THE LAST SUNRISE
Echoes of Light: Before the Sky Turns Red
Di dunia di mana kenangan bisa dihapus dan realitas perlahan terurai menjadi data, satu foto adalah bukti terakhir bahwa kita pernah ada.
Raka bukan pahlawan dalam arti tradisional. Dia hanyalah seorang arsiparis biasa di era di mana langit mulai retak. Namun, tubuhnya menyimpan rahasia mematikan: dia terinfeksi Glitch, virus digital yang perlahan mengubah daging dan darahnya menjadi partikel cahaya emas yang beterbangan. Setiap kali dia menggunakan kekuatannya untuk menambal realitas yang rusak, sebagian dari dirinya hilang selamanya.
Saat badai merah darah—fenomena misterius yang menghapus sejarah umat manusia—mulai menyapu cakrawala, Raka menemukan sebuah kamera instan tua di reruntuhan kota. Bersama Lena, satu-satunya orang yang masih mengingat wajahnya dengan jelas, Raka memulai perjalanan putus asa menuju "Titik Nol". Misi mereka sederhana namun mustahil: mencetak satu foto terakhir yang sempurna sebelum Raka sepenuhn
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: DINDING PANTI ASUHAN
Truk pengangkut Golden Grain akhirnya berhenti di depan gerbang besi yang catnya sudah mengelupas. Di atas pintu masuk, terpampang papan nama kayu yang lusuh: Panti Asuhan "Mentari Baru".
Suasana di sini jauh berbeda dengan kemewahan Neo-Solara bagian atas yang biasa mereka lihat. Udara terasa lebih lembap, dinding-dinding beton retak ditambal seadanya dengan lembaran logam bekas, dan langit-langit kubah di atas sana terlihat sangat tinggi, seolah-olah cahaya matahari buatan tidak pernah benar-benar sampai ke dasar sektor ini.
Saat pintu truk dibuka, puluhan pasang mata kecil langsung mengintip dari balik jendela kaca yang buram dan celah-celah pintu asrama. Mata-mata itu besar, penuh rasa ingin tahu, tapi juga menyimpan bayangan ketakutan dan kelaparan yang terlalu dalam untuk ukuran anak-anak. Mereka kurus. Baju mereka compang-camping, ditambal di sana-sini.
Raka merasakan dadanya sesak. Elara menunduk, tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. Kai mematikan drone-nya, tiba-tiba merasa bahwa merekam momen ini terasa tidak pantas.
Tapi Bimo... Bimo berubah.
Begitu kakinya menyentuh tanah berdebu di halaman panti, ekspresi "prajurit tangguh" atau "raksasa lucu" lenyap dari wajahnya. Dia berdiri diam sejenak, menatap anak-anak yang mulai keluar satu per satu dengan ragu-ragu. Tatapan Bimo melunak, hancur, lalu menyala dengan tekad yang membakar. Dia tidak melihat mereka sebagai penerima bantuan. Dia melihat dirinya sendiri dari dua puluh tahun lalu. Anak-anak yang takut dipukul, takut diusir, dan yang paling takut: tidur dengan perut kosong.
Tanpa menunggu instruksi Komandan atau protokol serah terima resmi, Bimo melangkah maju. Langkahnya berat tapi cepat, menuju dapur umum panti yang terlihat sederhana dan agak kumuh.
"Bim? Mau ngapain?" tanya Raka bingung, hendak mengikuti.
Elara menahan lengan Raka pelan. "Biarkan dia," bisik Elara, suaranya bergetar halus. "Dia tahu apa yang harus dilakukan."
Di dalam dapur, bau apek dan sisa makanan basi masih tercium samar. Kompor tua berkarat, panci-panci penyok, dan pisau yang tumpul berserakan. Kondisi yang sangat mirip dengan gerobak Pak Harun dulu, hanya sedikit lebih besar.
