NovelToon NovelToon
Talak Setelah Akad

Talak Setelah Akad

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: YePeEs

Hari pernikahan yang harusnya menjadi hari paling bahagia bagi Zara sketika menjadi mimpi buruk, ia di talak oleh suaminya satu jam setelah akad pernikahan.
zara mendapatkan fitnah dari seseorang yang mistrius, hingga menhancurkan hidupnya. Zara mulai membangun hidupnya dengan menjauh dari keluarganya yang mengusir dirinya.
bagaimana perjuangan Zara setelah Di talak dihari pernikahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YePeEs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Sore hari menjelang pukul empat, langit Jakarta mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan. Zara sudah selesai merapikan semua pakaiannya ke dalam tas ransel kecilnya. Ia duduk di tepi ranjang, menunggu dengan tidak sabar kepulangan suaminya. Kini, setelah tahu siapa Fahri sebenarnya, ada rasa canggung sekaligus rindu yang mendalam yang berkecamuk di dalam dadanya.

​Klik.

​Suara kunci pintu otomatis berbunyi. Pintu terbuka, dan sosok yang ditunggu-tunggu akhirnya melangkah masuk.

​Fahri tampak sedikit lelah. Kemeja flanelnya agak kusut, dan peci hitamnya—seperti biasa—sudah kembali ke setelan pabrik: miring ke sebelah kanan. Di tangan kanannya, ia menenteng sebuah kantong plastik besar berlogo toko roti terkenal di Jakarta Selatan.

​"Assalamu’alaikum, Teteh Jakarta! Waduh, sepi amat nih kamar, kayak kuburan massal," seru Fahri dengan suara lantangnya yang khas, langsung melempar kantong plastik ke atas meja.

​"Wa'alaikumussalam..." sahut Zara pelan. Ia berdiri dari kasur, menatap Fahri dengan pandangan yang sangat lekat, membuat Fahri yang baru saja mau membuka jaketnya mendadak menghentikan gerakannya.

​Fahri mengernyitkan dahi, meraba wajahnya sendiri dengan heran. "Lho? Kenapa kamu ngelihatin saya kayak gitu, Zar? Ada yang aneh ya? Apa ketampanan saya mendadak meningkat dua ratus persen setelah dari Jakarta Selatan?"

​Zara tidak membalas candaan itu. Ia malah melangkah mendekat perlahan, berhenti tepat di depan Fahri, lalu mendongak menatap sepasang mata hitam suaminya.

​"Fahri..." panggil Zara lembut.

​"Ya? Kenapa? Kok nadanya melankolis gini? Mau minta jajan ya?"

​"Kamu... anak tunggalnya Haji Sulaiman, ya?" tanya Zara langsung to the point, tanpa basa-basi.

​Pertanyaan itu seketika membuat Fahri membeku. Senyum usil di wajahnya mendadak lenyap dalam sekejap. Matanya berkedip beberapa kali, lalu ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan wajah yang mendadak salah tingkah luar biasa.

​"Eh? L-loh? Kamu... kamu tahu dari mana, Zar?" tanya Fahri terbata-bata, suaranya naik satu oktav karena panik rahasianya terbongkar. "A-ada agen intelijen yang ngebocorin ya? Wah, parah nih, harus saya pecat!"

​"Tadi Mbak Humaira ke sini," ucap Zara lirih.

​Mendengar nama 'Humaira', Fahri langsung menepuk jidatnya sendiri dengan keras. "Astagfirullah... si Ira ngapain pake mampir ke sini segala sih! Pasti dia ceritain yang aneh-aneh ya tentang saya? Zar, dengerin dulu, saya bisa jelasin—"

​"Dia gak ceritain yang aneh-aneh kok," potong Zara cepat. Langkah kaki Zara maju satu langkah lagi, mengikis jarak di antara mereka. Sebelum Fahri sempat mengelak lagi dengan banyolan konyolnya, Zara tiba-tiba maju dan melingkarkan kedua lengan tangannya di sekeliling pinggang tegap Fahri. Ia menyandarkan wajahnya erat-erat di dada bidang suaminya yang dilapisi flanel kotak-kotak.

​Fahri seketika mematung. Tubuhnya menegang sempurna seperti tiang listrik. Ini adalah pertama kalinya Zara memeluknya secara sukarela, tanpa ada paksaan, tanpa ada kepanikan drama rumah sakit.

​"Zara... kamu... kamu gak apa-apa kan?" bisik Fahri gugup, tangannya menggantung bingung di udara, tidak tahu harus ditaruh di mana.

