NovelToon NovelToon
Tak Lagi Mencintaimu

Tak Lagi Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mandul / Pelakor jahat
Popularitas:15.5k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

‎Badai datang pelan namun mematikan, menggoyahkan komitmen lima tahun yang Risa yakini abadi. Di bawah langit malam yang sunyi, dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri suaminya, Raga, sedang bermesraan dengan wanita lain di dalam mobil mereka.

‎Setelah bertahun-tahun membangun rumah tangga dengan penuh pengorbanan, meninggalkan karir impian untuk mendukung karir suaminya, Risa harus menghadapi kenyataan pahit bahwa cinta yang dia anggap tulus telah dipermainkan.

‎Pengkhianatan itu menjadi pukulan terberat bagi hatinya.

‎"Selama ini aku menutupi kekuranganmu demi menjaga harga dirimu, tapi balasanmu adalah pengkhianatan. Mulai hari ini, aku tidak mau lagi menjadi orang yang selalu mengalah." ~ Risa Anindita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 12

‎Suasana pagi masih terasa sejuk saat Risa melangkah masuk ke sebuah kafe. Di sudut ruangan, Sella sudah menunggu dengan dua gelas minuman hangat di depannya, satu untuknya dan satu untuk Risa.

‎‎"Risa… kamu terlihat tidak baik-baik saja. Ada apa?" tanya Sella segera, menatap Risa yang baru saja duduk dihadapannya.

‎‎Risa mengangguk pelan, lalu mulai menceritakan semuanya, tentang pertemuan dengan orang tuanya semalam, hingga ancaman yang dilontarkan ayahnya bahwa ia tidak akan diakui lagi jika tetap bercerai. Sella mendengarkan dengan seksama, matanya semakin membesar dan wajahnya memerah menahan amarah mendengar perlakuan ayah sahabatnya itu.

‎‎"Tidak kusangka Om Harun bisa bicara seperti itu. Padahal jelas-jelas Raga yang salah!" seru Sella dengan nada kesal. "Dan soal tidak bisa punya anak… itu bukan aib, apalagi alasan untuk membenarkan perselingkuhan! Itu tidak adil."

‎‎Risa tersenyum tipis, senyum yang pahit namun penuh ketegasan. "Sudah, Sel. Aku sudah tidak mau memikirkan perkataan mereka lagi. Yang penting sekarang adalah langkahku selanjutnya."

‎‎Ia menatap Sella dengan pandangan serius. "Sel, aku butuh bantuanmu lagi. Bisakah kamu mencarikan pengacara yang bisa dipercaya? Yang paham soal gugatan cerai dan bisa membantuku. Selain itu, aku juga butuh tempat tinggal sementara. Begitu Mas Raga pulang dari luar kota nanti, aku akan langsung bicara dengannya dan mengajukan gugatan. Aku tidak mau tinggal serumah lagi dengannya."

‎‎Sella mengangguk cepat, tangannya langsung menggenggam tangan Risa dengan hangat. "Tentu saja aku akan bantu. Soal pengacara, aku kenal beberapa orang yang handal, aku akan hubungi mereka segera. Dan soal tempat tinggal… kenapa tidak tinggal di rumahku saja dulu? Rumahku cukup luas, ada kamar kosong yang bisa kamu pakai. Jadi kamu tidak perlu menyewa tempat."

‎‎Risa menggeleng pelan, lalu mengusap lembut tangan sahabatnya. "Terimakasih, Sel. Aku sangat menghargai tawaranmu. Tapi aku tidak bisa. Aku tidak mau mengganggu keharmonisan rumah tanggamu. Lebih baik aku tinggal di tempatku sendiri, agar aku bisa mengatur semuanya dengan tenang dan tidak merepotkan orang lain."

‎‎"Tapi Risa… kamu tidak sendirian. Kami ini keluarga bagimu," bujuk Sella lagi.

‎‎"Aku tahu, dan aku sangat berterimakasih," jawab Risa lembut. "Tapi aku ingin berdiri di atas kakiku sendiri. Aku hanya butuh bantuanmu untuk mencarikan pengacara dan rumah kontrakan yang sederhana, tidak terlalu mahal tapi aman. Itu saja sudah cukup membantuku."

‎‎Melihat ketegasan di mata sahabatnya, Sella akhirnya menghela napas panjang dan mengangguk mengerti. "Baiklah, kalau itu keputusanmu. Aku akan bantu carikan keduanya secepatnya. Tapi ingat, kapanpun kamu butuh sesuatu atau hanya ingin sekedar bicara, pintu rumahku selalu terbuka untukmu. Jangan pernah merasa sendirian, ya?"