Bimo tidak membuang waktu. Dia menggulung lengan bajunya yang sudah sobek di bagian siku, membasuh wajahnya sebentar di wastafel yang airnya mengalir tersendat-sendat, lalu mulai bekerja. Gerakannya cepat, presisi, dan penuh otoritas. Dia bukan lagi Kadet Bimo dari Squadron Aurora. Dia adalah Chef Bimo dari Jalanan.
"Ayo bantu aku potong sayuran!" seru Bimo pada beberapa staf panti yang terlihat bingung, suaranya ramah namun tegas. "Cuci berasnya, jangan dibilas terlalu lama biar patinya nggak hilang! Api nya besarkan, kita butuh kaldu yang mendidih cepat!"
Dalam waktu singkat, aroma mulai tercipta. Bukan aroma masakan instan pabrik, tapi aroma bawang putih yang ditumis mentega, aroma kaldu tulang yang dimasak perlahan, dan aroma rempah rahasia Bimo yang mulai memenuhi seluruh bangunan panti.
Anak-anak yang tadinya hanya berani mengintip dari jauh, mulai berkumpul di ambang pintu dapur. Hidung mereka kembang-kempis. Perut mereka berbunyi serempak, menciptakan simfoni lapar yang menyedihkan namun penuh harap.
"Makanan... enak..." gumam seorang gadis kecil berkuncir dua, memegang erat boneka kain yang sudah botak bulunya.
"Beneran wangi banget," tambah seorang bocah laki-laki yang pipinya cekung.
Bimo menoleh, melihat kerumunan anak-anak itu. Senyumnya muncul, senyum paling lembut yang pernah dilihat teman-temannya.
"Hai, adik-adik," sapa Bimo, suaranya rendah dan hangat. "Sabar ya, sebentar lagi matang. Ini spesial buat kalian. Namanya Sup Bintang. Biar kalian tumbuh kuat kayak astronot!"
Anak-anak itu tertawa kecil, mata mereka berbinar. Kata "astronot" terdengar seperti sihir bagi mereka.
Satu per satu, mangkuk sup panas disajikan. Uapnya menari-nari, membawa butiran Golden Grain yang bersinar keemasan di dalamnya. Bimo sendiri yang melayani, membungkuk rendah agar sejajar dengan tinggi badan anak-anak itu, memastikan setiap mangkuk diisi penuh, tidak ada yang kurang.
"Makan pelan-pelan, jangan sampai kepedasan," pesan Bimo sambil mengusap kepala seorang anak yang rambutnya kusut. "Masih banyak, jangan berebut. Semua dapat jatah."
Adegan di ruang makan panti saat itu sulit dilukiskan dengan kata-kata. Tidak ada suara ribut, tidak ada teriakan. Hanya suara sendok berdenting pelan dan napas lega. Wajah-wajah pucat itu mulai merona merah karena kehangatan sup. Mata-mata yang tadi sayu kini berkaca-kaca, bukan karena sedih, tapi karena rasa syukur yang meluap.
Seorang anak laki-laki kecil, mungkin berusia lima tahun, tiba-tiba berhenti makan. Dia menatap Bimo yang sedang sibuk mengambilkan tambahan nasi untuk anak lain, lalu berlari kecil menghampiri kaki besar Bimo.
"Pak... ini enak banget," kata anak itu lirih, memeluk kaki Bimo erat-erat. "Terima kasih, Pak Raksasa."
Bimo terhenti. Sendok di tangannya gemetar hebat.
Dia menunduk, menatap wajah polos anak itu yang menempel di celana seragamnya. Tiba-tiba, bendungan emosi di dada Bimo jebol. Ingatan tentang Pak Harun, tentang malam hujan deras, tentang mie hangat pertama yang pernah dia rasakan, semuanya menyerbu masuk.
Air mata besar jatuh dari mata Bimo, menetes ke pipinya yang lebar, lalu jatuh ke lantai. Dia tidak mencoba menghapusnya. Dia berjongkok, memeluk anak kecil itu erat-erat, membenamkan wajahnya di bahu mungil itu.
