NovelToon NovelToon
Savage Royalty

Savage Royalty

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Bad Boy / Diam-Diam Cinta
Popularitas:216
Nilai: 5
Nama Author: SeraphinSky

SMA Pertiwi dan STM Rajawali bagaikan langit dan bumi yang dipaksa berdampingan. Hanya terpisah oleh satu tembok tinggi, Pertiwi adalah istana bagi putri-putri konglomerat yang dipimpin oleh Roseanna Vallerian, sang Ratu Es yang perfeksionis. Sementara di sebelahnya, Rajawali adalah medan perang bagi Fattah Maverick, legenda jalanan yang memimpin pasukannya dengan kepalan tangan dan loyalitas tanpa batas.

​Selama tiga tahun, "Perjanjian Batas" menjaga gencatan senjata di antara mereka: Jangan sentuh wilayah kami, dan kami tidak akan menyentuh kalian.
​Namun, kedamaian itu hancur dalam semalam. Serangkaian teror misterius menghantam kedua sekolah. Mobil-mobil mewah siswi Pertiwi dirusak dengan lambang Rajawali, dan markas Rajawali dibakar oleh sosok berseragam Pertiwi. Fitnah menyebar lebih cepat dari api. Tawuran pecah di perbatasan, dan kedua sekolah terancam ditutup permanen oleh Dinas Pendidikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SeraphinSky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: STRATEGI PERANG DAN JANJI DI BALKON

Minggu Siang, Pukul 13.00 WIB

Rumah Roseanna Vallerian (Ruang Tamu Utama)

​Suasana di ruang tamu mewah milik Roseanna terasa seperti markas Avengers sebelum perang akhir.

​Di meja marmer Italia, terhampar peta digital Pelabuhan Sunda Kelapa yang diproyeksikan dari laptop Oliver. Undangan hitam dari Kairos tergeletak di tengah-tengah, seolah mengejek mereka.

​Anak-anak Vanguards duduk di sofa kulit Hermes dengan canggung (takut ngotorin).

Anak-anak Royals sibuk dengan gadget masing-masing.

​"Analisis lokasi," Oliver membetulkan kacamatanya, menunjuk layar. "Gudang Tua Nomor 4. Lokasinya di ujung dermaga. Akses masuk cuma satu, akses keluar... laut lepas. Ini killing zone sempurna."

​"Jadi kalau kita masuk, kita kejebak?" tanya Raisa, meremas tangannya yang kekar.

​"Tepat," jawab Oliver. "CCTV di sana mati total sejak semalam. Kairos udah nyiapin panggungnya."

​Fattah Maverick berdiri di dekat jendela, menatap keluar. Dia memakai kaos hitam polos yang pas di badan, memperlihatkan otot lengannya. Wajahnya serius.

​"Ini bukan soal wilayah lagi," kata Fattah berat. "Dia mau Julian. Dan dia mancing kita buat jadi saksi... atau korban."

​Roseanna Vallerian duduk di sofa tunggal, memijat pelipisnya. Dia memakai blouse putih sutra, kontras dengan ketegangan di wajahnya.

​"Gue nggak peduli sama Julian," kata Roseanna dingin. "Dia udah khianatin gue. Tapi gue nggak mau ada darah tumpah di tangan gue. Kita harus lapor polisi."

​"Nggak bisa, Rose," potong Lia.

​Semua menoleh ke Lia. Lia sedang memegang kartu undangan itu di bawah lampu baca, menelitinya dengan kaca pembesar (pinjeman Aqeela).

​"Kenapa, Li?" tanya Ilham (yang duduk di karpet dekat kaki Lia, setia jadi bodyguard).

​"Liat tintanya," tunjuk Lia. "Ini tinta invisible yang cuma nyala kalau kena panas. Ada kode koordinat di pojok kanan bawah. Polisi nggak bakal ngerti ginian. Ini permainan teka-teki. Kalau kita bawa polisi, Kairos bakal tau dan Julian... game over sebelum kita sampe."

​"Jadi kita harus dateng sendiri?" tanya Harry gemetar. "Lawan mafia pelabuhan? Modal kita apa? Pentungan kasti?"

​Aqeela Azalea mengangkat tangan dengan semangat.

​"Tenang, Guys! Aku udah belanja online kilat!"

​Aqeela menepuk tangan dua kali. Clap! Clap!

​Dua pelayan masuk membawa koper-koper besar.

​"Isinya apa Neng?" tanya Mohan penasaran.

​Aqeela membuka koper itu. Isinya:

​10 Rompi Anti-Peluru (Kevlar) standar militer.

