NovelToon NovelToon
Pembalasan Sang Figuran

Pembalasan Sang Figuran

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Idola sekolah
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bearbee

Alma setelah kematiannya mengetahui bahwa sebenarnya dia hanyalah salah satu karakter sampingan di novel yang semua takdir kehidupannya sudah di tentukan oleh penulis.

Penderita yang telah dia lalui sebenarnya tidak lain dan tidak bukan hanyalah kata-kata yang tertulis untuk mempromosikan plot tentang protagonis wanita di novel.

Dia marah, dan kecewa tidak menerima semua takdir itu, dia ingin membalas rasa sakit yang dia terima dari orang-orang yang telah menyakitinya.

Dan kesempatan itu muncul, dia di hidupkan kembali , hari di mana semua penderitaannya belum terjadi.

Dan dia bersumpah akan membalas setiap inci perbuatan mereka padanya menghancurkan mereka secara perlahan.

Alma ingin mereka membayarnya dengan lunas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bearbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20

Mata Grace berkilat kala pandangannya bertemu sosok Liliana yang tengah melangkah anggun memasuki lingkaran. Sebuah senyum congkak tersungging di bibirnya ketika ia melirik Alma, seolah menyampaikan vonis sebelum sidang dimulai. "Lihat saja," ujarnya lirih namun menusuk, "sebentar lagi kau akan terhempas keluar dari sini."

Alma tidak menanggapi. Jemarinya hanya mengibaskan helai-helai kain gaun yang ternoda dan mengerut oleh percikan teh panas. Ia nyaris yakin kulit di balik kain tipis itu telah memerah, namun memilih diam, menjaga martabatnya di tengah tatapan para tamu lain yang hadir.

Dengan langkah yang diatur penuh perhitungan, Grace menghampiri Liliana. "Tante Liliana," katanya dengan intonasi manis yang terlalu dibuat-buat, "Gadis ini telah menyusup ke pesta tanpa undangan. Bahkan, di sekolah, dia sengaja menggoda Leon. Tolong, segera usir dia sebelum merusak suasana."

Kening Liliana berkerut, bukan lantaran tuduhan yang dilontarkan, melainkan karena sapaan 'tante' yang terdengar terlalu intim untuk norma pergaulan kalangan atas. Namun sebelum bibirnya sempat menyusun tanggapan, udara seolah terbelah oleh sebuah suara yang dalam dan berwibawa.

"Siapa yang berani mengusir putriku dari sini?" Nada itu milik Isabella, yang kini berdiri tegap di belakang Liliana.

Beberapa menit sebelumnya, Isabella dan Liliana masih terlibat perbincangan ringan. Namun riuh yang menggelombang dari lingkaran para nona muda menarik perhatian mereka. Tidak disangka, kericuhan tersebut ternyata melibatkan darah daging Isabella sendiri.

Kalimat yang baru saja terucap darinya bagaikan cambuk yang merobek kesunyian. Nama Morrison bukan sekadar sebutan, melainkan lambang kekuasaan di kalangan sosialita. Dan kini, Isabella sendiri menegaskan bahwa Alma adalah putrinya. Pernyataan yang membuat para tamu saling berbisik, sementara rona pucat mulai merayap di wajah Grace.

"Ini mustahil... bagaimana mungkin..." batinnya bergetar.

Sorot mata Isabella segera membidik keadaan Alma. Noda teh membekas di gaun, kainnya basah, dan ada semburat merah yang tampak mengintip dari sela kain. Tanpa ragu, ia melangkah mendekat, nadanya melembut namun tetap menyimpan ketegasan seorang matriark.

"Sayang, kau tidak apa-apa?"

Alma menggeleng pelan, bibirnya melengkung tipis. "Aku baik-baik saja, mamah. Hanya saja tehnya agak panas," jawabnya, menahan nyeri demi meredakan kecemasan sang ibu.

Namun kata teh panas seakan menjadi pemicu yang menggelapkan ekspresi Isabella. Sorot matanya yang sedingin baja kini menancap pada Grace. "Putri dari keluarga mana kau, berani-beraninya melakukan ini?"

