NovelToon NovelToon
Immortal Restaurant

Immortal Restaurant

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Fantasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Radapedaxa

Di puncak keabadian, saat semua makhluk tunduk pada namanya… dia justru memilih turun.

Seorang Immortal yang telah menembus batas ranah, mencapai puncak keabadian, bahkan secara tak langsung menjadi penjaga keseimbangan semesta, tiba-tiba membuat pengumuman yang mengguncang seluruh alam.

“Aku pensiun.”

Istana Surga terdiam. Para dewa tercengang. Para raja iblis waspada. Dunia fana gemetar—bukan karena perang, melainkan karena satu kenyataan yang tak masuk akal:
sosok yang selama ini menjaga garis takdir… memilih pergi.

Bukan karena kalah.
Bukan karena terluka.
Namun karena… bosan.

Ribuan tahun berlalu dalam siklus yang sama: menekan kekacauan, mengadili pelanggar langit, menutup retakan dimensi, mengulang hari-hari tanpa rasa. Hidup abadi yang sempurna justru terasa seperti penjara paling sunyi.

Maka sang Immortal turun ke dunia, meninggalkan singgasana langit, dan memilih sesuatu yang dianggap remeh oleh para dewa:

Membuka sebuah restoran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Radapedaxa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 — Bayangan di Balik Topeng

Langit malam di Kota Pingxi tampak tenang.

Namun di luar tembok kota, berdiri sebuah paviliun megah yang seolah terpisah dari dunia luar. Bangunan megah menjulang, dihiasi ukiran yang meliuk anggun. Lampu-lampu lentera menggantung, memancarkan cahaya keemasan yang menenangkan… setidaknya di permukaan.

Di dalam paviliun itu—

Ketegangan meledak.

“KAU BILANG LU QIANG DIKALAHKAN!?”

Suara bentakan menggema di ruangan kerja yang luas.

Seorang pria paruh baya berdiri di balik meja besar, wajahnya memerah karena amarah. Jubahnya yang mahal berkibar saat dia menggebrak meja dengan keras.

“Bagaimana bisa!?” lanjutnya dengan suara bergetar.

“Seharusnya di kota ini tidak ada yang bisa mengalahkannya! Terlebih jika dia sudah menggila dengan Pil Sembilan Darah—itu hampir mustahil untuk dikalahkan, bahkan oleh kultivator ranah Nascent Soul!”

Di hadapannya—

Seorang pria bertopeng anjing masih berlutut.

Tubuhnya tegap, namun kepalanya sedikit menunduk.

“Mohon tenangkan diri Anda, Walikota Guo,” katanya dengan suara rendah namun stabil. “Aku mengerti kekhawatiran Anda, tapi—”

BRAK!

Meja kembali bergetar hebat.

“Bagaimana aku bisa tenang!?” potong Guo dengan amarah yang hampir tak terkendali. “Jika benar musuh kita berhasil menyusup ke kota ini, semuanya akan menjadi kacau!”

Napasnya memburu.

Matanya memancarkan ketakutan yang ia sembunyikan di balik amarah.

“Dan kau!” telunjuknya menunjuk tajam ke arah pria bertopeng. “Seharusnya kau tahu apa yang terjadi di sana! Tapi apa kenyataannya!?”

Suaranya semakin tinggi.

“Kau tidak mengingat apa pun! Tidak satu detail pun! Hanya asumsi kosong!”

Hening sesaat.

Lalu—

“Dasar tidak berguna!”

Kalimat itu menggantung di udara.

Dan pada detik berikutnya—

Atmosfer berubah.

Seketika.

BOOM!

Aura membunuh yang dingin meledak dari tubuh pria bertopeng.

Udara di ruangan itu seolah membeku.

Tekanan tak terlihat menghantam tubuh Guo seperti gunung runtuh.

“Gh—!”

Wajahnya langsung pucat.

Kakinya melemah.

