Di puncak keabadian, saat semua makhluk tunduk pada namanya… dia justru memilih turun.
Seorang Immortal yang telah menembus batas ranah, mencapai puncak keabadian, bahkan secara tak langsung menjadi penjaga keseimbangan semesta, tiba-tiba membuat pengumuman yang mengguncang seluruh alam.
“Aku pensiun.”
Istana Surga terdiam. Para dewa tercengang. Para raja iblis waspada. Dunia fana gemetar—bukan karena perang, melainkan karena satu kenyataan yang tak masuk akal:
sosok yang selama ini menjaga garis takdir… memilih pergi.
Bukan karena kalah.
Bukan karena terluka.
Namun karena… bosan.
Ribuan tahun berlalu dalam siklus yang sama: menekan kekacauan, mengadili pelanggar langit, menutup retakan dimensi, mengulang hari-hari tanpa rasa. Hidup abadi yang sempurna justru terasa seperti penjara paling sunyi.
Maka sang Immortal turun ke dunia, meninggalkan singgasana langit, dan memilih sesuatu yang dianggap remeh oleh para dewa:
Membuka sebuah restoran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Radapedaxa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 — Semangkuk Ramen, Seribu Perubahan
Aroma kuah hangat memenuhi seluruh ruangan.
Uap tipis naik dari mangkok-mangkok ramen yang tersaji di atas meja, membawa wangi rempah yang kaya, lembut, namun dalam. Seolah setiap helaan napas bisa menenangkan jiwa yang lelah.
Para bandit duduk kaku.
Mata mereka terpaku pada makanan di depan masing-masing.
Air liur… menetes tanpa sadar.
Namun—
Tidak satu pun dari mereka berani menyentuhnya.
Sampai—
Suara santai terdengar.
“Apa lagi yang kalian tunggu?”
Zhao berdiri di dekat mereka, menyilangkan tangan dengan ekspresi tenang.
“Silakan dimakan.”
Senyum tipis muncul di wajahnya.
“Anggap saja ini hadiah kecil… atas kerja keras kalian.”
Hening.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu—
Seolah-olah ada sesuatu yang pecah—
“TERIMA KASIH, TUAN!!”
Suara itu menggema serentak.
Tanpa menunggu lebih lama—
Semua bandit langsung mengambil sumpit.
Gerakan mereka cepat.
Dan saat suapan pertama masuk ke mulut—
Dunia mereka… berhenti.
“….”
Mata mereka membelalak.
Tubuh mereka membeku.
Seolah waktu berhenti.
Kuah hangat itu menyentuh lidah—
Dan meledak.
Rasa gurih yang dalam.
Rempah yang kaya.
Tekstur mie yang sempurna.
Semuanya berpadu—
Menghantam indra mereka tanpa ampun.
“Ini…”
Salah satu bandit berbisik.
Suaranya bergetar.
“Apa ini…”
Air mata mulai mengalir.
Tidak tertahan.
“Ini… terlalu enak…”
Yang lain mulai menangis.
Ada yang menutup mulut.
Ada yang menunduk.
Ada yang hanya diam… sambil membiarkan air matanya jatuh ke mangkok.
“Sudah berapa lama…”
“Sejak aku makan sesuatu seperti ini…”
“Tidak… ini bahkan lebih enak dari apa pun yang pernah kumakan…”
Lu Qiang—
Duduk di tengah mereka.
Tangannya gemetar.
Dia menatap mangkok di depannya.
Lalu perlahan… mengambil satu suapan.
Masuk ke mulut.
Dan—
Matanya langsung memerah.
Air mata tertahan di ujung kelopak.
Dia menunduk.
Tidak ingin terlihat.
Namun suaranya tetap keluar.
“Tuan…”
Serak.
“…apakah kami… layak memakan ini?”
Zhao menatapnya.
Tatapannya tenang.
“Semua yang ada di sini berhak menikmatinya.”
Nada suaranya sederhana.
Namun tegas.
“Layak atau tidak… Apa peduliku.”
Dia melangkah mendekat.
“Di restoranku…”
Senyumnya tipis.
“Semua orang adalah pelanggan. Dan pelanggan… harus dibuat puas.”
Hening.
Tidak ada yang berbicara.
Namun—
Hati mereka bergetar.
Lu Qiang menggigit bibirnya.
Air mata akhirnya jatuh.
“Terima kasih, tuan…”
Suaranya bergetar.
“Sungguh… terima kasih banyak…”
Dia menatap ramen itu lagi.
Namun kali ini—
Bukan sebagai makanan.
Tapi sebagai sesuatu yang… berharga.
Zhao tersenyum kecil.
Tangannya terangkat.
Menepuk pundaknya.
“Nikmati saja pelan-pelan…”
Dia berhenti sejenak.
“…pelanggan.”
Kata itu—
Sederhana.
