Setelah diperkosa secara massal oleh 10 warga desa dan diusir secara hina oleh suaminya sendiri akibat fitnah rekaman video, Ratri menempuh jalan kegelapan. Ia memasang susuk emas "Suanggi" dari seorang dukun di hutan Weling , di organ vitalnya.
Kini, ia kembali bukan untuk cinta, tapi untuk membalas pada kejantanan mereka dan nyawa siapa pun yang pernah menyakitinya.
Namun, kehadiran seorang Ustadz muda bernama Fatih membawa pilihan sulit , terus memupuk dendam yang memakan jiwanya, atau melepaskan iblis itu demi sebuah ampunan yang tak terduga dan hidup dengan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji malam
Aroma melati yang menguar dari tubuh Ratri seolah menjadi gas beracun yang melumpuhkan nalar sehat Agus. Mendengar Ratri membutuhkan "kekuatan" untuk menjaganya, Agus merasa mendapat lampu hijau yang sangat terang. Tanpa ragu lagi, pria hansip itu menggeser duduknya, memangkas jarak hingga paha mereka bersentuhan. Sofa beludru yang empuk itu berderit pelan menerima beban tubuh Agus yang besar.
Tangan Agus yang kasar dan dipenuhi urat menempel di atas paha putih Ratri yang tersingkap dari balik belahan dress-nya. Kulit Ratri terasa sedingin pualam, namun bagi Agus yang darahnya sudah mendidih, itu adalah sensasi yang luar biasa.
"Soal tanah itu urusan kecil, Ratri," bisik Agus, suaranya berat dan serak oleh nafsu. "Aku bisa atur Juragan Tono. Harga bisa miring, surat-surat bisa cepat keluar. Kamu tahu sendiri kan, aku ini tangan kanannya. Asal..." Agus sengaja menggantung kalimatnya, matanya menatap liar ke arah dada Ratri yang naik turun karena napas yang diatur. "Asal aku bisa selalu mendapat jatah... tidur di sini. Menjagamu setiap malam."
Ratri menundukkan kepala, menampilkan akting senyum malu-malu yang dibuat-buat, meski di dalam hatinya ia merasa sangat mual. Ia mengulurkan tangannya yang lentik, lalu dengan gerakan perlahan yang mematikan, ia mengelus bagian "jumbo" di balik celana Agus yang sudah menegang maksimal.
"Mas Agus ini... ternyata pintar menawar ya," ucap Ratri dengan nada manja yang mematikan.
Mendapat perlakuan seperti itu, Agus merasa harga dirinya melambung ke langit ketujuh. Ia merasa menjadi lelaki paling perkasa di dunia. Dengan gerakan cepat, Agus mencoba meraih tengkuk Ratri, ingin melumat bibir merah yang sejak tadi menggodanya. Namun, dengan cekatan, Ratri memutar tubuhnya, menghindar dengan halus.
"Jangan di sini, Mas... ini bukan di kamar. Nanti kalau pembantu atau satpam lihat bagaimana?" bisik Ratri sambil berdiri, memberikan isyarat dengan matanya ke arah tangga lantai dua.
"Ayo ke kamar kalau begitu! Aku sudah tidak tahan," ajak Agus sambil ikut berdiri, tangannya sibuk membetulkan posisi celananya yang terasa sangat sesak.
Saat mereka melangkah menaiki tangga, Ratri merasakan guncangan hebat di dalam perutnya. Suanggi, roh jahat yang bersemayam di susuk emasnya, mulai bergejolak hebat. Lewat getaran batin yang hanya bisa dirasakan oleh Ratri, Suanggi berbisik dengan suara parau yang haus.
Aku mau dia... aku mau milik si sombong ini sekarang...tapi aku tidak mau langsung habis ...aku mau dia pelan pelan Ratri.
Ratri memejamkan mata sesaat. Biasanya, ia hanya membiarkan Suanggi yang "bermain" sementara ia menonton dari kejauhan, seperti yang dilakukannya pada Sugeng. Namun kali ini berbeda. Suanggi menuntut lebih. Makhluk itu menginginkan Ratri untuk ikut merasakan persetubuhan itu secara fisik agar saripati kejantanan Agus yang "jumbo" bisa terserap sempurna ke dalam susuknya, memperkuat ilmu hitam yang sedang dibangun Ratri.
Mau tidak mau, aku harus menyerahkan tubuhku pada anjing ini, batin Ratri dengan rasa jijik yang luar biasa. Namun demi dendamnya, demi kekuatan yang lebih besar untuk menghancurkan sisa-sisa pelaku lainnya, Ratri akhirnya merelakan dirinya.
Begitu pintu kamar terkunci, Agus langsung menerjang seperti binatang buas. Di atas ranjang yang mewah itu, pakaian-pakaian segera tanggal berserakan di lantai. Ratri membiarkan Agus menjamah tubuhnya, merasakan tangan kasar itu merayapi kulitnya. Namun di saat yang sama, kabut hitam mulai keluar dari pori-pori kulit Ratri, menyelimuti mereka berdua.
