NovelToon NovelToon
CEO Tengil VS Sekertaris Bar-bar

CEO Tengil VS Sekertaris Bar-bar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Single Mom
Popularitas:31.2k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Memasuki bangku kuliah dengan penampilan cupunya, membuat Ananda Ayunindia menjadi target empuk perundungan oleh Tristan Bratadikara dan komplotannya. Tak sekadar dibully, Ananda bahkan dijadikan bahan taruhan hingga berujung kehamilan. Hancur dan trauma, ia terpaksa melepas beasiswanya dan pergi menghilang.

Enam tahun berlalu. Ananda yang kini telah lulus kuliah dan menetap di Bandung, berhasil diterima bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan raksasa di Jakarta. Demi masa depan putra kecilnya dan sang ibu yang sudah renta, Ananda terpaksa kembali ke kota penuh memori kelam tersebut.

Siapa sangka, pimpinan tertinggi di perusahaan baru tempatnya bekerja adalah Tristan Bratadikara, pria yang dahulu menghancurkan hidupnya. Namun, Ananda yang sekarang bukan lagi gadis cupu yang bisa ditindas, ia telah bermetamorfosis menjadi wanita yang cantik, energik, dan pemberani. Akankah Tristan mengenali korbannya di masa lalu, atau justru bertekuk lutut pada sosok Ananda yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 11

Ananda tertegun selama beberapa detik. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa bertalu-talu di rongga dadanya. Sudut matanya sedikit bergerak, menunjukkan rasa gugup yang sempat tersirat, namun dengan cepat ia menarik napasnya dalam-dalam untuk menguasai diri. Ia harus menemukan alasan yang logis demi meyakinkan pria berwibawa namun berbahaya di hadapannya ini.

"Oh... itu," ucap Ananda, suaranya diatur agar terdengar senatural mungkin sambil menyentuh siku lengannya. "Saya menangis karena menahan rasa perih di siku saya ini, Tuan. Dorongan wanita tadi sangat keras. Terima kasih karena sudah mengobati luka saya."

Ananda segera membungkuk formal, lalu berbalik dengan cepat sebelum Tristan sempat melontarkan pertanyaan lanjutan. Begitu melangkah keluar dari ruangan megah tersebut dan menutup pintu jati di belakangnya, Ananda langsung menyandarkan punggungnya ke dinding dan mengusap dadanya yang kembang kempis.

‘Hampir saja ketahuan... Aku harus jauh lebih hati-hati lagi mulai sekarang. Monster itu sangat jeli,’ seru Ananda di dalam hati dengan peluh dingin yang mulai membasahi pelipisnya.

Di dalam ruangan, Tristan tidak serta-merta percaya begitu saja pada alasan sang sekretaris. Tatapannya masih tertuju pada daun pintu yang baru saja tertutup. Alasan karena rasa perih di siku terasa terlalu dangkal untuk air mata yang begitu emosional tadi. Mengingat nama lengkap sekretaris barunya, rasa penasaran Tristan kian membuncah.

Ia meraih ponsel pintarnya, lalu mendatangi nomor seseorang yang biasa ia gunakan untuk mengurus hal-hal rahasia.

"Selidiki latar belakang sekretaris baruku, Ananda Ayunindya. Cari tahu sedetail mungkin dari riwayat pendidikan, keluarga, hingga kehidupan pribadinya dalam enam tahun terakhir. Aku butuh laporannya segera," perintah Tristan dingin sebelum mematikan sambungan telepon.

Entah mengapa, ia merasa ada benang merah yang aneh. Nama belakang mereka sama, dan melihat gerak-gerik sekretarisnya itu seolah memaksa Tristan melihat bayangan si 'itik buruk rupa'. Dengan pikiran yang masih berkecamuk, Tristan kembali ke meja kerjanya untuk memeriksa berkas yang tertunda.

