NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Pengganti Anak Sahabat

Menjadi Ibu Pengganti Anak Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: peony_ha

Sandra, Satya dan Raisya telah menjalin persahabatan sejak mereka memasuki dunia perkuliahan. Perhatian Satya pada Sandra terlalu berlebihan membuat Sandra menjadi terbawa perasaan.
Namun pada akhirnya Sandra harus mengubur perasaanya pada Satya kala Raisya memberitahunya bahwa dia akan segera menikah dengan Satya.
sakit dan perih yang Sandra rasakan.
Namun takdir berkata lain, Sandra terpaksa harus menjadi ibu sambung dari anak hasil pernikahan sahabatnya itu, Raisya dan Satya.
akan kah Sandra sanggup melalui hari harinya bersama Satya yang telah berubah dan masih di hantui oleh bayang-bayang istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Peduli Denganku

Dua hari berikutnya berlalu lebih ringan. Udara hari ini jauh lebih segar, langit-langit biru cerah hanya di hiasi oleh awan tipis. Aku bisa bernafas lega hari ini, tidak ada lagi rasa sesak yang menyelimuti dadaku.

Kondisiku semakin membaik. Rasa lemas yang sempat membuatku hanya bisa berbaring kini perlahan menghilang. Aku sudah bisa duduk lebih lama, berjalan tanpa terlalu tertatih, bahkan sesekali mengobrol dengan perawat tanpa merasa kehabisan tenaga.

Kak Satya masih setia menemani walaupun disibukan dengan pekerjaannya.

Tidak banyak berubah dari sikapnya—tetap irit bicara, tetap sibuk dengan pekerjaannya. namun aku bersyukur dia masih bertanggung jawab untuk mengurus semua keperluanku di rumah sakit.

Pagi itu, dokter akhirnya datang dengan kabar yang sudah kutunggu.

"Kondisi Bu Sandra sudah stabil. Kalau tidak ada keluhan berarti, hari ini sudah boleh pulang". ucap sang dokter dengan tersenyum ramah padaku.

Senang sekali kabar ini membuatku bahagia. Aku hampir tidak bisa menyembunyikan senyumku.

"Benar, Dok?" tanyaku memastikan.

Dokter itu mengangguk. "Iya. Tapi tetap jaga kondisi, jangan terlalu capek, jaga pola makan, dan obatnya tetap diminum sampai habis dan jangan sampe setres ya Bu Sandra".

Aku mengangguk cepat. "Baik, Dok. Terima kasih."

Setelah dokter pergi, aku langsung menoleh ke arah Kak Satya yang menghampiriku.

"Kak Satya, aku boleh pulang hari ini," ucapku, nada suaraku tanpa sadar terdengar lebih ceria.

Ia menoleh dan menatapku sejenak.

"Hm," jawabnya singkat. "Nanti aku urus administrasinya."

Aku hanya mengangguk, tapi senyumku tak kunjung hilang.

*

Beberapa jam kemudian, semuanya selesai, urusan administrasi dan semua barang-barangku sudah tersusun rapi. Kak Satya ikut andil dalam beberes ini.

Tas kecilku sudah rapi. Tidak banyak barang yang kubawa sejak awal, jadi tak butuh waktu lama untuk bersiap. Aku berdiri di samping tempat tidur, menatap ruangan itu sejenak.

Satu hari yang terasa panjang… tapi meninggalkan sesuatu yang tak bisa dijelaskan.

"Ayo, Ndra" suara Kak Satya memanggilku.

Aku menoleh. Ia sudah berdiri di dekat pintu, membawa tasku.

Aku berjalan menghampirinya, langkahku masih pelan, tapi jauh lebih kuat dibandingkan sebelumnya.

Kami keluar dari ruangan itu bersama. Berjalan melewati lorong lorong rumah sakit, kak Satya berjalan di sebelahku langkahnya ringan menyesuaikan dengan langkah kecilku.

*

Perjalanan menuju apartemen terasa sunyi.

Seperti biasa.

Aku duduk di kursi penumpang samping kak Satya, memandang ke luar jendela. Jalanan siang itu tidak terlalu ramai. Angin dari pendingin mobil terasa sejuk di kulitku.