Namun—
Menghantam lebih keras dari apa pun.
Suasana berubah.
Hangat.
Tenang.
Seolah-olah tempat ini bukan lagi sarang bandit.
Melainkan… rumah.
Dan tepat saat itu—
Krreek…
Pintu kedai terbuka.
Beberapa orang berdiri di ambang pintu.
Wajah mereka ragu.
“Maaf… bos…”
Salah satu dari mereka bertanya pelan.
“Apakah restoran ini sudah dibuka lagi?”
Namun—
Kalimatnya terhenti.
Matanya membesar.
Dia menatap ke dalam.
Melihat—
Sekelompok bandit.
Sedang makan.
Dengan wajah penuh haru.
"!!!”
Suasana mendadak aneh.
Zhao menoleh dan tersenyum.
“Tentu, tuan pelanggan.”
Nada suaranya ramah.
“Renovasi sudah selesai. Restoran beroperasi normal kembali.”
Namun—
Orang-orang itu tidak bergerak.
Kaki mereka seperti tertahan.
Tatapan mereka masih terpaku pada satu sosok.
Lu Qiang.
“Bu… bukankah itu…”
Salah satu dari mereka berbisik.
“Bos bandit Eye yang terkenal kejam…”
Yang lain langsung pucat.
“Sial… itu benar Lu Qiang!”
Ketegangan kembali muncul.
Beberapa orang bahkan mulai mundur perlahan.
Namun—
Lu Qiang mengangkat kepala.
Menatap mereka.
Mulutnya masih penuh ramen.
“…Apa yang kalian lakukan di sana?”
Nada suaranya datar.
Namun tidak mengancam.
“Masuklah.”
Dia menunjuk ke dalam.
“Masih banyak meja kosong di sini.”
Semua orang terdiam.
Tidak ada yang percaya.
Sejak kapan… bandit mengundang orang masuk…?
Lu Qiang sendiri terlihat canggung.
Sangat canggung.
Terlebih—
Saat dia merasakan tatapan tajam dari samping.
Dia menoleh dan mendapati Yueling berdiri dengan senyum tipis.
Namun matanya—
Dingin.
Memberi isyarat yang sangat jelas.
Jika pelanggan kabur lagi…
...kalian yang akan menanggung akibatnya.
Seketika—
Keringat dingin mengalir di punggung Lu Qiang.
“Ha… haha…”
Dia tertawa canggung.
Lalu berdiri.
Menghadap para warga.
Mengambil napas dalam-dalam.
Dan—
Membungkuk.
“Maafkan kami.”
Suaranya lantang.
Namun tulus.
Semua orang tertegun.
“Aku… Lu Qiang…”
Dia menggertakkan gigi.
“…meminta maaf atas semua kejahatan yang pernah kulakukan.”
Hening.
Dia melanjutkan.
“Mulai hari ini…”
“Aku bersumpah akan berubah.”
Tatapannya tegas.
“Juga bandit Eye… telah dibubarkan.”
Seketika—
Suasana membeku.
Apa yang mereka dengar…
Tidak masuk akal.
Namun—
Melihat ekspresinya…
Tidak seperti bercanda.
Beberapa orang saling pandang.
Masih ragu.
Namun—
Aroma ramen kembali menusuk hidung mereka.
Menggoda.
Mengundang.
Dan akhirnya—
Salah satu dari mereka melangkah masuk.
“…Baiklah.”
Dia duduk perlahan.
Lalu yang lain mengikuti satu per satu dan perlahan suasana berubah.
Tawa mulai terdengar.
Percakapan mulai mengalir.
Bandit dan warga—
Duduk di tempat yang sama.
Makan dari mangkok yang sama.
Tanpa permusuhan.
Tanpa ketakutan.
Zhao berdiri di sudut.
Melihat semuanya.
Senyumnya tipis.
“…Lumayan.”
Namun ketenangan itu tak lama karena...
“Sayang! Mie di dapur hampir habis!”
Suara Yueling terdengar panik.
“Paman Zhao! Airnya juga!”
Shen Ning ikut berteriak.
Zhao menghela napas.
“Baik, baik…”
Dia langsung bergerak.
Dan dalam sekejap—
Kedai kembali ramai.
Pesanan berdatangan tanpa henti.
Panci terus mendidih.
Sumpit beradu.
Suara pelanggan memenuhi ruangan.
Yueling berlari ke sana kemari.
Shen Ning sibuk mengantar makanan.
Zhao berdiri di dapur—
Memasak tanpa henti.
“Dua ramen lagi!”
“Tiga di sini!”
“Tambah kuah!”
Suasana menjadi kacau.
Namun—
Penuh kehidupan dan menjadi tempat di mana orang-orang berubah sedikit demi sedikit.
Mangkok-mangkok ramen telah kosong.
Bersih.
Tidak tersisa setetes kuah pun.
