NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Seragam Pelayan

Rahasia Di Balik Seragam Pelayan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Pembantu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:19.9k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

-Spin off 'NOVEL PURA-PURA JADI SUPIR'-

Sepuluh tahun mendekam di penjara mengubah Bianca Adytama dari nona muda angkuh menjadi wanita yang haus akan ketenangan. Membuang nama besarnya, ia pergi ke sebuah desa di Jawa Barat dan menyamar sebagai pelayan bernama Gita.
Di sebuah villa mewah milik seorang juragan perkebunan, Gita berharap bisa hidup tenang. Namun, kedatangan Arlan Dirgantara—putra sulung sang juragan yang baru bercerai—mengacaukan segalanya.
Arlan tidak buta. Ia tahu Gita bukan pelayan biasa. Gerak-geriknya terlalu elegan, bicaranya terlalu cerdas, dan sorot matanya menyimpan rahasia gelap. Dari rasa penasaran menjadi obsesi, Arlan mulai menjerat Gita dalam permainan cinta yang menegangkan.
Sanggupkah Bianca mempertahankan penyamarannya saat masa lalu yang ia kubur mulai tercium oleh pria yang terobsesi memilikinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Langkah kaki Stella menghantam lantai marmer koridor gedung Dirgantara Group dengan bunyi ketukan yang tajam, meninggalkan gema kemarahan yang tidak tersamarkan. Di dalam lift, ia mencengkeram tas jinjing kulit buaya miliknya hingga jemarinya memutih, menahan gejolak yang nyaris membuat dadanya meledak. Penolakan Arlan yang dingin, kekalahannya di meja pengadilan, dan yang paling mengoyak harga dirinya: keberadaan perempuan udik bernama Gita Ivara itu.

Namun, Stella bukan lagi sekadar wanita yang meratapi kegagalan sebuah pernikahan. Di balik gaun merahnya yang mencolok, ia menyimpan ketakutan yang jauh lebih besar. Kekalahan aset kali ini berarti satu hal—ia telah gagal memenuhi janjinya kepada sosok yang mendanai seluruh perang hukumnya melawan Arlan.

Alih-alih kembali ke kediamannya, Stella memerintahkan supir pribadinya untuk melesat menuju kawasan Sudirman, tempat sebuah menara apartemen dengan pengamanan super ketat berdiri angkuh membelah langit Jakarta.

Suara denting bel pintu unit penthouse di lantai empat puluh itu belum sempat memudar ketika pintu jati besar di depannya terbuka secara otomatis. Di dalam ruangan yang didominasi warna abu-abu gelap dan pencahayaan temaram, aroma cerutu Kuba yang berat langsung menyergap indra penciuman Stella.

Di balik meja bar minimalis, seorang pria bertubuh tegap dengan kemeja satin hitam yang lengannya digulung setengah tiang sedang menuangkan wiski ke dalam gelas kristal. Pria itu adalah Mahendra (38 tahun), rival abadi Arlan Dirgantara di lantai bursa sekaligus sosok yang setengah tahun ini menjadi tempat Stella meluapkan dendam—dan tubuhnya.

"Kamu pulang dengan tangan hampa, Stella?" suara Mahendra mengalun rendah, tidak ada nada amarah, namun dinginnya sanggup membuat bulu kuduk berdiri.

Stella melempar tasnya ke atas sofa beludru, lalu menjatuhkan dirinya di sana dengan napas yang masih memburu kasar. "Arlan menutup semua celah. Entah bagaimana, draft audit yang diajukan ke pengadilan pagi ini sama sekali tidak memiliki cacat hukum. Pengacara terbaik kita bahkan tidak berkutik, Mahendra!"

Mahendra berjalan mendekat, membawa gelas wiskinya. Ia tidak duduk di samping Stella, melainkan berdiri di depan dinding kaca yang menampilkan kemacetan Jakarta di bawah sana.

"Arlan memang keras kepala, tapi dia tidak secerdas itu dalam urusan forensik keuangan. Doni, pengacaranya, terlalu konvensional untuk bisa membaca pergerakan saham cangkang kita di luar negeri. Ada orang lain yang menyusun strategi itu untuknya."

"Tentu saja ada!" Stella menegakkan tubuhnya, matanya berkilat penuh kebencian. "Ada seekor jalang kecil di sampingnya sekarang. Namanya Gita Ivara. Perempuan desa dari perkebunan teh tua miliknya di Jawa Barat."

