"sebenarnya mau pria itu apa sih?"
kanaya menatap kala dengan sorot mata penasaran.
pria dingin itu hanya menatapnya datar, seperti biasa tanpa ekspresi.
"hhhhhh" kanaya mendengus kesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
Kanaya menjatuhkan tubuhnya yang lelah ke ranjang empuknya, ingin rasanya kanaya langsung tidur kalau saja ia tak mendengar azan solat ashar. Dengan lesu, kanaya menyeret langkahnya menuju kamar mandi, untuk berwudhu dan salat.
Kanaya melipat mukenah dan sajadahnya, meletakkan di meja samping ranjangnya, perlahan melangkah menuju jendela.
Kanaya melihat gerimis turun perlahan, musim penghujan memang selalu menjadi musim kesukaan kanaya. Ia membuka jendela kamarnya, angin gerimis berhembus menerpa wajahnya.
Segar..., kanaya menyapu wajahnya dengan kedua tangan, ada air yang singgah di wajah cantik kanaya dari tempiasan.
Kanaya masih termenung di depan jendela kamarnya, hingga dering suara ponsel menyadarkannya.
Kanaya melirik ponselnya, ternyata panggilan dari ferdian.
"Assalamualaikum, hallo kak..."
"Waalaikummussalam dek, kakak cuman mau bilang ama kamu, kakak selalu ada buat kamu yah..,
Jangan pendam masalah kamu sendirian, kakak bisa jadi pendengar buat kamu naya...."
Kanaya tercekat, ferdian memang pria yang baik. Tapi kanaya tidak menyangka pria ini bisa tahu bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.
Tanpa kanaya sadari ada air mata jatuh ke pipinya, suara kanaya tercekat di tenggorokannya, ia tak mampu menjawab ucapan ferdian.
"Dek...hallo..kamu baik-baik sajakan?",tanya ferdian diseberang dengan suara penuh kekhawatiran.
Lama kanaya menjawab, ia berusaha menekan suaranya agar terdengar baik-baik saja.
"Iya kak, aku baik-baik saja, dan terima kasih kak, aku akan selalu hargai perhatian kakak, makasih kak ferdi"
Kanaya menutup panggilan setelah memastikan dan berjanji kepada ferdian untuk tidak menutupi masalah darinya.
Kanaya masih membiarkan jendela kamarnya terbuka, ia menarik kursi santai ke dekat jendela.
Kanaya duduk dan menyelimuti tubuh dengan cardigannya, suara rintik hujan terdengar syahdu ditelinganya, bagaikan lagu sendu pengantar tidur.
Perlahan kanaya memejamkan matanya, ia tertidur di ninabobokan suara rintik hujan dari luar.
Suara ketukan dipintu kamar kanaya, menyadarkan dirinya dari tidur-tidur ayamnya. Sayup-sayup suara memanggil namanya terdengar lamat.
Kanaya beranjak dengan malas dari tempat duduknya, membuka pintu kamarnya dan melihat mbak sri.
"Anu...mbak naya, hmmm mas kala memanggil mbak untuk makan malam" jelas mbak sri lembut, dengan senyum yang selalu ramah dari wajahnya.
"Sepertinya saya tidak makan malam mbak, tadi saya sudah makan diluar"tolak dania dengan senyum tak enak hati.
Ia merasa sungkan kepada art rumah ini yang memang sangat baik, lagian juga kanaya masih merasa kenyang, karena makan siang dengan ferdian tadi juga sudah lewat dari tengah hari.
"Baiklah..nanti saya sampaikan ke mas kala",
Kanaya menutup kembali pintu kamarnya setelah mbak sri berlalu, ia menutup jendela kamarnya yang masih terbuka, dan tiduran di ranjang empuknya.
Sebenarnya kanaya tidak ingin bertemu kala, ia tak mau kala melihat dirinya yang rapuh. Namun yang pasti ia tak mau pria itu tahu kalau ternyata dirinya sangat terluka oleh ucapan kala beberapa hari yang lalu.
Kanaya tak mau kala tahu, kalau ia telah jatuh cinta kepada kala, harga dirinya melarangnya.
Tengah malam kanaya, terbangun karena lapar dan haus. Ia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 23.20 wib, kanaya berencana turun kebawah, ia yakin kala pasti sudah tidur, kemungkinan untuk bertemu pria itu, kecil.
Disini kanaya, di ruang makan memeriksa isi kulkas, mencari sesuatu yang bisa ia makan. tetapi dia tidak menemukan apapun, ruang makan yang temaram, hanya disinari cahaya dari dalam kulkas.
Kanaya meraba saklar lampu, menyalakan lampu ruang makan, hampir kanaya berteriak ketakutan, begitu lampu menyala. Kanaya melihat sesosok pria duduk bersidekap memandang ke arahnya,
Kevin....
Pria itu menatapnya dengan sorot yang berbeda dari yang ia berikan tadi pagi.
Rasa kaget masih menguasai kanaya, ia mengelus dada, jantungnya masih berdebar tak karuan, ia menatap kala dengan sorot mata protes.
"Kenapa kamu duduk di dalam kegelapan?, bikin jantungan aja",
omel kanaya sebal, menatap kala yang masih menatapnya lekat. Merasa kala tidak merespon omelannya, ia meletakkan botol air dingin yang diambilnya tadi dari kulkas.
Setelah meminum beberapa teguk isinya, kanaya berencana ingin kembali ke kamar, belum kanaya sempat melangkah ia mendengar kala bergumam, kanaya membalikkan tubuhnya.
"Kamu bicara dengan saya..?", tanya kanaya menunjuk kearah dirinya, mata wanita itu memicing.