​5 Taser Gun (Pistol Kejut Listrik).

​Drone pengintai DJI Mavic terbaru.

​Dan... helm tactical warna pink (buat dia sendiri).

​"Wah..." Harry melongo. "Neng Aqeela, kamu ini sebenernya anak mafia atau anak sultan?"

​"Anak Papah," jawab Aqeela polos. "Papah bilang, kalau mau main di luar, harus pake pengaman."

​Fattah mengambil satu rompi kevlar hitam. Berat. Kokoh.

​"Oke," kata Fattah. "Kita punya gear. Kita punya otak (Lia, Oliver, Naura). Kita punya otot (Raisa, Ilham, Mohan). Dan kita punya duit (Aqeela & Rose)."

​Fattah menatap Roseanna.

​"Pertanyaannya, lo siap mimpin kita, Ratu?"

​Roseanna berdiri. Dia mengambil rompi kevlar itu dari tangan Fattah.

​"Gue siap," kata Roseanna mantap. "Kita berangkat nanti malem. Selesaikan ini sekali untuk selamanya."

​Pukul 17.00 WIB - Balkon Lantai 2

​Sore menjelang malam. Langit Jakarta berwarna oranye kemerahan, seolah memberi pertanda.

​Roseanna berdiri sendirian di balkon kamarnya, menatap matahari terbenam. Angin sore menerbangkan rambut panjangnya. Tangannya mencengkeram pagar besi.

​Ada rasa takut yang menyelinap. Julian, Kairos, Pelabuhan... ini dunia yang terlalu gelap buat dia.

​"Jangan loncat. Lantai 2 nggak bikin mati, cuma patah kaki."

​Suara bariton itu membuyarkan lamunan Roseanna.

​Fattah berdiri di pintu balkon, bersandar santai sambil memegang dua kaleng kopi dingin.

​Roseanna menoleh, tersenyum tipis. "Siapa yang mau loncat? Gue cuma lagi nyari inspirasi."

​Fattah mendekat, menyerahkan satu kaleng kopi. "Minum. Biar melek. Nanti malem bakal panjang."

​"Makasih," Roseanna menerima kopi itu. Jari mereka bersentuhan sedikit. Hangat.

​Mereka berdiri bersisian dalam diam, menikmati pemandangan kota.

​"Lo takut?" tanya Fattah tiba-tiba, tanpa menoleh.

​Roseanna terdiam sejenak. Dia nggak biasa jujur soal perasaannya. Tapi sama Fattah... rasanya beda.

​"Iya," aku Roseanna pelan. "Gue takut salah langkah. Gue takut ada yang celaka gara-gara ego gue."

​Fattah menoleh, menatap profil wajah Roseanna yang terkena sinar matahari sore. Cantik, tapi rapuh.

​"Lo nggak sendiri, Rose," kata Fattah lembut. "Ada gue. Ada anak-anak."

​"Tapi lo musuh gue, Fattah," Roseanna terkekeh getir. "Harusnya kita perang, bukan kerjasama."

​"Musuh yang baik lebih berharga daripada temen yang palsu kayak Julian," jawab Fattah.

​Fattah memutar tubuhnya menghadap Roseanna. Dia menatap mata cokelat cewek itu lekat-lekat.

​"Dengerin gue," kata Fattah serius. "Nanti di pelabuhan... jangan jauh-jauh dari gue. Kalau ada apa-apa, lari ke belakang gue. Gue bakal jadi tameng lo."

​Jantung Roseanna berdesir.

​"Lo mau jadi pahlawan kesiangan?" goda Roseanna, mencoba mencairkan suasana.

​"Bukan," Fattah menggeleng. Dia menyentuh bahu Roseanna pelan. "Gue cuma mau mastiin, Ratu Pertiwi pulang tanpa lecet sedikitpun. Karena kalau lo lecet... gue nggak punya lawan sepadan lagi buat diajak ribut."

​Roseanna tertawa kecil. Air mata haru menggenang di pelupuk matanya.

​"Janji?" tanya Roseanna, mengulurkan jari kelingkingnya.

​Fattah menatap jari kelingking itu. Dia tersenyum miring, lalu mengaitkan jari kelingkingnya yang kasar dan kapalan ke jari Roseanna yang halus.

​"Janji. Gue bakal lindungin lo. At all cost."

​Momen itu terkunci dalam senja. Sebuah sumpah setia antara Raja Jalanan dan Ratu Istana.

