NovelToon NovelToon
Terimakasih Cinta

Terimakasih Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / CEO Amnesia
Popularitas:779
Nilai: 5
Nama Author: Erny Su

"Tidak peduli apa yang akan terjadi nanti, selamanya kita akan tetap bersama" kata-kata itu terus terngiang dalam pikiran seorang gadis cantik yang berasal dari pinggiran kota.

Dan tempat itu menjadi saksi sejarah dari janji yang pria tampan itu ucapkan.

Dia yang sempat tinggal disana karena sebuah kecelakaan yang merenggut ingatannya, hingga ia ditampung oleh salah satu keluarga dengan kedua putri cantik yang selama ini selalu membantu kedua orang tuanya merawat pria yang entah berasal dari mana.

"Kalau penasaran silahkan ikuti kisahnya 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erny Su, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

"Dia tidak disini,"lirih nya sambil menatap lekat wajah cantik Dian yang semakin cantik saat ini.

"Ehem...."Deheman Alex membuyarkan pandangan keduanya.

"Nona Diandra saya ingin bicara,"ucap Alex pelan tapi penuh penekanan.

"Silahkan bergabung kak, jika kakak berkenan, nasi liwet nya masih banyak"ucap Dian yang kini pamit sambil membawa oleh-oleh yang diberikan oleh mantan kekasihnya itu.

Dian berjalan dengan cepat menuju dapur, dan meletakkan semua pemberian itu diatas meja makan.

"Senang dengan oleh-oleh itu?"ujar Alex yang kini membuat Dian menoleh kearahnya.

"Maksudnya tuan?" balas Dian.

"Diandra kenapa disaat aku ingin memberikan semua yang kamu butuhkan untuk acara hari ini kamu selalu menolaknya. Sementara kamu bisa menerima pemberian dia dengan senang hati bahkan tanpa penolakan sama sekali?"ujar Alex yang kini terlihat sangat cemburu.

"Apa kamu masih mencintainya hingga tidak ada kesempatan untuk pria lainnya? Diandra aku rasa kamu tidak bodoh, bahkan sahabat mu yang satu itu juga menyukai mu sejak lama tapi kamu tidak pernah memberikan dia kesempatan untuk mengungkapkan itu. Apa yang kurang dariku dan dia?"ujar Alex yang kini terbakar cemburu.

"Tuan saya minta maaf sebelumnya, saya tau saya salah dimata anda saat ini, tapi apa saya harus menolak mentah-mentah pemberian nya di hadapan orang banyak? Lagipula menerima bukan berarti saya masih mencintainya, saya hanya menghargai pemberian orang lain apalagi dia sudah susah payah membawa semua ini sendirian... saya tidak tau apa yang sedang anda pikirkan saat ini tentang saya, tapi yang harus anda tau saya tidak pernah ingin merepotkan siapapun selagi saya masih bisa bekerja dan bergerak bebas, dan anda sudah terlalu banyak membantu saya, saya tidak ingin terus tenggelam dalam hutang budi yang mungkin akan dibawa mati"ucap Dian yang kini mengeluarkan isi dari paperbag pertama itu.

Isinya tiga macam bolu dengan rasa berbeda. Dan kedua berisi kue basah dengan berbagai jenis dan bentuk yang dikemas di dalam mika plastik yang beraneka ragam dan jumlahnya tidak sedikit.

Paper bag yang ketiga berisi kopi instan yang juga beraneka ragam. Dan yang ke empat berisi tumpukan parfum berukuran kecil untuk tamu yang hadir sebagai ungkapan terimakasih dan itu dengan aneka aroma. Dan paper bag yang ke lima berisi tumpukan buku Yasin dengan foto dan biodata almarhum ayah Dian dan itu membuat hati Dian terenyuh melihat wajah tampan sang ayah yang terakhir kalinya yang entah pria itu dapat dari mana.

Dan yang terakhir yang kini semakin membuat Alex terbakar api cemburu, yaitu sebuah gamis syar'i berwarna putih berikut pasmina berwarna senada yang kini membuat Dian terdiam kemudian menatap kearah Alex.

