NovelToon NovelToon
Bayang Yang Runtuh

Bayang Yang Runtuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Shanti_San

Kiara, putri tunggal keluarga terkaya, memilih menikah dengan pria biasa karena cinta yang ia pikir sangat kuat dan abadi. Selama sepuluh tahun pernikahan, Kiara hidup dengan rasa bersalah yang besar—ia tidak pernah bisa mengandung dan melahirkan anak, selalu menyalahkan dirinya sendiri, dan terus meminum obat yang dikatakan suaminya sebagai vitamin penyehat tubuh.

Semua kepercayaan dan kebahagiaannya runtuh dalam sekejap mata. Kiara mengetahui kenyataan pahit, suaminya telah berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.
Lebih menyakitkan lagi, obat yang ia minum setiap hari ternyata adalah pil penunda kehamilan. Sepuluh tahun ia pikir dia kurang subur, padahal dialah yang menjadi korban, dan suaminya sendirilah penyebab ia tidak pernah bisa memiliki keturunan. Puncak kehancuran tiba saat Kiara tahu sahabatnya kini sedang mengandung anak hasil perselingkuhan mereka.

Kiara pun memilih pura-pura tidak tahu, untuk membalaskan rasa sakitnya karena telah di tipu oleh mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shanti_San, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 - Grup Angkasa

Siang itu, sinar matahari masuk lewat kaca jendela besar gedung pencakar langit yang menjadi pusat kantor pusat perusahaan Wijaya. Kiara melangkah masuk dengan tenang, langkahnya mantap dan anggun, disambut hormat oleh setiap karyawan yang ia lewati. Ia berjalan menuju ruangan terbesar di lantai paling atas, ruangan milik ayahnya, Pak Edward.

Begitu masuk, Kiara melihat ayahnya sedang duduk di balik meja besarnya, menatap tumpukan dokumen dengan serius. Mendengar suara langkah kaki, Pak Edward mengangkat wajah dan seulas senyum hangat langsung menghiasi wajah tegasnya. Bagi Pak Edward, Kiara adalah segalanya, harta paling berharga yang akan ia lindungi mati-matian.

"Sudah datang, Putri Ayah," sapa Pak Edward lembut, memberi isyarat agar putri tunggalnya itu duduk di hadapannya.

"Ada apa, Yah? Memanggilku mendadak ke kantor, ada hal penting ya?" tanya Kiara sambil menaruh tas tangannya, menatap ayahnya dengan penuh tanya.

Pak Edward mengambil sebuah amplop undangan berwarna emas yang berkilau di atas meja, lalu menyodorkannya ke arah Kiara.

"Ini ada undangan dari Grup Angkasa, perusahaan milik teman lama Ayah, Pak Hartono. Mereka mengadakan acara makan malam besar sekaligus peresmian gedung baru mereka nanti malam. Ini acara yang sangat penting, Kiara. Semua rekan bisnis besar, pejabat, dan orang-orang berpengaruh di kota ini akan hadir. Kehadiran kita sangat dinanti," jelas Pak Edward dengan nada serius.

Kiara menerima undangan itu, membolak-baliknya sekilas. "Jadi Ayah ingin aku datang?"

"Ya, dan kamu harus datang bersama suamimu, Ferdi," tambah Pak Edward, nadanya sedikit berubah menjadi lebih tegas namun penuh harapan.

"Ini kesempatan bagus untuk Ferdi. Ingat, rencana Ayah untuk mengangkat dia menjadi Direktur Utama bulan depan, kan? Acara seperti ini tempat yang tepat untuk dia bersosialisasi, memperluas koneksi, dan menunjukkan wibawanya sebagai calon pemimpin perusahaan Wijaya. Kamu dampingi dia ya, Kiara. Jadilah pendamping terbaiknya."

Kiara tersenyum tipis, senyum yang menyimpan rasa getir di dada. Ia mengangguk pelan.

"Baik, Yah. Aku mengerti. Nanti malam aku akan datang bersama Mas Ferdi."

Sepanjang perjalanan pulang, pikiran Kiara berkecamuk. Acara besar, banyak orang penting, dan dia harus pergi bersama Ferdi. Di satu sisi, ia tahu ini adalah kesempatan emas untuk melihat bagaimana Ferdi bersikap di depan umum, bagaimana ia berperan sebagai calon pemimpin, dan bagaimana hubungannya dengan Emily karena ia yakin wanita itu pun pasti akan hadir di acara bergengsi semacam ini. Dan benar saja, firasatnya tidak salah.

