Sandra, Satya dan Raisya telah menjalin persahabatan sejak mereka memasuki dunia perkuliahan. Perhatian Satya pada Sandra terlalu berlebihan membuat Sandra menjadi terbawa perasaan.
Namun pada akhirnya Sandra harus mengubur perasaanya pada Satya kala Raisya memberitahunya bahwa dia akan segera menikah dengan Satya.
sakit dan perih yang Sandra rasakan.
Namun takdir berkata lain, Sandra terpaksa harus menjadi ibu sambung dari anak hasil pernikahan sahabatnya itu, Raisya dan Satya.
akan kah Sandra sanggup melalui hari harinya bersama Satya yang telah berubah dan masih di hantui oleh bayang-bayang istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sarapan Sederhana
Setelah menemani sandrina tidur, aku kembali ke kamar ku dan kamar kak Satya, suatu ruangan yang penuh kecanggungan. walaupun kita satu kamar namun aku sangat jarang sekali mengobrol dengan kak Satya dikamar, mau ngobrol bagaimana kak Satya pulang kerja ketika aku sudah larut di alam mimpi. Begitupun paginya kak Satya kembali bangun dan disibukan dengan siap-siap untuk kembali bekerja. Aku pun sibuk mengurus sandrina ketika pagi.
waktu menunjukan pukul 21.30, setelah menunaikan shalat isya aku membaringkan tubuhku di kasur. Aku mengambil laptop dan menyalakannya. Malam ini aku kangen dengan serial drama turki yang sudah lama ku diamkan belum di tonton kembali.
"Ih kok laper ya" aku merasa lapar karena belum makan malam, tapi aku malas untuk makan. Entah kenapa nafsu makanku sedang menurun, apakah ini faktor dari stress karena memikirkan DM dan hujatan yang masuk di akunku di tambah lagi toko roti ku yang makin sepi pelanggan.
Dan pada akhirnya aku memutuskan untuk tetap berdiam di kasur yang nyaman, sambil menonton dan melupakan rasa lapar di perutku.
Setelah satu jam menonton, rasa kantuk mulai menyerang mataku. Sudah berupaya untuk menghilangkan kantuk namun tetap saja mataku sudah tidak tahan lagi untuk tertidur padahal episode nya masih seru.
Aku mengerjapkan mata, dengan pandangan buram aku melihat jam di dinding sudah menunjukan pukul dua tiga, ternyata aku ketiduran. loh kok, sudah ada selimut yang menyelimuti tubuhku?, apakah kak Satya sudah pulang. Kok keberadaanya tidak ada. Laptop ku pun yang tadi menyala sudah tersimpan rapi di nakas.
Aku bangkit dari tidur, merapikan rambut yang sedikit berantakan.
"ceklek" aku melirik pintu kamar mandi yang terbuka, disusul dengan kak Satya yang keluar yang hanya menggunakan handuk di pinggangnya.
Pandangan kita bertemu, sebelum kak Satya mengalihkan pandangan pada lain hal. Oh tidak, hawa dingin ini seketika berubah jadi panas dan mencekam. Baru pertama kalinya aku melihat kak Satya bertelanjang dada. Tubuhnya sangat atletis, gimana tidak kak Satya sangat rutin menyempatkan olahraga ditengah kesibukannya.
"Bangun ndra?" ucapnya dengan santai sambil mengambil helaian baju di lemari.
"Iya kak, tadi ketiduran ga sengaja" hening sejenak, kak Satya sudah mengenakan kaos berwarna abu tua. Dan ketika ia akan mengenakan celananya, sontak aku mengalihkan pandanganku. Kenapa laki laki itu terlihat santai sekali?.
"Kak Satya sudah makan malam"
"Belum, tadi belum sempat"
"Yasudah, aku buatin makan malam dulu kak"
Karena di kulkas yang tersisa hanya potongan paha ayam dan kentang, akhirnya aku membuat sup saja, ditambah cuaca malam ini sangat dingin. Bikin sup sepertinya cocok untuk makan malam kak Satya.
Tidak lama hanya lima belas menit sup paha ayam dan kentang telah siap. Sebelum aku panggil Kak Satya sudah berjalan keluar dari kamar.
"Cepet banget ndra?"
"kalau lama nanti keburu subuh, silahkan kak dimakan"
"kamu sudah makan?"
"Sudah kak, tadi sama drina. Kalau gitu aku pamit ke kamar dulu ya kak" aku berbohong, sebenarnya aku belum makan dari tadi siang. tidak berselera sama sekali untuk makan. Aku melihat kak Satya sudah menyantap sup hangat itu.
"Iya tidur lagi aja ndra"
Begitulah interaksi kita, tidak seperti suami istri pada umumnya. Terlihat lebih ke interaksi seorang kakak dan adik.
*
Pukul tujuh tiga puluh, aku sedang sibuk di dapur menyiapkan sarapan pagi untuk sandrina dan kak Satya. Sarapan sederhana hanya roti bakar selai coklat dan blueberry.
"Pah, boleh ga aku sama mama ndra mau main ke taman hari ini?"
"Boleh sayang, tapi jangan lama-lama"
Samar-samar aku mendengar percakapan sandrina dan kak Satya. Ya awalnya memang aku akan mengajak drina untuk jalan-jalan karena sudah satu Minggu sudah drina tidak keluar apart, kasian juga.
"Oke pah siap, papa ikut juga dong. Drina sudah lama tidak jalan-jalan sama papa"
Aku berjalan menuju keberadaan drina dan kak Satya, membawa roti bakar hangat untuk sarapan.
"Iya kan mama ndra?" aku hanya tersenyum untuk menanggapi.
"Maaf sayang, papa harus kerja hari ini, papa harus pergi untuk cek proyek di lapangan".
Lagi-lagi pria itu harus pergi bekerja, apa dia tidak capek kerja terus menerus.
Setelah sarapan, tidak lama kak Satya pamit untuk pergi bekerja. Sesuai dengan tadi yang ia katakan hari ini ia harus mengontrol proyek yang sedang dikerjakan di lapangan.
Kak Satya merupakan seorang Project Manager di suatu perusahaan. Ya kerjanya kalau ga di kantor ya pasti di lapangan.
Aku dan drina sudah siap untuk pergi ke taman, tidak akan lama hanya sekedar menghilangkan rasa bosan drina yang terus terusan berada di apart karena harus istirahat setelah sakit.
"Mama ndra, kenapa papah kerja terus ya, apa papa robot yang tidak merasakan capek"
Aku sedikit tertawa mendengar celotehan sandrina yang berada di sampingku. Aku yang tengah mengemudi harus tetap fokus pada jalanan di depan.
"Papa kan kerja buat drina juga sayang, dan posisi papa sekarang yang menjadikan papa sedikit lebih sibuk". Gadis kecil itu mengangguk samar, drina anak yang cerdas tidak perlu penjelasan yang bertele-tele untuk di pahaminya.
"Besok drina udah mulai masuk sekolah ya"
"yeyy, asik drina ga bosan lagi deh"
Dukung novel pertama aku ya gais, like, komen dan vote