"Kamu tau apa itu artinya?"ucap Alex yang kini berbalik pergi meninggalkan Dian yang merasa tidak enak hati pada Alex.

"Tuan,"lirih Dian, tapi Alex tetap pergi meninggalkan Dian entah kemana.

"Dian, pak lurah datang,"ucap Afandi yang kini juga menatap kearah tumpukan oleh-oleh yang diberikan oleh anak pak lurah tersebut.

"Aku akan segera kesana,"ucap Dian yang kini meninggalkan meja makan dan bergegas membasuh tangan untuk kedua kalinya.

Setelah memastikan tangan itu bersih Dian pun langsung pergi ke ruang tamu untuk bertemu dengan pria yang tidak lain adalah ayah dari mantan kekasihnya itu.

"Pak lurah, maaf keadaannya sedikit berantakan. Ada apa ya, bapak sampai repot-repot datang kemari?"ucap Dian yang kini terlihat segan.

"Disini ada uang tiga puluh juta, saya rasa itu cukup untuk kamu buat modal dagang, tapi saya minta jauhi putra saya.. Dia belum resmi bercerai dengan menantu saya, saya rasa kamu gadis baik-baik jadi tolong jangan hancurkan rumah tangga putra saya. Saya tau dulu saya yang bersalah karena telah memaksakan kehendak saya terhadap putra saya. Tapi untuk saat ini alasannya sangat jelas, saya tidak ingin kedua cucu saya hidup tanpa keluarga yang utuh" ucap pak lurah yang saat ini menatap lekat wajah Dian.

Air mata Dian sudah mengalir deras meskipun tanpa isak tangis, hatinya begitu perih saat ini bukan karena teringat akan masalalunya dimana dia ditinggal pergi tanpa pamit dan pada akhirnya ia tau bahwa kekasihnya sudah menikah dengan teman baiknya dan tinggal di luar kota. Tapi saat ini jauh lebih menyakitkan, karena Dian dituduh sebagai perusak rumah tangga orang.

"Tidak akan ada yang merebut putra anda dari istrinya. Saya calon suami Dian, pastinya anda tidak lupa dengan saya bukan?"ujar seseorang yang kini membuat keduanya menoleh kearah Alex.

"Diandra tidak membutuhkan apapun dari orang lain, dia sudah memiliki segalanya. Rumah perusahaan mobil mewah dan berlian juga hamparan sawah yang ada di desa sebelah, dan jangan lupa dengan gudang padi terbesar yang ada di setiap desa yang ada di kota ini"ucap Alex yang kini membuat pak lurah mati kutu.

"Saya tidak bermaksud menyombongkan diri, tapi bahkan jabatan yang anda miliki saat ini bisa lenyap dalam hitungan detik"ucap Alex yang kini membuat pria paruh baya itu menundukkan pandangannya.

"Maafkan saya Dian, saya tidak bermaksud untuk menyinggung perasaan mu. Tapi kamu tau sendiri bagaimana kekhawatiran saya terhadap semuanya"ucap pak lurah.

"Saya sangat mengerti pak, dan asal anda tau saya tidak pernah mengganggu rumah tangga anak bapak. Saya tau saya bukan orang berada, tapi saya tidak akan pernah mengambil yang bukan milik saya, silahkan anda bawa uang itu"ucap Dian yang kini bangkit dan pergi meninggalkan keduanya.

Hati Dian sudah terlanjur sakit, dia pun pergi menuju kamar dan mengunci pintu kamar nya saat itu juga tangisnya pecah.

Dian tidak tahu bahwa pria yang dulu begitu dia cintai dan mencintai nya sampai sekarang masih menyimpan rasa cintanya untuk Dian. Tapi Dian juga tidak mungkin kembali pada orang yang telah menyakiti nya meskipun secara tidak langsung.

Sampai saat persiapan untuk acara tahlilan peringatan kepergian pak Hasan, Dian baru keluar kamar dengan menggunakan abaya berwarna hitam berikut dengan hijab yang kini membuat dirinya terlihat semakin cantik, meskipun wajah sembab nya itu masih kentara.

"Sayang bisa bantu aku siapkan baju ku"ucap Alex yang kini membuat ibu-ibu lainnya yang sedang menata sajian di atas nampan itu ikut baper.