"Kamu rela kelaparan, hanya karena tidak ingin bertemu denganku" tukas kala singkat dan jelas, masih menatap dengan mata sorot yang berbeda. Menurut kanaya sorot itu, sorot mata kecewa.
"Hahahah...." kanaya tertawa parau, untuk apa dia kecewa. Kanaya merasa kasihan dengan hatinya sendiri, yang masih berharap lebih dari kala.
"Kenapa kamu tertawa? lucukah ucapan saya barusan?"
mata elang kala memicing penasaran, wajahnya terlihat tak suka mendengar tawa kanaya yang kedengaran sumbang di telinganya.
"Maaf....maaf...." kanaya menyahut cepat, mengibaskan tangannya.
"Saya tertawa karena hal lain, yang tiba-tiba terlintas di kepala saya tadi" wajah kanaya masih terlihat santai dengan sisa senyuman yang masih tertinggal di bibirnya
"Oh..iya, ...saya memang kelaparan, tapi itu bukan karena seperti yang kamu katakan tadi", sambungnya lagi, berbohong.
Iya kanaya berbohong, ia jadi sering berbohong belakangan ini.
"Saya terlalu kenyang tadi, untuk ikut makan malam, dan yah... sekarang perut saya baru terasa lapar"
Kanaya masih menjelaskan alasannya, memutar tubuh dan melangkah pelan, tetapi suara kala kembali menahannya.
"Lantas, mengapa kamu tidak jadi makan?"
"Hmmmm,....."
Kanaya memegangi dagunya, berpikir jawaban apa yang akan diberikan kepada kala agar dia percaya.
"Kamu sedang berbohong naya, kamu tahu? setiap kamu berbohong kamu akan terdiam sesaat, karena kamu sedang mengarangnya di kepala kamu",
Kanaya menurunkan tangan dari dagunya, perlahan dua menarik kursi di depan kala. Menatap kala dengan mata dingin, yah kanaya berusaha menunjukkan kalau ia juga bisa menatap dengan dingin, walau dania tidak yakin apakah tatapan dinginnya ini berhasil sampai ke hati kala.
"Sebenarnya kamu mau bicara apa?" tanyanya dengan mimik serius, mata indah kanaya menatap kala penuh tanya.
"Dari tadi, entah mengapa saya merasa, kamu seakan-akan ingin menahan saya kembali ke kamar"
Kala menatap mata kanaya, bulu mata kanaya yang lentik, matanya yang indah, namun saat ini menatap kala penuh selidik.
Kala membuang pandangannya ke arah lain, sesaat debar jantung kala berdetak lebih cepat.
"Aku tak suka, melihat kamu berjalan dengan pria di cafe tadi"
Kanaya mengeryitkan keningnya, heran. Kanaya heran dan bingung melihat sikap kala. Kanaya menatap kala lebih serius, apakah pria ini sedang mabuk, pikir kanaya tak habis pikir.
Sebenarnya mau dia apa sih, gereget hati kanaya dibuatnya. Tanpa menjawab, kanaya bangkit dari duduknya.
Ingin rasanya Kanaya mendekati kala dan menjitak kepala pria itu, agar kala sadar kalau sudah memberikan pernyataan yang membuat kanaya bingung.
Kanaya ingin pergi dari dapur, ingin rasanya ia meninggalkan kala tanpa jawaban, tapi akhirnya kanaya menjawab dengan memberikan sebuah pertanyaan.
"Sebenarnya mau kamu apa?, Saya benar-benar tidak memahami kamu, jelaskan agar saya tidak bingung seperti ini kala" nada suara kanaya mulai terdengar lirih.
"Tolong jangan buat saya bingung...., tolong jangan permainkan saya, jangan permainkan hati saya. Jangan buat saya berharap lebih kepada kamu..kala"
Suara kanaya kembali bergetar, ia tidak lagi sanggup menutupi sedih hatinya. Baginya kala sudah sangat keterlaluan, mempermainkan hati sesukanya.
Kanaya sudah tidak mampu lagi menahan air matanya, isakannya mulai terdengar. Kanaya melangkah meninggalkan kala yang masih duduk, walau sudah tidak bersidekap.
Sekilas tadi, kanaya melihat ada guratan sedih di wajah kala, ada rasa terkejut dan rasa bersalah.
Namun kanaya sudah tidak mau tahu lagi, ia sudah tidak perduli apakah dugaannya benar atau salah.
Yang ia inginkan saat ini adalah menangis dengan kencang, tapi bukan didepan kala. Bagaimanapun kanaya masih punya harga diri, ia masih tidak mau menunjukkan kepada kala betapa ia sangat mencintai pria itu, mencintai pria dingin yang tidak punya perasaan kepadanya itu.
'Ya tuhan...aku membuat dia menangis lagi' kala meremas rambutnya geram.
'aku membuat dia sakit lagi'
Kakinya tadi ingin melangkah, merengkuh tubuh mungil itu kedalam pelukannya. Ingin rasanya kala menenangkan kanaya, memeluknya erat dan mengatakan bahwa ia tidak ingin mempermainkan hati kanaya.
Ingin rasanya kala menyandarkan kepala itu kebahunya, dan mengatakan bahwa ia tidak punya niatan untuk membuat kanaya sakit hati.
Ingin rasanya kala menatap mata indah itu dan meyakinkan kepada si pemiliknya bahwa kala juga bingung dengan sikapnya sendiri.
Kala semakin kuat meremasi rambutnya, hatinya juga sakit melihat wanita itu menangis bingung, kala tahu apa yang terjadi dengan hatinya, tapi jujur kala takut akan perasaannya sendiri.
"Maafkan aku naya" desah kala sendu menatap kepergian kanaya yang terisak, hati kala memerintahkan untuk mengejar kanaya tapi logikanya melarangnya melakukan itu.
Bersambung.....