Evana dan Evita, kedua saudara kembar yang tidak pernah menyangka kalau kejadian aneh dan tak masuk akal bisa mereka alami.
Ber-transmigrasi atau berpindah jiwa yang tidak pernah mereka sangka ada dalam dunia nyata terjadi pada keduanya.
Masuk kedalam tubuh kedua istri yang tak pernah akur dan berakhir mengenaskan di akhir kisah, lalu apa yang akan keduanya lakukan? Menikmati hidup dalam dunia yang tak mereka tahu atau memilih mengikuti alur untuk mati yang kedua kalinya?
Kisah mereka semua ada di sini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjaku02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Setelah pertemuan dengan sang ibu, Ayasha kembali dimana sosok Elvara menunggu dengan sabar.
"Ada apa? Bertengkar?" tanya Elvara saat melihat Ayasha datang dengan wajah terlihat kesal dan seperti menyimpan kesulitan.
"Kau tahu Kak, tadi Mami hampir saja membunuh aku!" curhat Ayasha.
"Maksudnya bagaimana? Mami mu mau membunuh kamu? Apa mungkin?" tanya Elvara setengah tak percaya.
"Kak, kau pernah bacakan salah satu scane dimana Ayasha menjelaskan punya alergi terhadap almond dan tadi malah Ibunya Ayasha memesan makanan berbau almond," jelasnya dengan nada agak kesal.
"Setidak tahu itu kah ibumu?" tanya Elvara terkejut.
Dia tahu kalau Ibu dari Ayasha dan ayahnya sudah berpisah sejak dulu karena sang ibu memilih karier tapi apa mungkin sang ibu begitu tidak perhatiannya pada darah dagingnya sendiri tentang apa yang bisa dimakan dan tidak. "Aneh!" bisik Elvara tak habis pikir.
Ayasha hanya mengedikkan bahunya acuh, dia pun tidak tau jika ibu dari Ayasha asli benar-benar melupakan sang putri sama seperti dalam kisahnya.
Ayasha dan Elvara memutuskan untuk kembali ke rumah, sebab hari mulai senja dan menurut mereka lebih baik secepatnya pulang sebelum Rayandra dan Ardhanaya kembali lebih dulu.
Sedangkan di sisi lain.
Melinda akhirnya kembali menginjakkan kakinya di rumah mantan suami, dia melihat bagaimana rumah itu tidak begitu banyak berubah walaupun sudah bertahun-tahun.
"Maaf, nyonya cari siapa?" suara seorang Art baru datang menyapa.
Melinda menoleh, dia menatap dan menelisik Art itu dengan wajah datar dan sombong khas milik Melinda.
"Apa Nindi ada?" tanyanya acuh.
"Nyonya Nindi? Beliau sedang pergi keluar sebentar dan mungkin akan kembali beberapa menit lagi," jelasnya.
Nindi tadi pergi keluar sebab ingin membeli daging untuk membuat asam-asam daging untuk Ayasha yang katanya baru saja kembali dari rumah sakit.
"Kalau begitu biarkan saya menunggu di dalam!" ucap Melinda dan Art itu hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Mari, Nyonya!" ucapnya ramah.
Melinda masuk, dia melihat area dalam rumah yang tak banyak berubah, walaupun ia sendiri tidak menemukan foto dirinya satu pun di dinding rumah itu.
"Begitu bahagianya kamu menjadi penggantiku Nindi?" gumam Melinda dengan wajah datar.
"Nyonya silakan duduk! Akan saya buatkan minum sebentar!"
Melinda mengangguk, dia duduk tenang di sofa yang sudah berganti dengan sofa baru.
"Nyonya silakan!" kata Art itu meletakkan gelas di atas meja tepat di depan Melinda.
"Terima kasih," ucapnya,"Jadi kapan nyonya mu kembali?" tanyanya lagi sebelum Art itu kembali ke belakang.
"Mungkin sebentar lagi!" katanya.
Melinda mengangguk dia meminta art itu kembali melanjutkan pekerjaan yang ia tinggalkan tadi.
Melinda duduk menikmati suasana rumah sudah ia tinggalkan sejak puluhan tahun lalu demi Karier, sekarang akan ia dapatkan kembali entah itu Ayasha sang putri dan mantan suaminya.
Deru mesin mobil terdengar memasuki rumah, Melinda mengintip dan matanya berbinar saat melihat mantan suaminya tiba sendirian tanpa Nindi.
"Mas Hardian?" gumam Melinda dengan mata penuh cinta dan kerinduan.
Hardian masuk, wajah tampan dengan tubuh atletis itu memikat walaupun tak lagi muda. Namun, penampilan Hardian tak kalah dengan anak muda zaman sekarang.
"Sayang, mas kembali, kamu dimana?" seru Hardian langkahnya riang memanggil sang istri yang tak kunjung keluar.
"Mas, kamu sudah kembali?"
Hardian menegang, dengan jantung yang berdetak tak terkendali, bukan karena jatuh cinta tapi lebih ketidak percaya jika sosok itu kembali setelah puluhan tahun pergi meninggalkan dia dan sang putri.