"Sama-sama, Nak... sama-sama," isak Bimo, suaranya serak tertahan. "Makan yang habis ya. Habiskan semuanya."
Di sudut ruangan, Raka, Elara, dan Kai menyaksikan pemandangan itu dari kejauhan. Mereka tidak mendekat, tidak ingin mengganggu momen sakral itu.
Raka bersandar di kusen pintu yang catnya terkelupas, melipat tangan di dada. Matanya tidak lepas dari sosok Bimo yang sedang dikelilingi puluhan anak kecil yang makan dengan lahap. Wajah Bimo yang biasanya bercanda dan berteriak lucu, kini terlihat begitu damai, begitu tulus, dan begitu... suci. Air mata masih mengalir di pipinya, tapi dia tersenyum. Senyum kebahagiaan murni yang jarang dimiliki manusia di dunia yang keras ini.
"Lihat dia," bisik Raka, suaranya hampir tak terdengar, penuh kekaguman. "Dia bukan sekadar prajurit, El. Dia bukan sekadar tukang masak."
Elara menatap Raka, lalu kembali menatap Bimo. Air mata juga menggenang di mata gadis itu. "Lalu siapa dia, Rak?"
Raka tersenyum tipis, bangga memiliki sahabat seperti Bimo.
"Dia penyelamat. Mungkin dia nggak bisa nyelamatin dunia dari alien atau monster mutan sendirian. Tapi hari ini... dia nyelamatin jiwa-jiwa kecil ini dari keputusasaan. Dia nyelamatin masa depan mereka cuma dengan semangkuk sup."
Kai, yang biasanya analitis dan dingin, mengusap hidungnya yang tiba-tiba gatal. "Statistik bilang satu mangkuk sup nggak bakal mengubah nasib mereka selamanya. Tapi... lihat wajah mereka sekarang. Statistik kadang salah ya."
"Mungkin," jawab Elara lembut. "Tapi setidaknya untuk malam ini, mereka punya rumah. Mereka punya keluarga. Dan itu semua karena Bimo."
Di tengah ruangan, Bimo melepaskan pelukan anak kecil itu dan mengusap air matanya dengan lengan baju. Dia tertawa kecil, sedikit malu menyadari teman-temannya menonton. Tapi Raka hanya memberikan acungan jempol dari jauh, senyumnya berkata: Lo hebat, Bim.
Bimo membalas dengan anggukan, lalu kembali melayani anak-anak lainnya. Dia tertawa lagi, kali ini tawa yang lepas, bercampur dengan isakan bahagia. Dia memasak lebih cepat, lebih semangat, seolah ingin menuangkan seluruh cinta yang tersimpan di hatinya ke dalam setiap suapan.
Malam itu, di Panti Asuhan Mentari Baru, tidak ada perang. Tidak ada radiasi. Tidak ada ketakutan akan hari esok. Hanya ada kehangatan sup, tawa anak-anak, dan air mata seorang raksasa baik hati yang akhirnya merasa pulang.
Dan bagi Raka, yang semakin sering merasakan partikel emas di tubuhnya beterbangan, pemandangan ini adalah pengingat pahit sekaligus manis. Bahwa dunia ini layak diperjuangkan. Bahwa ada hal-hal kecil yang begitu berharga hingga rela dikorbankan apa pun untuk melindunginya.
Bim, batin Raka, menatap sahabatnya yang kini menjadi pusat dunia bagi anak-anak itu. Aku janji. Selama aku masih bisa berdiri, nggak akan ada yang boleh mengambil kebahagiaan ini dari lo. Dari mereka.
Tapi janji itu terasa semakin berat seiring dengan berdenyutnya cahaya emas di bawah kulitnya. Badai semakin dekat. Dan Raka bertanya-tanya, apakah kehangatan sup Bimo akan cukup untuk melawan dinginnya takdir yang akan datang?
Untuk saat ini, biarkan mereka makan. Biarkan mereka kenyang. Karena besok, pertempuran sesungguhnya mungkin akan dimulai.
Bersambung...