Christian sudah menyukai Maya sejak lama—gadis manja, pemarah, dan tertutup yang selalu menjauh darinya.
Sementara itu, Chris adalah kebalikan dari semua yang Maya benci. Pria urakan, berisik, mesum, dan terlalu bebas.
Chris selalu mengejar Maya. Bahkan sampai menunda kelulusannya hanya untuk tetap berada di dekat gadis itu.
Awalnya, Maya menganggap Chris gangguan. Seseorang yang tak pernah ia anggap serius.
Tapi perlahan, perhatian yang tak pernah hilang itu mulai melemahkan pertahanannya.
Sampai tanpa sadar, Maya jatuh cinta.
Namun saat perasaan itu akhirnya saling terbalas, kenyataan justru datang menghantam mereka. Perbedaan keyakinan membuat cinta mereka… mustahil.
Sekarang Chris harus memilih, melawan segalanya atau kehilangan Maya untuk selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana Rovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18. bersikap seperti seorang suami
"Eh, mas Christian. Sarapan neng kene, toh?" (Eh, Mas Christian. Sarapan disini ya?)
Maya dan Chris yang baru saja akan mengambil duduk di kursi bagian dalam, menoleh. Mata mereka sontak melotot bersama-sama.
'Pak Jono?'
"Oh, karo calon istrine yo, Mas?" (Oh, sama calon istrinya ya, Mas?) Celetuk pak Jono keras, dan berhasil membuat pembeli yang mayoritas anak kos dan pemilik warung menoleh terkejut.
"Oh, itu.." Chris sekali lagi hanya menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
Maya refleks meraih tangan Chris di bawah meja, mencengkeramnya dengan gugup. Dan memberi isyarat lewat matanya untuk mengajak Chris pergi dari tempat itu. “Chris, kita pergi aja yuk!” bisiknya penuh panik, tubuhnya sedikit bergeser seperti bersiap kabur kapan saja.
Namun, bukannya ikut panik, Chris malah tersenyum santai. Ia menarik tangan Maya lembut, dan menahannya agar tetap duduk. “Tenang… justru ini kesempatan bagus,” ucapnya pelan, sambil menatap Pak Jono yang mulai melangkah mendekat.
“Kesempatan apa sih?” Maya mendesis, tapi Chris hanya mengedipkan mata penuh percaya diri.
Tiba-tiba, terbesit dalam pikiran Chris untuk bersikap sebaliknya. Wajah Maya yang sedang gelisah saat ini terlihat sangat menggemaskan baginya.
"Iya, Pak Jono. Tadi calon istri saya nangis lagi. Katanya sih, laper." Chris kembali melanjutkan aksinya yang sempat terhenti karena pukulan Maya. Ia merangkul pinggang Maya, dan mengusapnya naik turun.
Hal itu membuat Maya melotot.
Maya tidak tahu apa yang ada di pikiran Chris saat ini, tetapi Maya yakin jika laki-laki itu sepertinya sedang merencanakan sesuatu. Chris kembali merengkuh pinggangnya dengan sengaja. Lagi.
"C-Chris, kamu ngapain sih?" Masih dengan senyum yang dipaksakan, Maya berusaha melepaskan diri.
Sikap Chris yang seperti ini, semakin mengingatkannya dengan Andrew. Tapi Andrew bahkan tidak berani melakukan itu di depan umum.
"Gak usah malu, Honey. Seperti yang kamu bilang kemarin, sebentar lagi kita juga akan menikah, kan?"
Maya terdiam. Ingin membantah, tapi tatapan Chris yang dalam itu memaksanya untuk ikut bermain peran. Dalam hatinya ia mengumpat, tapi di wajahnya terpaksa dipasang senyum kikuk yang mencoba meyakinkan.
"C-Chris, jangan bercand—"
Ucapan Maya menggantung karena bibir lelaki itu tiba-tiba mendarat di bibirnya.
Cup!
Mata Maya membelalak. Ia bahkan tak sempat mengelak saat Chris tiba-tiba mencondongkan tubuh dan menempelkan bibirnya di bibirnya sendiri tepat di depan Pak Jono, ibu pemilik warung, dan beberapa pembeli lain yang masih duduk menikmati makanan mereka. Detik itu juga, wajahnya memanas, malu, marah, dan tak percaya.
“Chris!” bentaknya pelan, mendorong dada pria itu menjauh. Suasana warung mendadak hening. Beberapa pasang mata menatap ke arah mereka.
Maya marah. Ia benar-benar tidak menyangka Chris akan melakukan hal itu kepadanya.
Tanpa berkata-kata lagi, Maya langsung berdiri dari kursinya, dan melangkah keluar dari warung dengan langkah cepat. Chris berusaha menyusul, tapi Maya tak memberinya kesempatan.
"Maya, aku khilaf. Jangan marah dong."
Chris masih mengejar Maya, tetapi Maya mengabaikannya.