Di luar ruangan, Ananda sudah kembali duduk di meja kerjanya, mencoba fokus pada layar komputer. Namun ketenangannya terusik saat Kevin tiba-tiba datang dan mendudukkan diri di kursi kosong yang berada tepat di samping meja kerja Ananda. Pria itu menopang dagunya, menatap Ananda dengan pandangan yang mencoba menggali informasi lebih dalam. Sebagai wanita dewasa, Ananda tahu betul gelagat pria seperti Kevin yang sedang penasaran.

"Nanda... elo sebenarnya masih single atau udah nikah, sih? Tapi kalau dilihat dari body lo yang aduhai begini, kayaknya elo masih single ya?" tanya Kevin blak-blakan dengan cengiran khasnya.

Ananda yang merasa privasinya mulai terusik, ia mendengus kesal. Ia menghentikan ketikannya dan menoleh ke arah Kevin dengan tatapan datar.

"Maaf ya, Pak Kevin. Saya tidak bisa menceritakan soal urusan pribadi saya ke Bapak. Kalaupun Bapak memang sangat ingin tahu biodata saya, silakan cek saja di CV yang pernah saya kirimkan lewat email ke perusahaan ini," jawab Ananda tegas namun tetap profesional.

Mendengar ketegasan Ananda, mata Kevin justru berbinar antusias. Ia menepuk jidatnya sendiri. "Ah! Benar juga! Ngapain juga gue repot-repot tanya sama elo, Nan! Pinter juga lo."

Kevin langsung beranjak dari tempat duduknya dengan langkah seribu, bergegas pergi menuju ruangan HRD untuk mencari file tersebut. Ananda hanya bisa menggelengkan kepala dan menghela napas panjang melihat tingkah asisten pribadi bosnya yang menyebalkan sekaligus ajaib itu.

Tak lama setelah Kevin menghilang di belokan lorong, bunyi interkom di meja Ananda kembali menyala dengan nyaring.

Bzzzzz!

"Nanda, cepat kau suruh Kevin masuk ke ruangan ku sekarang, cepat!" perintah Tristan lewat interkom, suaranya terdengar tidak sabaran.

"Baik, Pak. Tapi Pak Kevin barusan sedang pergi keluar," jawab Ananda.

Klik!

Belum sempat Ananda menjelaskan ke mana Kevin pergi, sambungan telepon interkom itu langsung diputus secara sepihak dari dalam. Ananda mendengus kesal, menatap gagang telepon dengan perasaan dongkol yang tertahan.

"Ish... Kenapa tidak hubungi nomor ponselnya saja sih? Dasar Bos aneh, sukanya menyusahkan orang saja!" keluhnya pelan sambil bangkit dari kursi untuk mencari Kevin.

Baru saja Ananda melangkah beberapa meter, sosok Kevin muncul dari arah lift sambil berjalan lambat, matanya fokus menatap layar ponselnya dengan senyum-senyum sendiri.

"Pak Kevin! Di panggil sama Bos tuh, katanya sekarang!" ucap Ananda setengah berseru.

Kevin mendongak, lalu mengedipkan sebelah matanya dengan genit ke arah Ananda. "Oke, Na... Thanks ya!" ucapnya dengan senyum lebar, lalu melangkah santai memasuki ruangan sang CEO.

Ananda hanya bisa melempar senyum getir dan tatapan jengah melihat tingkat kepercayaan diri Kevin yang kelewat batas.

Begitu Kevin menapakkan kakinya di dalam ruang kerja Tristan, sambutan hangat sama sekali tidak ia dapatkan. Tristan langsung menegakkan tubuhnya dan mengomeli sang asisten dengan wajah ketus.

"Kau itu habis dari mana, hah?! Jam kerja malah keluyuran!" semprot Tristan.

"Maaf, Tuan. Saya... saya tadi habis dari ruangannya HRD," jawab Kevin terbata-bata, mencoba meredakan amarah bosnya.

Tristan menyipitkan matanya, menatap curiga. "Ngapain kau ke sana?"

Tanpa banyak bicara namun dengan wajah yang tampak bangga, Kevin menyodorkan layar ponselnya ke hadapan Tristan. "Ini, Tuan. Saya habis mengambil file digital dokumen CV milik Sekretaris Ananda."