‎‎Risa tersenyum lebih tulus kali ini, merasa sedikit lega karena memiliki sahabat yang selalu mendukungnya. "Terimakasih, Sel. Kamu sahabat terbaik yang pernah aku miliki."

‎‎Sella mengangguk dengan mata berkaca-kaca, lalu tersenyum sambil menyeka sudut matanya dengan ujung jari. "Sudahlah, jangan bicara begitu. Kita sudah berteman sejak SMP, ini hal yang wajar. Sekarang habiskan minumanmu, nanti dingin."

‎‎Risa hanya mengangguk, lalu meminum minuman yang sudah dipesankan oleh Sella sebelum dia datang tadi. Meskipun hatinya masih terasa berat dan penuh kekhawatiran tentang apa yang akan dihadapi ke depannya, setidaknya kehadiran sahabatnya membuatnya merasa tidak sepenuhnya sendirian.

-

-

-

‎‎Amelia menatap punggung Raga yang sedang sibuk memeriksa barang-barang di kopernya, rahangnya mengeras menahan rasa kesal yang mulai menyelinap di hatinya. Sejak pagi, Raga sudah terlihat tidak tenang - sering memeriksa jam dan berulang kali memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Jelas sekali, pikirannya sudah terbang jauh menuju rumah, menuju Risa.

‎‎"Kamu kelihatannya buru-buru banget pengen pulang ya, Mas?" tanya Amelia dengan nada yang sedikit tajam, berusaha menutupi kekesalannya di balik senyum tipis yang dipaksakan. "Baru saja kemarin kita sampai di sini, sekarang sudah tidak sabar ingin pulang."

‎‎Raga menoleh sebentar, tidak menyadari perubahan nada bicara wanita itu. "Urusanku disini kan sudah selesai. Kamu juga sudah harus segera masuk kerja lagi, jangan izin terlalu lama... atau akan ada yang curiga jika kamu ikut kesini bersamaku."

‎‎Amelia berdiri mendekat, melingkarkan tangannya di pinggang Raga dari belakang, menempelkan tubuhnya erat di punggung pria itu.

‎‎"Jawab jujur Mas, kamu sebenarnya sudah tidak sabar ingin bertemu Mbak Risa kan? Sudah rindu padanya, ya?" bisiknya tepat di telinga Raga.

‎‎Raga terdiam sejenak, lalu melepaskan pelukan wanita itu perlahan dan berbalik menghadapnya. "Jangan bicara begitu. Aku hanya berpikir soal pekerjaan dan urusan rumah saja."

‎‎"Benarkah?" Amelia tersenyum miring, matanya menatap tajam. "Kalau begitu kenapa selama disini Mas terus memikirkan dia? Dia tidak mau mengangkat telepon, tidak mau membalas pesan, tapi Mas malah terus mencoba menghubunginya berkali-kali seolah dia adalah satu-satunya hal yang paling penting."

‎‎Raga menghela napas panjang, merasa sedikit kesal dengan sikap Amelia yang tiba-tiba berubah. "Dia istriku, Amelia. Wajar kalau aku ingin memastikan keadaannya baik-baik saja."

‎‎"Wajar?" Amelia tertawa kecil, tawa yang terdengar pahit. "Lalu kalau aku merasa cemburu, apa itu tidak wajar? Selama seminggu ini kita bersama, tapi pikiran Mas masih terbagi. Mas bahkan sempat menyempatkan diri pergi sendirian hanya untuk membelikan dia oleh-oleh, benar kan?"

‎‎Wajah Raga sedikit memerah, merasa ketahuan. Ia tidak menyangka Amelia akan mempermasalahkan hal itu. "Itu hanya sebagai bentuk perhatian biasa saja. Aku tidak ingin ada keributan saat pulang nanti."

‎‎"Perhatian biasa?" Amelia melangkah mendekat lagi, nadanya menjadi lebih tegas dan penuh tuntutan. "Mas, ingat ya. Kita sudah sepakat. Aku tidak mau menjadi orang kedua selamanya. Aku sudah mengorbankan banyak hal untuk Mas, dan aku berhak mendapatkan perhatian penuh dari Mas. Bagaimana hubungan kita bisa maju kalau kamu tetap bersikap seperti ini terus, Mas?"