Mahendra menghentikan sesapan wiskinya. Ia menoleh perlahan, alisnya bertaut.

"Perempuan desa?"

"Arlan membawanya ke Jakarta, menjadikannya asisten pribadi, dan mereka bekerja begitu dekat di dalam ruangan itu," Stella berdiri, berjalan mendekati Mahendra dengan emosi yang kembali meluap. "Tapi perempuan itu... dia tidak terlihat seperti pelayan. Cara dia menatapku, ketenangannya saat aku mencaci makinya... ada sesuatu yang salah dengan perempuan itu, Mahendra. Arlan bahkan memasang badannya sendiri untuk melindunginya dariku!"

Mahendra terkekeh pelan, sebuah suara bariton yang terdengar meremehkan. "Kamu hanya cemburu, Stella. Arlan mungkin hanya bosan dengan wanita-wanita kelas atas yang selalu mengejar dompetnya, lalu menemukan mainan baru yang tampak polos dari pedesaan."

"Ini bukan sekadar cemburu!" Stella mencengkeram lengan kemeja Mahendra, memaksanya untuk mendengarkan. "Aku tahu mana wanita yang hanya memanfaatkan kesempatan dan mana wanita yang memiliki... kelas. Perempuan bernama Gita itu memilikinya. Jika Arlan mulai memercayainya, maka semua rencana kita untuk mengambil alih aset Dirgantara Group melalui jalur belakang akan hancur!"

Mahendra terdiam, membiarkan asap cerutu dari asbak di dekatnya meliuk di antara mereka. Otak bisnisnya yang licik mulai mencerna informasi itu. Selama bertahun-tahun, ia menggunakan Stella sebagai alat untuk melemahkan Arlan dari dalam, memanfaatkan informasi orang dalam dari sisa-sisa hubungan pernikahan mereka. Namun, jika ada variabel baru yang tidak terduga masuk ke dalam lingkaran terdalam Arlan, maka strategi mereka harus diubah.

Mahendra melepaskan cengkeraman tangan Stella dari lengannya dengan gerakan perlahan namun tidak bisa dibantah. Ia berjalan menuju meja kerjanya, mengambil sebuah gawai tablet dan mengetikkan beberapa perintah kepada tim informannya.

"Gita Ivara..." Mahendra menggumamkan nama itu, mengecapnya seperti rasa wine yang asing. "Jika dia benar-benar hanya seorang gadis desa, catatan sipilnya akan sangat mudah ditemukan. Tapi jika dia menggunakan identitas palsu untuk mendekati Arlan, berarti dia punya agenda sendiri. Atau... dia adalah umpan yang sengaja dipasang Arlan untuk memancing kita."

"Lalu apa yang akan kita lakukan?" tanya Stella, suaranya merendah, beralih dari amarah menjadi ketergantungan yang penuh harap pada pria di depannya.

Mahendra menatap Stella dengan pandangan mata yang tajam dan dingin. "Kamu akan kembali mendekati Arlan, tapi bukan sebagai mantan istri yang merengek meminta harta. Gunakan isu perempuan desa itu untuk memicu ketidaknyamanan di kalangan pemegang saham senior Dirgantara Group. Katakan pada mereka bahwa Arlan membawa masuk orang asing tanpa latar belakang yang jelas ke dalam sistem keuangan inti perusahaan."

Pria itu berjalan mendekati Stella, menyentuh dagu wanita itu dengan ujung jarinya yang dingin. "Dan sementara kamu membuat kegaduhan di Jakarta, orang-orangku akan pergi ke desa terpencil di Jawa Barat itu. Kita akan mengorek setiap sudut kebun teh, setiap sudut villa tua itu, untuk mencari tahu siapa sebenarnya 'Gita' ini. Jika kita menemukan setitik saja noda hitam di masa lalunya, kita akan menggunakannya untuk menghancurkan Arlan dan mainan barunya sekaligus."

Stella tersenyum licik, rasa puas perlahan menggantikan kemarahannya. "Aku pastikan perempuan itu akan merangkak kembali ke lumpur tempatnya berasal."

