Demi cinta, Kataleya rela meninggalkan kokpit dan menyerahkan mimpinya menjadi Kapten Pilot pada suaminya, Arkana. Ia memilih menjadi istri dan ibu, mengorbankan karier yang dulu hampir berada di puncak.
Enam tahun kemudian, pengorbanan itu justru dibalas dengan pengkhianatan. Arkana berselingkuh, menghina penampilan Kataleya, dan menyebutnya wanita yang sudah tak pantas berdiri di sisinya.
Akan tetapi Arkana lupa satu hal, langit itu dulunya milik Leya. Saat wanita itu menuntut cerai dan kembali mengenakan seragam pilotnya, seluruh dunia penerbangan mulai menyadari siapa dia sebenarnya.
Di akademi pilot, ia bertemu Kaisar... pria misterius yang selalu berada di sisinya. Arkana baru sadar terlalu terlambat, wanita yang dulu ia rendahkan kini kembali terbang lebih tinggi darinya. Leya menjadi Kapten Pilot, yang tak akan pernah bisa ia miliki lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 3.
Malam itu, Leya benar-benar pergi. Sebuah koper berisi barang-barangnya ia tarik keluar dari rumah yang selama ini ia tinggali. Di ruang depan, Arkana duduk memperhatikan. Tatapannya dingin saat Leya berjalan melewatinya.
“Leya, kalau kau minta maaf padaku sekarang... Aku akan memaafkanmu.“ Ucap Arkana dengan nada sinis, lalu ia menyandarkan tubuhnya santai, seolah tak terjadi apa-apa. “Setelah itu, kau harus melupakan apa yang kau lihat hari ini. Jadilah istri yang seperti biasanya, tinggal di rumah. Mengurusku dan anak kita. Tahu diri lah sedikit, selama ini kau hidup dari uangku.“
Langkah Leya terhenti, ia terdiam selama beberapa detik. Lalu ia tersenyum penuh ejekan, tatapan tajamnya menembus suaminya. “Kau nggak tau malu! Seharusnya kau lah yang minta maaf padaku. Dan ingat ini baik-baik! Kalau suatu hari nanti kau datang memohon-mohon memintaku kembali padamu... semuanya sudah terlambat!“
Wanita itu pun menarik kopernya dengan punggung tegak, Leya keluar dari rumah itu tanpa menoleh lagi. Ia hanya membawa sebuah koper, tanpa mengambil apapun. Itu hanya sementara, semua yang harus menjadi haknya akan ia ambil nanti di pengadilan. Harta gono-gini dan juga hak asuh anaknya.
Leya sudah memesan mobil online, tak lama kemudian sebuah mobil berhenti di tepi jalan. Ia masuk tanpa banyak bicara, mobil itu melaju meninggalkan rumah.
Di belakangnya, Arkana berdiri dengan kedua tangan mengepal erat. Wajahnya memerah dipenuhi amarah yang sulit ia sembunyikan. Namun di balik itu ada perasaan lain yang muncul tanpa ia mengerti, sebuah perasaan asing yang menyesakkan dadanya. Perasaan itu muncul karena satu hal yang tak ia duga, Leya benar-benar pergi darinya.
“Cih! Dia nggak akan bertahan lama dan pasti akan segera kembali padaku!“ cibir pria itu.
Perjalan Leya tak terlalu jauh, rumah orang tuanya masih berada di kota yang sama. Saat mobil berhenti di depan rumah orang tuanya, malam sudah larut. Wanita itu turun dari mobil, dan berjalan menuju pintu. Belum sempat ia mengetuk, pintu itu sudah terbuka. Ibunya berdiri disana, wanita paruh baya itu tak bertanya apapun karena Leya sudah menjelaskan di telepon.