Para bandit duduk diam beberapa saat, menatap mangkok di depan mereka seolah masih tidak percaya bahwa mereka baru saja menghabiskan makanan sekelas itu.
Perut mereka hangat.
Hati mereka… lebih hangat lagi.
Lu Qiang menghela napas panjang.
Pandangan matanya perlahan beralih ke sekeliling.
Kedai itu—
Semakin ramai.
Suara pelanggan bersahutan, permintaan terus berdatangan, dan aroma makanan tidak pernah berhenti menguar dari dapur.
Namun—
Di balik semua itu—
Ada sesuatu yang mencolok.
Shen Ning dan Yueling.
Keduanya terlihat kewalahan.
“Dua ramen lagi!”
“Tunggu sebentar!”
“Maaf, mohon bersabar!”
Shen Ning berlari kecil, membawa nampan dengan beberapa mangkok panas. Wajahnya sedikit panik, namun tetap berusaha tersenyum.
Langkahnya cepat.
Terlalu cepat.
Dan—
“Ah!”
Kakinya terpeleset.
Tubuh kecilnya kehilangan keseimbangan.
Nampan di tangannya terangkat ke udara.
Mangkok-mangkok itu—
Hampir jatuh.
Dalam sekejap—
Sosok bergerak.
Cepat.
Sangat cepat.
Swish!
Satu tangan menangkap tubuh Shen Ning.
Tangan lain menangkap nampan.
Bahkan mangkok-mangkok yang hampir terlempar—
Berhasil ditahan.
Semua itu terjadi dalam satu tarikan napas.
Shen Ning terdiam.
Matanya membesar.
Dia menatap sosok di depannya.
Lu Qiang.
Pria itu tersenyum tipis.
“Hati-hati, nak.”
Nada suaranya lembut.
Sangat berbeda dari citranya yang dulu.
Shen Ning berkedip.
Lalu menunduk sedikit.
“Te-terima kasih…”
Suaranya canggung.
Namun tulus.
Lu Qiang mengangguk.
Lalu—
Dia menatap sekeliling.
Melihat kesibukan yang tidak kunjung reda.
Tatapannya berubah.
Lebih serius.
“Sepertinya…”
Dia bergumam pelan.
Lalu mengangkat suara.
“Biarkan kami membantu restoran ini.”
Semua orang terdiam.
Para bandit menoleh.
Sebagian terkejut.
Namun—
Lu Qiang tidak bercanda.
Dia langsung bergerak.
Mengambil nampan dari tangan Shen Ning.
“Biar aku yang antar ini.”
Salah satu bawahannya berdiri.
“A-aku juga!”
Yang lain ikut bangkit.
“Cepat, bantu di sana!”
Dalam hitungan detik—
Para bandit yang sebelumnya hanya duduk—
Kini bergerak.
Melayani.
Mengantar makanan.
Membersihkan meja.
Bahkan menyapa pelanggan dengan canggung.
“Si-silakan makan…”
“Ini pesanan Anda…”
“Maaf… agak lama…”
Awalnya gerakan mereka kaku, suaranya canggung.
Namun seiring waktu—
Mereka mulai terbiasa.
Dan yang lebih mengejutkan para pelanggan tidak menolak.
Awalnya ragu.
Namun setelah melihat kesungguhan mereka—
Sikap itu perlahan melunak.
“Terima kasih…”
“Tidak apa-apa…”
“Wah, cepat sekali…”
Percakapan sederhana itu mengubah sesuatu. Sedikit demi sedikit pandangan warga yang dulunya penuh ketakutan—
Kini mulai berubah.
Tidak sepenuhnya percaya.
Namun—
Tidak lagi sepenuhnya menolak.
Di dapur—
Zhao melihat semuanya dari jendela terbuka dan Yueling berdiri di sampingnya.
Keduanya saling bertatapan.
Dan—
Tersenyum.
Tidak perlu kata-kata.
Mereka mengerti.
Bahwa sesuatu sedang berubah.
Dan itu…
Adalah hal yang baik.
Waktu berlalu tanpa terasa.
Dari siang—
Menjadi sore.
Dari sore—
Menjadi senja.
Langit di luar berubah jingga.
Pelanggan terakhir akhirnya pergi.
Pintu kedai tertutup perlahan.
Dan—
Keheningan turun.
“Huah…”
Satu per satu—
Semua orang terduduk.
Lemas.
Kelelahan.
Lu Qiang terjatuh di kursi.
Napasnya terengah-engah.
“Ini…”
Dia menatap langit-langit.
“…lebih melelahkan dari yang kukira…”
Dia tertawa kecil.
“Melayani pelanggan… ternyata lebih melelahkan daripada berkultivasi…”
Beberapa bandit mengangguk setuju.
