NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Sang Bintang

Istri Rahasia Sang Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Duniahiburan / Cinta Seiring Waktu / Pernikahan rahasia / Dokter
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

Dunia mengenalnya sebagai bintang paling bersinar. Namun, hanya dia yang tahu betapa redupnya pria itu di balik layar.
Elvano Alvendra punya segalanya: kekuasaan, ketenaran, dan wajah yang dipuja jutaan orang. Tapi bagi Selena Nayumi, Elvano hanyalah pasien keras kepala yang lupa cara mengurus diri sendiri.
Sebuah perjodohan kolot dari sang nenek memaksa mereka terikat dalam janji suci yang tersembunyi. Bagi Elvano, Selena adalah "obat" yang tidak pernah ia duga akan ia butuhkan. Bagi Selena, Elvano adalah teka-teki misterius yang perlahan mulai ia cintai.
Di antara jadwal konser yang padat, kilatan kamera media, dan kontrak kerja jutaan dolar, ada satu rahasia besar yang mereka simpan rapat di balik pintu rumah: Status mereka.
Dapatkah cinta tumbuh di tengah kepura-puraan? Dan sanggupkah Selena bertahan menjadi rahasia terbesar sang bintang saat dunia menuntut Elvano untuk tetap "milik publik"?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Lampu stadion yang terang benderang seolah menelanjangi kegelisahan yang mulai merayap di wajah Elvano. Ia masih berdiri di tengah panggung, memegang kotak makanan itu dengan ibu jari yang mengusap pinggirannya perlahan. Aroma ini terlalu nyata untuk sebuah kiriman yang menempuh perjalanan udara berjam-jam.

“Darian, katakan padaku dengan jujur. Di mana Selena sekarang?” tanya Elvano dengan suara rendah namun sangat menuntut.

Matanya yang tajam mengunci pergerakan Darian, mencari celah kebohongan di sana. Darian, yang sudah terlatih menghadapi tekanan sang CEO, hanya menghela napas panjang dengan ekspresi yang sangat meyakinkan.

“Astaga, El. Kau ini sedang rindu atau sedang menginterogasi tersangka?” tanya Darian sambil berkacak pinggang. “Selena ada di Jakarta. Dia mengirimkan ini semua kemarin lewat jasa pengiriman kilat khusus medis agar suhunya terjaga. Dia sengaja menyiapkan ini karena tahu kau tidak akan selera makan katering hotel di hari terakhir konser. Aku baru sempat mengambilnya di lobi tadi.”

Elvano terdiam sejenak, menatap butiran nasi yang masih terasa hangat di ujung jarinya. Ia mendengus kecewa, sebuah perasaan yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun. Ada bagian dari dirinya yang berharap wanita itu benar-benar ada di sini, di balik tirai panggung, menunggunya dengan senyum Dr. Sunshine yang menghangatkan.

“Selesaikan masalah teknis pada monitor telingaku dalam sepuluh menit. Aku tidak mau ada distorsi saat lagu terakhir nanti,” ujar Elvano dingin, mencoba kembali ke mode profesionalnya.

“Siap, Bos,” sahut Darian singkat.

Elvano kemudian menepi ke area duduk kru yang sedang kosong. Di sana, ia menikmati makanan itu dalam diam. Setiap suapan terasa seperti pelukan dari rumah. Selena benar-benar tahu dosis bumbu yang bisa menenangkan pikirannya yang selalu overthinking.

Setelah semua persiapan teknis dinyatakan rampung, Elvano langsung menuju ruang tunggu pribadinya untuk mandi dan bersiap-siap. Ruangan itu kedap suara, menyisakan kesunyian yang mahal. Namun, saat ia melangkah masuk, matanya langsung menangkap pemandangan yang tidak biasa di atas meja riasnya.

Ada tumpukan toples kue kering yang disusun rapi. Di setiap toples, tertempel stiker dengan tulisan tangan yang cantik. Ada yang bertuliskan 'Special for Elvano', ada yang bertuliskan 'For Darian & Team', dan satu wadah besar bertuliskan 'Energy for Zenithra Crew'.

Elvano mengerutkan kening, rasa penasarannya kembali memuncak hingga ke ubun-ubun. Tepat saat itu, Darian masuk membawa kostum panggung pertama yang harus dikenakan Elvano.

