NovelToon NovelToon
Putri Quraisy Dari Masa Depan

Putri Quraisy Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: MOEROUL

Maya Farida, mahasiswi Al-Azhar yang terobsesi pada sejarah Islam dan sains, meninggal dalam kecelakaan tragis tepat di hari kelulusannya di Kairo.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ia terbangun kembali sebagai bayi perempuan bangsawan Quraisy di Mekah abad ke-6 puluhan tahun sebelum kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW.
Di dunia yang belum mengenal Islam, Maya harus hidup sebagai Qatilah binti Naufal, putri dari keluarga elit Bani Asad yang berkuasa. Dengan pengetahuan modern yang tak seharusnya ada di zaman itu, ia perlahan mengubah kehidupan di sekitarnya melalui logika, sains, dan kecerdasannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18

BAB 18

"Terus, sekarang kita harus gimana, Yah?" tanya Mila setelahnya.

Aku beranjak bangun, membereskan baskom kayu, tumpukan kain kotor, dan hamparan kulit binatang yang terkena bercak darah Goran, lalu membawanya ke arah dapur.

Goran terdiam sejenak, wajahnya terlihat berpikir keras.

"Mereka adalah sekumpulan prajurit elit," gumamnya. "Cepat atau lambat, mereka pasti akan menemukan jejak darahku yang tertinggal di hutan. Bagaimana, Anak Bangsawan? Apa kau punya rencana?"

Aku tidak langsung menjawab. Sebagai gantinya, aku mengambil sebuah mangkuk kayu dan mengisinya dengan sisa rebusan daging yang masih hangat.

"Makan dulu."

"Aku tidak lapar."

"Kalau begitu jangan makan."

Aku meletakkan mangkuk itu di atas meja lalu kembali mengangkat baskom.

Beberapa detik kemudian, saat aku menoleh, mangkuk tersebut sudah berpindah ke tangan Goran. Pria raksasa itu mendengus pelan sebelum mulai makan dalam diam.

Mila menyusulku ke dapur dan mulai membantu mencuci kain-kain berdarah itu. Tanganku yang tercelup ke dalam air dingin terhenti sejenak. Aku berpikir keras sambil memandangi postur Mila yang menjulang tinggi di sampingku.

"Sepertinya kita memang tidak bisa tinggal di hutan ini lagi," ucapku pelan namun tegas. "Goran, apa kau masih ingat hal yang pernah kukatakan padamu dulu?"

​Goran mengerutkan keningnya, menghentikan kunyahannya sejenak. "Soal cerita anehmu..." ia bergumam dengan mulut yang masih setengah penuh daging, "...tentang manusia yang sebenarnya tinggal di atas batu bulat raksasa yang melayang di ruang hampa?"

"Bukan itu! Jangan bercanda di saat genting begini!" desisku kesal. "Maksudku saat kau bertanya tentang asal-usulku."

​"Oh," Goran mengangguk pelan, menelan makanannya dengan susah payah lalu menyeruput sisa kuah dari mangkuk kayunya."Kau bilang ada keluargamu yang masih hidup dan kalau tidak salah, kau bilang dia kakakmu? Sejujurnya aku masih tidak percaya dengan itu. Jelas-jelas kau bilang kalian dikejar oleh pasukan pembunuh bayaran. Satu-satunya alasan kakakmu bisa selamat adalah jika dia ikut melompat masuk ke kapal budak bersamamu."

Tentu saja secara logika biasa, Kak Waraqah memang terlihat tidak punya harapan selamat dari hari itu. Tapi, dalam catatan sejarah masa depan yang kuketahui, Waraqah bin Naufal hidup sehat sampai usia yang sangat tua. Artinya, kakakku itu pasti masih hidup di luar sana. Sayangnya, fakta sejarah dari masa depan ini sama sekali tidak mungkin kukatakan langsung pada Goran.

"Anggap saja ini adalah keyakinan kuatku," balasku mantap. "Dan keyakinan ini sangat sejalan dengan rencanaku sekarang. Kita harus kabur dari sini, tapi tidak sekadar kabur tanpa arah yang jelas. Kita akan lakukan dengan rencana itu...."

"Memangnya apa rencananya, Kak?" tanya Mila penasaran.