“Benar, bos…”
“Aku lebih baik bertarung tiga hari daripada begini…”
Namun—
Nada suara mereka tidak lagi penuh keluhan.
Ada sesuatu yang berbeda.
Kepuasan.
Rasa… berarti.
Beberapa saat kemudian—
Shen Ning dan Yueling datang membawa minuman.
Dibagikan satu per satu.
“Ini, untuk kalian.”
Yueling tersenyum lembut.
“Terima kasih atas kerja keras kalian semua.”
Dia menatap mereka.
“Tadi benar-benar membantu.”
Suaranya tulus.
“Aku tidak menyangka restoran akan seramai itu…”
Shen Ning mengangguk semangat.
“Iya! Kalau tidak ada kalian, kita pasti kewalahan!”
Para bandit saling pandang.
Sedikit canggung.
Namun—
Senyum tipis mulai muncul.
Zhao keluar dari dapur.
Mengelap tangannya.
“Kau benar, Ling’er.”
Dia melirik ke luar.
“Mungkin berita kelezatan restoran kita sudah menyebar.”
Senyumnya santai.
“Ditambah setelah renovasi ini… kita bisa menampung lebih banyak pelanggan.”
Yueling tersenyum.
“Kalau begini terus… setiap pagi akan sangat sibuk.”
Zhao mengangguk.
Lalu—
Dia berjalan menuju Lu Qiang.
Berhenti di depannya.
Dan—
Mengeluarkan sebuah kantung dan menyerahkannya dengan ringan.
Lu Qiang menangkapnya refleks.
Dia membuka sedikit—
Dan langsung terdiam.
“…200 tael emas?”
Semua bandit terkejut.
Lu Qiang mengangkat kepala.
“Apa maksudnya ini, tuan?”
Zhao menjawab santai.
“Upah kerja keras kalian.”
Dia menyilangkan tangan.
“Aku berterima kasih karena kalian membantu restoran kami.”
Hening.
Lu Qiang menatap kantung itu.
Lama.
Sangat lama.
Seolah tidak tahu harus bagaimana.
Zhao menatapnya.
Lalu bertanya,
“Jadi… apa rencanamu selanjutnya?”
Pertanyaan sederhana.
Namun berat.
Lu Qiang menunduk.
Suaranya pelan.
“…Entahlah.”
Dia menggeleng.
“Aku juga tidak tahu.”
Dia menarik napas.
“Setelah kekalahan Bandit Eye… kami pasti sudah dibuang.”
Matanya redup.
“Dan tidak lagi berguna bagi walikota.”
Senyum pahit muncul.
“Dan jika kami kembali pun…”
Dia menatap Zhao.
“Kami hanya akan dibantai… untuk menghilangkan saksi mata.”
Hening.
Zhao terdiam.
Lalu—
Dia memberi isyarat halus.
Yueling mengerti.
Dia membawa Shen Ning menjauh.
Meninggalkan mereka berdua.
Suasana menjadi lebih sunyi.
Zhao menatap Lu Qiang.
“Jadi… kau tahu apa yang terjadi di kota ini?”
Lu Qiang mengangguk pelan.
“Sedikit.”
Dia menghela napas.
“Mungkin… ini waktunya membayar harga atas nyawa kecilku…”
Dia tersenyum tipis.
“Meski ini masih jauh dari cukup…”
Dia menatap Zhao.
Tatapannya berubah.
Penuh rasa hormat.
“Jika waktu itu… Anda tidak menyelamatkanku…”
Suaranya bergetar.
“…dari efek kegilaan Pil Sembilan Darah…”
Dia mengepalkan tangan.
“Aku mungkin sudah menjadi monster tak berakal.”
“Dan mati dengan hina.”
Zhao tetap diam.
Mendengarkan.
“Anda bisa saja membunuhku dengan mudah saat itu.”
“Namun…”
Dia menarik napas dalam.
“Anda malah membantu menetralisir kebocoran Qi-ku.”
Matanya sedikit berkaca-kaca.
“Meski kultivasiku turun drastis… menjadi Golden Core awal…”
Dia menyentuh dadanya.
“…inti kultivasiku masih utuh.”
“Berkat Anda.”
Hening.
“Dan setelah itu…”
Dia menatap sekeliling.
“Kau memperlakukan kami… dengan ramah.”
“Sementara kami…”
Dia menunduk.
“…telah melakukan begitu banyak hal buruk.”
Senyum pahit.
“Kalau dewa memang ada…”
Dia menatap Zhao lurus.
“…mungkin Anda adalah dewa itu sendiri.”
Zhao tertegun.
Satu alisnya terangkat.
Lalu—
Senyum tipis muncul.
Dan dia bergumam pelan,
“…aku memang dewa.”
Lu Qiang berkedip.
“Maaf, tuan… apakah Anda mengatakan sesuatu?”
Zhao menggeleng santai.
“Bukan apa-apa.”