DEGH!
...****************...
Sampai di kediaman Mahatara, Elvara dan Ayasha melangkah masuk tepat saat mobil Rayandra dan Ardhanaya berhenti di depan.
Rayandra memicingkan matanya dingin saat melihat kedua wanita itu baru saja tiba. Ardhanaya mengikuti kakanya turun dari mobil dengan langkah tegas.
“Baru pulang? Dari mana saja kalian?” Rayandra melontarkan pertanyaan tajam, tatapannya menusuk ke arah Elvara.
Elvara menelan ludah, jantungnya berdegup tak menentu. “A-aku… menemani Ayasha bertemu dengan ibu kandungnya,” jawabnya dengan suara gemetar.
Ayasha maju selangkah, menempelkan tangan di pinggang, mata menyala marah. “Kenapa kamu tidak percaya pada Kakaku? Kalau tidak percaya,cari tahu saja sana sendiri, jangan langsung tuduh!” suaranya bergetar oleh amarah yang sulit disembunyikan.
Tanpa menunggu jawaban, ia menarik tangan kakaknya masuk ke dalam rumah, meninggalkan Rayandra terdiam, matanya menatap tajam kepergian Elvara dan Ayasha.
Suasana jadi kaku, seolah ada badai yang siap meledak kapan saja.
Ardhanaya menepuk bahu kakaknya, " sudah kak, kita masuk dulu aku lelah. Kita bisa cari tahu nanti."
Rayandra mengangguk, " oke."
Malam harinya
Di ruang makan dipenuhi oleh kehangatan keluarga yang sudah berkumpul di sekitar meja.
Setiap orang duduk dengan hati yang penuh harap, menyambut hidangan yang tersaji: ayam goreng tepung yang menggoda, Cumi goreng tepung renyah, sayur sop yang harum, sambal udang pedas menggigit, serta buah segar yang menanti sebagai pencuci mulut.
Nenek Mahira menatap mereka dengan senyum teduh, dan suara hangatnya . “Selamat makan, semuanya,” ucapnya lirih, tapi penuh makna, seolah malam ini adalah hadiah berharga yang layak disyukuri.
“Selamat makan, Nek!” jawab mereka serempak, suara itu menggema, menegaskan ikatan keluarga yang tak tergoyahkan.
Ruangan itu sunyi, hanya suara sendok dan piring yang bersahutan di antara mereka. Tak ada sepatah kata pun yang terucap, mereka menikmati makan malamnya.
Beberapa suap terakhir masuk ke mulut mereka dengan perasaan puas yang mendalam.
"Alhamdulillah, kenyang sekali," Elvara mengusap perutnya, senyum lega tergambar jelas di wajahnya.
Ayasha ikut tersenyum, suaranya penuh pujian, "Masakan bibi semakin hari makin lezat. Rasanya… benar-benar bikin nagih."
Nenek Mahira menatap mereka dengan mata yang berbinar, senyum tipis terlukis di bibirnya. "Syukurlah kalian suka. Nah, bagaimana hasil pemeriksaan kesehatannya?" tanyanya dengan suara hangat dan penuh perhatian.
Elvara dan Ayasha menjawab serempak, "Semua baik-baik saja, Nek."
Nenek Mahira menarik napas panjang, merasa sedikit lega, lalu bertanya lagi, "Setelah itu, kalian pergi kemana?"
Ayasha menelan ludah, raut wajahnya berubah seketika, nadanya bergetar tipis saat berkata, "Kami akan ke café Mahira, Nek. Aku ada janji bertemu… dengan Mami Melinda."
Nenek Mahira mengerutkan dahi, matanya menyiratkan keheranan dan keingintahuan yang dalam. "Kamu tidak bahagia bertemu ibu kandungmu, Nak? Bukankah kamu sangat menyayanginya?"
Keheningan memenuhi ruangan, seolah beban yang tak terucapkan menggantung di udara.
Ayasha mendelik, bola matanya berputar penuh kejengkelan mendengar ucapan nenek Mahira. "Senang? Mana mungkin, Nek! Mana ada seorang ibu yang tega mempertaruhkan nyawa anaknya sendiri?" Suaranya dingin, menusuk seperti pisau yang mengiris hati tanpa ampun.
Ardhanaya spontan menoleh, dahi mengerut, suara beratnya menuntut penjelasan, "Apa maksudmu, Yasha?"
"Aku ini alergi kacang almond, tapi tadi Mami malah pesan makanan penuh kacang itu! Apa dia sengaja mau lihat aku kesakitan?!" Nada Ayasha tajam, seolah membakar udara di sekelilingnya.
Nenek Mahira menarik napas dalam, berusaha meredam ketegangan dengan suara lembut, "Mungkin Mami-mu lupa, Nak. Sudahlah, jangan marah terus. Yang terpenting kamu sekarang baik-baik saja."
' memang dia lupa, lupa kalau dia punya seorang anak.' batin Ayasha