Goran memutar bola matanya yang besar sambil menggigit potongan daging terakhirnya keras-keras. "Jangan bilang kau ingin membawa kami bertualang jauh hanya agar kau dan Mila bisa menuntut ilmu seperti yang sering kau ocehkan itu?" Ia menudingku dengan tulang daging yang baru saja dihisapnya hingga bersih. "Sudah kubilang berkali-kali, Anak Bangsawan, wanita tidak perlu repot-repot mempelajari hal-hal seperti itu! Aku tidak mau anak perempuanku nanti tidak laku. Tidak ada laki-laki waras yang mau menikahi wanita yang bisa membaca dan menulis!"

Kepalaku rasanya ingin meledak mendengar argumen kolot itu lagi. "Astaga, bahkan di saat hidup dan mati seperti ini kau masih saja keras kepala?" sergahku tak habis pikir. "Apa kau kira Mila masih akan hidup hari ini jika aku tidak belajar dan tidak tahu cara mengobatinya dulu? Apa kau kira kita bertiga akan tetap hidup sehat jika aku tidak mengerti apa-apa soal membuat alat-alat di tempat ini?"

"Ya itu kan hal yang berbeda! Itu soal bertahan hidup, bukan soal membaca huruf di atas kertas! Mengobati penyakit memang penting. Tapi itu tidak berarti semua perempuan harus belajar membaca."

Ya Allah, jeritku dalam hati. Bisakah Engkau menurunkan Nabi Muhammad sekarang juga di depanku agar beliau bisa menjelaskan pentingnya ilmu kepada raksasa bodoh ini?!

Aku dan Goran terus berdebat memperebutkan masalah kuno itu. Suara kami bersahutan di dalam rumah, seakan lupa bahwa ada pasukan elit yang sedang memburu kami di bawah sana.

Mila, yang rupanya sudah selesai mencuci kain, berdiri menatap kami berdua dengan wajah merengut. Tiba-tiba, gadis itu menghentakkan kakinya kuat-kuat ke lantai batu.

DUM!

Seluruh struktur rumah bergetar hebat layaknya diguncang gempa kecil. Aku dan Goran seketika terdiam, menoleh kaku ke arah anak sepuluh tahun itu.

"Ayah!" seru Mila dengan nada merajuk. "Aku tidak mau jika nanti sudah besar, aku menjadi sama bodohnya dengan Ayah! Aku mau menjadi pintar seperti Kak Qatilah!"

"Tapi anakku sayang, nanti kamu tidak bisa mendapat suami jika terlalu pintar. Laki-laki itu takut pada wanita yang..."

Dan kini, perdebatan konyol itu beralih sepenuhnya menjadi ajang adu mulut antara ayah dan anak. Goran bersikeras dengan pandangan tradisionalnya, sementara Mila tak mau kalah membela haknya untuk belajar. Aku menghela napas sangat panjang, beristighfar dalam hati mempertanyakan sampai kapan drama keluarga ini akan berakhir.

Tak tahan dengan kebisingan yang menguras waktu ini, aku meraih sebuah panci kosong dari rak dan memukulnya keras-keras dengan centong kayu.

TENG! TENG! TENG!

Mereka berdua terlonjak kaget dan langsung menutup mulut rapat-rapat.

"Sudahlah! Masalah itu kita pikirkan saja nanti," tegasku, mengambil alih kendali situasi sepenuhnya. "Sekarang yang paling penting adalah berkemas dan bersiap pergi dari rumah ini."

Goran berdeham canggung, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ya, kau benar. Sekarang mungkin para Witendz itu sudah mulai menemukan jejak darahku di hutan bawah."

"Terus kita kabur ke mana?" tanya Mila.

"Kita akan naik ke atas tebing batu di belakang rumah," jawab Goran serius, kembali ke perannya sebagai pelindung keluarga.

"Tunggu dulu," aku menyela. "Bukankah kau pernah bilang padaku kalau di atas tebing belakang itu ada hutan yang jauh lebih berbahaya daripada hutan di bawah?"

"Yah, aku memang baru satu kali pernah menjelajahi hutan di atas itu, saat usiaku masih kecil bersama ayahku. Tapi hanya itu satu-satunya pilihan rute pelarian yang kita punya sekarang. Karena jika kita nekat turun ke hutan bawah..."

"Kau akan terbunuh," potongku cepat. Aku mengangguk paham. "Baiklah. Untungnya, aku sudah menyiapkan sebuah alat khusus dan semua hal yang dibutuhkan untuk pergi ke atas sana."

Goran membelalakkan matanya yang masih sayu. "Apa? Sejak kapan kau menyiapkannya?"

