Kisah Princess Mahreen dan Collin Lange
Mahreen Al Khalifa putri bungsu Malik dan Milly Al Khalifa adalah putri Sheikh yang suka hidup bebas tanpa aturan istana hingga Malik harus memberikan Collin Lange sebagai bodyguardnya. Tanpa keluarga Al Khalifa tahu, Collin adalah agen MI6 yang menyamar masuk ke istana Al Khalifa untuk mencari buronan internasional yang bersembunyi di Bahrain. Mahreen dan Collin bagaikan air dan minyak hingga gadis itu tahu misi sebenarnya pria tersebut. Setelah Collin menyelesaikan misinya, dia kembali ke Inggris namun Mahreen bertekad untuk mendapatkan bodyguardnya yang ternyata agen rahasia itu kembali ke dalam pelukannya.
Generasi Delapan Klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesibukan Mahreen di Manama
"Jadi mbak Kayleen mau menikah dengan Athrun-ge?" tanya Mahreen sambil berganti pakaian. Dia sedang menerima panggilan video dari Yuza Khalid, putri bungsu Kaysan Khalid dan Yasmine, yang juga seorang desainer seperti ibunya.
"Iya. Katanya mau menikah di Paris atau Milan gitu ... Belum tahu sih gimana. Harusnya kan di Glasgow tho?" jawab Yuza sambil minum kopinya.
"Mungkin cari praktisnya karena Mbak Kay lebih sering tinggal di Paris sekarang. Kalau Milan kan tempat keluarga Moretti ... lagipula rumah Opa Ale dan Oma Sakura sudah diwariskan ke Mbak Kay tho?" Mahreen merasa lega setelah memakai gaun rumahnya.
"Iya karena mas Kentongan nggak mau tinggal di Milan. Dia kan anak Brit. Jadi waktu Opa Ale mau mewariskan rumah itu ke Mbak Kay, ya mas Ken santai saja. Tahu kalau rumah itu lebih dipakai Mbak Kay kan?" balas Yuza.
"Kalau masing-masing pihak legowo soal warisan, insyaallah semuanya enak. Mas Kentongan sudah pasti mewarisi kastil Ferguson karena doi yang akan melanjutkan gelar Lord dari Oom Gavin. Jadi wajar kalau Mas Ken kasih rumah Milan ke mbak Kay. Ingat, Yuza, jangan serakah soal warisan. Segala sesuatu bisa dibicarakan baik-baik. Apalagi kita dari kecil sudah dididik tidak boleh serakah kan? Saling sayang dan care tapi boleh menistakan dan meroasrting ... Apalagi gegeran," kekeh Mahreen.
"Tapi aku senang kamu tidak berbuat ulah menjelang libur musim panas. Bukan apa-apa, Marning, Mas Akira sampai gemas sama kamu!" Yuza menata Mahreen gemas.
"Yaaaa ... Aku kan anak baik," jawab Mahreen cuek.
Yuza tertawa. "Dasar!"
***
Collin mulai mengikuti tugas kerajaan yang diemban oleh Mahreen. Sungguh dia tidak menyangka jika Mahreen punya acara yang padat selama liburan musim panas ini. Mahreen meresmikan acara lomba Lego untuk anak-anak, fashion show, acara masak amal untuk para lansia, peresmian pameran seni, nonton konser grup band favoritnya dan menemani nonton bioskop.
"Anda tidak merasa lelah kah?" tanya Collin saat mereka berjalan keluar dari bioskop. Mahreen memang ingin nonton bioskop film yang ditunggunya. Bahkan dia memakai niqab agar tidak dikenali sebagai Princess Mahreen.
"Lelah sih tapi aku sangat menyukainya. Orang lain melihat seperti beban tapi buat aku itu adalah healing tersendiri," jawab Mahreen.
"Anda benar-benar Princess yang unik," senyum Collin.
"Ah, aku hanya Princess yang menikmati acara menjadi princess. Status dan gelar aku terkadang tidak bisa dipakai di luar negara aku tapi di negara aku, juga jangan seenaknya. Abi paling tidak suka kalau aku dan Mas Maxi aji mumpung hingga sombong." Mahreen menoleh ke arah Collin. "Sekarang, apakah kamu lelah menemani aku dua Minggu ini di Manama?"
"Tidak. Jadwal Anda besok itu ke kampus University of Bahrain. Acara apa Princess?" tanya Collin sambil membuka pintu penumpang mobil ke Mahreen.
"Seminar seni. Aku datang bukan sebagai Princess of Bahrain tapi sebagai mahasiswa seni. Jadi macam kuliah terbuka begitu," jawab Mahreen sambil masuk ke dalam mobil.
Collin tampak kaget. "Anda itu energinya tidak habis-habisnya."
"Mumpung masih muda! Nanti kalau sudah jompo .. Repot!" gelak Mahreen.
Collin pun duduk di kursi pengemudi dan menstater mobilnya. Mereka pun kembali ke istana Al Khalifa.
***
Keesokan paginya di ruang auditorium kampus University of Bahrain, tampak rektor, dekan dan dosen menyambut Princess Mahreen of Bahrain. Meskipun dia berusaha low profile, tapi tetap saja Mahreen harus tampil sesuai dengan statusnya. Mahreen pun duduk di kursi depan sementara Collin duduk di belakangnya.
