Anjani pernah mengubur mimpinya demi menjadi istri sempurna. Ia menemani Satriya dari nol dan bertahan saat hidup mereka sulit.
Ketika sukses, kini di mata keluarganya, Anjani hanyalah ibu rumah tangga biasa, membosankan, tidak bercahaya, dan selalu kalah dibanding Cintya, model cantik yang perlahan menjadi pusat dunia mereka.
Sampai satu malam…kemampuan yang selama ini terkubur tanpa sengaja menarik perhatian Ren Aksara. CEO galak yang ditakuti seluruh industri fashion itu tidak tertarik pada perempuan manja, cantik, atau pencari perhatian.
Namun entah kenapa…matanya justru terus kembali pada Anjani. Perempuan sederhana yang bahkan tidak sadar dirinya sedang perlahan membuat seorang Ren Aksara menjadi terobsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19 Anjani Mulai Bersinar, Ren Semakin Tertarik
Ruang rapat terasa sesak. Bukan karena jumlah orangnya, melainkan karena semua orang membicarakan masalah yang sama selama dua jam tanpa benar-benar bergerak ke mana pun. Dan semakin banyak orang bicara, semakin Ren merasa dirinya sedang menyaksikan sekumpulan ayam rapat tentang cara terbang. Berisik, penuh teori, tapi tidak ada yang benar-benar menyelesaikan masalah.
Ren duduk di kursi utama dengan wajah datar. Jemarinya mengetuk meja perlahan.
Tok.
Tok.
Tok.
Suara kecil itu cukup membuat beberapa staf mulai berkeringat, karena semua orang tahu, ketika Ren diam, itu belum tentu aman, kadang justru lebih berbahaya.
Di layar besar terpampang puluhan konsep kampanye terbaru. Foto model, sketsa busana, materi promosi, video teaser. Semuanya terlihat mahal dan sempurna. Namun, justru di situlah masalahnya. Terlalu sempurna, terlalu rapi, terlalu aman. Seperti lukisan indah yang tidak membuat siapa pun berhenti menatap untuk kedua kalinya.
Di ujung meja, Ren duduk bersandar dengan wajahnya datar. Mata tajamnya menyapu ruangan. Sementara puluhan orang di hadapannya sedang berusaha menjelaskan penyebab kekacauan yang terjadi.
"Model utama mengundurkan diri, Pak."
"Tahu."
"Tim legal sedang menyiapkan gugatan karena dia melanggar kontrak."
"Tahu."
"Investor mulai meminta kepastian jadwal kampanye."
"Tahu."
"Media juga sudah--"
"Tahu."
Sunyi.
Staf yang berbicara langsung menelan ludah. Ren memang luar biasa. Bahkan satu kata 'tahu' darinya bisa terdengar seperti ancaman.
Di samping ruangan, Maria menahan tawa. Sementara Anjani yang duduk tidak jauh dari sana hanya mengamati. Ini hari pertamanya. Dan ia mulai memahami kenapa seluruh lantai kantor seperti takut pada satu orang yang sama.
Ren Aksara.
Pria itu bahkan tidak membentak saja cukup membuat suasana berubah mencekam, apalagi jika mode galaknya aktif. Sudah dipastikan kantor berubah jadi neraka dadakan.
"Jadi?" Suara Ren terdengar datar. "Solusinya?"
Beberapa orang saling pandang, lalu seorang manajer pemasaran memberanikan diri.
"Kita bisa mencari model pengganti dari luar negeri."
"Terlambat."
"Kalau influencer besar?"
"Tidak cocok."
"Atau konsep kampanyenya kita ubah total?"
"Salah."
Sunyi lagi.
Anjani mulai sedikit kasihan. Orang-orang ini seperti sedang berjalan di ladang ranjau dan Ren memegang detonatornya.
Akhirnya Direktur Kreatif menghela napas. "Pak Ren, kita memang kehilangan arah."
Untuk pertama kalinya Ren mengangguk. "Hm."
"Kehilangan model hanya masalah kecil."
Semua menoleh.
"Pak?"
Ren menopang dagunya di atas kedua tangan yang bertautan. Tatapannya dingin. "Model bisa dicari. Uang perusahaan cukup untuk membeli wajah cantik baru kapan saja."