Ibunya hanya tersenyum lembut, lalu memeluk putrinya erat. “Nak, ini akan selalu jadi rumahmu. Kamu bisa pulang kapan saja.“
Leya hanya memeluk balik ibunya tanpa menjawab. Beberapa detik kemudian, ayahnya datang menghampiri. Pria itu memandang putrinya dengan tatapan penuh pengertian lalu mengelus lembut kepala Leya.
“Semuanya akan baik-baik saja, kami akan selalu ada untukmu.“ Ucap ayahnya penuh kasih.
Saat itu lah, pertahanan Leya runtuh. Air mata yang sejak sore tadi ia tahan akhirnya jatuh juga. Ia menangis di pelukan ibunya, meluapkan semua rasa sakit yang ia pendam. Ibunya ikut menangis, bahkan sang ayah tak mampu menahan air mata melihat putri semata wayangnya terluka seperti ini.
Tak lama kemudian, tangisan perlahan mereda. Leya menarik nafas panjang, lalu berjalan menyusuri koridor rumah yang sangat ia kenal sejak kecil. Langkahnya berhenti di ujung lorong, pintu kamar terbuka sedikit. Cahaya lampu temaram memancar lembut dari dalam kamar itu. Ia mendorong pintu perlahan, putranya bersama Arkana sedang tertidur pulas di tempat tidur. Anak kecil itu memeluk mainan pesawat kesayangannya yang selalu dibawa kemana-mana.
Leya mendekat dan duduk di pinggir ranjang, ia menarik selimut yang hampir jatuh dari tubuh kecil putranya. Wajah Arsen begitu tenang, begitu polos. Tidak tahu apapun tentang dunia orang dewasa yang sedang runtuh di sekitarnya. Tatapan Leya melembut sejenak, ia menunduk dan mencium kening anaknya.
“Tidurlah yang nyenyak... jagoan Mama.“ Bisiknya pelan, lalu ia membaringkan tubuhnya di samping sang anak.
Namun matanya tak terpejam, ia menatap langit-langit dengan pandangan penuh tekad dan perhitungan.
Aku akan membuktikan, bahwa aku masih mampu terbang tinggi di langit!
Pagi itu langit cerah di atas gedung Akademi Penerbangan Nusantara. Pesawat latih kecil terlihat rapi di apron atau pelataran parkir pesawat. Suara mesin dari hanggar terdengar bersahut-sahutan, bercampur dengan langkah para trainee yang berlalu lalang mengenakan seragam latihan. Leya berdiri di depan gerbang Akademi itu. Sudah enam tahun yang lalu ia pergi dari dunia penerbangan tanpa menoleh lagi. Hari ini ia kembali, sebagai seseorang yang ingin mengambil kembali tempatnya.
Leya menarik nafas dalam-dalam, lalu melangkah masuk. Beberapa trainee yang lewat menoleh sekilas padanya, tatapan mereka tidak peduli. Hanya sekedar penasaran melihat seorang wanita yang terlihat dewasa dari kebanyakan siswa disana. Ia langsung menuju gedung administrasi, di dalam ruangan itu seorang staf wanita sedang mengetik di komputer.
Leya berdiri di depan meja dengan wajah tenang. “Permisi, saya ingin mendaftar kembali untuk program lisensi kapten pilot.“
Staf itu berhenti mengetik, ia mengangkat kepalanya lalu menatap Leya dari atas sampai bawah.
“Nama?“
“Kataleya Sarasmita.“
Wanita itu mengetik sesuatu di komputer, beberapa detik kemudian ekspresinya berubah.
“Kataleya Sarasmita?“ Staf itu kembali menatap Leya, “Data Anda menunjukkan, Anda telah berhenti enam tahun lalu.“
“Benar.“ Jawab Leya.
“Kenapa sekarang kembali?“
“Karena saya ingin kembali meraih masa depan saya, dan kembali memeluk langit.“ Jawab Leya tanpa keraguan.