Collin memperhatikan para peserta seminar itu tampak serius mengikuti acara. Begitu juga dengan Mahreen. Tidak ada sikap seenaknya, yang ada wajah serius dan perhatian penuh. Sungguh, Collin tidak menduga jika Mahreen seperti memiliki dua kepribadian. Di istana, dia dikenal princess yang bandel tapi bertanggungjawab.
Di Leiden? Beda cerita! Masuk sel sampai lima kali itu sesuatu! Bahkan menurut Kenneth, baru Mahreen yang memecahkan rekor dalam waktu dua tahun kuliah sudah masuk sel lima kali. Tapi Collin tahu, tante Mahreen yang bernama Raihanun Park, sudah masuk sel bolak balik jaman SMP dan asrama di Swiss.
Collin tidak memperhatikan soal seminar itu tapi dia lebih memikirkan Mahreen. Rambut pirangnya tampak mencolok dan dia tahu itu merupakan warisan dari garis ibunya, Milly Bradford. Warna rambut yang bisa membuatnya dalam masalah.
"Lange? Kamu tidur atau melamun?" tanya Mahreen membuat Collin tergagap.
"A ... apakah sudah selesai?" tanya Collin bingung. Ya Tuhan, aku kebanyakan melamun.
"Lange ... apakah kamu biasa tidur dengan mata terbuka?" goda Mahreen. "Ini sudah selesai acaranya. Ayo, kita bertemu dengan banyak orang."
Collin pun bangun dari tempat duduknya. Dia mengawal Mahreen kemana pun gadis itu pergi bahkan sekarang dia mode pengawal sebenarnya. Mata abu-abunya tampak mengawasi sekelilingnya meskipun dia tahu, kampus termasuk area yang aman.
"Jadi Yang Mulia bersedia untuk menjadi sponsor acara budaya kampus?" tanya salah seorang dosen.
"Kirimkan saja proposalnya ke sekertaris saya bernama Urla." Mahreen memanggil asistennya yang sedang memeriksa tabnya. "Urla!"
"Baik Princess," jawab Urla.
"Proposal kampus diterima dan nanti kita pelajari untuk sponsor acara," perintah Mahreen.
"Baik. Apakah proposal Anda sudah ada?" tanya Urla, gadis dengan hijab hitam dan berwajah tegas.
"Sudah ada Miss Urla."
"Kamu urus ya. Aku masih mau lihat pameran seni di kampus. Ayo Lange!" Mahreen meminta salah seorang dosen seni untuk menemani dirinya ke acara pameran seni di kampus.
***
Mahreen berjalan perlahan di sepanjang lorong galeri seni di University of Bahrain. Dinding-dinding dipenuhi lukisan, fotografi, dan karya instalasi buatan mahasiswa. Di sampingnya, Collin memperhatikan sebuah lukisan abstrak dengan ekspresi serius yang jarang terlihat.
Seorang dosen seni yang mendampingi mereka tersenyum bangga. "Semua karya di ruangan ini dibuat oleh mahasiswa kami," katanya. "Mereka berasal dari berbagai negara dan latar belakang."
Mahreen berhenti di depan sebuah lukisan yang menggambarkan kehidupan masyarakat pesisir dengan warna-warna cerah.
"Ini dibuat mahasiswa?" tanyanya kagum.
"Tentu," jawab sang dosen.
Mahreen mengangguk pelan. "Jujur saja, saya pikir karya seperti ini layak dipamerkan di luar kampus. Bukan hanya di sini."
Dosen itu tampak senang mendengarnya.
"Terima kasih, Yang Mulia. Kami memang berusaha memberi mereka kesempatan."
Collin menatap sebuah patung logam yang rumit. "Saya bukan ahli seni," katanya. "Biasanya saya hanya tahu dua kategori: saya suka atau saya tidak suka."
Mahreen tertawa. "Itu penilaian yang sangat ilmiah, Lange."
"Terima kasih. Saya sudah bertahun-tahun mengembangkan metode itu," jawab Collin.
Sang dosen ikut tertawa.
Mereka kemudian berhenti di depan deretan foto dokumenter hasil karya mahasiswa.
Mahreen memperhatikan satu per satu foto tersebut sebelum berkata dengan serius,
"Mahasiswa-mahasiswa ini punya bakat besar. Banyak orang hanya melihat hasil akhirnya, padahal mereka menghabiskan berjam-jam untuk belajar teknik, komposisi, dan menyampaikan pesan melalui karya mereka."
"Benar sekali," jawab dosen itu.
"Saya rasa universitas perlu lebih sering mempromosikan karya mereka ke publik. Bahkan beberapa karya di sini terlihat profesional."
Collin mengangguk setuju. "Kalau saya melihat beberapa karya ini di galeri kota, saya tidak akan mengira pembuatnya masih mahasiswa."
Dosen seni itu tersenyum bangga.
"Itulah harapan kami. Mendengar apresiasi seperti ini tentu sangat berarti bagi mereka."
Mahreen menatap kembali karya-karya yang memenuhi galeri. "Semoga suatu hari nama-nama mereka dikenal banyak orang. Bakat seperti ini pantas mendapatkan kesempatan."
Di sudut ruangan, beberapa mahasiswa yang sedang menjaga pameran saling tersenyum mendengar pujian tersebut. Bagi mereka, apresiasi itu terasa sama berharganya dengan nilai terbaik di kelas.
***
Yuhuuuu up malam Yaaaaa
Thank you for reading and support author
don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
#eh