Sinopsis: Singa yang Menunduk pada Mawar
Habib Ghibran Fahreza Al-Husayn adalah sosok "Singa" yang dingin dan kaku, hingga sebuah tragedi merenggut nyawa adiknya, Azlan, tepat sebelum hari pernikahan. Terikat janji dan kehormatan, Ghibran terpaksa melangkah maju menggantikan posisi adiknya untuk menikahi Syarifah Aira, wanita yang seharusnya menjadi adik iparnya. Di bawah atap Pesantren Al-Husayn, Ghibran harus belajar menundukkan egonya demi memenangkan hati Aira, hingga ia memutuskan mengganti nama pesantrennya menjadi Salsabila sebagai bentuk pengabdian cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka di balik sorban putih
Setelah pengakuan Habib Mansyur di ruang tengah yang menggemparkan itu, keheningan menyelimuti kediaman Al-Husayn. Aira masih bersandar pada Ghibran, tangannya yang dingin digenggam erat oleh suaminya. Ia menatap Habib Mansyur—pria yang selama ini ia cium tangannya dengan takzim sebagai guru dan pemimpin, ternyata adalah pria yang membiarkannya hidup dalam kebohongan selama 25 tahun.
"Kenapa, Paman?" suara Aira pecah. "Kenapa membiarkan Sarah, ibuku, meninggal sendirian tanpa pengakuan?"
Habib Mansyur menunduk, bahunya terguncang hebat. "Aku pengecut, Salsabila. Saat itu persaingan kursi Ketua Dewan Pembina sangat ketat. Jika publik tahu aku menghamili wanita biasa tanpa ikatan resmi yang disetujui keluarga besar, aku akan didepak. Aminah menawarkan bantuan untuk menyembunyikan Sarah di klinik lama, dan aku... aku mengiyakannya."
Ghibran menyela dengan nada dingin, "Dan Paman membiarkan Aminah menukar bayi Sarah dengan bayinya yang sakit-sakitan? Paman membiarkan anak Paman sendiri diperlakukan seperti barang dagangan oleh Aminah?"
"Aku tidak tahu soal penukaran itu sampai Aira berusia lima tahun!" bela Mansyur dengan suara serak. "Saat aku tahu, semuanya sudah terlambat. Aminah mengancam akan membongkar semuanya jika aku mengambil Aira. Jadi, aku hanya bisa memperhatikannya dari jauh... memberinya fasilitas lewat Amir, dan memastikan dia tumbuh dengan baik."
Aira tertawa getir di tengah tangisnya. "Tumbuh dengan baik? Aku tumbuh dengan obat-obatan penekan ingatan agar aku tidak ingat pernah melihat Ibu Sarah di klinik itu! Bunda Aminah meracuni pikiranku setiap hari!"
Pengkhianatan di Dalam Selimut
Di sudut ruangan, Zivanna yang tadi diam mulai angkat bicara. Suaranya gemetar namun penuh kebencian. "Dan aku? Aku anak kandungmu, Bunda! Tapi Bunda lebih memilih merawat Mbak Aira hanya karena dia sehat dan bisa membanggakan nama keluarga Syarif. Bunda menjadikanku pelayan di rumah ini!"
Bunda Aminah, yang masih dalam pengawasan ketat petugas keamanan, hanya mendengus. "Zivanna, kamu itu cacat sejak lahir! Kamu hanya akan memalukanku! Aira adalah tiketku untuk tetap berada di lingkaran elit pesantren ini!"
Ghibran berdiri, ia merasa mual dengan atmosfer ruangan yang penuh dengan ambisi busuk ini. "Azka, bawa Aminah dan Abrisam ke kantor polisi pusat. Jangan biarkan mereka berkomunikasi dengan siapa pun. Dan Paman Mansyur... untuk sementara, Paman dilarang meninggalkan area pesantren sampai Dewan Pembina memberikan keputusan."
Rahasia di Bawah Klinik Lama
Setelah ruangan sedikit kosong, hanya tersisa Ghibran, Aira, dan Habib Fauzan (Baba). Baba tampak sangat tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja mendengar adiknya (Mansyur) melakukan skandal besar.
"Baba sudah tahu, kan?" tanya Ghibran tiba-tiba.
Habib Fauzan menatap putranya dengan mata yang dalam. "Apa maksudmu, Ghibran?"
"Baba tahu soal Sarah. Baba tahu soal penukaran bayi itu. Dan Baba membiarkan pernikahan ini terjadi karena Baba ingin mengikat Aira agar rahasia Mansyur tetap terkubur di dalam keluarga kita, bukan?"
Baba menghela napas, ia bangkit dari kursinya dan berjalan menuju jendela yang menampakkan taman pesantren. "Dunia ini tidak putih dan hitam, Ghibran. Pesantren Al-Husayn adalah mercusuar bagi umat. Jika mercusuar itu retak karena skandal Mansyur, ribuan santri akan kehilangan arah. Aku hanya menjaga agar cahaya itu tetap menyala, meski ada bayangan di bawahnya."
Aira menatap Baba dengan ngeri. Ia menyadari bahwa di rumah ini, martabat lebih penting daripada nyawa dan kebenaran.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...
jngan Bilang yaa punya Anak Di Luar Nikah 🤣😂😂