Staf itu terdiam sebentar, lalu kembali bicara dengan nada ragu-ragu. “Program ini biasanya untuk pilot aktif yang ingin naik menjadi kapten.“
“Kalau begitu, anggap saya kembali aktif.“
Staf itu tampak tidak yakin, tapi ia akhirnya berdiri dari duduknya. “Tunggu sebentar.“
Wanita staf itu berjalan ke ruangan belakang, beberapa menit kemudian seorang pria paruh baya keluar dari sana. Dia memakai seragam instruktur pilotnya, lalu menatap Leya dengan kening berkerut.
“Kataleya Sarasmita, kau berhenti terbang enam tahun lalu. Dunia penerbangan berubah cepat, pilot yang berhenti selama itu... biasanya tidak kembali.“
“Saya akan menjadi pengecualian pertama, saya akan berusaha.“ Leya menjawab dengan tenang.
Pria itu terdiam sebentar, sebelum ia lanjut bicara terdengar suara tawa dari arah belakang. Beberapa trainee pilot baru saja masuk ke ruangan, salah satu dari mereka melihat Leya dan berbisik pada temennya.
“Dia mau daftar juga?“
“Serius?“
“Kelihatan seperti ibu-ibu.“
Bisik-bisik terdengar, beberapa dari mereka bahkan tertawa mengejek.
“Program ini berat, ini bukan kursus untuk hobi. Apalagi dengan wajah dan tubuhnya yang jauh sekali dari kriteria.“ Ucap seseorang menghina penampilan Leya.
Tawa mereka makin keras, Leya mendengar semuanya. Tapi wanita itu tak membalas, ia hanya menatap instruktur di depannya. “Apa ada masalah dengan usia saya?“
Instruktur itu terlihat canggung. “Bukan masalah usia, tapi kemampuan.“
“Kalau begitu, uji saja saya.“ Ucap Leya dengan tatapan penuh keyakinan.
Beberapa trainee di belakangnya kembali tertawa. “Dia serius? Enam tahun tidak terbang, lalu langsung tes kapten?“
“Ini lucu sekali!“ timpal yang lain.
Leya akhirnya menoleh ke arah mereka, tatapannya tajam. “Kalau kalian semua sudah selesai tertawa, lebih baik mulai belajar. Jangan menyia-nyiakan waktu kalian, hanya demi merendahkan orang lain!“
Ruangan langsung sunyi, salah satu trainee mendengus kesal tapi pada akhirnya tak ada yang menjawab.
Instruktur itu menghela nafas panjang, “Baiklah, kita akan lakukan tes simulasi dulu. Kalau kau gagal, jangan buang waktu kami lagi.“
Leya mengangguk dengan tegas, “Tak masalah.“
Lalu ia menandatangani formulir pendaftaran tanpa ragu, tapi saat ia selesai dan berbalik meninggalkan meja, tatapannya bertemu dengan seseorang yang berdiri di ujung ruangan.
Disana seorang pria tinggi berdiri menatap Leya dengan pandangan penuh ketertarikan, seragam pilotnya terlihat sederhana tetapi cara berdirinya berbeda dari yang lain. Matanya tajam memperhatikan segalanya, bahkan pria itu tak ikut menertawakan Leya dan juga tak terlihat meremehkan. Ia hanya menatap Leya dengan ekspresi yang sulit dibaca, seolah sedang menilai sesuatu.
Beberapa detik mereka saling menatap, lalu pria itu memalingkan pandangannya seakan tak ingin terlihat terlalu memperhatikan. Sementara Leya tidak mengenal pria itu, tapi ia merasakan sesuatu yang berbeda dari tatapannya.
biasa ny kn benci jd berubah jd cinta ,,
eeeits tp anda bukan tokoh utama dsni ,, mending kerja aj yg professional yx rafii ,, jgn menghancurkn apa yg sudh km miliki skrang ,, jgn kaya si arkana2 tu ,, 😒😒😒😒
perlu berendam di kawah gunung merapi ni shanaz biar otak ny rileks🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