Mila berkacak pinggang dengan wajah berbinar bangga. "Ayah kira selama ini aku tidak sanggup membelah kayu-kayu tebal itu dan memanjat tebing ke atas sana diam-diam?"

"Ya, minggu lalu aku dan Mila sengaja membuat sebuah alat yang dapat mengangkut banyak barang ke atas tebing, sekadar berjaga-jaga jika ada hal buruk seperti ini terjadi," jelasku. "Awalnya aku ingin membuat semacam lift barang berukuran besar. Namun melihat kondisimu yang terluka parah seperti sekarang, sepertinya alat itu hanya akan kupakai untuk membawa tubuh raksasamu ke atas."

"Urgh... lift? Benda apa lagi itu?" tanya Goran dengan wajah bingung.

Pria raksasa itu memaksakan diri bangkit dari tempat tidur. Ia berjalan tertatih ke arah jendela belakang lalu membukanya lebar-lebar. Saat ia menengok ke luar, ia langsung disuguhi pemandangan alat buatan kami yang tersembunyi di sudut tebing yang di sinari sinar bulan.

Alat yang kusebut lift itu pada dasarnya adalah sebuah panggung persegi yang terbuat dari susunan batang kayu pinus yang sangat kokoh. Kayu-kayu itu diikat mati menggunakan anyaman akar pohon tebal dan sabuk kulit binatang. Pijakan raksasa tersebut digantungkan menggunakan empat tali tambang tambal sulam yang saling terhubung pada sebuah sistem katrol kayu di atasnya.

Di sisi lain sistem katrol itu tergantung sebuah keranjang kayu besar yang dipenuhi batu-batu sungai sebagai pemberat. Keranjang tersebut menjulur ke jurang di bawah rumah. Saat penguncinya dilepas, berat batu-batu itu akan menarik dirinya sendiri ke bawah dan mengangkat panggung lift ke atas secara perlahan.

Jumlah batu di dalamnya sengaja kubuat berlebihan. Awalnya lift itu dirancang untuk mengangkut muatan. Karena itu, alat tersebut seharusnya masih mampu mengangkat Goran tanpa masalah.

Katrol putar itu sendiri sudah dipasang dan dipaku dengan sangat kuat oleh Mila pada dahan pohon raksasa yang menjorok keluar dari ujung atas tebing. Dengan sistem poros mekanik ini, beban yang ditarik ke atas akan terasa jauh lebih ringan.

Goran menatap konstruksi kasar namun kokoh itu dengan mulut sedikit terbuka. "Yah, kalau dilihat dari ketebalan kayunya, sepertinya alat itu cukup kuat untuk menampungku dan kalian berdua sekaligus."

"Kau bisa menganggap lift itu sebagai pijakan untuk naik ke atas tebing tanpa perlu repot memanjat," kataku meluruskan asumsinya. "Tapi tidak, yang akan naik ke atas lift itu hanya kau... dan peti berisi bongkahan emas dan harta milik kita."

"Apa?" Goran menatapku tak percaya. "Kenapa harus repot-repot membawa peti emas segala ke atas lift? Tinggalkan saja benda berat itu di sini! Kita kan bisa mencari harta lagi nanti di perjalanan kalau kita bertemu..."

"Kau mau merampok orang lagi?" tembakku dengan tatapan sedingin es. "Selain itu, panggung kayunya mungkin kuat, tapi batu pemberat di bawah sana tidak akan sanggup menarik beban kita bertiga ditambah peti emas itu secara bersamaan."

Goran seketika terdiam dan menelan ludahnya.

"Lalu... bagaimana dengan kalian berdua?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.

"Aku yang akan menggendong Kak Qatilah di punggungku sambil memanjat tebing itu ke atas!" jawab Mila dengan dada dibusungkan. "Biar Ayah dan peti emas itu saja yang ditarik menggunakan alatnya."

"Kau benar-benar yakin kuat membawaku, Mil?" tanyaku memastikan sekali lagi.

Mila mengangguk mantap tanpa keraguan.

"Iya, Kak!"

"Baiklah. Meski sebenarnya aku masih enggan melakukan metode ini karena aku takut kau kenapa-napa di tengah tebing," ucapku jujur. "Tapi setelah beberapa minggu ini aku selalu melihatmu memanjat tebing itu ke atas dan ke bawah dengan mudah tanpa masalah, kurasa ini memang cara terbaik. Tapi ingat. Kau harus tetap memakai sarung tangan kulit yang kubuat khusus untukmu. Dan ikat ujung tali pengaman di pinggangmu, lalu sambungkan kaitannya ke dasar lift kayu itu. Mengerti?"