Sesekali aku melirik ke arah Kak Satya.

Tangannya mantap memegang kendali setir, wajahnya datar seperti biasa. kacamata hitam bertengger di hidungnya yang mancung. bukan pertama atau kedua kalinya aku satu mobil dengan kak Satya, tapi setelah pernikahan paksa ini rasanya sangat berbeda—sangat canggung.

Mobil akhirnya berhenti di depan apartemen.

Aku menghela napas pelan. Aku sudah siap untuk kembali hidup satu atap dengan kak Satya yang penuh dengan rasa canggung di dalamnya.

Rumah.

Atau… setidaknya tempat yang selama ini kusebut rumah.

Kak Satya turun lebih dulu, lalu membuka pintu untukku. Refleks aku sedikit tertegun. Tidak biasanya.

"Pelan-pelan Ndra" ucapnya singkat.

Aku mengangguk, lalu keluar dengan hati-hati. Lengan kokohnya terulur seolah menawarkan untuk menjadi tumpuan. Dengan ragu aku memegang lengan kak Satya, kemudian dengan hati-hati turun dari kursi mobil.

Kami masuk bersama. Lorong apartemen terasa sunyi seperti biasanya. Saat pintu unit terbuka, aroma familiar langsung menyambutku. Aroma mint berpadu dengan aroma lavender khas aroma yang kak Satya sukai sedari dulu, tidak berubah.

Aku melangkah masuk, menatap sekeliling.

Tidak ada yang berubah.

Tapi rasanya… tetap berbeda.

Aku berjalan perlahan menuju sofa, lalu duduk. Tubuhku memang sudah membaik, tapi tetap butuh istirahat.

Kak Satya meletakkan tasku di kamar, lalu kembali ke ruang tengah.

"Obatnya jangan lupa diminum ndra, sama jangan lupa makan" katanya.

"Iya, Kak."

Ia mengangguk singkat, lalu seperti hendak kembali ke rutinitasnya—membuka laptop, tenggelam dalam dunianya sendiri.

Namun sebelum itu, aku memanggilnya.

"Kak…"

Ia berhenti, dan menoleh padaku.

"Kak Satya, aku mau minta maaf sekaligus berterimakasih kak Satya sudah mau membagi waktunya untuk menjagaku di rumah sakit" aku berkata pelan dan hati-hati.

Ada jeda sejenak.

Ia menatapku lebih lama dari biasanya.

"Sama-sama ndra," jawabnya akhirnya, datar seperti biasa.

Tapi kali ini…

Entah kenapa, jawabannya tidak terasa dingin.

Aku tersenyum kecil.

Ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Hanya mengangguk tipis, lalu duduk di kursinya.

Aku menyandarkan tubuhku ke sofa, memejamkan mata sejenak.

Perjalanan ini belum selesai.

Hubungan kami juga belum jelas arahnya.

Tapi setidaknya…

Dan mungkin, perlahan—

Kami sedang belajar kembali… menjadi dua orang yang pernah saling mengenal.

Bayangan sandrina berkelebat di otaku, aku rindu dengan gadis kecil itu. Sudah empat hari drina menginap dirumah ayah dan ibu.

Perlahan aku membuka mata, aku melirik kak Satya yang duduk di sofa tidak jauh dariku.

"kak, kapan mau jemput drina?" aku berkata pelan, cukup berani menatap kak Satya lama.

kak Satya yang matanya masih terfokus dengan layar laptop, kini menghela nafas pelan.

"drina aman ndra, dirumah ayah dan ibu. Sekarang fokus saja dengan ke sembuhanmu. Nanti kita pergi jemput drina" ucapnya kemudian ia pergi ke dapur entah untuk apa.

Entah mengapa, mendengar ucapan kak Satya berusan membuat hati ku menghangat. Kak Satya peduli dengan kesehataku. ah wajahku terus berseri.

1
roses
sipp di tunggu ya kak
Aimee Aiko
lanjut seru
Buku Matcha
Bagus
roses
kok jadi ikut deg degan ya ndra
roses
sabar ya sandra
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!