​"Fahri... makasih ya," bisik Zara di dada Fahri, air mata harunya kembali menetes sedikit, membasahi kain kemeja Fahri. "Makasih karena kamu udah mengorbankan banyak hal demi aku. Makasih karena kamu udah memilih buat melindungi aku dibanding menuruti perjodohan keluarga kamu. Dan... maafin aku karena selama ini udah sering ngatain kamu santri melarat, menuduh kamu yang aneh-aneh... padahal kamu..."

​Mendengar pengakuan tulus dari istrinya, ketegangan di tubuh Fahri perlahan-lahan mencair. Sebuah senyuman tipis, sangat hangat dan penuh rasa sayang, terukir di wajah cowok berpeci miring itu. Dengan perlahan namun pasti, ia menurunkan kedua tangannya dan membalas pelukan Zara, mendekap tubuh mungil istrinya itu dengan sangat erat dan protektif ke dalam dadanya.

​"Zar... dengerin saya ya," ucap Fahri lembut, menaruh dagunya di atas kepala Zara yang dibungkus kerudung biru. "Saya gak pernah merasa mengorbankan apa pun. Soal perjodohan itu, dari awal sebelum ketemu kamu pun saya emang udah berniat menolak, karena saya gak mau menikah atas dasar bisnis atau paksaan orang tua. Saya mau menikah karena pilihan hati saya sendiri."

​Fahri merenggangkan pelukannya sedikit, memegang kedua pundak Zara dan menatap mata bulat istrinya yang masih basah.

​"Dan soal status saya sebagai anak Haji Sulaiman itu cuma bonus duniawi, Zar. Di hadapan Allah, dan di hadapan kamu sekarang, saya tetaplah Fahri Ahmad. Santri yang hobi pakai peci miring, yang lidahnya lidah bubar ayam Tasikmalaya, dan yang bakal selalu pasang badan paling depan kalau ada orang yang berani bikin kamu nangis lagi," Fahri menghapus air mata di pipi Zara dengan ibu jarinya, senyum tengil andalannya kembali terbit. "Jadi, status 'putra mahkota' itu gak usah dibahas lagi ah. Malah bikin saya kelihatan kayak pangeran di dongeng-dongeng, terlalu tampan buat kenyataan."

​"Ih! Ujung-ujungnya tetep aja narsis!" Zara spontan memukul dada Fahri kesal, namun tawa bahagianya pecah seketika.

​"Hahaha! Nah gitu dong, ketawa!" Fahri mengacak-ngacak puncak kepala Zara gemas. "Ya udah, sekarang buruan ambil tas kamu. Mobil travel carteran kita yang 'bobrok' itu udah nunggu di bawah lobi. Kita pulang ke Tasikmalaya sekarang juga."

​"Lho? Kita gak pakai mobil mewah jemputan dari ayah kamu?" tanya Zara usil, menggoda suaminya.

​"Gak usah, ah! Tarik rutenya kepanjangan kalau pakai mobil mewah, gak estetik buat petualangan kita," sahut Fahri santai sambil menyandang tas ransel usangnya ke pundak kiri. "Ayo, Istriku. Saatnya kita kembali ke peradaban rengginang dan domba!"

​Zara tersenyum lebar, menyambar tas kecilnya, lalu dengan mantap menggandeng jemari tangan kanan Fahri. Langkah kaki mereka keluar dari kamar Suite Room nomor 2012 terasa sangat ringan. Jakarta dengan segala drama, kepalsuan, dan traumanya kini resmi mereka tinggalkan di belakang. Di depan mereka, jalan tol menuju jalur selatan Jawa Barat sudah membentang luas, membawa sang putra mahkota dan Teh Jakarta menuju awal kehidupan baru yang sesungguhnya di bawah atap kedamaian pesantren Tasikmalaya.

​Di dalam lift yang bergerak turun menuju lobi utama, kehangatan pelukan di kamar Suite Room tadi mendadak menguap, digantikan oleh keheningan yang berat. Zara menatap angka lantai yang terus berkurang di layar digital, sementara jemarinya perlahan mengendur dan terlepas dari gandengan tangan Fahri.

​Informasi tentang perjodohan dua tahun antara Fahri dan Humaira, serta pengorbanan besar yang dilakukan suaminya di tingkat keluarga besar, terus berputar dan menyumbat dada Zara. Ia tidak ingin menjadi batu sandungan bagi masa depan laki-laki yang begitu tulus melindunginya.

​"Fahri..." panggil Zara lirih saat lift melewati lantai sepuluh.

​"Hmm? Kenapa, Neng? Ada barang yang ketinggalan lagi?" Fahri menoleh, mencoba mencairkan suasana dengan senyum santainya.