Agus sudah berada di atas tubuh Ratri, siap melakukan serangan terakhir yang paling ia dambakan. Namun, tepat saat suasana sedang memuncak, saat desahan Ratri mulai terdengar liar karena pengaruh Suanggi, sebuah suara nyaring memecah suasana.
Drrrtt... drrrtt... drrrtt...
Ponsel Agus yang tergeletak di kantong celana safarinya di lantai berbunyi nyaring. Agus mencoba mengabaikannya, namun ponsel itu terus berdering seolah tidak mau berhenti.
"Sialan! Siapa yang telepon jam begini?!" maki Agus dengan napas terengah-engah.
Ia terpaksa meraih celananya dan melihat layar ponsel. Wajahnya langsung pucat saat melihat nama "JURAGAN TONO" tertera di sana. Dengan berat hati dan rasa kesal yang memuncak, ia mengangkatnya.
"Halo, Juragan?"
"Agus! Di mana kamu?! Cepat kembali ke rumah sekarang! Ada kepentingan mendadak, orang dinas pertanahan datang mau urus berkas besar yang kemarin. Kalau kamu tidak ada, urusan ini bisa batal! Cepat!" suara Juragan Tono terdengar membentak di seberang sana.
"Ta-tapi Juragan, saya sedang..."
"Tidak ada tapi-tapi! Sepuluh menit kamu tidak sampai, posisimu aku ganti!" Bip. Telepon diputus secara sepihak.
Agus menggeram frustrasi. Ia menatap Ratri yang masih berbaring tanpa pakaian di atas seprai sutra, dengan dada yang membusung dan tatapan yang sayu. Tangannya yang masih gemetar menjamah sekali lagi buah dada Ratri, meremasnya dengan kasar seolah ingin meluapkan kekesalannya.
Ratri mengeluarkan desahan panjang yang sengaja dibuat untuk membuat Agus semakin tersiksa. "Mas... mau pergi sekarang?"
"Sialan! Juragan Tono memanggil. Ada urusan mendadak," ucap Agus sambil terburu-buru memakai bajunya kembali. "Ratri, dengar ya... malam ini. Malam ini aku akan datang lagi. Aku akan tuntaskan semuanya. Jangan kunci pintumu untukku!"
Agus mengenakan seragam hansipnya dengan berantakan. Ia tidak sempat membenahi rambutnya yang kacau. Dengan langkah tergesa-gesa, ia keluar dari kamar, meninggalkan Ratri yang masih tergeletak di ranjang.
Begitu pintu kamar tertutup, senyum di wajah Ratri langsung menghilang, berganti dengan tatapan jijik yang amat sangat. Ia segera bangkit dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Untung saja..." gumam Ratri. "Terima kasih, Juragan Tono. Setidaknya aku tidak perlu melayani anjing itu siang ini."
Ia berjalan menuju kamar mandi, menyalakan pancuran air panas seolah ingin membasuh setiap bekas sentuhan Agus dari kulitnya. Ratri tersenyum puas. Rencananya tidak berantakan, justru semakin menarik. Agus yang pulang dalam kondisi "haus" dan "sesak" akan menjadi sasaran yang lebih empuk bagi Suanggi saat ia kembali nanti malam.
Di luar, Agus memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Angin siang yang panas menerpa wajahnya, namun pikiran Agus hanya tertuju pada satu hal: menyelesaikan urusan Juragan Tono dan kembali ke Sukomaju secepat kilat.
"Tunggu aku, Ratri... malam ini kamu tidak akan bisa jalan setelah kusiapkan kejutan jumbo-ku," gumamnya dengan tawa licik di sela deru mesin motor.
Motor Agus melaju membelah jalanan aspal yang sepi. Namun, saat ia melewati gapura perbatasan masuk Desa Karang Jati, langkah kakinya seolah ingin mengerem secara otomatis. Matanya menangkap sesuatu yang berkibar di pojok gapura.
Sebuah bendera kuning. Pertanda kematian.
Agus memperlambat motornya sedikit. Ia bertanya-tanya dalam hati, siapa warga desa yang meninggal siang-siang begini? Andai saja ia tidak dikejar waktu oleh amukan Juragan Tono, pasti ia akan berhenti sebentar di warung atau bertanya pada warga yang berkumpul.
"Siapa yang mati ya?
Namun, rasa takutnya pada Juragan Tono dan rasa hausnya pada tubuh Ratri jauh lebih besar dibanding rasa ingin tahunya tentang kematian warga desa. Agus kembali menarik gas motornya dalam-dalam, meninggalkan bendera kuning yang melambai-lambai ditiup angin kencang—seolah-olah bendera itu sedang melambai padanya, menyambut kedatangan calon penghuni liang lahat yang baru.
Agus tidak tahu, bahwa kematian yang ditandai bendera kuning itu adalah awal dari gempa besar yang akan menghancurkan kelompok mereka. Ia tidak tahu bahwa sementara ia bermimpi tentang kenikmatan, maut sedang mengasah goloknya tepat di belakang punggungnya.
kirain istrinya yg di bacok
dan jangan lupa, perdalam literasi, hantu Suanggi itu apa, dan untuk apa.
kalau benar demikian, siap siap aja Pakk RT jadi korban Ratri seperti Pakk Karno