Tak ada yang membantah, karena itu benar.
"Lalu untuk masalah berikutnya?" tanya seseorang hati-hati. "Kita sudah revisi tujuh kali. Kita sudah ganti fotografer. Kita sudah ganti konsep pencahayaan. Kita sudah ganti styling. Dan hasilnya tetap sama."
Direktur kreatif mengusap wajahnya frustasi.
"Bagus, tapi nggak ngena," imbuhnya lagi.
Ren menatap layar. "Koleksi ini mati."
Ruangan langsung hening.
"Kainnya bagus. Potongannya bagus. Produksinya bagus. Tapi ceritanya tidak ada."
Tak ada suara yang menyela, karena semua orang tahu kalimat itu benar.
Ren melanjutkan. "Fashion tanpa cerita hanya kain mahal yang kebetulan dijahit."
Kalimat itu jatuh seperti batu ke tengah danau dan menciptakan riak ke mana-mana. Anjani sedikit mengangkat kepala. Matanya memandang layar, lalu kembali pada Ren. Pria itu ternyata melihat persoalan yang sama dengannya. Sangat menarik.
Semua masih diam. Mereka memang paham, tapi solusi nol besar, membuat Ren mulai kehilangan kesabaran. Bukan karena masalahnya sulit, justru karena solusi sudah ada sejak awal dan mereka tidak melihatnya. Persis seperti orang kehausan yang berdiri di samping sumur.
"Kalian!" Suara Ren hampir meledak sebelum ia memilih menahannya.
Tatapannya bergeser ke sudut ruangan, ke arah Anjani. Perempuan itu sejak tadi tidak banyak bicara.
Hanya memperhatikan, mendengar, mengamati. Sama seperti dirinya. Dan Ren menyukai itu. Orang yang terlalu cepat bicara biasanya terlalu lambat berpikir.
"Kamu."
Anjani berkedip. "Saya...?"
"Berdiri."
Seluruh ruangan otomatis menoleh. Anjani hampir merasa seperti siswa yang tiba-tiba dipanggil guru ke depan kelas. Bedanya, guru ini bisa memecat orang.
Dan semua tahu, kalau Ren menunjuk seseorang dalam rapat, biasanya ada dua kemungkinan. Orang itu dipromosikan atau dibunuh secara profesional.
Perlahan ia berdiri. Ren tetap terlihat santai dengan muka masamnya, seolah ia sudah tahu sesuatu yang tidak diketahui orang lain.
"Menurutmu?"
Anjani mengernyit. "Tentang apa?"
"Perbaiki."
Anjani terdiam. Sebagian staf mulai saling pandang. Perbaiki? Apa maksudnya?
Namun Ren tidak menjelaskan apa pun, karena ia tidak perlu. Ia hanya ingin melihat satu hal. Apakah instingnya benar tentang Anjani.
Dan sikapnya itu justru membuat Anjani kesal. Wajah Ren terlihat seperti seseorang yang sengaja menjebak orang lain lalu menikmati hasilnya.
Menyebalkan. Benar-benar menyebalkan.
Anjani berjalan mendekati layar. Awalnya ia ragu, namun setelah melihat seluruh materi kampanye yang ditampilkan, rasa ragunya perlahan hilang, digantikan sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan. Dunia yang dulu pernah menjadi miliknya. Dunia kain, warna, potongan, dan cerita.
Ia menunjuk salah satu foto. "Ini cantik."
Klik. Foto berikutnya.
"Ini juga."
Klik.
"Ini bahkan sangat bagus."
Klik.
Klik.
Klik.
Lalu ia berhenti. Penghuni seisi ruangan menunggu.
"Tapi saya nggak ingat satu pun."
Beberapa orang langsung mengangkat kepala.
Anjani melanjutkan. "Saya lihat semuanya bagus, tapi saya tidak merasakan apa-apa. Tidak ada alasan kenapa saya harus peduli pada perempuan di foto itu."
Direktur Kreatif mulai duduk lebih tegak.
Anjani menunjuk layar. "Kalau koleksi ini tentang perempuan yang bangkit dari keterpurukan..." Tatapannya menyapu seluruh foto. "Kenapa modelnya terlihat seperti perempuan yang tidak pernah kehilangan apa pun? Foto ini seperti orang kaya terlihat kaya, atau orang cantik terlihat cantik."
