NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Pengganti Anak Sahabat

Menjadi Ibu Pengganti Anak Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: peony_ha

Sandra, Satya dan Raisya telah menjalin persahabatan sejak mereka memasuki dunia perkuliahan. Perhatian Satya pada Sandra terlalu berlebihan membuat Sandra menjadi terbawa perasaan.
Namun pada akhirnya Sandra harus mengubur perasaanya pada Satya kala Raisya memberitahunya bahwa dia akan segera menikah dengan Satya.
sakit dan perih yang Sandra rasakan.
Namun takdir berkata lain, Sandra terpaksa harus menjadi ibu sambung dari anak hasil pernikahan sahabatnya itu, Raisya dan Satya.
akan kah Sandra sanggup melalui hari harinya bersama Satya yang telah berubah dan masih di hantui oleh bayang-bayang istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kamar lama

“Beli makanan buat Ayah dan Ibu, Ndra.”

Kak Satya menghentikan mobilnya di pinggir jalan, tepat di seberang ada beberapa toko makanan.

Mataku langsung tertuju pada toko kue yang menyediakan makanan khas Bandung. Ibu dan Ayah sangat menyukai kue balok.

“Oke, Kak,” jawabku sambil menunduk dan melepas seatbelt.

Namun—

“Ndra, tunggu.”

Kak Satya menyentuh bahuku.

Aku menoleh. Ia menyerahkan sebuah kartu ATM padaku.

“Apa, Kak?” tanyaku, masih terdiam memandang kartu yang ada di hadapanku.

“Untuk uang bulanan juga. Nanti aku tinggal transfer tiap bulan. Password-nya tanggal lahir kamu, biar gampang mengingatnya,” ucapnya dengan pandangan tetap lurus ke depan.

Duarrr.

Jantungku terasa seperti ingin meloncat. Rasa bahagia sekaligus haru menyelimuti hatiku. Seakan ada kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutku.

Dengan ragu, aku menerima kartu ATM itu tanpa banyak kata.

Aku melangkah keluar untuk membeli beberapa kotak kue balok.

Setelah membeli empat kotak kue balok, aku kembali ke mobil. Tanpa banyak kata, Kak Satya langsung melajukan mobilnya.

Hanya sepuluh menit, kami sudah sampai di rumah Ayah dan Ibu. Kak Satya memarkirkan mobil di garasi, bersisian dengan mobil milik Ayah.

“Mama Ndra!”

Seorang gadis kecil keluar dari rumah. Sudah lama kami tidak bertemu, ia langsung menghambur ke dalam pelukanku. Aku membalas dengan mencium kedua pipinya.

Kak Satya sudah berada di sampingku.

“Papa!”

Sandrina juga memeluk Kak Satya.

“Ndra, Satya, masuk dulu, Nak.”

Ibu keluar dari dalam rumah.

Aku dan Kak Satya menyalami Ibu.

“Ibu sehat?” ucapku sambil memeluknya.

“Sehat, sayang.”

“Ayah ke mana, Bu?” kini Kak Satya yang bertanya.

“Ayah ada urusan dulu, keluar sebentar. Paling nanti pulang sebelum magrib. Ayo ke dalam dulu.”

Untuk pertama kalinya aku memasuki rumah ini setelah menikah. Rasanya sangat berbeda—sedikit canggung, seperti orang lain yang datang.

Aku menyimpan kotak kue balok di meja.

“Bu, ini kue balok kesukaan Ibu.”

Ibu terlihat sumringah. Sepertinya sudah lama tidak memakannya. Karena aku tidak lagi tinggal di rumah, tidak ada lagi yang membelikannya. Biasanya, satu bulan atau dua minggu sekali aku selalu membelikan kue balok untuk Ibu.

Aku duduk di sofa. Mataku melirik Sandrina yang tengah berbincang dengan papanya, entah apa yang mereka bicarakan.

“Ndra, kamu repot-repot sekali. Tapi Alhamdulillah, terima kasih, Nak. Sudah lama Ibu tidak makan kue balok.”

Aku melihat mata Ibu sedikit berkaca-kaca.

Hatiku ikut sedih. Pasti Ibu merasa sedikit kehilanganku. Aku yang dulu selalu menemaninya setiap hari, kini harus menikah dan tinggal bersama Kak Satya.

“Sandraaa, surprise!”

Seseorang tiba-tiba muncul dari dalam rumah keluarga. Di tangannya terdapat bayi mungil yang sedang tertidur.

Leona, sepupuku.

“Nana!”

Aku kaget sekaligus bahagia.

“Kamu nggak bilang-bilang mau ke sini, Na. Itu siapa? Bukannya dia belum lahiran ya?” tanyaku. Aku memang jarang bertemu dengan Leona. Ia tinggal di negeri jiran, ikut dengan suaminya.

“Bayiku lah, Dra,” ucap Leona sambil menghampiriku dan memelukku erat.

“Kenapa kalian nggak ngasih tahu, sih?”