​"Kalau kamu mau menceraikan aku sekarang... aku ikhlas," ucap Zara lambat-lambat, suaranya bergetar namun terdengar sangat mantap.

​Langkah kaki Fahri yang hendak keluar begitu pintu lift terbuka di lantai lobi langsung terhenti tegak. Ia berbalik sepenuhnya, menatap Zara dengan kening berkerut dalam. "Zar, kamu ngomong apa sih? Jangan ngaco ah, kita baru aja beres-beres dari atas."

​"Aku serius, Fahri Ahmad," Zara mendongak, menatap mata hitam suaminya dengan tatapan yang sarat akan rasa bersalah. "Mbak Humaira itu wanita yang sangat baik, santun, dan dia udah nunggu kamu selama dua tahun. Dia jauh lebih pantas mendampingi seorang putra mahkota Haji Sulaiman daripada aku, wanita kota penuh masalah yang datang cuma membawa beban dan trauma."

​Zara mengembuskan napas panjang, menahan air mata yang kembali mendesak keluar.

​"Aku kasih izin kalau kamu mau ceraikan aku hari ini juga, biar kamu bisa melanjutkan perjodohan keluarga kalian. Tapi... aku punya satu syarat."

​Fahri melipat kedua tangannya di dada, matanya menajam, mendengarkan dengan serius tanpa memotong. "Apa syaratnya?"

​"Tolong antar aku pergi ke tempat yang jauh. Jauh dari Jakarta, dan jauh dari Tasikmalaya. Aku gak mau pulang ke rumah Ayah, dan aku juga gak mau kembali ke pesantren karena gak sanggup kalau harus terus melihat kamu bersama wanita lain nanti. Antar aku ke suatu tempat di mana gak ada satu pun orang yang mengenali aku, setelah itu... kamu bebas," bisik Zara, air matanya akhirnya lolos membasahi pipi.

​Suasana di area dekat lift lobi itu mendadak hening. Beberapa tamu hotel berlalu-lalang di sekitar mereka, namun Fahri tetap bergeming di tempatnya.

​Bukannya marah atau panik, seulas senyum tipis yang kali ini bukan senyum usil, melainkan senyum penuh ketegasan muncul di wajah Fahri. Ia maju satu langkah, menatap Zara lekat-lekat dari balik peci hitamnya yang terpasang lurus.

​"Teteh Jakarta... dengerin saya baik-baik ya," ucap Fahri, suaranya rendah namun berwibawa. "Pernikahan dalam Islam itu bukan mainan lego yang kalau udah bosan atau ngerasa gak enak bisa dibongkar pasang sesuka hati. Saya mengucapkan akad di depan Abah Mukhlas semalam itu pakai nama Allah, bukan pakai nama bisnis atau saham. Sekali saya sebut sah, maka tanggung jawab atas diri kamu resmi berpindah ke pundak saya sampai akhir hayat."

​Fahri menjentikkan jarinya ke jidat Zara pelan, membuat gadis itu sedikit mengaduh.

​"Lagian, syarat kamu itu aneh-aneh aja. Mau pergi jauh dari Jakarta dan Tasik? Mau ke mana? Kutub Utara? Biar kamu beku di sana sendirian? Nggak ada cerai-ceraian. Perjodohan sama Ira udah beres saya selesaikan baik-baik dengan keluarga jauh sebelum saya bawa kamu ke Jakarta. Jadi, stop berpikiran kalau kamu itu beban," Fahri kembali merangkul pundak Zara dengan erat, memaksanya berjalan menuju pintu keluar lobi. "Udah, simpan dulu drama melankolis kamu. Sekarang, sebelum kita benar-benar balik kanan ke Tasikmalaya, ada satu utang urusan yang harus kita selesaikan di Jakarta, kan?"

​Zara mengerjap-erjap, menghapus air matanya dengan bingung sambil menyamakan langkah kaki Fahri. "Utang? Utang apa?"

​"Dita," jawab Fahri singkat saat mereka melangkah keluar menuju taksi yang sudah menunggu di depan lobi. "Kamu lupa? Malam pas kamu diusir dari rumah, kamu pinjam uang berapa sama teman kamu itu buat ongkos ke Tasik?"

​Mata Zara langsung membelalak sempurna. "Astagfirullah! Iya! Aku pinjam uang Dita tiga ratus ribu! Kok aku bisa lupa ya!"

​"Kamunya kebanyakan traveling mikirin cerai sama rengginang sih," ledek Fahri sambil membukakan pintu taksi. "Ayo masuk. Kita samperin rumah Dita sekarang. Gak elok seorang istri santri Tasik pulang membawa utang di ibu kota."

1
partini
love aja yah ,my love gitu
Anonim
❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!