Kena tepat sasaran. Tidak lama, ruangan yang tadinya muram berubah seperti sarang lebah. Semua bergerak, mulai mencatat dan berdiskusi tentang masalah yang kini terlihat.
Di tengah kekacauan produktif itu, Anjani berdiri sambil menjelaskan sesuatu pada tim styling. Tanpa sadar ia sedang bersinar. Bukan karena wajahnya, tapi karena kemampuannya, dan itu jauh lebih sulit dipalsukan.
Seorang staf yang tadi meremehkannya berbisik pelan pada rekannya. "Dia siapa sih sebenarnya?"
Yang ditanya menggeleng. "Nggak tahu."
"Gila."
"Gila sih."
"Aku kira dia orang titipan."
"Aku juga."
"Ternyata kita yang hampir jadi beban perusahaan."
Satu jam berikutnya berlalu cepat. Anjani berdiri di depan papan tulis, kemudian menggambar, menulis. Sesekali menghapus yang perlu diperbiaki sambil menjelaskan. Bahkan tanpa sadar mulai menyusun ulang arah kampanye.
"Kita tidak butuh model yang hanya cantik. Kita butuh seseorang yang punya cerita. Orang yang ketika difoto membuat orang lain bertanya apa yang sedang dia rasakan."
Semakin lama, semakin banyak kepala yang mengangguk, semakin banyak catatan dibuat. Dan semakin banyak orang yang mulai lupa kalau perempuan ini bahkan baru masuk perusahaan hari ini.
Di ujung meja, ren tetap diam. Tidak memberi ekspresi apa pun. Namun sesungguhnya, inilah yang ingin ia lihat sejak awal. Sejak malam di backstage itu, ia sudah tahu. Anjani bukan sekadar perempuan yang bisa memperbaiki gaun. Ia memahami pakaian seperti dokter memahami tubuh manusia. Ia tahu bagian mana yang mati. Bagian mana yang harus dihidupkan.
Dan yang paling penting, ia tahu bagaimana membuat sebuah karya memiliki jiwa. Itu alasan Ren menginginkannya. Itu alasan Ren repot-repot menyeretnya masuk ke perusahaan. CEO besar itu bahkan rela menurunkan gengsinya sendiri, meski tentu saja ia tidak akan pernah mengakuinya.
Rapat berakhir hampir dua jam kemudian. Suasana yang tadi muram kini berubah jauh lebih hidup. Orang-orang bergerak cepat, membawa tugas masing-masing. Untuk pertama kalinya sejak beberapa minggu terakhir, mereka melihat arah yang jelas.
Dan di tengah semua itu, Anjani hanya berdiri diam dengan perasaan sedikit bingung. Ia tidak menyadari bahwa cukup banyak orang kini memandangnya berbeda. Bukan sebagai staf yang baru masuk, melainkan seseorang yang memang pantas berada di ruangan itu.
Di ujung meja, Maria menyenggol lengan Ren. "Ehem."
Ren tidak menoleh. Tatapannya masih tertuju ke Anjani.
Maria tersenyum. "Tuh."
"Apa?"
"Jiwa koleksi yang hilang."
Ren menjawab datar. "Sudah saya bilang."
Maria langsung mendelik. "Udah kelihatan kalau kamu memang dari awal mengincar dia."
"Hm.
Ren bersandar. Tatapannya masih tertuju pada Anjani yang sedang menjelaskan konsep baru di depan layar. Sudut bibirnya bergerak tipis. Cukup membuat Maria yang melihatnya merinding, karena ekspresi itu lebih langka daripada pocong keluar di siang bolong.
"Kalau berlian jatuh ke lumpur," ujar Ren pelan. "Orang bodoh cuma lihat lumpurnya."
Maria membeku, alu perlahan menoleh. Sementara Ren tetap menatap Anjani.
"Tapi berlian tetap berlian."
Maria tahu secanggih apa kemampuan Anjani. Dan ia juga tahu masalahnya mungkin tidak sesederhana mencari desainer baru, tapi cara Ren memandang Anjani sekarang, sudah mulai terlalu lama untuk disebut sekadar urusan pekerjaan.
Bersambung~~