Dia mundur selangkah… lalu dua langkah… napasnya tersengal.

Seolah-olah lehernya dicekik oleh tangan tak kasat mata.

Pria bertopeng itu—

Perlahan berdiri.

Gerakannya tenang.

Namun setiap langkahnya membuat tekanan semakin berat.

“Bukankah…” suaranya rendah, tapi terdengar jelas di telinga Guo, “aku sudah menyuruhmu untuk tenang?”

Matanya—tersembunyi di balik topeng—berkilat tajam.

“Kau pikir amarah bisa menyelesaikan semuanya?”

Langkahnya mendekat.

Satu.

Dua.

Guo mundur tanpa sadar.

Tubuhnya gemetar.

“Aku memang tidak mengingat apa pun,” lanjut pria itu. “Tapi aku sudah memiliki dugaan… dan aku terus melakukan pencarian.”

Dia berhenti tepat beberapa langkah dari Guo.

“Lalu kau?”

Suara itu menusuk.

“Kau seharusnya duduk tenang… dan menunggu hasil.”

Satu langkah lagi.

“Namun beraninya kau mengatakan bahwa aku tidak berguna?”

Tekanan aura meningkat.

Guo hampir jatuh berlutut.

Matanya penuh ketakutan.

Pria bertopeng itu mencondongkan tubuh sedikit.

Suaranya menjadi lebih pelan.

Lebih dingin.

“Biar ku tegaskan sekali lagi posisi mu, Walikota Guo…”

Hening.

“...kau hanyalah boneka pengganti.”

Kalimat itu seperti palu yang menghancurkan sisa harga diri Guo.

Tubuhnya bergetar hebat.

“A-aku—”

“Kau hanya perlu bergerak sesuai keinginannya,” lanjut pria itu tanpa memberi kesempatan. “Ingat siapa yang membuatmu bisa hidup mewah seperti ini.”

Dia menepuk ringan bahu Guo.

Namun sentuhan itu terasa seperti beban gunung.

“Cukup terus menjadi boneka yang patuh…”

Suaranya hampir seperti bisikan.

“Maka hidupmu akan terjamin.”

Hening panjang.

Aura membunuh itu perlahan menghilang.

Seolah tidak pernah ada.

Guo langsung terjatuh berlutut.

Napasnya terengah-engah.

“Ma-maafkan aku…” katanya dengan suara gemetar. “Aku… aku telah lancang…”

Pria bertopeng itu tidak menjawab.

Dia hanya mengibaskan tangan dengan ringan.

Seolah Guo hanyalah debu.

“Perketat pengawasan di kota ini.”

Nada suaranya kembali datar.

Dingin.

“Awasi para pendatang. Jika kalian menemukan tanda-tanda Aliansi Murim… segera melapor.”

Guo langsung mengangguk cepat.

“Ba-baik! Akan segera kulaksanakan!”

Tanpa berani menunggu lebih lama—

Dia berdiri dengan tergesa-gesa dan hampir tersandung saat berlari keluar dari ruangan.

BAM!

Pintu tertutup keras.

Dan untuk pertama kalinya—

Ruangan itu menjadi sunyi.

Pria bertopeng itu berdiri diam beberapa saat.

Lalu—

Dia menghela napas panjang.

“…Aliansi Murim sialan…”

Nada suaranya mengandung kejengkelan yang jarang terlihat.

“Mereka selalu membuat semuanya menjadi rumit…”

Dia berjalan perlahan ke arah jendela besar.

Memandang ke arah kota Pingxi yang tampak tenang dari kejauhan.

Namun matanya tidak benar-benar melihat kota itu.

Pikirannya—

Kembali ke kejadian sebelumnya.

Ke tempat di mana Lu Qiang dikalahkan.

Bayangan itu muncul kembali.

Tanah yang hancur.

Udara yang masih dipenuhi sisa energi.

Dan—

Sebuah kawah.

Berbentuk telapak tangan.

Matanya menyipit.