‎Raga terdiam, merasa terjebak di antara dua sisi. Di satu sisi ia merasa nyaman bersama Amelia, namun di sisi lain ia masih merasa terikat dengan tanggung jawabnya sebagai suami. Ia tidak menyangka wanita yang terlihat lembut dan mengerti selama ini ternyata memiliki sisi yang keras dan menuntut seperti ini.

‎‎"Tenang saja," jawab Raga akhirnya, berusaha menenangkan. "Aku akan mengurus semuanya. Setelah pulang besok, nanti kita bicara lagi dengan tenang."

‎‎Amelia menatapnya lekat-lekat, seolah ingin memastikan kejujuran pria itu.

‎‎"Baiklah," ucapnya akhirnya, menyembunyikan emosinya kembali. "Aku percaya padamu, Mas."

‎‎Raga memeluk Amelia, dia mencintai Risa tapi dia juga merasa nyaman dengan kehadiran wanita ini, sesuatu yang selama ini membuatnya bimbang.

‎"Aku tahu kamu lelah menunggu," bisik Raga pelan, meski hatinya sendiri tidak sepenuhnya yakin dengan apa yang akan dia lakukan nanti. "Tapi tolong beri aku sedikit waktu lagi. Aku tidak bisa memutuskan semuanya dalam semalam."

‎Amelia membalas pelukan itu erat, namun di dalam hatinya, dia tidak sepenuhnya percaya. Dia sudah menunggu terlalu lama, dan dia tidak mau terus menjadi bayangan dalam hidup Raga. Namun untuk saat ini, dia memilih diam, menyimpan kekhawatirannya dan berharap apa yang dijanjikan pria itu benar-benar akan terjadi.

‎‎"Baiklah, Mas. Aku akan menunggu," jawabnya lembut, namun matanya menyimpan tekad yang kuat. "Tapi ingat, aku tidak bisa menunggu selamanya."

-

-

-

Bersambung...

1
vj'z tri
tunggu nanti w ketawa ngakak disaat/Smug//Smug//Smug//Smug/ ada kata menyesal dari mulut mu
°RhaiKen™
ehh.. jangan dulu pak dokter 🤣🤣 biar sidang nya selesai dulu resmi bercerai nah baru deh kasih kesaksian 🤣🤣🤣✌️
🔥Violetta🔥: Mulut pak dokter sudah gatel pengen ngomong 😂😂😂
total 1 replies
Rizky Manik
lanjut thor🤗
🔥Violetta🔥: Asiap 🙏😁
total 1 replies
nayla tsaqif
Klo amelia tau raga mandul sblm mrk nikah,, amelia pasti kabur thor,, berubah haluan ngejar regan,,, 😌
🔥Violetta🔥: Depak aja dia kalau berani deketin pak Bos, kak 😂😂😂
total 1 replies
partini
mantap , menunggu berapa bab lagi sidang nya Thor
🔥Violetta🔥: Betul Kakak.. biar cepat cerai 😁
total 1 replies
vj'z tri
ahayyyy jreng jreng jreng
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ icik bos dah salting berat ini
🔥Violetta🔥: Udah cenat-cenut dia 😂😂😂
total 1 replies
W I 2 K
kamu nanya.. kamu bertanya-tanya....,

secara g langsung km udah siap ni ditinggalin raga.. km kan nyuruh cek, terus tau kenyataan pahit asam manisnya kyk apa.... ya jelas nanti raga bakalan ngejar balik lg risa.. ya nerima apa adanya kan cm dia.... siap² deh mimpi terindah menikah dengan raga hanya tinggal khayalan belaka... 🤣🤣🤭
〈⎳ FT. Zira
coba cekk. di lihat..diraba.. di...🤭🤭
〈⎳ FT. Zira
kesempatan noh Re .. ambilll🤣🤣
〈⎳ FT. Zira
jodoh ka Re🤭
〈⎳ FT. Zira
kamulah orangnya🤭
〈⎳ FT. Zira
cieeee cieee🤭🤭🤣🤣
〈⎳ FT. Zira
deg deg ser gak ris🤭
〈⎳ FT. Zira
jodoh emag gak kemana yaa🤭
Rizky Manik
lanjut thor🤗
Rizky Manik
ayo periksa lagi kalo berani🤭
Anonim
awokawok mending baca seishun buta yarou Bunny girl senpai wo yume wo minai
MamDeyh
Nah nah nah kan.... Eng ing eng
Kusii Yaati
kamu terlalu memandang rendah orang mel,di bandingkan dengan kamu Risa lebih baik dari segi manapun, sedang kamu apa perlu di banggakan selain pandai merebut suami orang alias pelakor... punya cermin nggak 😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!