**

Malam yang selalu menyisakan riuh yang diredam oleh ketinggian. Dari dinding kaca penthouse itu, kelap-kelip lampu jalanan dan gedung pencakar langit tampak seperti hamparan berlian yang berserakan di atas kain beludru hitam. Namun, di dalam ruang dapur yang didominasi marmer carrara abu-abu dan jajaran kabinet kayu walnut, suasananya jauh lebih tenang, hanya menyisakan gemercik minyak panas dan aroma harum tumisan bumbu yang menguar ke udara.

Bianca—yang bagi Arlan masih merupakan seorang gadis desa bernama Gita Ivara—berdiri di depan kompor induksi. Rambut panjangnya yang biasa dibiarkan jatuh kini digulung asal ke atas, menyisakan beberapa helai yang lolos dan membingkai leher jenjangnya yang putih bersih. Ia mengenakan kemeja katun sederhana dengan lengan yang digulung hingga ke siku, dilapisi celemek kain berwarna krem.

Tangannya bergerak dengan presisi yang anggun saat memotong daun bawang. Sisi arogan dan manja dari seorang Bianca Adytama yang sepuluh tahun lalu tidak pernah menyentuh area dapur, kini telah melebur sepenuhnya. Berganti menjadi kedewasaan yang tegar, hasil dari tempaan hidup di balik dinginnya jeruji besi dan sunyinya perkebunan teh. Kendati demikian, aura berkelas yang melekat di dalam darahnya tetap tidak bisa disembunyikan. Cara ia memegang pisau, cara ia berbalik, bahkan cara ia mengaduk sup di dalam panci memiliki keanggunan alami yang tidak mungkin dimiliki oleh seorang pelayan biasa.

Di ujung tangga lantai dua, langkah kaki Arlan terhenti.

Pria berusia tiga puluh enam tahun itu baru saja membersihkan diri. Ia hanya mengenakan celana kain hitam dan kaus lengan panjang berwarna senada yang melekat pas di tubuh tegapnya. Handuk kecil masih tersampir di bahunya, mengeringkan sisa-sisa air di rambutnya yang acak-acakan.

Arlan tidak melanjutkan langkahnya. Ia memilih bersandar pada pegangan tangga kayu, melipat kedua tangan di dada, dan mengunci pandangannya sepenuhnya pada sosok wanita di balik meja dapur itu.

Sepasang mata tajam milik sang pengusaha sukses yang biasanya dingin dan penuh skeptisisme itu kini meredup, berganti menjadi sebuah tatapan yang teramat intens. Selama bertahun-tahun sejak kegagalan pernikahan pertamanya yang hancur akibat mantan istrinya yang gila harta, Arlan selalu memandang wanita sebagai makhluk oportunis. Ia membangun benteng pertahanan yang tak tertembus di hatinya. Namun, semenjak ia membawa "Gita" dari villa orang tuanya di desa terpencil itu, benteng tersebut perlahan menunjukkan retakan yang parah.

Ada sesuatu yang berbeda dari Gita. Wanita itu tidak pernah memandangnya dengan binar pemujaan atau ketamakan. Ia justru selalu mencoba menarik diri, menjaga jarak aman yang tegas, seolah Arlan adalah sebuah bahaya yang harus dihindari. Namun, semakin Gita menarik diri, semakin insting predator dan rasa posesif Arlan bergejolak hebat.

Arlan memperhatikan bagaimana Gita sesekali meniup pelan helai rambut yang mengganggu matanya, atau bagaimana wanita itu mencicipi kuah sup dengan gerakan bibir yang teramat tipis. Di mata Arlan, dapur mewahnya yang biasanya terasa mati dan dingin, kini mendadak terasa hidup karena kehadiran wanita itu. Arlan menyadari satu hal di dalam benaknya: ia ingin menjadi satu-satunya orang yang bisa dipercaya oleh wanita misterius ini. Ia ingin meruntuhkan seluruh dinding rahasia yang melingkupi Gita, bukan untuk menghancurkannya, melainkan untuk melindunginya dari kerasnya dunia luar.

Menyadari ada sepasang mata yang terus mengawasinya, gerakan tangan Bianca perlahan melambat. Ia mematikan kompor, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dadanya yang mendadak berdesir aneh, lalu berbalik.

Matanya langsung bertubrukan dengan tatapan intens Arlan yang belum bergeser sedikit pun.

"Tuan Arlan," panggil Bianca, suaranya mengalir tenang, mencoba mempertahankan panggilan formal yang menjadi batas penyamarannya. "Sarapan malam Anda sudah siap. Saya memasak sup ayam jahe hangat dan beberapa hidangan sederhana."