Sementara Dian tidak membantah dan hanya mengangguk sambil berbalik menuju kamar tamu, dimana koper milik Alex berada.

Dian pun membuka koper yang tidak terkunci itu, dan memilih pakaian formal yang ada di dalam koper itu, dan pilihan Dian saat ini adalah celana bahan berwarna hitam dan juga kemeja slim fit berwarna senada.

Entah disadari atau tidak Dian telah menempatkan posisi Alex di sisinya, dengan pakaian berwarna senada yang kini membuat Alex yang masih menggunakan bathrobe setelah mandi pun tersenyum manis.

...******...

Tahlilan peringatan kepergian ayah Dian pun dimulai, seluruh tamu yang hadir seperti biasanya begitu banyak bahkan ratusan kursi yang disediakan tidak cukup hingga mereka memilih duduk lesehan hingga ke pinggir jalan raya dengan alas seadanya.

Itu membuktikan bahwa amal soleh pak Hasan memang sangat besar, dengan kehadiran mereka yang mendoakan nya dengan tulus dan ikhlas bahkan tanpa berharap balasan, tapi Dian dan teman-temannya sudah antisipasi sebelumnya itulah kenapa mereka masak besar dan dalam jumlah yang jauh lebih besar, itu dilakukan untuk menangani hal seperti ini.

Sementara si pemilik acara kini duduk berdampingan dengan Alex yang sudah seperti pasangan resminya, dari cara dia berpakaian ataupun pembawaan Alex saat ini yang memperlakukan Dian seperti layaknya pasangan nya.

Lantunan surah Yasin dan surah pendek lainnya terdengar begitu menggema di seluruh halaman depan rumah Dian yang kini membuat yang melintas di jalan raya memelankan laju kendaraannya untuk menghormati mereka yang tengah berdoa.

Sementara Alex hanya berdoa menurut kepercayaannya saat ini, dan Dian pun tidak tau itu. Karena yang Dian tau bahwa Alex tidak bisa menggaji.

Dia tidak pernah melihat KTP milik Alex kecuali pak Hasan yang memang sudah mengetahui semuanya namun tetap menghargai dan menghormati kepercayaan Alex.

Sampai saat acara tahlilan selesai digelar dan Alex sudah bagi-bagi rezeki bersama warga yang hadir, kini menyisakan Dian dan Alex yang kini berada di ruang keluarga.

"Sayang aku boleh menginap disini kan untuk malam ini, aku tidak mungkin pulang saat ini"ucap Alex yang kini mendapat tatapan mata yang sulit untuk diartikan oleh siapapun dari Dian.

"Tuan bisa hentikan sandiwaranya. Apa anda sadar bahwa pernyataan anda terhadap pak lurah tadi siang akan berdampak buruk bagi saya?"ucap Dian yang kini memalingkan wajahnya.

"Sandiwara? Apa kamu pikir saya bersandiwara? Diandra saya sudah katakan berulang-ulang kali. Saya ingin menjadikan mu bagian dari hidup saya, dan saya tidak pernah main-main"ucap Alex dengan tegas.

"Maaf tuan itu tidak mungkin, saya sangat berterimakasih atas hari ini dan sebelumnya. Tapi saya sudah putuskan untuk tetap sendiri sampai kapanpun itu"ucap Dian yang kini membuat Alex menatap tajam kearah nya.

"Diandra, saya tidak minta persetujuan mu. Setuju atau tidak kita akan menikah dan cepat atau lambat hari itu akan terjadi"ucap Alex dengan tegas.

"Jadi ini maksud dan tujuan anda membantu saya, anda ingin saya terjerat hutang budi hingga saya tidak memiliki hak untuk memutuskan segalanya?"ujar Dian.

"Terserah kamu mau berfikir apa tentang saya. yang jelas saya tidak akan melepaskan mu"ucap Alex.

Diandra pun hanya bisa terdiam tanpa kata sambil menatap kearah lain sambil meremas jemari tangannya.

