Sandra, Satya dan Raisya telah menjalin persahabatan sejak mereka memasuki dunia perkuliahan. Perhatian Satya pada Sandra terlalu berlebihan membuat Sandra menjadi terbawa perasaan.
Namun pada akhirnya Sandra harus mengubur perasaanya pada Satya kala Raisya memberitahunya bahwa dia akan segera menikah dengan Satya.
sakit dan perih yang Sandra rasakan.
Namun takdir berkata lain, Sandra terpaksa harus menjadi ibu sambung dari anak hasil pernikahan sahabatnya itu, Raisya dan Satya.
akan kah Sandra sanggup melalui hari harinya bersama Satya yang telah berubah dan masih di hantui oleh bayang-bayang istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sandra & Sandrina
Lima tahun sudah berlalu.
Seperti biasa hari ini aku sedang sibuk membuat resep resep roti yang unik untuk toko roti ku ini, sejak kejadian itu aku menjadi jarang sekali keluar rumah, hidupku lebih tertutup. sesekali aku bertemu dengan Raisya yang kini sudah dikaruniai seorang putri cantik yang bernama sandrina, bagaimana dengan Satya, kita sudah jarang sekali bertemu.
Kehidupanku hanya disibukan dengan bekerja sebagai owner Sandra's Bakery. Semenjak toko roti ini di buka, kehidupanku kembali berjalan normal dan perlahan menghilangkan nama Satya di hatiku. Rasa itu telah terkubur. Toko rotiku ini hanya bisnis kecil kecilan, hanya bermodalkan ruko kecil milik ayah yang tidak dipakai, sudah ada lima karyawan yang bekerja di toko rotiku. Kabar baiknya tiap tahun Sandra's Bakery memiliki perkembangan yang cukup pesat. Aku sangat bersyukur akan hal itu.
"mbak San, ada yang yang nyari mbak" ucap Pipit yang menghampiriku di ruang kerja.
"siapa pit ?" aku bertanya pada karyawan yang paling dekat denganku, namanya fitri namun aku panggil Pipit karena perawakannya yang kecil mungil namun cekatan.
"itu mbak, hot Dady gatau siapa, aku belum pernah melihatnya mba. Dia bawa anak kecil perempuan cantik".
aku mengerutkan kening hot Dady?, bawa anak kecil ?, siapa. Aku melepas kacamata yang bertengger di hidungku, melepas cepolan di rambutku, dan merapikannya.
"yaudah makasih pit, aku akan kesana".
Aku berjalan menuju beranda toko Sandra's bakery yang hari ini cukup di penuhi oleh para costumer langganan.
"halo mama ndra" aku menoleh saat suara kecil yang tidak asing itu terdengar di telingaku. Aku sangat merindukan panggilan itu, sudah lama kita tidak bertemu.
ohh rupanya yang Dateng adalah sandrina dan papanya, bocah usia empat tahun itu berlari menghampiriku dan memelukku erat. Aku membalas pelukannya wangi khas bayi menyeruak di hidungku, aku mencium kedua pipinya yang gembul.
"drina kangen sama mama ndra, kenapa mama ndra jarang main keruma drina" ucap gadis kecil itu, bibirnya yang mungil cemberut.
Aku berdiri sejajar dengan tingginya, merapikan poninya yang sedikit berantakan.
"mama ndra, akhir akhir ini sedang sibuk sayang, maaf ya" aku tersenyum manis pada gadis cantik itu.
Aku sering bertemu dengan gadis kecil buah hati dari Satya dan Raisya. Tidak jarang gadis kecil itu menginap dirumahku, sampai Raisya menyuruh sandrina untuk memanggilku dengan sebutan mama. ketika aku keberatan, namun Raisya menyela biar lebih dekat katanya. Ah jadi rindu dengan sahabatku itu, sudah satu bulan aku tidak bertemu dengan Raisya. Terakhir dia mengabariku bahwa dia sedang terkena sakit magh karena makan rujak kepedesan.