Arlan tidak menjawab. Ia hanya berjalan turun, melangkah perlahan mendekati area dapur. Setiap ketukan langkah kaki telanjang Arlan di atas lantai kayu terasa seperti ketukan yang menguji ketahanan mental Bianca. Pria itu berhenti tepat di seberang meja konter dapur, hanya terpisahkan oleh pembatas marmer tipis.

Aroma sabun maskulin yang segar dan sisa hawa dingin dari tubuh Arlan yang baru selesai mandi langsung mendominasi indra penciuman Bianca, menggeser wangi masakan yang ia buat tadi.

"Kamu selalu memasak terlalu banyak untuk ukuran satu orang," ucap Arlan rendah, suaranya bariton dan sedikit serak, menggema lembut di dapur yang sunyi.

Bianca menunduk sedikit, merapikan letak piring di atas meja dengan gerakan jemari yang sedikit kaku. "Saya pikir Anda lelah setelah seharian mengurus sengketa aset korporasi bersama Tuan Doni. Makanan hangat baik untuk memulihkan energi Anda."

Arlan mengulurkan tangannya ke atas meja marmer, jemari besarnya yang memiliki urat-urat menonjol itu bergerak perlahan, menyentuh ujung celemek yang dikenakan Bianca, lalu menariknya sedikit—memaksa Bianca untuk melangkah satu senti lebih dekat ke arahnya.

"Gita," panggil Arlan, matanya mengunci manik mata kecokelatan Bianca. "Berhentilah bersikap seolah kamu hanyalah seorang pelayan yang sedang menjalankan kontrak kerja di rumah ini. Kita berdua tahu, tidak ada pelayan yang berani menatap mataku setegas caramu menatapku."

Bianca menahan napasnya di tenggorokan. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut Arlan bisa mendengarnya. Intensitas yang ditunjukkan Arlan akhir-akhir ini terasa seperti pengepungan yang perlahan tapi pasti menjerat seluruh ruang geraknya.

Sikap posesif Arlan yang penuh perlindungan, yang memasang badan saat Stella mengamuk di kantor tadi siang, perlahan-lahan mulai mengikis pertahanan hatinya. Bianca mulai menahan perasaannya dengan susah payah. Ia takut. Ia sangat takut jika ia membiarkan dirinya jatuh ke dalam pelukan pria ini, masa lalunya sebagai Bianca Adytama yang penuh dengan noda hitam akan terseret naik dan menghancurkan Arlan.

"Saya hanya mencoba profesional, Tuan," lirih Bianca, mencoba menarik tubuhnya mundur, namun jemari Arlan kini telah berpindah, menggenggam pergelangan tangannya yang hangat di atas marmer.

"Profesional tidak membuatku tidak bisa tidur semalaman karena memikirkan apa yang sedang kamu sembunyikan di balik matamu itu," bisik Arlan. Pria dingin yang biasanya angkuh itu kini menunjukkan sisi rentannya. Ada gurat kelelahan yang nyata di wajah tampannya, dan ada keputusasaan yang samar di balik suaranya.

Arlan mengencangkan genggamannya, tidak menyakitkan, melainkan sebuah genggaman yang memohon dengan cara yang sangat berwibawa. "Mantan istriku... dia mengajariku bahwa wanita adalah makhluk yang paling ahli dalam menyusun kebohongan demi angka di rekening bank. Aku bersumpah tidak akan pernah mempercayai wanita lagi seumur hidupku. Tapi kamu... kamu datang dari desa itu dengan seragam pelayan, menolak semua kemewahan yang kutawarkan, dan bekerja seolah kamu sedang melakukan penebusan dosa."

Arlan menundukkan kepalanya sedikit, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Bianca yang mulai memucat. "Kamu membuat benteng yang kubangun selama enam tahun ini terasa sia-sia, Gita. Katakan padaku, apa yang harus kulakukan agar kamu mau bersandar padaku? Agar kamu mau mempercayaiku sebagai tamengmu?"

Mendengar pengakuan jujur dari seorang tiran seperti Arlan, air mata Bianca nyaris mendesak keluar. Dadanya terasa sesak oleh emosi yang membuncah. Pria di depannya ini begitu tulus ingin melindunginya, tanpa tahu bahwa wanita yang sedang digenggamnya ini adalah bagian dari lingkaran hitam masa lalu yang mungkin sangat ia benci jika kebenaran itu terungkap. Sisi Bianca Adytama yang cerdas berteriak agar ia segera jujur, namun sisi Gita yang tegar memilih untuk menelan kembali perasaan itu demi kebaikan Arlan.