“Kawah itu…”

Dia mengangkat tangannya perlahan.

Seolah mencoba mencocokkan ukuran.

“…terlalu sempurna.”

Bukan sekadar pukulan.

Itu adalah teknik.

Teknik yang sangat kuat… dan sangat bersih.

“Dan sisa Qi itu…”

Ekspresinya menjadi serius.

“Qi suci…”

"Itu bukan sesuatu yang seharusnya muncul di tempat seperti ini."

“Itu bukan pertarungan biasa…”

gumamnya pelan.

“Jika diingat… itu adalah pertarungan yang sengit…”

Namun—

Alisnya berkerut.

“Kenapa…”

Dia menekan pelipisnya.

“…aku tidak mengingat apa pun?”

Pikirannya terasa kosong di bagian itu.

Seolah ada sesuatu yang… menghapusnya.

Dengan paksa.

Dan itu bukan hal yang bisa dilakukan sembarang orang.

Matanya perlahan menjadi tajam.

“Teknik manipulasi ingatan…?”

Kemungkinan itu membuat suasana semakin berat.

Jika benar—

Maka musuh yang mereka hadapi bukan hanya kuat.

Tapi juga—

Sangat berbahaya.

Tiba-tiba—

Sebuah bayangan samar muncul di benaknya.

Sangat singkat.

Hampir seperti ilusi.

Seorang pria.

Berdiri di kejauhan.

Tidak melakukan apa pun.

Hanya… berdiri.

“……”

Pria bertopeng itu membeku.

Dia mencoba mengingat lebih jelas.

Namun bayangan itu kabur.

Seperti kabut yang tak bisa digenggam.

“Seseorang… tanpa Qi?”

Nada suaranya penuh keraguan.

Itu tidak masuk akal.

Di medan pertempuran seperti itu—

Orang tanpa Qi seharusnya mati dalam sekejap.

Namun—

Kenapa bayangan itu terasa begitu… nyata?

Matanya menyipit.

“Aneh…”

Dia menatap ke arah kota Pingxi sekali lagi.

Kali ini—

Dengan tatapan berbeda.

Bukan sekadar mengawasi.

Tapi—

Mencari.

“Mungkin…”

Senyum tipis terbentuk di balik topengnya.

“…aku melewatkan sesuatu yang menarik.”

Angin malam berhembus pelan. Membawa hawa dingin yang menusuk.

Sementara itu di Kedai Satu Mangkuk yang biasanya sederhana kini berubah menjadi lautan aktivitas.

Di lantai bawah—

Suara palu beradu dengan kayu, teriakan pekerja bersahutan, dan langkah kaki berderap tanpa henti. Meja-meja lama disingkirkan, lantai dibersihkan dari sisa darah, dan dinding yang sebelumnya dipenuhi noda kini dilapisi ulang.

“Angkat itu lebih tinggi!”

“Cepat bersihkan bagian sana!”

“Jangan sampai bau amis tersisa!”

Lu Qiang berdiri di tengah keramaian itu, wajahnya serius… namun di balik itu, ada bayangan trauma yang belum hilang.

Setiap kali matanya tanpa sengaja melirik ke arah bekas genangan darah—

Dia langsung bergidik.

Tempat ini… benar-benar seperti neraka kemarin…

Namun dia tidak berani mengeluh.

Bahkan dia bekerja paling keras di antara semua orang.

Karena satu hal—

Dia ingin hidup.

Sementara itu—

Di lantai dua, suasananya sangat berbeda.

Sunyi.

Tenang.

Seolah-olah dunia luar tidak ada.

Di dalam kamar utama—

Seorang pria terbaring lemah di atas ranjang.

Zhao.

Wajahnya pucat.

Matanya terpejam.

Napasnya berat.

Dan di sampingnya—

Yueling tertidur pulas.

Memeluknya erat.

Seolah dia adalah bantal kesayangannya.

Beberapa saat kemudian—

Zhao perlahan membuka matanya.