​Di Ruang Tamu - Persiapan Terakhir

​Sementara itu, di bawah, kekacauan terjadi saat mereka mencoba memakai gear.

​"ADUH! INI ROMPINYA KEKECILAN!" teriak Mohan. Rompi kevlar itu cuma muat setengah badan dia, kayak pake crop top.

​"Itu ukuran XL, Han! Badan lo aja yang kayak truk kontainer!" omel Raisa sambil nyoba narik resleting rompi Mohan paksa. SREEET!

​"Sa! Jangan ditarik! Nanti Mohan nggak bisa napas!"

​Di sofa lain, Harry sedang mainin Taser Gun.

​ZRRRTTT!

​"Wih! Listriknya warna biru! Keren!" Harry ngarahin ke Ilham. "Ham, cobain dong. Rasanya kayak digigit semut atau digigit piranha?"

​"JANGAN DIARAHIN KE GUE, BEGO!" Ilham melompat menghindar. "Arahin ke Oliver tuh!"

​"Secara teori, tegangan 50.000 volt bisa menyebabkan kelumpuhan otot sementara," jelas Oliver santai sambil coding. "Jangan main-main."

​Di sudut ruangan, Lia sedang duduk tenang. Dia sudah memakai jaket kulit hitam (milik Ilham yang belum dia balikin, katanya sih lupa, padahal sengaja) di atas tanktop hitamnya. Dia sedang mengikat rambutnya jadi kuncir kuda tinggi (ponytail).

​Tanda kalau Lia mode tempur: Rambut Diiket \= Serius.

​Ilham mendekat, membawa sepasang sarung tangan tactical.

​"Pake ini," kata Ilham, menyodorkan sarung tangan itu. "Biar kuku mahal lo nggak patah pas nonjok orang."

​Lia menatap sarung tangan itu, lalu menatap Ilham.

​"Tumben pinter," kata Lia, mengambil sarung tangan itu.

​"Gue nggak mau lo lecet," gumam Ilham pelan, membuang muka. "Nanti gue yang repot kalau lo ngerengek minta manicure."

​Lia tersenyum tipis sambil memakai sarung tangan itu. Pas.

​"Botak," panggil Lia.

​"Apa?"

​"Kalau nanti gue jatoh... tangkep gue ya," kata Lia datar, tapi matanya natap Ilham tajam.

​Ilham terdiam. Telinganya memerah. Dia mengangguk kaku.

​"Pasti. Gue tangkep lo sebelum lo nyentuh tanah."

​Pukul 19.00 WIB - Keberangkatan

​Dua mobil meluncur keluar dari gerbang rumah Roseanna.

​Mobil 1 (Alphard Hitam): Disupiri Fattah. Penumpang: Roseanna, Ilham, Lia. (Tim Penyerbu).

Mobil 2 (Van Hitam): Disupiri Oliver. Penumpang: Raisa, Harry, Mohan, Naura, Aqeela. (Tim Support & Heavy Duty).

​Suasana di dalam mobil hening. Radio dimatikan. Hanya suara mesin dan deru napas tegang.

​Roseanna duduk di depan, di samping Fattah. Dia memegang sabuk pengamannya erat-erat.

​Fattah melirik Roseanna sekilas, lalu menyentuh tangan Roseanna yang gemetar di persneling.

​"Tenang," bisik Fattah.

​Roseanna mengangguk, menarik napas panjang.

​Di jok belakang, Lia menyandarkan kepalanya ke jendela, memejamkan mata. Ilham di sebelahnya sedang berdoa komat-kamit (doa makan, doa tidur, semua doa yang dia hafal).

​"Ham," bisik Lia tanpa membuka mata.

​"Ya?"

​"Doanya jangan kenceng-kenceng. Berisik."

​Ilham nyengir. "Biar malaikat denger, Li. Biar kita dijagain."

​Lia membuka matanya sedikit, menatap Ilham.

​"Lo malaikat pelindung gue malem ini," batin Lia, tapi mulutnya cuma bilang, "Dasar religius dadakan."

​Mobil melaju menembus malam, menuju utara Jakarta. Menuju Pelabuhan Sunda Kelapa yang gelap.

​Di sana, Kairos sudah menunggu dengan senyum iblis, dan Julian sedang berlutut memohon ampun.

​Pesta Kematian akan segera dimulai.

1
anggita
ikut ng👍like, iklan☝aja. moga novelnya lancar.
Yel
LANJUT SAMPAI TAMAT KAAAKKK 😍 pengen nabung bab nya karna bab 1 aja sdh rame. semangat thor 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!