Zhevanya Maharani Karasya (Vanya) selalu menjadi anak yang dapat dibanggakan oleh kedua orangtua nya, siapa sangka sifat nya yang ceria periang dan selalu berfikir positif itu ternyata menyembunyikan rasa sakit yang sangat menyiksa. Vanya yang selalu ingin menyerah oleh penyakit nya itu tak pernah menduga masa remaja nya akan terasa sangat berwarna.
Pertemuan nya dengan Nana, Farida, dan Irgi benar benar membuat masa remaja nya begitu berwarna, indah dan membuat banyak kenangan yang tak terlupakan, sampai pada akhirnya Semua terasa begitu sia sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CieMey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luapan Emosi
Entah apa yang terjadi pada teman teman nya tapi Irgi seperti tidak rela melihat Vanya yang terus terlihat murung. Jujur saja Irgi memang menyayangi Vanya tapi hanya sebagai adik.
Irgi sudah lama mengenal Vanya karna Irgi adalah teman dari sepupu dan juga abang nya Vanya, jelas Irgi sudah sangat sering main ke rumah Vanya, ia sangat mengerti bagaimana kondisi Vanya.
...☘️☘️☘️...
Irgi berjalan menuju perpustakaan. Sesampainya di sana ia langsung menemukan Vanya yang sedang duduk sendirian di pojokan sambil membaca buku dan mendengarkan lagu dengan headset.
Kebiasaan itu seperti nya turun temurun, karna hampir semua keluarga Vanya seperti itu.
Irgi berjalan menghampiri Vanya dan duduk di depan nya.
"Van..." kata Irgi sambil menaruh roti dan sebotol air mineral di meja.
"Gi... Kok Lo disini?" kata Vanya heran sambil menyembunyikan air mineral dan roti yang Irgi berikan tadi.
"Lagi Lo ga bales tadi, yaudah gue kesini aja lagian juga gue udah kelar makan" jawab Irgi santai sambil menaruh kepalanya di atas meja.
Vanya hanya diam tersenyum menatap Irgi. Temannya yang satu itu memang terlihat cuek tapi sebenarnya ia adalah orang yang sangat perhatian. Vanya melanjutkan kegiatan membaca bukunya sambil sesekali memakan sepotong roti.
Irgi memilih untuk tidur sambil menunggu bel masuk berbunyi. Tak ada percakapan diantara kedua nya, Vanya benar benar merasa nyaman di dekat Irgi. Rasa nyaman ini berbeda, ia juga merasa nyaman berada di dekat Nana tapi dengan Irgi tidak hanya nyaman tapi juga rasa aman yang dia rasakan, Irgi sudah seperti abang nya sendiri namun terkadang teman teman dan orang lain yang melihat mereka selalu berfikir mereka adalah sepasang kekasih.
Bel masuk berbunyi. Irgi dan Vanya bergegas memasuki kelas. Pada saat berjalan menuju kelas, Irgi mengatakan suatu hal yang membuat Vanya merasa tersentuh.
"Van... Lo gausah pikirin Nana sama Farida ya, Van gw minta sama Lo jangan terlalu deket sama Farida dia bukan temen yang baik buat Lo" kata Irgi yang merasa iba kepada Vanya.
"Iya gi" jawab Vanya setengah kaget dengan ucapan Irgi.
Sesampainya di dalam kelas, Nana dan Farida sudah berada di kelas. Namun ada satu hal yang berubah, Nana duduk di bangkunya tapi Farida, ia duduk di samping Nana. Tidak hanya sekedar menumpang duduk saja tapi tas nya pun di tukar dengan tas milik Irgi bahkan saat ini mereka sedang bercanda, suatu hal yang sangat langka.
Irgi mencoba menenangkan Vanya. Ia menggenggam tangan Vanya dan menatapnya lembut. Irgi berjalan mendahului Vanya. Irgi duduk di bangku samping Vanya dan di susul Vanya yang langsung tertunduk. Ia merasa saat ingin menangis saat ini, beruntung ia masih memiliki Irgi yang mencoba menguatkannya.
Selama pelajaran Vanya tidak bisa berkonsentrasi, Nana dan Farida seakan akan ingin memanasi nya, mereka terus bercanda dengan suara yang sedikit keras, itu bukan lah kebiasaan Nana. Sesekali Vanya menetes kan air matanya.
Irgi yang menyadari itu mencoba memberikan tisu ke Vanya. Sebenarnya Irgi juga sudah sangat risih dengan tingkah laku Nana dan Farida.
"Bisa diem ga sih lo berdua" suara keras Irgi sontak membuat seluruh kelas terdiam. Irgi memang bukan murid pendiam tapi ia juga bukan murid yang suka marah marah apalagi sampai berteriak seperti itu.
"Gi, Jangan marah marah ih"
Irgi terdiam dan langsung lanjut menulis. dia tidak ingin marah tadi nya tapi saat melihat Vanya menangis hati nya seperti tidak rela.
Suara bisik di kelas mulai terdengar, semua orang dengan Irgi hari ini, pasal nya ia dari pagi terlihat sangat menyeramkan, tatapan mata nya sangat tajam seakan akan siap menerkam siapapun yang mengganggunya hari ini.
"Si Irgi kenapa ya"
"Kayanya dia marahin Farida sama Nana deh"
"Lagian tumben banget si Nana berisik begitu"
"Iya, apa Nana sengaja ya mau bikin Vanya cemburu atau jangan jangan Irgi yang cemburu hahaha"
Tawa terdengar dari arah belakang.
Ayo lah Irgi sangat ingin marah saat ini, ia benar benar mau meluap kan emosi nya dan membalas semua yang sudah membuat Vanya menangis.
tapi Vanya seolah menenangkan Irgi. Vanya mencoba mengajak ngobrol Irgi soal pelajaran tapi tatapan mata Vanya tidak bisa bohong ia ingin sekali menangis.
Vanya mencoba menenangkan pikirannya. Setidaknya sampai bel pulang sekolah berbunyi.
Vanya memang tidak bisa menenangkan pikirannya tapi setidaknya ia bisa menahan tangisnya sampai bel pulang sekolah berbunyi. Ia segera keluar dari kelas dan pergi menjauh dari sekolah, entah kemana tujuannya saat ini, Vanya hanya ingin pergi menjauh dari dua orang yang berhasil membuatnya meneteskan air mata.