Grace terdiam, lidahnya seolah membeku. Ia tidak pernah membayangkan bahwa Alma adalah putri dari keluarga Morrison. Pantas saja Leon, waktu itu, hanya menanggapi ucapannya dengan tatapan meremehkan.

"Mungkin ini ada kesalahpahaman…" Suara gugup itu berasal dari Harreta, yang muncul di antara kerumunan dan segera berdiri di sisi Grace. Wajahnya pucat pasi, seakan darah telah surut dari pipinya.

Isabella menoleh pelan, tatapannya penuh evaluasi. "Jadi, kau Nyonya Margaretha. Apakah dia putri mu?"

"Benar, Grace adalah putriku," sahut Harreta, mencoba merangkai ketenangan yang rapuh.

"Kebetulan sekali," Isabella menautkan kedua tangannya di depan pinggang, suaranya dingin seperti kristal beku. "Putri Anda menumpahkan teh panas pada gaun putriku."

Harreta refleks menggeleng. "Tidak mungkin. Grace adalah gadis beretika. Ia tak akan berbuat demikian. Ini pasti hanya salah paham saja."

“Salah paham?” Isabella mengangkat alisnya yang terlukis sempurna, senyumnya menyungging tipis penuh sarkasme. "Di hadapan saksi-saksi yang menyaksikan kejadian ini dengan mata kepala sendiri?"

"Benar!" sahut salah seorang nona muda yang berdiri di tepi lingkaran. "Grace datang, menuduh Nona Morrison hadir tanpa undangan, lalu menyiramnya dengan teh." Sejumlah nona lainnya mengangguk, membenarkan.

Isabella tersenyum, sebuah senyum yang tak menawarkan kehangatan.

"Lihat, bahkan semua orang yang hadir mengafirmasi kebenarannya."

Harreta merasakan panas yang menyesakkan tenggorokan. Ia menoleh pada Grace, berharap sang putri membantah atau memberi alasan. Namun yang didapat hanyalah tatapan kosong dan bibir yang terkunci rapat. Dalam hati, ia mengutuk kebodohan Grace yang menciptakan skandal di tengah pesta yang seharusnya menjadi ajang membangun citra.

Dengan napas yang bergetar, Harreta memaksakan senyum formal.

"Nyonya Morrison, saya memohon maaf. Jika perlu, saya akan mengganti rugi gaun putri Anda. Grace memang bersalah, tetapi saya yakin ada alasan di balik tindakannya."

Nada itu, meski sopan, mengandung insinuasi bahwa Alma juga memiliki andil dalam peristiwa ini. Isabella menangkapnya seketika.

"Gaun putriku bukan sekadar kain yang bisa ditebus dengan uang," balas Isabella tajam. "Sulit membuatnya mau bersosialisasi, dan ketika ia akhirnya mau, ia justru pulang membawa pengalaman memalukan ini. Menurutku, kepala keluarga Margaretha harus memberi penjelasan pada keluarga Morrison."

Mendengar suaminya disinggung, Harreta merasa jantungnya tercekik. Ia tahu, jika kabar ini sampai ke telinga sang kepala keluarga, badai akan datang. Keluarga Margaretha tak punya daya untuk melawan pengaruh keluarga Morrison.

"Aku… aku meminta maaf," ucap Harreta lirih, menunduk dalam. "Perlakuan putriku memang tak pantas... Hanya saja..."

Sebelum tensi memuncak, Liliana yang sejak tadi mengamati akhirnya bersuara. "Cukup. Kita bisa membicarakan ini setelah acara usai. Tidak bijak memperpanjang masalah di tengah perjamuan."

Isabella, meski amarahnya belum padam, memilih menghormati tuan rumah. "Baik. Namun sesuai peraturan, keluarga Margaretha tidak akan lagi menerima undangan untuk pesta teh mendatang."