"Oke!" jawab Mila sigap.

"Baiklah jika rencananya sudah diputuskan seperti itu, kita bisa pergi sekarang juga," putus Goran final.

Aku dan Mila segera berlari menyapu seisi rumah. Kami menyiapkan dan membungkus semua barang esensial ke dalam buntelan: pakaian bersih, perlengkapan medis berisi dedaunan herbal dan perban, alat makan, dan persediaan air minum.

Setelah semuanya siap, kami mengangkat buntelan itu dan peti harta kami ke atas lift kayu. Goran, yang masih pucat dan gemetar menahan perih di lengannya, perlahan mendudukkan tubuh besarnya di tengah-tengah lift. Di samping panggung kayu itu, Mila sudah bersiap dengan perlengkapan memanjatnya. Anak gadis berkekuatan luar biasa itu berjongkok, memberikan aba-aba agar aku naik ke punggungnya. Aku melingkarkan lenganku erat-erat di lehernya.

Malam itu, di bawah hembusan angin salju yang menggigit kulit, kami sekeluarga perlahan meninggalkan rumah hangat yang telah menampung kami, merayap perlahan menaiki dinding tebing vertikal menuju masa depan yang sepenuhnya tidak pasti.

1
Sarah
Hahaha 😂
Sarah
Yaelah. 😂
Sarah
Aduh, jangan sampai dikira nyolong. 😭
Sarah
Emang di zaman kuno ada yang kayak gini? raksasa gitu...? Maksudku, kalau ini zaman Nabi Adam sih make-sense karena tingginya kakek moyang kita ini juga.... 😭
Tapi kalau ini zaman sebelum kelahiran nabi... manusianya kan udah pada pendek. 😭
Sarah: Iyasih, kalau misalnya kelahiran zaman purba awal banget, Goram dan Mila pasti pendek kehitungnya. Tapi karena ini zaman pra-kelahiran rasul, tinggi mereka jadi terhitung terlalu tinggi dan gak normal. 🙂
total 2 replies
Sarah
Dia pasti masih hidup, Qatilah. Seharusnya, Waraqah bin Naufal akan bertemu Rasulullah untuk menyatakan kenabiannya nanti bukan? Tapi kalau apakah kalian bisa bertemu lagi... entahlah.
Sarah
Sakit banget baca bab ini... lihat remaja sama anak kecil survive berdua. 😭😖
Sarah
Kudanya pasti Syahid. Karena mengantar orang yang akan membenarkan kenabian Rasulullah saw bersama adiknya untuk bertahan hidup.
Sarah
Tapi... penyerangan ini... memang tidak pernah Maya baca di sejarah kah? Apa ini sesuatu yang tidak tercatat? Sesuatu yang dia lupa? Atau... sesuatu yang berubah?
Sarah: Iyasih, aku aja baru tahu Waraqah bin Naufal itu punya saudari. Dan pada dicari, rupanya bener. Cuma minim info, cuma ada yang tentang menawarkan diri ke Abdullah. 🙂
total 2 replies
Sarah
Antara dia gak diculik tapi diselamatin, atau udah diculik tapi berhasil diselametin.
Sarah
Diculik kah?
Sarah
Susu manis emang udah ada yah di zaman itu?
Maya: ada tapi bukan pake gula melainkan madu
total 1 replies
Sarah
Wah... yang mengenali kenabian nabi itu bukan sih? Yang sepupunya Siti Khadijah? Apa aku salah ingat yah?
Maya: yup betul 😄
total 1 replies
Sarah
Ah... gak bisa bayangin perasaan Abi Uminya... 😭
Sarah
Menarik, isekai tapi ke arab dan MC-nya muslimah. Meskipun nyatanya kalau orang mati ya... kagak ada reinkarnasi yang ada ditanyain man robbuka langsung. Tapi yah... di dunia ini ’kan ada banyak yang tidak ketahui. Bisa aja cewek ini diberikan takdir yang agak... lain...? Pasti ada alasannya kenapa dia malah dilemparin ke masa lalu. Bagus, thor. Konsepnya menarik banget. 👍😂
Sarah: Namanya juga fiksi kak. Nikmati aja hiburan. 😂
total 2 replies
Protocetus
kok jadi Isekai min?
Maya: lebih tepatnya historical isekai
total 1 replies
Protocetus
Thor beneran pernah kuliah di Al Azhar?
Maya: enggak hehehe 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!