“Ugh…”

Keluhan pelan keluar dari mulutnya.

Dia menatap langit-langit dengan ekspresi lelah yang jarang terlihat.

“Memiliki stamina tak terbatas… ternyata adalah siksaan…”

Suaranya serak.

Bahkan untuk bangun saja—

Butuh usaha.

Dengan perlahan, dia mengangkat tubuhnya dan duduk di tepi ranjang.

Gerakannya hati-hati.

Seolah takut membangunkan seseorang.

Matanya melirik ke samping.

Yueling masih tidur.

Wajahnya damai.

Nafasnya teratur.

Tidak ada jejak sedikit pun dari sosok “iblis dapur” yang semalam memotong puluhan pria.

Zhao menatapnya beberapa saat.

Lalu—

Senyum tipis muncul di wajahnya.

Tangannya terangkat.

Perlahan mengelus kepala Yueling.

Lembut.

Hampir seperti kebiasaan yang sudah lama dilakukan.

“…”

Tanpa berkata apa-apa—

Dia menunduk.

Dan mengecup keningnya.

Singkat.

Namun hangat.

Setelah itu, Zhao berdiri.

Langkahnya masih sedikit goyah.

Namun dia tetap berjalan menuju jendela.

Saat tirai dibuka—

Suara dari bawah langsung terdengar samar.

Ramai.

Kacau.

Penuh energi.

Zhao menyipitkan mata.

“Sepertinya sangat ramai di bawah sana…”

Dia menyilangkan tangan.

“Untung aku memasang pelindung kedap suara…”

Kalau tidak—

Dia mungkin tidak akan bisa tidur sama sekali.

Matanya menatap ke luar.

Langit masih gelap.

Namun pikirannya mulai berputar.

“Renovasi ini… mungkin butuh dua hari…”

Dua hari.

Waktu yang tidak sebentar.

Dan untuk seseorang seperti Zhao—

Dua hari tanpa melakukan apa-apa… terasa aneh.

“Hmm…”

Dia mengusap dagunya.

“Apa yang harus kulakukan dua hari ke depan?”

Pikirannya langsung melompat ke satu hal—

“Membuka menu baru mungkin menarik…”

Matanya sedikit berbinar.

“Rendang mungkin enak…”

Namun—

Ekspresinya berubah.

“Tapi… di mana aku bisa mendapatkan daging sapi?”

Dia menghela napas.

Pilihan itu langsung gugur.

“Ikan bakar asam manis juga boleh…”

Namun lagi-lagi—

Dia berhenti.

“Semua danau di sini sudah mengering…”

Hening.

Zhao terdiam.

Pikirannya perlahan mengarah ke sesuatu yang lebih dalam.

Lebih serius.

Kata-kata seorang pedagang pagi itu terngiang kembali di benaknya.

“Semua ini disebabkan oleh orang bertudung misterius…”

Matanya menyipit.

“Orang bertudung…”

Nada suaranya pelan.

Namun penuh makna.

“Apa yang mereka inginkan dari kota kecil ini?”

Pingxi bukan kota besar.

Bukan pusat kekuatan.

Tidak ada sumber daya luar biasa.

Setidaknya di permukaan.

Namun fakta bahwa kemarau berkepanjangan terjadi…

Semua itu—

Tidak normal.

Zhao memejamkan mata.

Dan pada saat itu—

Aura yang sangat halus keluar dari tubuhnya.

Qi.

Namun—

Bukan Qi biasa.

Qi itu menyebar.

Cepat.

Luas.

Menyelimuti seluruh kota.

Menembus bangunan, tanah, bahkan ruang tersembunyi.

Tidak agresif.

Namun—

Sangat tajam.

Seperti mata yang mengawasi segalanya.

Di sisi lain kota—

Di paviliun megah—

Pria bertopeng sedang membaca laporan.

Matanya bergerak cepat.

Namun tiba-tiba—

Tubuhnya menegang.

