dari kamu ya, Dira.”
“Terima kasih banyak, Bu, assalamualaikum.”
“Waalaikumussalam, Dira. Semoga dagangan Mbah Sekar semakin laris manis.”
“Aamiin, terima kasih banyak doanya.”
Setelah mendapatkan bahan sembako. Dira kini beralih untuk membeli tempe, sayuran, maupun bahan masakan lainnya. Setelah dirasa semua bahan yang dibutuhkan sudah didapatkan. Dira langsung pulang menuju ke rumah.
Kriet! Kriet!
“Kenapa hari ini ayunan sepeda terasa semakin berat?” gumam Dira bertanya-tanya.
“Setelah sampai di rumah aku harus mengolesi rantai sepeda ini menggunakan oli. Baru besok setelah pulang sekolah ke bengkel ganti rantai.”
Jelas Dira merasa lebih berat dari biasanya. Selain karena faktor rantai yang sudah kering. Juga disebabkan beban yang dibawa oleh Dira. Membuat peluh keringat terlihat jelas di wajah cantiknya.
TEG!
“Eh, rantainya putus,” keluh Dira kaget sambil terus memperhatikan rantai sepedanya.
“Hurrff! Rumah masih jauh dan bengkel juga tidak terlihat,” keluh Dira sebentar. Lalu kembali tersenyum karena tidak ingin putusnya rantai menjadi beban untuknya.
“Sepertinya aku kurang berolahraga. Mumpung rantainya putus. Jadi, semangat jalan kaki,” ucap Dira menyemangati dirinya sendiri.
Sambil mengawasi sekitar mencari bengkel sepeda. Dira menuntun sepedanya menuju ke arah pulang. Namun, hingga setengah perjalanan Dira belum ketemu dengan bengkel sepeda.
“Seingatku di sekitar tempat ini ada bengkel yang bisa memperbaiki sepeda. Kenapa tiba-tiba aku tidak melihatnya? Apakah aku hanya berimajinasi saja karena kelelahan?” gumam Dira merasa heran atas pandangan matanya sendiri.
“Semoga aku menemukan bengkel itu. Agar sepeda ini bisa digunakan esok hari,” ucap Dira penuh harap.
Tit!
Baru juga Dira menyelesaikan ucapannya. Tiba-tiba terdengar suara klakson dari arah belakang.
Karena menganggap banyak motor yang lalu-lalang membuat Dira tidak menghiraukan suara tersebut. Kembali melangkahkan kakinya sambil mendorong sepeda serta memegangi barang belanjaan.
Tit!
Lagi-lagi Dira tidak menanggapi suara klakson itu. Kembali melangkahkan kakinya mengingat waktu sore sudah mulai berganti dengan langit gelap.
TIT!
Rasa kesal langsung menyelimuti Dira. Senyum dan semangat yang sebelumnya masih menggebu. Kini, hilang karena suara klakson mengganggu.
“Seperti dia satu-satunya orang punya motor di negara ini. Benar-benar tidak sopan klakson berulang kali,” gerutu Dira tanpa sedikit pun menengokkan kepalanya ke sumber suara.
“Benar-benar batu!”
Suara yang terdengar cukup familiar membuat Dira menghentikan langkah kakinya sejenak.
“Seperti kenal suaranya. Seperti suara laki-laki itu. Ah, gak mungkin.”
Dira kembali melangkahkan kakinya. Mencoba membuang pemikiran tentang sosok pemilik suara yang sudah mulai masuk dan menyelimuti pikirannya.
TIIIIIT… TIIIIT!
Suara kencang yang berasal dari motor milik seseorang, langsung menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sekitar tersebut. Membuat salah seorang ibu-ibu paruh baya berinisiatif menghampiri Dira.
“Neng, kalau berantem sama pacarnya jangan dijalan raya! Bikin malu jadi pusat perhatian semua orang yang ada di jalan.”
Ungkapan kekesalan yang diucapkan oleh sosok perempuan paruh baya tentu saja membuat Dira heran. Sehingga pandangannya langsung menengok ke arah belakang.
“Aku antar kamu pulang,” ucap sosok laki-laki dengan helm full face menutupi wajahnya.
“Kamu siapa?” tanya Dira memastikan. Meskipun sosok tersebut memiliki tipe suara tidak asing untuk Dira.
Tapi, tetap saja Dira harus memastikan praduganya. Membuat sosok tersebut harus membuka kaca helmnya.
Sreeet!
“Ini aku,” ucap Faza cepat dengan wajah sedikit kesal.
“Aku bisa pulang sendiri.”
“Neng! Jangan berantem di jalan!” potong ibu paruh baya itu kembali dengan perasaan sedikit kesal. Lalu kembali pergi meninggalkan Dira dan Faza yang kini saling menatap.
“Aku tidak bisa meninggalkan sepedaku disini,” ucap Dira mencoba menolak pertolongan dari Faza.
“Aku yang dorong sampai ke bengkel. Cepat naik!”
“Aku...”
“Cepet naik!” potong Faza cepat.
“Jok motormu terlalu tinggi untukku.”
Badan Dira memang tergolong pendek. Sangat jauh berbeda dengan Faza yang memiliki badan menjulang tinggi. Membuat Faza harus menstandarkan motornya untuk membantu Dira. Karena saat ini Faza menggunakan motor laki-laki
“Mau ngapain kamu?” tanya Dira gugup saat Faza menarik pergelangan tangannya.
“Cepetan naik! Aku akan membantumu.”
“Terus, bagaimana dengan barang belanjaanku?”
“Tinggal dibawa seperti biasa saja. Kenapa dibuat ribet sendiri?” gerutu Faza sambil menstandarkan sepeda Dira.
Setelah memastikan barang belanjaan Dira dirasa sudah aman. Faza kembali menarik Dira.
“Cepat naik! Memangnya kamu mau menjadi pusat perhatian semua orang?”
Dengan perasaan enggan karena belum mengenal baik Faza. Membuat Dira hanya bisa menampilkan wajah cemberut.
“Pegangan!”
“Iya,” jawab kesal Dira.
Setelah Dira sudah dipastikan naik ke jok motor. Kini Faza mengambil barang belanjaan Dira yang tidak sedikit.
“Bawa ini di pangkuanmu!”
“Iya.”
“Pegangan di pundakku!”
“Tidak mau.”
“Terserah kamu saja.”
GREEEENG!
ARGH!
“Jangan seperti itu! Aku mau jatuh,” gerutu Dira saat Faza ngegas motornya lalu ngerem mendadak.
“Makanya pegangan.”
“Tidak mau,” tolak Dira.
“Dasar batu!”
Setelah memastikan Dira sudah dalam keadaan aman beserta barang belanjaannya. Faza mengendarai motornya sambil mendorong sepeda Dira untuk menuju ke bengkel terdekat.
Membuat Faza harus berkonsentrasi karena membawa beban berlebih dengan tangan sebelah mendorong sepeda Dira, tidaklah mudah.
Ternyata suara klakson motor kencang milik Faza. Tidak hanya menjadi pusat perhatian warga sekitar.
Melainkan juga sosok perempuan di dalam mobil mewah. Sosok perempuan yang seharian kesal dengan Dira. Kini semakin bertambah kesal saat melihat secara langsung kedekatan antara Dira dan Faza.
“Dasar perempuan haram tidak tahu malu. Bisa-bisanya menggoda Faza ku. Benar-benar harus dikasih pelajaran biar tidak kecentilan,” geram sosok perempuan di dalam mobil.
“Tunggulah, aku pastikan kamu tidak akan pernah tersenyum lagi,” lanjut sosok tersebut.
Ceritanya keren 👍