"Tolong beri saya waktu tuan, saya janji akan membalas budi baik anda tapi tidak untuk saat ini, saya butuh waktu untuk berfikir"ucap Dian yang kini bangkit dari duduknya dan hendak melangkah pergi, tapi baru dua langkah perkataan Alex menghentikan langkahnya.

"Jangan pergi saya masih ingin bicara denganmu, mungkin besok saya tidak punya waktu lagi karena asisten saya akan menjemput saya"ucap Alex.

"Anda tidak perlu dijemput, saya bisa mengantar anda kembali besok"balas Dian.

"Tapi bagaimana caranya, setelah itu saya juga harus mengantar mu kembali kesini"ucap Alex.

"Saya bisa pulang dengan menggunakan bis tuan"ucap Dian.

"Saya tidak izinkan itu"ucap Alex.

"Tuan saya sudah terbiasa dengan itu semua"ucap Dian.

" Tidak setelah ini, mobil itu aku akan tinggalkan disini untuk mu. Dan besok asisten pribadi saya yang akan datang menjemput.

"Kenapa tuan, apa mobilnya sudah saya sentuh dan itu menjadi kotor hingga anda membuangnya disini?"ucap Dian yang kini membuat Alex menggeleng pelan.

"Kamu salah faham sayang, saya ingin kamu gunakan itu untuk bepergian, apalagi saat aku tidak ada disini dengan mu nantinya. Jangan lagi bekerja seperti kemarin, setiap minggu aku akan transfer uang untuk biaya hidup mu disini"ucap Alex yang kini giliran mendapatkan penolakan.

"Tidak tuan, saya tidak bisa menerima semua itu. Mungkin setelah jadi istri anda saya akan taati peraturan yang anda buat, tapi untuk saat ini kita belum tentu berjodoh jadi please jangan berbuat sesuka hati."ucap Diandra.

"Honey apa kamu masih tidak percaya dengan niat baik saya?"ucap Alex yang kini membuat Dian menatap lekat wajah tampan itu sambil berkata.

"Tuan, ingatlah bahwa manusia hanya bisa berencana selebihnya Tuhan yang tentukan"ucap Dian yang akhirnya pergi meninggalkan Alex sendirian.

"Aku bersumpah tidak akan pernah melepaskan mu baby,"ucap Alex yang kini berjalan menuju kamar nya.

Saat keduanya sedang asyik dengan lamunannya dikamar mereka masing-masing, Afandi datang dengan keempat temannya yang lain.

"Woy sebelum resmi menikah tidak boleh tidur dalam satu rumah hanya berdua...kami menginap disini."ucap Afandi yang kini disambut senyuman oleh Dian.

"Masuklah jangan lupa bawa bantal dari rumah masing-masing, dan panggil adik mu untuk tidur bersama ku. Biarkan tuan Alex tetap didalam kamarnya dan kalian tidur di karpet sana"ucap Dian yang kini menggelar karpet empuk itu di lantai untuk teman-teman nya.

Sementara Alex hanya keluar untuk menyapa mereka semua setelah itu ia pamit untuk istirahat karena besok rencananya akan pulang ke kota tempat dia tinggal.

Sementara kelima teman Dian justru asik bermain kartu Remi. mereka seperti orang yang sedang ronda malam setelah waktu menunjukkan pukul dua dini hari barulah mereka terlelap dalam tidurnya.

Sementara Dian tidur lelap di dalam kamar bersama adik perempuan Afandi yang menemani nya saat ini.

Sampai keesokan paginya Dian bangun lebih awal dan menyiapkan sarapan pagi untuk mereka semua.

Yang uniknya saat ini Dian sedang menyiapkan nasi timbel komplit untuk bekal makan siang Alex, dan saat ini Alex terlihat sangat senang dengan itu, karena dia sudah pernah merasakan kenikmatan dari nasi yang pulen itu dengan aroma wangi daun pisang yang sempat di panaskan diatas api untuk melemaskan tekstur nya agar bisa dibentuk. Tidak hanya itu ada lauk pauk yang juga terbungkus dalam daun, dan itu sangat lezat untuk Alex yang juga pernah memakannya.

1
Wati Anja
semoga Dian dan Alek bisa bersatu❤❤❤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!