Trauma sang Letnan akan masa lalunya bersama seorang wanita untuk kesekian kalinya, membuatnya tidak ingin lagi berurusan dengan makhluk berjenis wanita.
Rasa sakit di hatinya membuatnya betah 'melajang', bahkan sampai rekan letting dan juniornya banyak yang memiliki momongan.
Namun, cara Tuhan mempertemukan manusia dengan jodohnya memang sangatlah adil. Ia sangat tidak menyukai gadis ini tapi.............
KONFLIK TINGKAT TINGGI. SKIP bagi yang tidak bisa membaca alur cerita berkonflik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Kacau di balik kacau.
Dengan cepat Anye menyimpan sebuah benda ke dalam tas kecilnya lalu kembali berpura-pura tidur saat Bang Rinto masuk ke dalam kamar. Tapi Anye tak menyangka, ekor mata Bang Rinto sudah mengetahuinya sejak tadi.
Bang Rinto pun sengaja duduk di dekat ranjang sampai akhirnya Anye pura-pura tidur.
'Sebenarnya benda apa yang di simpan Anye??'
Mengurai rasa penasarannya, Bang Rinto mengambil tas Anye dan memeriksa isinya. Ia sungguh kaget hingga geram melihat Anye membawa benda 'pelindung' di dalam tasnya.
'Dua kemungkinan yang bisa terjadi, kalau saya tidak sakit perut, pasti kalap. Tapi untuk apa kamu membawa benda seperti ini, dek??? Saya pikir kamu sungguh selugu itu.'
Dengan nafas berat kesal, Bang Rinto kembali memasukan benda milik Anye, namun sesaat kemudian pikirannya berubah. "Kamu mau main-main sama saya, ya? Okeeyy, cantik ku..!!"
***
Pagi ini Anye sangat bersemangat usai mandi pagi. Ia pun langsung menawarkan secangkir kopi hitam untuk Bang Rinto.
"Kopinya sudah jadiii, habiskan ya Bang..!!" Pinta Anye dengan senyum merekah.
"Apapun yang Anye buat, pasti Abang habiskan." Kata Bang Rinto tak kalah semangat.
Tau jam begitu mepet, Bang Rinto menuang kopinya pada tatakan cangkir agar tidak terlalu panas.
Anye pun masih menunggunya dan terus menatap wajah Bang Rinto.
"Ada apa?" Tanya Bang Rinto tenang.
"Anye lihat, Abang ganteng juga." Pujinya yang pasti tidak sampai seperempat hati.
"Jelasss.. Kalau tidak, mana mungkin putri kadis kepincut sama saya." Balas Bang Rinto.
Anye hanya mendengus kesal tapi tetap mempertahankan senyumnya.
...
Pagi ini Bang Rinto dan Anye melaksanakan tahapan test tentang mental dan ideologi. Mungkin tidak sulit bagi Bang Rinto tapi jelas pikiran Anye terpecah belah, hingga saat ini tak ada reaksi apapun dari obat yang di berikan bintang.
Sesekali Bang Rinto melirik Anye yang nampak gelisah tapi dirinya masih bersikap tenang.
"Apa yang sulit? Kenapa belum ada pertanyaan yang kamu jawab?" Tegur Bang Rinto.
"Oohh.. Iya, ini....."
"Itu kan, gampang. Cepat di jawab." Kata Bang Rinto mengalihkan perhatian Anye.
...
Usai agenda jam pertemuan pengajuan nikah pagi, Anye segera menemui Bintang. Ia memprotes keras tentang ide sahabatnya yang tidak berfungsi.
"Masa sih??? Waktu baru nikah, Abangku pakai obat merk itu."
"Sebenarnya kenapa laki-laki harus pakai bantuan obat??? Apa mereka tidak punya kepercayaan diri untuk melakukannya???" Ujar Anye sampai mendengus kesal.
"Iyaa, aku juga heran. Tapi logikanya, kita perempuan juga butuh bahagia nggak sih???" Jawab Bintang.
Anye yang polos berkedip-kedip bingung. Ia tau permasalahan ini hanya saja tidak sampai ke akarnya hingga pikirannya mengambang.
"Yang benar donk, Bin. Aku nggak mau ada hubungan apapun sama Bang Rinto. Aku mau putus, bukannya malah bahagia karena obat itu."
"Kenapa pikiranmu buntu sih, Nyeee.. Kamu lupa ya??? Kita ini mau menjebak Bang Rinto, biar dia minum obat itu dan berbuat hal tidak pantas sama kamu, kalau sudah ada buktinya Bang Rinto 'kurang ajar', barulah kamu bisa membatalkan hubunganmu yang tidak jelas itu. Orang tua mana yang rela anak perempuannya di rusak laki-laki saat masih pacaran."
