Juni 2026
----
Aktivitas matahari menurun drastis. Zona es meluas dari kutub hingga mencapai Indonesia. Jakarta membeku dalam suhu minus belasan derajat, hukum dan negara runtuh, dan manusia saling berburu untuk bertahan hidup. Di tengah kiamat Es itulah Arka, seorang pemuda jenius tapi pemalas , mati dikhianati tunangannya sendiri. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terbangun satu tahun sebelum bencana, dengan ingatan penuh akan enam bulan neraka yang telah ia lalui. Kini, dengan memanfaatkan pengetahuannya tentang masa depan, bisakah arka bertahan hidup di dunia tanpa hukum, di mana siapa kuat dia berkuasa saat ini ? ...
----
~ Jika waktu bisa mundur 1 tahun dari saat ini, Apa yg akan kamu lakukan? ~
----
@ThinkzIam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thinkziam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Pratama berdiri di depan peta Jakarta, jari telunjuknya bergerak dari titik bunker ke gedung BNI, lalu meluncur ke selatan.
“Mereka harus makan. Tiga puluh orang, mungkin lebih. Stok gudang Tanjung Priok pasti mulai habis. Mereka butuh sumber baru.”
Arka duduk di kursi, tangan menyilang di dada. “Kebayoran.”
“Pasar, supermarket, gudang kecil. Wilayah itu belum sepenuhnya dijarah. Suhu di sana mungkin masih beberapa derajat lebih hangat dari sini.” Pratama menoleh. “Kita ganggu jalur suplainya. Buat mereka sibuk di luar, bukan di sini.”
Arka tidak langsung menjawab. Matanya mengikuti garis yang digambar Pratama di peta. Bunker ke BNI. BNI ke Kebayoran. Dua jalur, satu titik rawan.
“Risikonya?”
“Kita keluar. Ke permukaan. Lewat MRT, turun di stasiun antara. Pasang perangkap kecil. Bukan untuk melukai. Untuk buang waktu mereka.”
“Kita tidak punya banyak orang.”
“Dua cukup. Aku dan Mas.”
Arka berdiri. “Kita bicarakan dengan yang lain.”
Mereka berkumpul di ruang utama. Umar di ujung meja, tangan di saku, jari-jari tidak berhenti bergerak. Wawan di sampingnya, Rina di dekat pintu ruang tanam, Dewi berdiri di dekat ruang medis.
Pratama menjelaskan. Singkat. Tanpa basa-basi.
“Kita keluar?” Umar angkat suara. “Ke permukaan?”
“Hanya jika perlu. Sebagian lewat bawah tanah. Jalur MRT masih bisa dilalui.”
“Itu melewati stasiun lain. Mungkin sudah ada kelompok lain.” Wawan menyilangkan tangan.
“Itu risiko.”
Umar menunduk sebentar, lalu mengangkat muka. “Aku ikut.”
Arka menatapnya. “Kamu tidak harus.”
“Aku tahu.” Suara Umar pelan, tapi tidak ragu. “Aku tidak bisa terus diam di sini. Sementara... sementara mereka di luar sana.”
Dewi bergerak sedikit. “Kita belum tahu apakah ini perlu. Mereka belum datang lagi. Mungkin Heri membuat mereka berpikir ulang.”
“Heri tidak cukup.” Pratama tidak menoleh dari peta. “Mereka punya komandan yang pernah perang. Satu orang gagal tidak akan menghentikan mereka. Mereka sedang menghitung. Merencanakan. Dan saat mereka siap, mereka akan datang dengan kekuatan penuh.”
Rina memeluk catatan tanamnya. “Kalau kita ganggu suplai mereka, bukankah mereka akan semakin marah?”
“Bisa. Tapi mereka juga akan keluar dari markas. Bergerak. Dan saat bergerak, mereka membuat kesalahan.”
Arka berdiri. “Kita belum putuskan. Tapi kita harus siap. Pratama, buat rencana detail. Rute, titik pengintaian, jalur mundur. Umar, urus perlengkapan. Wawan, pastikan komunikasi berfungsi.”
Dia menoleh ke Dewi. “Kamu di sini. Jaga yang lain.”
Dewi mengangguk.
Di ruang kontrol, Arka menyalakan radio. Statis. Dia memutar pelan.
“...masih ada yang mendengar? Kami di Kebayoran... anak-anak... obat...”
Suara wanita. Terputus-putus. Mungkin ibu, mungkin perawat. Tidak penting. Tidak bisa ditolong. Belum.
Arka mematikan radio. Di belakangnya, pintu terbuka.
“Mas,” Umar berdiri di ambang. Wajahnya pucat. Tangannya memegang tas kecil.
“Ada apa?”
“Aku... aku harus cerita.”
Arka menatapnya. Umar tidak pernah seperti ini. Selama ini dia diam, bekerja, mengikuti perintah. Tidak pernah mengeluh.
“Aku punya keluarga di Kebayoran. Istri, anak. Sebelum es datang, aku kirim mereka ke sana. Ke rumah orang tua istri. Aku pikir lebih aman. Lebih dekat pasar. Lebih mudah cari makan.”
Suaranya mulai pecah.
“Radio itu kemarin. Suara dari Kebayoran. Mungkin... mungkin itu mereka.”
Arka tidak menjawab. Di kehidupan pertama, dia juga punya orang yang ingin dicari. Tapi tidak ada yang tersisa. Semua sudah mati atau berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa dikenali.
“Kita cari mereka,” kata Arka. “Setelah ini selesai. Setelah bunker aman. Janji.”
Umar mengangguk. Tidak bicara. Dia keluar dari ruang kontrol, menutup pintu perlahan.
Arka duduk di kursi. Di monitor, kamera pintu belakang hotel menampilkan putih yang sunyi. Di sudut layar, ada gerakan kecil. Seekor anjing kurus, bulu kusut, berjalan tertatih. Hidungnya mencium tanah beku, mencari sesuatu yang mungkin tidak akan pernah ditemukan.
Arka mematikan monitor. Catatan Herman di sampingnya terbuka di halaman terakhir.
Jangan percaya pada kebaikan. Dunia ini sudah mati.
Tapi Umar masih percaya. Masih mau mencari. Masih mau percaya bahwa di luar sana, ada sesuatu yang layak diperjuangkan.
Arka menutup buku. Di kepalanya, rute ke Kebayoran mulai terbentuk. Delapan kilometer lewat bawah tanah. Dua jam jika hati-hati. Terlalu jauh. Tapi tidak selamanya.
Besok mereka akan pasang perangkap di jalur suplai. Besok mereka akan buang waktu musuh. Dan setelah itu, mungkin, mereka akan ke Kebayoran. Mencari.
Tapi tidak sekarang. Belum.
Sudahlah... Siapa yang tau jalan pemikiran sang Author??? 😁