Melihat foto wajah cantik Ananda beserta nama lengkapnya terpampang di layar ponsel Kevin, detak jantung Tristan mendadak berdesir aneh. Dengan gerakan kilat, Tristan langsung merebut ponsel milik Kevin dari genggamannya, mengabaikan protes kecil dari sang asisten demi membaca setiap baris biodata wanita yang mulai mengusik ketenangannya itu.

Tristan menatap lekat-lekat layar ponsel Kevin yang kini berada di genggamannya. Netranya bergerak cepat menyusuri baris demi baris informasi yang tertera pada CV digital milik Ananda. Foto profil wanita itu tampak begitu anggun dan berkelas, sangat kontras dengan kolom status pernikahan yang tertulis di bawahnya.

"Ternyata Ananda itu sudah menjadi janda ya, Tuan. Malang sekali nasibnya... Masih muda sudah menjadi janda," celetuk Kevin yang berdiri di depan meja, menyuarakan rasa ibanya dengan wajah melas. Namun di dalam hati, Kevin justru bersorak.

‘Tapi gak apa-apa janda juga, yang penting statusnya bukan istri orang! Masih ada kesempatan buat gue!’ batinnya mantap.

Sementara itu, Tristan terdiam sejenak. Tangannya yang memegang ponsel perlahan menurunkan gadget tersebut ke atas meja. Ada sebongkah rasa kecewa sekaligus penolakan yang mendadak menghantam dadanya.

‘Sepertinya wanita ini bukanlah si itik... Aku yakin si itik masih mencintaiku dan tak mungkin menikah dengan orang lain. Dia pasti masih menungguku di luar sana,’ batin Tristan, mencoba menyangkal segala kemiripan yang ia rasakan sejak kemarin.

Kendati demikian, entah mengapa intuisinya tetap menolak percaya begitu saja. Tristan tetap pada rencana awalnya, yakni menunggu laporan dari orang kepercayaannya untuk menguliti habis latar belakang Ananda.

*

*

Menjelang sore hari, jam pulang kantor telah lewat dan area kantor perlahan mulai sepi. Karyawan Bratadikara Group satu per satu sudah bubar meninggalkan gedung. Kini, tinggal Ananda yang berdiri seorang diri di area lobi yang luas.

Ia menatap keluar kaca besar dengan perasaan campur aduk. Hujan deras yang mengguyur Jakarta sejak siang tadi tak kunjung reda, membuat suasana sore itu terasa kian menggelap. Sialnya lagi, aplikasi taksi online di ponselnya terus-menerus menampilkan animasi pencarian pengemudi yang tak kunjung membuahkan hasil.

Tak lama kemudian, pintu lift VIP berdenting. Tristan melangkah keluar dengan setelan jasnya yang masih rapi, diikuti Kevin yang setia membawakan tas kerjanya. Langkah kedua pria itu terhenti saat mendapati sekretaris baru mereka masih tertahan di lobi.

"Lho, Nanda? Kamu masih di sini?" tanya Kevin heran, langsung menghampiri Ananda yang sedang berdiri.

"Iya, Pak. Saya sedang memesan taksi online, tapi dari tadi belum dapat juga," ucap Ananda lemas.

Tepat setelah ia menyelesaikan kalimatnya, ponsel di tangannya bergetar. Sebuah panggilan dari sopir taksi yang baru saja menerima pesanannya masuk. Namun, alih-alih kabar baik, si sopir justru mengabarkan bahwa jalurnya terjebak macet total akibat beberapa titik jalanan ibu kota mulai tergenang air luapan banjir. Dengan berat hati, sang sopir meminta Ananda untuk membatalkan pesanan. Ini sudah kedua kalinya Ananda terpaksa membatalkan orderan sore ini.

Tristan yang sejak tadi berdiri diam memperhatikan ekspresi frustrasi di wajah Ananda mendadak bersuara.

"Ikut mobilku. Biar Kevin yang mengantarmu pulang."

Ananda tersentak. Rasa gengsi dan kebenciannya pada Tristan langsung berontak. "Tidak usah repot-repot, Tuan. Mungkin sebentar lagi taksi yang lain..."