“Kue apa itu?” tanya Elvano tanpa basa-basi, jarinya menunjuk ke arah tumpukan toples tersebut.

Darian meletakkan kostum itu di gantungan besi dengan santai. “Kue kering yang sehat, memangnya apa lagi? Itu gandum utuh dan cokelat tanpa pemanis buatan,” jawab Darian.

“Kenapa banyak sekali?” tanya Elvano lagi, suaranya naik satu oktav.

Darian mengembuskan napas kasar, tampak mulai habis kesabaran menghadapi sikap bosnya yang tiba-tiba menjadi sangat detail.

“Itu kan sudah ada namanya, El. Kenapa kau jadi cerewet sekali sih? Aku hanya menjalankan tugas untuk menatanya di sini,” keluh Darian.

Elvano melangkah mendekat, mengambil toples yang tertulis namanya lalu membandingkannya dengan toples milik Darian. Ada kilat ketidakrelaan di matanya.

“Ini dari Selena, ya?” tanya Elvano dengan nada menyelidik.

“Kalau iya memangnya kenapa? Masalah?” tanya Darian balik dengan nada menantang.

“Kenapa Selena buat banyak sekali? Kenapa harus untukmu dan juga tim? Kenapa tidak untukku saja?” tanya Elvano dengan suara ketus, wajahnya menunjukkan raut cemburu yang sangat kentara.

Darian mendengus jengkel, ia melempar handuk kecil ke arah meja. “Elvano, jangan egois! Memangnya yang boleh mencicipi kue buatan Selena cuma kau saja? Kami juga butuh asupan gula sehat setelah bekerja rodi untukmu selama seminggu ini. Ingat, Selena itu dokter gizi, jadi dia akan melayani semua orang yang membutuhkan jasanya agar tetap sehat,” tegas Darian.

Elvano mendengus remeh, ia menyilangkan tangan di dada sambil menatap Darian dengan tatapan meremehkan.

“Memangnya kau membayar jasa Selena? Memang kau butuh dokter gizi? Tubuhmu saja isinya kopi dan mie instan,” sindir Elvano enteng.

Darian mengepalkan tangannya di udara, wajahnya memerah karena jengkel. “Kau ini benar-benar cemburu tingkat akut ya? Menyebalkan sekali! Kalau tahu kau akan jadi seposesif ini, aku tidak akan mau membantumu mengirimkan kue-kue ini ke ruanganmu!” gerutu Darian.

Elvano berdecak kesal dan memilih mengabaikan omelan Darian. Ia mengambil satu keping kue dari toplesnya, merasakannya perlahan di mulutnya. Rasa manis yang pas dan tekstur yang renyah membuatnya sedikit lebih tenang.

**

Di dalam kamar apartemen yang tenang, Selena berdiri di depan cermin besar, menatap pantulannya sendiri dengan perasaan yang campur aduk antara gugup dan antusias. Ia mengenakan cardigan rajut berwarna putih bersih yang dipadukan dengan tank top senada, serta skort tartan denim yang memberikan kesan santai namun tetap modis. Rambut panjangnya ia ikat asal ke atas membentuk messy bun, menyisakan beberapa helai anak rambut yang membingkai wajah alaminya.

“Oke, Selena. Tarik napas. Ini hanya konser, bukan ujian spesialis,” gumam Selena pelan pada dirinya sendiri sembari memoleskan lip balm tipis.

Di atas meja rias, sudah tergeletak sebuah lightstick resmi berwarna biru laut yang telah disiapkan oleh Darian. Di sampingnya, sebuah kalung akses khusus berwarna emas redup—tiket VVIP pemberian Elvano—berkilau terkena lampu ruangan. Ini bukan sekadar tiket penonton biasa; ini adalah kunci akses absolut yang memungkinkannya melenggang masuk ke area mana pun di National Stadium, mulai dari barisan terdepan hingga ruang ganti pribadi sang mega bintang.

Setelah memastikan penampilannya rapi, Selena menyambar tas kecilnya dan melangkah keluar apartemen. Sebuah taksi yang dipesan Darian sudah menunggu di lobi bawah. Begitu mobil melaju membelah jalanan Singapura yang tertib, Selena mengeluarkan ponselnya. Ada pesan masuk dari Darian.