Dengan gugup dan masih dalam amarahnya, Maya menengok ke segala arah jalan, mencoba mencari taksi untuknya pulang. Dadanya naik turun menahan emosi, sementara bibirnya masih terasa hangat oleh ciuman yang tidak diinginkannya.
"Aku mau pulang!!"
Saat sebuah taksi terlihat dari jauh, Chris menyusul dari belakang dan memanggilnya. “Maya, tunggu dulu. Aku bisa jelasin—”
Maya membalikkan badan dan menatapnya tajam. “Jangan ikuti aku, Chris. Kamu sudah keterlaluan!”
"Aku akan anterin kamu. Jadi, jangan marah gitu, dong." Chris berhasil menyejajarkan tubuhnya dengan tubuh Maya, bertepatan saat sebuah taksi berwarna biru melewati kawasan perumahan Jogja Town House, tempat kos Chris saat ini berada.
Maya melambaikan tangannya agar taksi itu berhenti.
"Maya, itu hanya akting. Kan kamu sendiri yang bilang kalau aku calon suami kamu." Chris menghalangi pintu penumpang agar Maya tidak masuk ke dalam.
Maya mendelik kesal. "Akting? Tapi akting kamu itu udah kelewatan!"
'Chris mencium bibirnya! Padahal Maya selama ini tidak pernah melakukan hal itu dengan Andrew mantan pacarnya. Namun, Chris?'
Chris berdiri tepat di depan pintu taksi, menghalangi Maya yang berusaha masuk. “Maya, please, jangan kayak gini. Dengerin aku dulu,” katanya dengan nada memohon.
Namun Maya sudah kehilangan kesabaran. “Minggir, Chris. Aku mau pulang!” bentaknya, lalu tanpa ragu Maya menginjak kaki Chris hingga pria itu meringis kesakitan dan terpaksa menyingkir, menjauh dari pintu mobil.
"Argh! Anjing!" Chris mengumpat, mengaduh karena sepatu high heels rendah milik Maya tepat mengenai tulang jari kakinya.
"Rasain!!"
Kesempatan itu langsung dimanfaatkan Maya untuk masuk ke dalam taksi. Saat ia berniat untuk menutup pintunya, Chris sudah berdiri lagi sambil mengernyit. Tangan lelaki itu menahan daun pintu dan ia kembali menatap Maya.
"Ingat, tasmu masih ada sama aku, Maya. Aku yakin kamu nggak bawa uang sama sekali."
Maya menatap Chris sengit, dengan dagu terangkat. "Habis sampai rumah, aku bisa minta uang sama kak Lia."
Chris masih menahan pintu dan tidak membiarkan Maya terlepas sedikit pun. Lama terdiam, akhirnya dengan ekspresi wajah yang berubah serius, Chris berkata, "Tunggu aku dan jangan coba-coba untuk pergi!"
"Ngapain aku harus tunggu kamu! Aku bisa pulang sendiri! Mas, cepat antar aku—" Saat Maya meminta supir taksi yang masih terlihat muda itu untuk melajukan mobilnya, Chris lagi-lagi memotong ucapannya.
"Aku bilang.. AKU- AKAN- ANTAR- KAMU."
Suara Chris berubah tajam dan seketika membuat Maya terdiam. Ia tidak suka ketika Chris mulai serius dan marah seperti itu.
Seharusnya yang marah kan Maya.
Chris mengalihkan matanya ke sang supir. “Kalau sampai lo berani jalanin mobil ini, gue bunuh lo!” ancam Chris, cukup jelas untuk membuat supir muda itu yang tadi memasang wajah bingung berubah membeku di tempat. Tangannya yang menggenggam setir mulai gemetar.
Bagaimana tidak takut, tiba-tiba saja ada yang mengancam untuk membunuhnya. Terlebih dengan postur tubuh tinggi dengan tato di lengan Chris, yang biasanya identik dengan sikap yang buruk, membuat sang supir menelan ludahnya dan mengangguk kaku.
Maya dari dalam langsung melotot menatap Chris dengan marah. “Ish! Kamu kasar! Aku nggak suka!!"
'Bisa-bisanya Chris berkata seperti itu!'
Maya benar-benar marah. "Mas, kita pergi saja. Nggak perlu takut!"
Supir taksi itu kembali menelan ludahnya dengan susah payah. Ia melirik takut-takut pada Chris yang terlihat semakin menakutkan baginya.
"Ehm.. kulo iseh pengen urip, Mbak." (Ehm, saya masih pengin hidup, Mbak.)
Maya semakin kesal dan refleks kembali memukul Chris. "Aku benci sama kamu!"
Chris tidak lagi bisa menerima pukulan Maya. Ia menangkap tangan Maya. "Aku ini laki-laki normal, Maya. Ingat, kamu sendiri yang bilang kalau aku adalah calon suami kamu. Dan aku bisa saja bersikap seperti seorang suami jika aku mau, termasuk mencium mu seperti tadi."