Dunia mengenalnya sebagai bintang paling bersinar. Namun, hanya dia yang tahu betapa redupnya pria itu di balik layar.
Elvano Alvendra punya segalanya: kekuasaan, ketenaran, dan wajah yang dipuja jutaan orang. Tapi bagi Selena Nayumi, Elvano hanyalah pasien keras kepala yang lupa cara mengurus diri sendiri.
Sebuah perjodohan kolot dari sang nenek memaksa mereka terikat dalam janji suci yang tersembunyi. Bagi Elvano, Selena adalah "obat" yang tidak pernah ia duga akan ia butuhkan. Bagi Selena, Elvano adalah teka-teki misterius yang perlahan mulai ia cintai.
Di antara jadwal konser yang padat, kilatan kamera media, dan kontrak kerja jutaan dolar, ada satu rahasia besar yang mereka simpan rapat di balik pintu rumah: Status mereka.
Dapatkah cinta tumbuh di tengah kepura-puraan? Dan sanggupkah Selena bertahan menjadi rahasia terbesar sang bintang saat dunia menuntut Elvano untuk tetap "milik publik"?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Lampu-lampu kristal di ballroom hotel bintang lima kawasan Orchard, Singapura, memancarkan kemilau yang nyaris menyilaukan mata. Di luar sana, teriakan histeris para VALS yang memanggil nama Elvano terdengar seperti ombak yang tak kunjung reda. Namun, di balik tirai panggung yang tebal, suasana justru terasa begitu kontras.
Elvano Alvendra berdiri di depan cermin besar, merapikan letak jam tangan Patek Philippe yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Ia mengenakan kemeja sutra berwarna hitam dengan dua kancing teratas yang dibiarkan terbuka, dipadukan dengan setelan blazer abu-abu metalik yang membalut tubuh atletisnya dengan sangat sempurna.
“El, kau sudah siap? Para penggemar sudah mulai tidak sabar di luar sana,” tanya Darian sambil memeriksa jadwal di tabletnya.
Elvano tidak langsung menjawab. Ia menatap pantulan dirinya di cermin, memastikan tidak ada satu helai rambut pun yang keluar dari tatanannya. Aura tenang dan mahal terpancar kuat dari tatapannya yang sulit ditebak.
“Aku selalu siap, Darian. Mari kita berikan apa yang mereka inginkan,” jawab Elvano dengan nada bariton yang rendah namun penuh wibawa.
Begitu Elvano melangkah keluar dari balik tirai, suasana ballroom seolah meledak. Ribuan lampu ponsel menyala, mengabadikan sosok pria yang selama ini hanya bisa mereka lihat di layar kaca atau panggung konser yang jauh. Elvano memberikan senyum tipis khasnya, tipe senyuman yang mampu membuat para penggemar merasa jantung mereka seolah berhenti berdetak sesaat.
“Selamat siang, Singapura. Senang sekali bisa melihat wajah kalian sedekat ini,” sapa Elvano sambil melambaikan tangan ke arah penonton.
Acara fanmeeting pun dimulai dengan sangat meriah. Sang MC, seorang pria lokal yang enerjik, segera mengambil alih suasana untuk mencairkan ketegangan.
“Tuan Elvano, semalam konsermu benar-benar gila! Bagaimana perasaanmu melihat antusiasme VALS Singapura yang begitu luar biasa?” tanya sang MC dengan nada antusias.
Elvano duduk di kursi tinggi di tengah panggung, menyilangkan kaki panjangnya dengan elegan. “Sejujurnya, aku merasa sangat puas. Energi yang diberikan VALS semalam benar-benar luar biasa. Singapura selalu punya tempat khusus di hatiku, dan antusiasme kalian adalah alasan kenapa aku ingin memberikan penampilan yang sempurna,” jawab Elvano dengan lugas, membuat para penonton kembali bersorak riuh.
“Lalu, apa kesan paling mendalam selama kau berada di sini? Apakah ada makanan atau tempat yang kau sukai?” tanya MC lagi, mencoba menggali sisi personal sang aktor.
Elvano terdiam sejenak. Ingatannya melayang pada obrolan video semalam dengan Selena, tentang bekal kue sehat dan perhatian wanita itu yang menemaninya di sela lelah.
“Aku suka suasana paginya. Dan soal makanan, aku lebih suka bekal yang disiapkan secara khusus untukku. Itu memberikan energi yang berbeda,” jawab Elvano sambil tersenyum misterius.
Para penggemar mulai berbisik-bisik, penasaran dengan siapa yang menyiapkan bekal khusus tersebut. Namun sebelum suasana menjadi terlalu liar, Elvano bangkit dari kursinya.
“Sebagai tanda terima kasihku, aku akan membawakan dua lagu untuk kalian siang ini,” ujar Elvano yang langsung disambut tepuk tangan membahana.
Lagu pertama yang ia bawakan adalah lagu bertempo medium yang penuh karisma, diikuti dengan lagu ballad yang membuat seluruh ballroom mendadak hening, terhipnotis oleh kedalaman emosi suaranya. Setelah penampilan musik selesai, acara berlanjut ke sesi yang paling dinanti, yaitu sesi tanda tangan dan berbincang singkat.