"kak Satya" ucapku menyapa pria yang sedari tadi berdiri tenang menyaksikan anaknya yang terus mengoceh padaku.
"ndra, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan" aku kembali melirik pria itu, pria itu kini semakin terlihat matang. Sosok nya lebih berwibawa, wajahnya semakin tampan dengan jambang yang menghiasi wajahnya. Aku sedikit kaku, sudah lama tidak bertemu. Walaupun dulu kami sangat dekat dan sering bercanda, namun saat ini sudah berbeda rasanya. Dia sudah menjadi milik sahabatku.
"iya kak, kita berbicara disana saja" aku menunjukan ruangan tempat para karyawan meeting.
"ga perlu ndra, disini saja. Ini simpel aja. Saya mau minta tolong, Raisya minta dibikinin roti isi coklat dan selai srikaya. Tapi yang buatnya kamu langsung"
aku mengerutkan alis kala mendengar perkataan dari Satya.
sejenak aku mencerna kalimatnya, ada sesuatu yang janggal.
"Raisya lagi ngidam kak?", aku menebak dugaanku yang ternyata memang benar.
"iya ndra, ngidam kali ini cukup parah. Raisya sampai tidak kuat untuk beraktivitas". Pria itu berbicara dengan wajah sendu.
"ahh aku turut prihatin kak, sudah lama tidak bertemu dengan Raisya, weekend insyaallah aku datang kesana" ucapku.
aku melihat pria itu mengangguk samar.
"drina, mau ikut mama ndra bikin roti?"
Gadis kecil itu terlihat sumringah, dengan lesung pipi di sudut bibirnya yang menambah kesan manis di wajahnya.
"ayo, mau mama ndra"
aku dan drina berjalan menuju dapur baking meninggalkan Satya yang menunggu di tempat tadi mengobrol.
Aku membuat roti dengan penuh kehati-hatian, spesial untuk sahabatku Raisya yang kini sedang mengandung anak kedua. Sesekali fokusku teralihkan dengan pertanyaan gadis kecil yang berdiri disampingku, bibirnya sibuk mengoceh menanyakan apa saja yang dia lihat disekitarnya. Gadis kecil itu sungguh cerdas.
Selama tiga puluh menit roti spesial yang ku buat telah selesai, kini tinggal di serahkan pada Satya yang sedari tadi menunggu dengan sabar.
"maaf ka, nunggu lama" aku menyerahkan satu kotak roti itu.
"makasih ndra, jadinya berapa?"
"ishh, apaan sih kak pake bayar bayar segala gak usah. Aku ikhlas apapun untuk Raisya".
"ya ampun ndra, saya jadi gaenak nyuruh kamu. Makasih ya udah dibuatin".
"sama-sama kak"
"oh iya sudah ada kabar bahagia belum ndra?".
Aku mengerutkan alis, tidak mengerti dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Satya.
"calon ndra, masa ga ngerti"
"ohh itu, doakan saja lah kak. Semoga secepatnya bertemu" aku menjawab dengan sedikit tawa di wajahku.
"aamiin, kalau gitu saya sama drina pamit pulang dulu, kasian Raisya nunggu lama"
setelah berpamitan, aku memperhatikan punggung Satya dan sandrina yang sedang berjalan menuju mobil Satya yang terparkir.
ndra dan drina. sekilas terlihat sama. Ketika aku bertanya pada Raisya pada waktu itu, kenapa memberi nama gadis kecil nya itu dengan nama sandrina. Kemudian Raisya menjawab.
aku gatau alasannya apa ndra, ini kukuh kemauan kak Satya katanya kalau punya anak perempuan akan dia beri nama sandrina. Padahal waktu itu sudah menyiapkan nama.
Aku tertegun mendengar pernyataan dari Raisya. Masalahnya nama sandrina adalah nama kecilku, sebelum berganti dengan Sandra. Dan kak Satya tahu akan hal itu, aku pernah bercerita saat dia mengantarku pulang dari kegiatan KKN.
Bagaimana keadaan hatiku sekarang?.
Tentunya bayangan masalalu menghantuiku.