“Namamu sudah terdaftar di gerbang khusus staf dan VVIP. Kau bisa langsung ke backstage kalau mau menghindar dari kerumunan fans,” tulis Darian dalam pesannya.

Selena tersenyum tipis, jemarinya lincah membalas. “Terima kasih, Darian. Aku akan lewat jalur aman. Elvano masih belum tahu, kan?” tanya Selena penuh harap.

“Hampir saja ketahuan tadi. Dia sempat curiga karena aroma masakan yang kau bawakan sangat khas, tapi aku berhasil membuat alasan kalau itu kiriman kilat dari Jakarta yang kusimpan di freezer. Dia percaya, meski mukanya sempat terlihat kecewa karena mengira kau tidak datang,” balas Darian lagi, diikuti emoji tertawa.

“Baguslah. Kerja kerasmu sangat dihargai, Darian. Sampai bertemu di sana!” tutup Selena.

Perjalanan itu terasa sangat singkat karena pikiran Selena terus melayang pada sosok Elvano. Bagaimana rasanya melihat pria yang biasanya ia temui di meja makan dengan kaos rumah biasa, kini berdiri di atas panggung besar dipuja ribuan orang?

Setibanya di National Stadium, pemandangan luar biasa langsung menyapa matanya. Samudra manusia berbaju biru laut memenuhi area luar. Teriakan-teriakan penuh semangat dan nyanyian bersama para VALS membuat suasana terasa begitu hidup. Selena menarik maskernya lebih tinggi, menutupi sebagian wajahnya agar tidak ada yang mengenali sosok dr. Sunshine yang sering muncul di siaran langsung kesehatan itu.

Ini adalah pengalaman pertama bagi Selena. Sepanjang hidupnya, dunianya hanya berputar di antara tumpukan buku kedokteran, bangsal rumah sakit, dan laboratorium gizi. Bahkan untuk sekadar pergi ke bioskop saja, ia harus menghitung waktu dengan sangat ketat. Menonton konser musik seperti ini terasa seperti memasuki dimensi lain yang penuh warna.

Selena berjalan menuju gerbang khusus VVIP. Saat petugas keamanan melihat kalung emas di lehernya, mereka langsung membungkuk hormat tanpa banyak tanya. Ia dipandu melewati lorong eksklusif yang jauh dari hiruk-pikuk antrean reguler. Begitu sampai di dalam venue, Selena menemukan kursinya. Nomor kursinya berada tepat di barisan depan, posisi yang sangat strategis sehingga ia bisa melihat setiap tetes keringat Elvano nanti.

Ia segera mengirim pesan singkat kepada Darian. “Aku sudah masuk area konser dan duduk di kursi yang Elvano beri. Tempatnya bagus sekali!” tulisnya.

“Syukurlah. Mau kujemput ke backstage sekarang? Elvano sedang ganti baju, kau bisa menyapanya sebentar,” tawar Darian dalam balasan cepatnya.

Selena menatap panggung megah di depannya sejenak sebelum membalas. “Tidak perlu, Darian. Biarkan dia fokus. Aku ingin merasakan euforia di bangku penonton dulu seperti fans yang lain. Nanti saja setelah konser selesai, aku akan ke backstage untuk memberinya kejutan,” jawab Selena mantap.

“Baiklah kalau itu maumu. Aku harus kembali mengurus si Perfeksionis itu, dia mulai cerewet soal mikrofonnya. Konser akan dimulai sepuluh menit lagi. Selamat menikmati pertunjukan calon suamimu, Selena!” balas Darian mengakhiri percakapan.

Selena menyimpan ponselnya ke dalam tas. Jantungnya berdegup kencang saat lampu di seluruh stadium tiba-tiba padam secara serentak. Suasana berubah menjadi sunyi mencekam untuk satu detik, sebelum akhirnya teriakan puluhan ribu orang memecah langit malam.

***

Si cantik Selena yang siapa memberi kejutan untuk Elvano, sang superstar.

1
Sri Murtini
elvano kau benar " cinta ya bukan akting
Sri Murtini
Elfano jatuh cinta se jatuh"nya dipelukan kekasih hati. ternyata tidak selamanya perjodohan itu berdampak buruk.... ini memang ketemu pasangan sejatì
Penta Ning Thiyas
luar biasa
Penta Ning Thiyas
karyamu selalu keren.. dan nagih😍👍 semangat kak
Hugo Hamish
kak up dong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!