"Tuan Arlan... Anda salah menilai saya," ucap Bianca, suaranya parau, bergetar di antara kepasrahan dan penolakan. "Saya tidak berharga untuk membuat Anda mempertanyakan prinsip hidup Anda. Saya hanya seorang Gita yang ingin hidup tenang."

"Kamu berharga," potong Arlan cepat, nadanya mutlak dan tidak menerima bantahan. Ia melepaskan pergelangan tangan Bianca, namun tangannya bergerak naik, menyentuh sisi wajah Bianca dengan telapak tangannya yang hangat dan kasar. Sentuhan itu begitu lembut, begitu kontras dengan tabiat kerasnya sehari-hari.

"Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun, termasuk dirimu sendiri, menjauhkanmu dari jangkauan tanganku."

Bianca memejamkan mata, menikmati kehangatan telapak tangan Arlan di pipinya selama beberapa detik sebelum ia mengumpulkan seluruh sisa kekuatannya untuk melangkah mundur, melepaskan diri dari sentuhan yang memabukkan itu.

"Silakan dinikmati makan malamnya, Tuan. Saya harus kembali ke kamar untuk memeriksa ulang laporan keuangan Dirgantara Group yang harus diserahkan besok pagi," kata Bianca dengan suara yang kembali datar, meski matanya tidak bisa menyembunyikan getaran emosi.

Arlan menatap tangannya yang kini kosong di udara. Ia menarik napas panjang, kembali memasang wajah dinginnya yang berwibawa, meski matanya tetap mengunci sosok Bianca yang mulai berjalan menjauh menuju lantai dua.

***

1
ms. yati74
Stella pewangi ruangan cari gara gara....weees cepet di bejek bejek sak Mahendra nya di bikin jadi gelandangan yooo bang Ar
Mukeseh
hajar stella arlan 🤣🤣🤣 q suka list keributan besar pokoke 😂😂😂
Anisa Sudarwanto
lnkut thorr
Mundri Astuti
Kirana coba muncul sama Raditya yak
Verawati Naycyl
Stella kamu salah memilih lawan.....bisa bisa kamu sama Mahendra bakalan di bikin nangis darah
fatmawati (pipit)
stella kamu blm mengenal keluarga adytama, jari lentik seseorang bisa membuka tabir kebusukan mu dan keluarga mu dlm pencurian aset milik arlan
Mundri Astuti
lanjut thor 🙏
Mukeseh
stella belum ae siapa gita ivara 🤣🤣 apalagi kalau mahendra tau apa gak syok dia 🤭
Sri Murtini
Byanka tenang saja blm saatnya kau kembali ke Surabaya
ryuka
adduuhhh duuhh bianca gimana ini 🤭🤭🤭🤭🤭
Mukeseh
lagi thorr
fatmawati (pipit)
stella kau blm mengenal bianca secara seluruhnya, mungkin dia di penjara bukan karna kemauannya karna ada seseorang yg menjebak dia dan keluarga adytama hancur
mungkin juga karna musuh raditya
fatmawati (pipit): yg itu aku lupa🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
fatmawati (pipit)
kau blm mengenal biaca adytama (gita Ivana) kau ingin menjatuhkan bianca maka kau akan berhadapan dengan sisi lainnya bianca
ryuka
aduuhhh bianca kamu berhak bahagia 🫠🫠🫠🫠🫠
Mundri Astuti
Mahendra minta dikepret ma Kirana dan raditya
Mundri Astuti
jangan harap bisa nyentuh Bianca kaya si bunglon Stella Mahendra, krn da Raditya, Kirana dan Aditama ...
mudah"an Kirana cepet tau dan mintol Radit buat kasih bodyguard jaga Bianca dari jarak jauh
Mukeseh
huuuu 😂😂semoga atrlan bisa mrlindu gi
Verawati Naycyl
gak sabar nunggu kelanjutannya thor....bakalan di apain Bianca sama Arlan..
Verawati Naycyl
lanjut thor..
Mundri Astuti
diihhhh Arlan, Gita atau Bianca ga terus terang itu krn privasinya, emang selama ini dia ngerugiin kamu kaya mantanmu itu...ngga kan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!