Malam itu, gedung megah milik Grup Angkasa tampak berkilauan diterangi ribuan lampu hias. Suasana sangat meriah, dipenuhi musik lembut, percakapan, dan tawa renyah dari para undangan yang datang dengan busana terbaik mereka. Ferdi tampak sangat tampan dan berwibawa mengenakan setelan jas hitam yang mewah, berjalan beriringan dengan Kiara yang mengenakan gaun malam berwarna biru dongker yang elegan, membuatnya tampak cantik bak putri raja.

Di mata semua orang, mereka adalah pasangan paling serasi, paling bahagia, dan paling dikagumi. Siapa yang tidak kenal dengan Kiara Wijaya, pewaris tunggal kekayaan Wijaya Group? Dan Ferdi, suaminya yang tampan dan beruntung, yang kini semakin bersinar namanya berkat dukungan keluarga istrinya.

Namun, di balik senyum dan sapaan ramah itu, hati Kiara terasa dingin dan waspada. Matanya terus meneliti setiap sudut ruangan, mencari sosok yang ia tahu pasti ada di sana. Dan tidak lama kemudian, ia melihatnya.

Di dekat pintu keluar yang mengarah ke taman luas di belakang gedung, berdiri Emily. Wanita itu mengenakan gaun merah menyala yang mencolok, membuatnya terlihat sangat menarik dan menggoda. Perutnya yang mulai membesar disamarkan dengan potongan gaun yang longgar, namun bagi mata Kiara, semuanya terlihat begitu jelas. Emily pun menatap ke arahnya, dan seulas senyum penuh tantangan tersungging di bibir wanita itu. Senyum yang tidak lagi menyembunyikan rasa iri dan kebencian.

Emily berjalan mendekat, dengan langkah anggun dan penuh percaya diri, seolah tidak ada dosa sedikit pun di hatinya. Tidak ada lagi nada sopan santun atau kerendahan hati yang dulu ia pamerkan. Sikapnya kini lebih berani, lebih angkuh, seolah posisinya sudah setara bahkan lebih tinggi dari Kiara.

"Kiara! Ferdi! Wah, indah sekali gaunmu malam ini, benar-benar menawan," sapa Emily riang, matanya beralih sekilas menatap Ferdi dengan pandangan yang tidak semestinya, penuh rayuan dan kepemilikan, sebelum kembali menatap Kiara dengan senyum palsu namun angkuh.

"Kamu juga cantik sekali malam ini, Emily. Gaun itu sangat cocok untukmu," jawab Kiara santai, membalas kepalsuan dengan kepalsuan yang jauh lebih meyakinkan.

Ferdi yang sedang berdiri di samping Kiara, terlihat sedikit kaku dan gugup, berusaha menjaga jarak namun tetap bersikap sopan. "Kamu sendirian, Emily?" tanyanya sekadar basa-basi.

"Iya nih. Kenalan aku sedikit di luar sana di taman belakang, di dekat kolam renang. Suasananya lebih tenang dan sejuk di sana, tidak terlalu ramai seperti di dalam sini," jawab Emily sambil menatap tajam ke arah Kiara.

"Kiara mau ikut tidak? Udara malam ini sangat nikmat sekali rasanya kalau dinikmati di pinggir kolam."

Kiara menimbang sejenak. Ia tahu pasti ada sesuatu di balik ajakan Emily ini. Wanita itu tidak mungkin mengajaknya begitu saja tanpa rencana.

"Boleh juga. Aku sedikit pening di dalam sini, segar sekali udara luar," jawab Kiara akhirnya. Ia menoleh pada Ferdi. "Mas, aku sebentar ke luar ya sama Emily. Kamu ngobrol dulu sama rekan-rekan bisnis ya."

Ferdi mengangguk setuju, lega karena bisa lepas sejenak dari posisi serba salah di antara dua wanita itu. "Iya, Sayang. Kamu jalan hati-hati ya."

Kiara dan Emily pun berjalan beriringan keluar ruangan menuju taman belakang yang luas dan indah. Di sana, terdapat kolam renang besar yang airnya berkilau memantulkan cahaya lampu taman. Suasana sepi, hanya ada beberapa orang yang lewat di kejauhan. Mereka berdua berdiri tepat di pinggir kolam, bersandar pada pembatas rendah yang mengelilingi air itu.

1
Yeni Astriani
yuuukk lanjut Author
Yeni Astriani
good job Kiara kamu kuat, kamu punya banyak bukti perceraian pasti bakalan terjadi.
ferdi mengancam karna tahu dia bakalan hidup miskin lagi
Yeni Astriani
lanjut Author
Asyura
lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!