Mendengar penjelasan Bintang, Anye pun merasa lega, senyumnya sampai menampakan deretan giginya yang rapi, putih dan bersih. "Pintarnya kau, Bi. Kau memang pantas jadi pengacaraku."
Bintang menggoyangkan tubuhnya dengan bangga mendengar pujian tulus dari Anye sedangkan Bang Rinto yang memang sejak tadi membuntuti Anye hanya bisa menggeleng dari balik dinding gedung mendengar percakapan dua gadis minim akal itu.
'Kita lihat saja, di antara kita... Siapa yang 'minta' duluan.'
-_-_-_-_-_-
"Masih mumet, Rin??" Tanya Bang Rama.
"Baru minum obat nih, Bang. Sebentar lagi juga enakan. Besok juga libur, bisa full istirahat."
"Istirahat, kamu kelihatan kecapekan. Loss kan saja pikiran." Imbuh Bang Rico selaku Danki.
Tak lama Bang Ronald keluar dari dalam rumah membawa satu teko minuman yang cukup untuk mereka.
"Apa tuhh, Ron??" Bang Rinto mulai penasaran dengan isinya.
"Biasa lah, cuaca belakangan ini berubah-ubah. Kemarin saya dapat dari 'orang dalam'. Yaa.. Bisa di bilang untuk daya tahan tubuh juga." Jawab Bang Ronald. "Tapi tunggu, kau seperempat gelas saja ya. Kecuali Bang Ric dan Bang Rama, soalnya ada kayu ular dan pasak.............."
Bang Rico dan Bang Rama saling lirik tapi kedua senior langsung mengambil gelas di hadapannya dan meneguknya.
"Rintooooo..!!!!"
Semua sampai terpekik melihat Bang Rinto meneguk minuman tanpa ukuran.
"Apa sih lu, mitos tuh. Mana ada yang begitu??" Bang Rinto kembali meneguk ramuan pedalaman yang tersisa dari gelasnya.
"Aduuh Tuhan, ini Abang-abangmu saja nggak berani berlebihan. Sembrana banget kau, Rin." Tegur Bang Rama.
"Sudahlah, asal iman nya kuat nggak akan terjadi apa-apa." Ujar Bang Rico lebih tenang.
"Iman mah kuat.. imin nya yang b*d***h, Bang." Bang Ronald sampai bersandar kasar pada sofa tapi tidak dapat berbuat apapun.
Melihat sahabatnya kelabakan, tawa Bang Rinto pun terdengar nyaring sendiri di antara mereka. "Lagian Anye bisa apa sih, Bang. Masih kecil juga. Kalau saya nggak turun tangan. Dia nggak mungkin mulai."
...
Anye melihat seluruh sisi rumah dinas yang sudah di siapkan Bang Rinto. Sungguh hingga saat ini masih belum terbayang bagaimana jadinya jika dirinya harus menghabiskan hari bersama 'pria yang salah'. Angin kencang membuat rute pulangnya tertunda.
Tak lama ia teringat obat yang di berikan Bintang padanya.
"Obat yang kemarin tidak berfungsi. Lebih baik aku coba saja dulu."
Secepatnya Anye membuat teh hangat dan mencampurnya dengan obat dari Bintang. Tak tanggung-tanggung, Anye menuangnya dua bungkus.
Beberapa menit kemudian tubuh Anye berasa hangat, ia segera menyalakan kipas angin dan AC di kamarnya. Sembari mengibaskan rambutnya, ia menunggu Bang Rinto pulang dari rumah Danki.
cckkllkk..
"Lah.. kamu belum tidur, dek. Abang bilang agak malam lho pulangnya." Melihat gelas teh milik Anye, tanpa bertanya Bang Rinto langsung meneguknya sampai habis. Entah kenapa tenggorokannya terasa kering, badannya pun juga perlahan terasa gerah.
"Apakah Abang yang 'om-om' ini tidak berniat mencari perempuan yang lebih sepadan. Anye masih mau bebas." Kata Anye.
"Bebas seperti apa yang kamu mau?" Bang Rinto mengibaskan kaosnya. Badannya mulai berkeringat.
Sekujur tubuh Bang Rinto yang sudah menegang mendadak dua kali lipat tak terkendali. Setiap gerak Anye begitu membuatnya gelisah. Ia pun melangkah mendekati Anye.
"Kenapa kamu hanya mau Black Mamba, saya dan Black Mamba adalah orang yang sama." Tanya Bang Rinto.
"Anye nggak suka laki-laki kasar dan kaku."
Seringai senyum di wajah Bang Rinto terus menatap Anye. "Kamu pasti suka kasar dan kakunya Letnan Rinto. Mau coba??"
.
.
.
.
memang rumit, percayakan kisah sesuai alur yang diinginkan othornya
semangat Thor.....sukses selalu
💪💪