Satu per satu penggemar naik ke panggung. Elvano menyambut mereka dengan sangat profesional. Ia mendengarkan cerita mereka, memberikan tanda tangan dengan tulisan tangannya yang rapi, dan sesekali memberikan kata-kata penyemangat.
“Terima kasih sudah mendukungku sejauh ini. Tolong jaga kesehatanmu juga,” ucap Elvano kepada seorang penggemar yang tampak gemetar saat menerima tanda tangannya.
“Tentu, Elvano! Aku akan selalu mendukungmu!” balas penggemar itu dengan mata berkaca-kaca.
Hingga tibalah sesi terakhir, yaitu foto bersama. Elvano berdiri di tengah-tengah kelompok penggemar bergantian. Ia tetap terlihat segar dan tampan meski acara sudah berlangsung selama dua jam lebih.
**
Suasana malam di Jakarta terasa lebih bersahabat bagi Selena setelah seharian berkutat dengan pasien di rumah sakit. Begitu sampai di rumah, ia segera mengganti jas putihnya dengan kaus santai dan apron hijau mint kesayangannya. Namun, sebelum melangkah ke dapur, pandangannya tertahan pada sebuah benda di atas meja riasnya.
Sepotong tiket konser VIP dengan hologram eksklusif bertuliskan Elvano Alvendra: The Final Act. Tiket itu untuk pertunjukan besok malam di Singapura. Selena membelai pinggiran tiket itu dengan ujung jarinya, lalu sebuah senyum misterius terukir di wajahnya yang tampak lelah namun cantik alami.
“Tunggu saja kejutan dariku, Tuan Bintang,” gumam Selena pelan dengan nada penuh rahasia.
Ia segera beranjak menuju dapur, tempat yang menjadi pelariannya paling menyenangkan. Bahan-bahan premium seperti gandum utuh, cokelat hitam tanpa gula, dan kacang almond sudah tertata rapi di atas counter marmernya. Sebelum mulai bekerja, Selena menyalakan ring light dan mengatur posisi ponselnya.
“Halo semuanya! Selamat malam para pencinta hidangan sehat!” sapa Selena dengan energi tinggi begitu tombol Live ditekan.
Senyum cerah dr. Sunshine terpampang nyata di layar, menyapa ribuan penonton yang langsung membanjiri kolom komentar. Meskipun matanya menyimpan sedikit kelelahan karena jadwal rumah sakit yang padat, Selena tetap tampil ekspresif dan penuh semangat. Ia mulai menimbang bahan-bahan dengan gerakan tangan yang lincah dan terlatih.
“Malam ini temanya adalah camilan sehat untuk mereka yang punya jadwal padat. Kita akan membuat cookies gandum rendah kalori tapi tetap enak di lidah,” ujar Selena sambil mulai mencampur adonan.
Di antara ribuan komentar yang bergerak cepat, sebuah akun dengan nama samaran bertanya, “Kenapa malam ini Dokter membuat kue banyak sekali? Apa ada acara khusus atau mau dikirim ke seseorang?”
Selena tertawa kecil, suara tawanya terdengar renyah memenuhi ruangan. “Kebetulan stok kue kering di rumah sudah benar-benar habis, jadi aku mau buat stok yang agak banyak untuk persediaan beberapa hari ke depan,” jawab Selena tanpa memberikan detail lebih lanjut.
Pertanyaan lain muncul di layar, “Dokter, sesi masak menu dietnya tidak ada malam ini? Kok hanya kue?”
“Untuk sesi masak berat, besok pagi saja ya. Kebetulan besok aku ambil cuti, jadi aku punya banyak waktu untuk bereksperimen di dapur bersama kalian semua,” balas Selena dengan nada ceria sambil memasukkan loyang pertama ke dalam oven.
Rupanya, di belahan bumi lain, tepatnya di sebuah apartemen mewah di jantung Singapura, seseorang sedang memperhatikan layar ponselnya dengan intens. Elvano Alvendra, sang superstar yang baru saja menyelesaikan sesi latihan fisiknya, terduduk di sofa kulit sambil menyandarkan kepala.
Ia masih mengenakan kaus tanpa lengan yang memperlihatkan otot lengannya yang proporsional. Peluh tipis masih membasahi keningnya, namun matanya tidak beralih dari sosok Selena yang sedang sibuk di dapur lewat siaran langsung tersebut. Elvano memperhatikan bagaimana Selena tampak begitu cekatan dengan semua alat masaknya.
Bagi Elvano, melihat Selena di dapur adalah terapi tersendiri. Aura wanita itu berubah menjadi begitu hangat dan menenangkan, sangat kontras dengan dunia hiburan yang penuh dengan kepura-puraan yang ia jalani setiap hari. Tanpa sadar, senyum manis tersungging di bibir Elvano—sebuah senyum yang tidak pernah ia tunjukkan pada media mana pun.
“Kenapa dia terlihat lebih cantik saat berlumuran tepung seperti itu?” gumam Elvano sendiri sambil menyentuh layar ponselnya, tepat pada bagian wajah Selena yang sedang tertawa.
Rasa rindu yang sejak kemarin ia tekan, mendadak membuncah begitu saja. Elvano sudah tidak sabar ingin segera menyelesaikan konser terakhirnya besok malam dan terbang kembali ke Jakarta demi bisa mencicipi kue buatan wanita itu secara langsung.
***