Setelah diperkosa secara massal oleh 10 warga desa dan diusir secara hina oleh suaminya sendiri akibat fitnah rekaman video, Ratri menempuh jalan kegelapan. Ia memasang susuk emas "Suanggi" dari seorang dukun di hutan Weling , di organ vitalnya.
Kini, ia kembali bukan untuk cinta, tapi untuk membalas pada kejantanan mereka dan nyawa siapa pun yang pernah menyakitinya.
Namun, kehadiran seorang Ustadz muda bernama Fatih membawa pilihan sulit , terus memupuk dendam yang memakan jiwanya, atau melepaskan iblis itu demi sebuah ampunan yang tak terduga dan hidup dengan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah Di Atas amben
Fajar menyingsing di Desa Karang Jati dengan warna langit yang kelabu, seolah mendung enggan beranjak dari atap rumah Eko. Di dalam kamar yang pengap, Ruminten terbangun dengan rasa sakit yang tak terlukiskan. Perutnya yang buncit terasa seperti diremas oleh tangan raksasa yang tidak kasat mata. Dingin merambat di sekujur tubuhnya, sementara peluh sebesar biji jagung membanjiri dahi dan lehernya.
"Aduh... Mas... Sakit, Mas..." rintih Ruminten, suaranya parau dan lemah.
Eko yang tidur di sampingnya terusik. Ia membuka mata perlahan, namun tidak ada raut kekhawatiran yang muncul di wajahnya. Sebaliknya, ia menatap istrinya dengan pandangan yang kosong dan dingin. Pengaruh Suanggi yang semalam berpesta di dalam tubuhnya telah menghisap rasa empati dan kasih sayang yang tersisa. Baginya, erangan Ruminten hanyalah kebisingan yang mengganggu tidurnya.
Tanpa sepatah kata pun, Eko bangkit dari tempat tidur. Ia tidak menyentuh kening istrinya, tidak pula menanyakan bagian mana yang sakit. Ia melangkah keluar menuju dapur, menyalakan tungku, dan menyeduh segelas kopi hitam kental. Hasratnya untuk menimang calon anaknya yang selama ini ia gadang-gadang saat merantau, seketika lenyap menguap. Yang tersisa di benaknya hanyalah bayangan molek Ratri dan janji uang yang menunggunya di Sukomaju.
Setelah menghabiskan kopinya, Eko mandi di sumur belakang. Air dingin yang menyiram tubuhnya justru membangkitkan kembali sisa-sisa energi ghaib yang ditanamkan Suanggi. Bukannya merasa segar, ia malah merasakan denyutan panas yang kembali bangkit di selangkangannya.
Ia kembali ke kamar untuk berganti pakaian. Di sana, ia melihat Ruminten masih tergeletak dengan posisi yang sama, masih mengenakan kain jarik lusuh sisa semalam yang kini tampak berantakan. Melihat istrinya yang lemah dan tak berdaya, tiba-tiba muncul keinginan liar yang tidak masuk akal. Nafsu binatangnya kembali memuncak, dipicu oleh hawa hitam yang masih mendekam di urat syarafnya.
"Minten, layani aku sebentar," ucap Eko sambil mendekati dipan.
Ruminten menatap suaminya dengan mata yang basah oleh air mata. "Mas... tolong, Mas... Perutku benar-benar sakit. Rasanya seperti dipelintir. Aku tidak kuat berdiri, apalagi melayanimu..."
Eko tidak peduli. Ia menjadi suami yang keras kepala, seolah jiwanya telah dirasuki setan. "Halah, jangan banyak alasan! Kamu itu istri, tugasmu melayani suami. Sini!"
Dengan kasar, Eko menarik tangan Ruminten hingga wanita itu nyaris terjatuh dari amben. Tanpa mempedulikan jeritan lirih dan tangis istrinya, Eko kembali memaksakan kehendaknya. Pergulatan intim itu terjadi lagi, namun kali ini terasa jauh lebih gelap. Ruminten hanya bisa memejamkan mata, menggigit ujung bantal untuk menahan sakit yang luar biasa di rahim dan kemaluannya. Ia merasa organ dalamnya sedang dihancurkan secara perlahan.
Setelah pelepasan yang penuh kekerasan itu berakhir, Eko bangkit dengan napas terengah-engah. Ia melihat ada rembesan cairan merah pekat di atas kasur kapuk yang tipis itu—darah segar yang keluar dari tubuh istrinya. Namun, Eko hanya meliriknya sekilas dengan tatapan acuh tak acuh.
Ia segera berpakaian, mengenakan kemeja terbaiknya, dan menyisir rambutnya hingga rapi. Tanpa menoleh lagi ke arah istrinya yang kini terisak dalam diam, Eko melangkah keluar rumah dan menyalakan motornya. Tujuannya hanya satu: rumah gedong Ratri di Sukomaju. Ia tidak sabar untuk kembali merasakan "surga" yang dijanjikan wanita itu.