“Rencananya besok kita mau main ke apartemenmu, Ndra. Eh, malah kamu yang ke sini.”

Setelah makan malam bersama, aku, Ibu, dan Leona bersantai di ruang keluarga. Kami mengobrol hangat seputar kehidupanku dan Leona dulu—dari sering bertengkar sampai tidak bisa dipisahkan. Begitulah kami.

Aku men-tol pipi gembul bayi yang berada dalam pelukan Leona.

“Kapan, Ndra, punya bayi segemas ini? Kalau kamu punya bayi, pasti cakep banget. Secara Satya saja sudah cakep, kamu juga cantik.”

“Iya, Ndra. Kapan, Nak? Umur kamu sudah 28. Sandrina juga kelihatan sangat senang dengan Kenzo. Kemarin, pas Ibu tanya, dia mau kalau punya adik.”

Aku melirik Sandrina. Ia tengah sibuk sendiri dengan mainannya di lantai.

“Mau punya anak gimana… anu-an saja belum pernah.”

Aku terdiam. Sungguh, aku berkata di luar kepala. Tadinya aku hanya ingin mengucapkannya dalam hati, namun entah kenapa bibir ini ikut berucap.

Ibu dan Leona langsung terdiam. Sepertinya shock.

“Istighfar kamu, Ndra! Pamali hukumnya. Kamu jangan menolak ajakan suami.”

Aku hanya terdiam. Tidak mungkin aku menjawab kalau Kak Satya tidak pernah mengajakku.

“Ibu nggak habis pikir sama kamu, Ndra. Mulai hari ini kamu nggak boleh menolak ajakan Satya. Itu dosa, sayang. Kalau perlu, kamu yang goda duluan Satya. Itu pahalanya berlipat-lipat.”

Leona terkekeh di sebelahku. Aku menyenggol lengannya.

Ah, tidak mungkin kalau aku yang menggoda duluan Kak Satya. Jangankan menggoda, berdiri di depannya saja jantungku sudah berdebar tak karuan.

“Aduh, Ndra. Tolong jagain dulu Kenzo, aku mau ke toilet.”

Kini tinggallah aku yang sedang menimang-nimang Kenzo. Ibu pergi ke kamar, sepertinya beliau benar-benar marah padaku.

“Mama Ndra, Kenzo lucu ya. Menggemaskan,” ucap Sandrina yang kini sudah duduk di sebelahku.

“Siapa yang lucu, Na?”

Kak Satya berjalan memasuki ruang keluarga. Sepertinya sedari tadi ia di luar mengobrol dengan Ayah.

“Kenzo, Pah. Anaknya Tante Leona. Lihat, lucu banget.”

“Oh iya, lucu. Kamu juga lucu waktu bayi,” ucap Kak Satya.

“Ndra, sini bayiku,” Leona kembali dari toilet.

“Satya, bikin gih. Sepertinya Sandra sudah mau nimang-nimang bayi, biar Sandrina ada temannya,” celetuk Leona.

“Mudah bikinnya mah, Le. Tapi ngurusnya…” balas Kak Satya.

Leona pergi karena Kenzo sudah tertidur pulas.

“Mama Ndra, Drina ngantuk. Drina tidur di kamar Oma Can saja ya,” ucap gadis kecil itu. Ia langsung berlari menuju kamar Ibu.

Oh iya, aku dan Kak Satya dipaksa untuk menginap di sini. Katanya kasihan Sandrina kalau pulang malam-malam. Alasan Ibu saja, sebenarnya. Namun akhirnya Kak Satya setuju untuk menginap.

“Kak, mau istirahat?” tawarku, yang kemudian dijawab dengan anggukan oleh Kak Satya.

Kini Kak Satya sudah berbaring di kamar gadisku dulu—eh, sekarang juga masih gadis, hanya saja sudah punya suami.

Ranjang yang tidak terlalu luas itu kini akan kubagi dengan Kak Satya.

“AC-nya jangan terlalu dingin, Ndra,” ucapnya dengan tatapan fokus pada ponsel.

“Iya, Kak.”

Di luar sedang hujan dan udara cukup dingin. Namun entah kenapa aku justru merasa gerah di dalam kamar. Kak Satya memang tidak terlalu suka pendingin ruangan.

Jam sudah menunjukkan pukul 11.30 malam, namun aku belum juga memejamkan mata. Begitu juga dengan Kak Satya. Ia tengah memainkan ponselnya, sepertinya sedang bermain game.

Jlebb.

Lampu mati.

Aku yang memang fobia gelap langsung mencari perlindungan.

Refleks, aku memeluk Kak Satya erat.

Duku novel pertama ku ya, dengan cara like, komen dan vote itu sangat berarti untuku, terimakasih kepada yang setia membaca🙏🏻

1
roses
sipp di tunggu ya kak
Aimee Aiko
lanjut seru
Buku Matcha
Bagus
roses
kok jadi ikut deg degan ya ndra
roses
sabar ya sandra
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!