"!!!”

Dia berhenti.

Perlahan—

Dia mengangkat kepala.

Matanya melebar sedikit di balik topeng.

“Apa ini…”

Dia berdiri.

Langkahnya cepat menuju jendela.

Tatapannya menyapu kota.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

“Aku merasakannya…”

Sangat samar.

Namun jelas Qi itu—

Tidak biasa. Tidak seperti kultivator biasa.

Tidak liar.Tidak mendominasi.

Namun—

Memberi tekanan yang aneh.

Seolah-olah—

Sesuatu yang jauh lebih tinggi sedang mengintip.

“Orang ini…”

Suaranya rendah.

“...sangat berbahaya.”

Untuk pertama kalinya—

Ada ketegangan nyata dalam dirinya.

Kembali ke kedai—

Zhao perlahan membuka matanya.

Aura itu menghilang seolah tidak pernah ada.

“Hmm…”

Dia bergumam pelan.

“Tidak ada yang aneh…”

Sejauh yang dia rasakan—

Kota ini tampak normal.

Namun—

Dia berhenti.

Alisnya sedikit berkerut.

“Selain…”

Matanya menyipit.

“...gua bawah tanah di bawah kota ini.”

Hening.

Beberapa detik berlalu.

Lalu—

Senyum tipis muncul di wajah Zhao.

“Heh…”

Nada suaranya santai.

Namun matanya sedikit berkilat.

“Boleh juga si serangga penguntit itu…”

Dia menatap ke arah luar kota.

“Dia bisa merasakan Qi-ku ya?”

Tidak banyak orang yang bisa melakukan itu.

Terlebih—

Dari jarak seperti ini.

Namun—

Alih-alih khawatir—

Zhao justru terlihat… tertarik.

Seolah menemukan sesuatu yang menghibur.

Namun sebelum dia bisa berpikir lebih jauh—

Suara lembut terdengar dari belakang.

“Sayang…?”

Zhao menoleh.

Yueling sudah bangun.

Duduk di ranjang sambil memeluk selimut.

Rambutnya sedikit berantakan.

Namun justru menambah pesonanya.

“Kau belum tidur?” tanyanya dengan suara lembut.

Zhao tersenyum kecil.

“Aku baru bangun.”

Yueling menatapnya beberapa detik.

Lalu—

Senyum perlahan muncul di wajahnya.

Senyum yang…

Zhao kenal dengan sangat baik.

“Oh begitu…”

Dia turun dari ranjang.

Langkahnya pelan.

Namun setiap langkah terasa… berbahaya.

“Kalau begitu…”

Nada suaranya manis.

Terlalu manis.

“Sepertinya aku harus melanjutkan hukumanmu.”

Zhao langsung tersentak.

“Ha?”

Refleks—

Dia mundur selangkah.

Namun—

Sudah terlambat.

Yueling sudah berada di depannya.

Terlalu dekat.

“Bukankah aku sudah bilang…” katanya pelan, hampir berbisik, “bahwa aku akan menghukummu sampai tak sadarkan diri?”

Zhao menelan ludah.

Keringat dingin mulai muncul.

“Tunggu—”

Namun kalimatnya terhenti seketika.

1
SENJA
lu ngeselin ahli itu betinaaa hadeeeh🤣
SENJA
sotoy ahhh kakek 😅
SENJA
nih betina cari mati mulu yeeee😤
SENJA
lu nyari mati lu 🤣
SENJA
laaah yueling ngga tau si zhao itu apa???
SENJA
laaah masih aja dipikirin 😤
SENJA
hadeeeh 🤭🤭🤭
SENJA
aaah payah dong kaisar nya 😤
SENJA
wah punya banyak pegawai baru 🤣
SENJA
dari bandit jadi pelayan 🤣
SENJA
wakakaa hayoloh🤣
Kang Comen
mc cwe ap cwo ???
RDXA: MC nya cowo
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!