Kalimat itu jatuh seperti vonis. Bagi Grace dan Harreta, itu bukan sekadar kehilangan undangan, tetapi pengucilan perlahan dari lingkar pergaulan kelas atas, sebuah kematian sosial yang tak terucap.

🥀🥀🥀

Pesta teh itu berakhir dengan lancar, meskipun di awal sempat diwarnai kekacauan akibat ulah Grace. Berkat ketenangan serta cara penanganan Liliana yang bijak, suasana dapat kembali terkendali, dan para tamu pun melanjutkan acara dengan tujuan awal mereka. Menikmati sore yang santai sambil mempererat hubungan di antara kalangan elite.

Namun, meski suasana berakhir damai, kabar tentang kejadian tersebut menyebar dengan cepat bak api yang menjilat rumput kering. Dalam semalam, seluruh kalangan sosial atas membicarakan bagaimana Grace mempermalukan dirinya sendiri di hadapan banyak orang dan, lebih parahnya, menyinggung keluarga Morrison. Rumor itu berkembang menjadi topik panas, terutama karena di balik insiden itu tersingkap fakta yang jauh berbeda dari gosip sebelumnya. Tentang nona muda keluarga Morrison yang selama ini dikabarkan berwajah buruk rupa. Kenyataannya, kecantikan gadis itu justru membuat banyak orang terperangah, bahkan berpotensi mengguncang dunia sosial kelas atas.

Dan sosok yang menjadi pusat dari semua pembicaraan itu kini duduk tenang di meja belajarnya, seolah tak terusik sedikit pun oleh gelombang rumor yang beredar.

Pertemuan dengan Grace sejatinya bukan bagian dari rencananya hari ini, namun ia tidak bisa sepenuhnya menyembunyikan kilasan kepuasan yang terpancar di wajahnya. Menyaksikan gadis yang biasanya pongah itu menciut di hadapan dirinya adalah hiburan yang tak terduga.

"Itulah akibatnya jika seseorang membiarkan diri larut dalam perasaan cinta namun mengabaikan akal sehat."

Sayangnya bagi Grace, emosi, rasa superioritas, dan kebanggaannya akan status sosial telah membutakan dirinya. Ia lupa bahwa selalu ada orang yang berdiri di posisi lebih tinggi darinya.

"Alma?" Suara itu datang dari arah pintu, diikuti kepala Daniel yang mengintip sebentar sebelum melangkah masuk.

"Kak Daniel, kakak sudah pulang?" Alma menoleh sambil tersenyum tipis.

Daniel menghampiri, jemarinya mengusap lembut kepala sang adik. "Ya, baru saja tiba. Tadi kakak mendengar, di pesta ada sesuatu yang terjadi. Mama bahkan sedang mengeluh pada Ayah di bawah."

Alma tetap berusaha tenang, meski jantungnya sedikit berdegup lebih cepat. "Sebenarnya hanya ada sedikit insiden… Nona Margaretha tidak sengaja menumpahkan teh padaku."

Kening Daniel berkerut. “Bukan itu yang kakak dengar di bawah. Alma tidak ingin jujur pada kakak? Atau kakak yang harus mencari tahu sendiri, hmm?”

"Bukan begitu…" Alma meraih tangan Daniel dan menggenggamnya erat. "Itu benar-benar masalah kecil. Hanya saja, nona Margaretha salah paham. Dia mengira aku berusaha menggoda Tuan Muda Radcliffe, jadi dia marah."

"Jadi, ini ada hubungannya dengan seorang lelaki," gumam Daniel, matanya mengeras. "Siapa lelaki itu? Apa dia orang yang sering kau temui?"

Alma menggeleng pelan. "Aku mengenalnya, tapi tidak terlalu akrab. Lagipula… aku sama sekali tidak tertarik padanya."

Daniel menatap lekat wajah Alma, memastikan kejujuran di matanya. "Kalau begitu, kenapa kau tidak melawan? Bukankah kau tahu kalau keluarga kita tidak akan membiarkan siapapun menghinamu?"