Di dalam rumah, Ruminten merasa nyawanya seperti sudah di ujung tanduk. Rasa sakit di perutnya kini berganti menjadi rasa panas yang membakar. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, ia merangkak pelan di atas lantai tanah. Setiap inci gerakannya mendatangkan rasa nyeri yang menusuk, namun instingnya sebagai seorang ibu memaksanya untuk mencari bantuan.
"To... long... Pak Hardi... Bu Asih..." suaranya nyaris hilang, hanya berupa bisikan di ambang pintu.
Beruntung, Bu Asih, tetangga terdekat yang sedang menjemur pakaian di samping rumah, mendengar suara rintihan itu. Ia segera berlari mendekat dan terperanjat melihat kondisi Ruminten yang pucat pasi dengan noda darah di jariknya.
"Gusti Allah! Rumi! Kenapa kamu, Nak?" Bu Asih segera memapah Ruminten.
"Sakit, Bu... Perutku... Mas Eko..." Ruminten tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Ia hanya menunjuk ke arah perutnya yang terus bergejolak hebat, seolah-olah bayi di dalamnya sedang memberontak ingin keluar namun tertahan oleh sesuatu yang ghaib.
Melihat kondisi yang gawat, Bu Asih segera memanggil suaminya. Mereka memutuskan untuk tidak membawa Ruminten ke puskesmas yang jauh, melainkan ke rumah Mak Itam, seorang dukun beranak paling sepuh dan disegani di desa itu, yang konon memiliki "penglihatan" lebih dari sekadar urusan medis.
Sesampainya di gubuk Mak Itam yang beraroma kemenyan dan rempah-rempah, Ruminten segera dibaringkan di atas bale-bale bambu. Mak Itam, seorang wanita tua dengan kulit keriput namun mata yang masih tajam berkilat, mulai meraba perut Ruminten.
Seketika, dahi Mak Itam berkerut dalam. Ia merasakan sesuatu yang tidak beres. Pergerakan bayi di dalam rahim Ruminten memang sangat aktif, bahkan terlalu aktif, seolah sedang dipacu oleh kekuatan yang luar biasa. Namun, pergerakan itu tidak beraturan. Janin itu tampak seperti sedang meronta-ronta kesakitan, bukan bergerak karena sehat.
Mak Itam memejamkan mata, mulutnya komat-kamit merapalkan mantra penolak bala. Tangannya yang dingin menekan pelan bagian bawah rahim Ruminten. Tiba-tiba, ia menarik tangannya dengan cepat seolah baru saja menyentuh bara api.
"Hewmm..." bisik Mak Itam. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya berkali-kali.
"Bagaimana, Mak? Bayinya sehat, kan?" tanya Bu Asih dengan nada cemas.
Mak Itam menatap Ruminten dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada gurat ketakutan sekaligus kasihan di wajah tua itu. "Bayinya... bergerak terlalu kencang, Nduk. Tapi ini bukan gerakan bayi normal. Ada kecacatan yang aneh di sana. Seolah-olah nyawanya sedang dihisap, tapi badannya dipaksa untuk terus tumbuh secara tidak wajar."
Mak Itam mengusap keringat dingin di lehernya. Ia mencondongkan tubuh ke arah Ruminten dan bertanya dengan suara rendah yang menggetarkan sukma.
"Nduk, coba ingat-ingat baik-baik. Apakah suamimu atau kamu sendiri sedang menyinggung atau menyakiti hati orang lain belakangan ini? Apakah kalian berurusan dengan orang yang punya 'simpanan' ghaib?"
Ruminten terdiam. Ingatannya melayang pada perubahan sikap Eko yang sangat drastis sejak pulang semalam. Ingatannya melayang pada kekasaran suaminya yang tidak masuk akal.
"Imbasnya ke kehamilanmu ini sangat berat, Nduk," lanjut Mak Itam dengan suara berat. "Janinmu ini bukan sedang tumbuh, tapi sedang menjadi 'wadah'. Ada parasit ghaib yang masuk melalui bapaknya. Kalau tidak segera diputus, bayi ini tidak akan lahir sebagai manusia."
Mendengar itu, Ruminten menjerit histeris. Ia memegangi perutnya yang kembali berdenyut kencang. Di dalam sana, Suanggi yang dikirim Ratri melalui perantara Eko sedang tertawa riang, terus memakan saripati kehidupan si jabang bayi, mengubah murni menjadi najis, mengubah cinta menjadi kutukan yang tak tersembuhkan.
Di saat yang sama, motor Eko menderu masuk ke halaman rumah Ratri di Sukomaju. Ia turun dengan senyuman lebar, sama sekali tidak tahu bahwa di gubuk Mak Itam, takdir keturunannya sedang diputuskan oleh dosa yang ia lakukan dua tahun silam.
kirain istrinya yg di bacok
dan jangan lupa, perdalam literasi, hantu Suanggi itu apa, dan untuk apa.
kalau benar demikian, siap siap aja Pakk RT jadi korban Ratri seperti Pakk Karno