Alma tersenyum tipis, namun suaranya terdengar tenang. "Kadang, Kak… diam adalah pembalasan terbaik."

Daniel menarik napas panjang. “Kau memang lebih sabar daripada kakak. Tapi kakak tidak bisa menelan hinaan seperti itu begitu saja.”

"Kak Daniel… janji padaku, jangan membuat masalah lagi. Mama sudah menyelesaikannya. Keluarga Margaretha bahkan sudah menerima sanksi, mereka tidak akan diundang ke pesta teh berikutnya."

Daniel tersenyum tipis. "Iya, kakak hanya bertanya." namun dalam hati, pikirannya sudah berputar. Mereka pikir itu cukup? Tidak. Harga diri keluarga ini tidak mudah untuk diinjak.

Daniel membelai kepala Alma sekali lagi. "Istirahatlah. Kakak ada urusan sebentar."

"Urusan apa?" tanya Alma, sedikit curiga.

"Hanya… mengurus beberapa pekerjaan yang tertunda," jawab Daniel sambil berbalik menuju pintu.

Begitu keluar dari kamar, tatapan lembutnya menghilang, berganti menjadi dingin dan terukur. Ia melangkah menuju ruang kerja, mengetuk meja tiga kali sebagai isyarat bagi asistennya.

"Hubungi Bastian," ucap Daniel datar. "Suruh dia pastikan proses pembelian tanah di timur segera diselesaikan… sebelum keluarga Margaretha bergerak. Dan jika mereka berani menghalangi, buat mereka menyesal pernah mencoba."

Asistennya hanya mengangguk. Ia tahu, jika Daniel sudah berbicara seperti itu, berarti badai sedang bersiap melanda.

🥀🥀🥀

"Bawa kemari, sekarang juga, anak pembawa sial itu! Cepat!"

Suara Sean, kepala keluarga Margaretha, bergema di seluruh aula besar rumah megah itu. Nada suaranya tak ubahnya auman seekor singa yang baru saja terusik di sarangnya, ganas dan penuh amarah, seolah siap merobek siapa pun yang menjadi penyebab kemarahannya.

Para pelayan yang mendengar perintah itu sontak menegakkan tubuh, wajah-wajah mereka pucat pasi. Tak seorang pun berani mengajukan pertanyaan, apalagi membantah. Mereka langsung bergegas menaiki tangga menuju lantai dua, langkah mereka terdengar tergesa namun teratur, seperti pasukan kecil yang dipaksa menuju medan perang.

Harreta, yang sejak awal menyadari nada suami yang jarang sekali terdengar seperti ini, maju setengah langkah, meski tubuhnya bergetar. "Sean, tenanglah… kenapa kau sampai semarah ini?" suaranya mencoba terdengar lembut, tapi sarat kecemasan.

Tatapan Sean menancap tajam ke arahnya, dingin dan menusuk. Dia mendengus kasar, lalu suaranya meledak seperti cambuk di udara. "Kenapa aku marah? Kau masih sempat bertanya? Hah?" bentaknya, membuat Harreta secara refleks mundur selangkah.

"Kalau bukan karena putri kesayanganmu itu, apa aku akan mendapat peringatan langsung dari Kepala Keluarga Morrison!"

Nada itu membuat darah Harreta seolah berhenti mengalir.

Di perusahaan, Sean sudah disibukkan dengan proyek besar yang tinggal menunggu tahap finalisasi. Tumpukan dokumen yang menuntut tandatangannya sudah membuatnya tertekan. Dan kini, alih-alih sedikit ketenangan di rumah. Dia malah mendapat kabar bahwa anak dan istrinya menjadi sumber masalah yang mengundang perhatian salah satu keluarga paling berpengaruh.

Arthur Morrison sendiri yang menghubunginya melalui telepon, suaranya penuh tekanan dan sindiran. "Jika kau tidak sanggup mendisiplinkan keluargamu, Sean, aku bisa menyerahkan urusan itu pada orang lain." Ancaman halus itu cukup jelas. Jika Sean tak bertindak, keuangan keluarga Margaretha bisa goyah hanya dalam hitungan hari.

Saat langkah para pelayan terdengar menuruni tangga, kemarahan Sean seolah memuncak. Grace muncul dengan wajah cemas, bersembunyi di balik tubuh dua pelayan perempuan. Tapi Sean tak memberi waktu. Tangannya terulur cepat, mencengkeram lengan putrinya dengan kasar, menariknya ke depan.

Plak!

Tamparan keras mendarat di pipi Grace, suaranya menggema. Tubuhnya terhuyung, jatuh ke lantai marmer yang dingin.

Grace menatap ayahnya dengan mata membelalak tak percaya. Pipinya berdenyut panas, nyeri menusuk. Selama ini, Sean memang galak, tapi tak pernah sekalipun tangannya terangkat kepadanya. Bahkan untuk memarahi pun ia jarang. Tapi sekarang?

"Ayah…" suaranya tercekat, nyaris tak keluar.

"Sean! Apa yang kau lakukan pada putrimu?" jerit Harreta, buru-buru berjongkok dan memeluk Grace yang terguncang.

Namun Sean tak memperlihatkan sedikit pun rasa bersalah. Telunjuknya terarah ke wajah putrinya yang memerah. "Kau… jika sekali lagi kau berani membuat masalah, ucapkan selamat tinggal pada kehidupan mewahmu. Dan kau..." tatapannya beralih pada Harreta, "...sebagai mamahnya, didik anakmu dengan benar. Berhenti membelanya membabi buta!"

Harreta mencoba membalas, suaranya meninggi. "Kau pikir aku sengaja membiarkan dia berbuat salah? Dia hanya..."

"Diam!" potong Sean, suaranya menggelegar. "Selama ini, setiap masalah yang dia buat, aku yang menutupinya. Tapi hari ini dia menyinggung keluarga yang tidak boleh kita singgung. Sekali lagi, aku peringatkan, Harreta. Jika kau gagal membentuknya, aku tak segan menceraikanmu."

Grace mulai menangis, suaranya pecah. "Ayah tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, Gadis itulah yang mulai duluan. Dia yang..."

"Cukup, Grace!" bentak Sean, menatapnya dengan amarah membara. "Tidak ada alasan yang cukup untuk mempermalukan keluargamu di depan orang lain. Apa kau ingin kita menjadi bahan tertawaan?"

Harreta menahan air mata, kini tatapannya mulai berani. "Kau terlalu keras! Dia masih anak-anak, Sean! Bukannya kau dulu juga bilang kita harus melindungi keluarga?"

"Melindungi? Aku sedang melindungi keluarga ini, Harreta. Dari kebodohan kalian berdua."

Suasana membeku. Hening sesaat, hanya suara isakan Grace yang terdengar, bergema di ruang tamu yang megah namun kini terasa seperti medan eksekusi.

Sean menarik napas panjang, lalu menunduk sedikit, suaranya lebih rendah tapi tetap dingin. "Mulai malam ini, Grace tidak akan keluar rumah tanpa izinku. Dan kau, Harreta… pastikan dia belajar tata krama. Kalau tidak, aku pastikan konsekuensinya jauh lebih buruk dari ini."

Tanpa menunggu jawaban, Sean berbalik meninggalkan ruangan, langkahnya berat namun mantap, menyisakan keheningan yang memukul udara.

Harreta hanya bisa memeluk Grace lebih erat, mencoba menenangkan anaknya, sementara di matanya sendiri, api perlawanan mulai tumbuh.

1
Winda Napitupulu Moment
semangat trus yah thor... 💪💪💪💪
Lippe
apa alma ini karena trauma masa lau jadi punya kepribadian ganda?

atau alma dengan kesadaran penuh yang bunuh orang2 sebelumnya?
Rina Yuli
wow luarr biasa lu bikin cerita best thor 👍👍👍👍
Winda Napitupulu Moment
seru ceritanya thorr... ditunggu crazy updatenya...🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!