"Sudah, jangan kebanyakan ngomong!" potong Tristan cepat dengan nada suara yang meninggi. "Aku tidak mau sampai besok kau masuk telat atau malah izin absen dengan alasan sakit karena kehujanan hari ini. Ingat, besok kita ada pertemuan penting dengan klien besar dan kau harus ikut jamuan makan siang bersamaku, Ananda!"

"Tapi, Tuan..."

"Tidak ada tapi-tapian, ini perintah!" potong Tristan lagi, kali ini dengan kilatan emosi yang kentara di matanya, jelas sekali tidak suka dibantah.

Ananda menghela napas pasrah. Di situasi darurat seperti ini, ia tidak punya pilihan lain jika ingin cepat sampai rumah dan bertemu Elvano. "Baik, Tuan. Terima kasih," jawabnya kaku. Sementara di samping mereka, Kevin langsung tersenyum bahagia, kegirangan karena membayangkan pada akhirnya bisa satu mobil dan mengobrol santai dengan sekretaris cantik itu.

Mereka bertiga berjalan beriringan menuju area drop off lobi yang terlindung dari hujan. Mobil sedan mewah milik Tristan sudah terparkir rapi di sana. Tristan langsung membuka pintu belakang dan masuk ke dalam.

Melihat momen itu, Kevin dengan sigap dan penuh pesona membukakan pintu depan bagian penumpang, berharap Ananda akan duduk di sampingnya selama perjalanan. "Silakan masuk, Tuan Putri," goda Kevin dengan senyum lebar.

Namun, baru saja Ananda hendak melangkahkan kakinya mendekati kursi depan, suara berat dari dalam mobil jok belakang mendadak menegur dengan ketus.

"Nanda! Siapa yang suruh kau duduk di depan bersama dengan Kevin? Kau duduk di belakang, biar Kevin fokus mengemudi tanpa perlu diganggu oleh obrolan kalian!" bentak Tristan dari dalam mobil.

Mendengar teguran menohok itu, wajah Kevin yang semula sumringah langsung berubah masam seketika. Rencananya untuk tebar pesona gagal total. Ananda pun mendengus jengkel, merasa ruang geraknya kembali dikontrol oleh sang bos monster. Dengan berat hati, ia memutar langkah dan terpaksa duduk di jok belakang, tepat di samping Tristan, menyisakan keheningan yang mendadak terasa begitu canggung di dalam kabin mobil yang mulai melaju membelah rintiknya hujan.

Bersambung...

1
Les Tary
ha ha ha kevin kalah saing😍😍
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Nar Sih
hahaha kasihan kmu vin ,lihat merka ciuman jdi ternoda deh😂😂
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Curse//Curse//Curse/
total 1 replies
Nar Sih
gak ush dgr kta orang nanda ,anggap aja angin lalu
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul 😊
total 1 replies
Teh Euis Tea
kasian Kevin layu sebelum berkembang ya vin, udah sm aku aj ya 🤭🤭🤭🤭🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: oalah, blatung nangka... pecicilan ya kak si Kevin 😂😂😂
total 3 replies
Nar Sih
pasti sdh gk sbr ingin ketemu terus dgn putra mu juga pujaan hti mu ya tristan☺️
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul sekali kak🤭
total 1 replies
Nar Sih
kini satu maaf sdh kau dpt tristan dri ibu mila tinggal langkah selanjut nya💪
Nar Sih
gak usah dgr kata orang nanda ,yg penting diri kita
Nar Sih
alhamdulilah sdh terungkap semua☺️
Lilis Ilham
ahirnya tercapai juga cinta pertama😍😍😍
Lilis Ilham
aku ada disini tuan Tristan😄
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Teh Euis Tea
tetangga kepo, tukang ngerumpi ga ada kerjaan bgt
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: berarti gk dimana-mana ya kak, malah sekarang sudah trend bapak-bapak ikut jadi tukang gosip juga /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
Ilfa Yarni
hahahaha terciduk kalian kasian kevin patah hati sebelum berkembang hahaha
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Curse//Curse//Curse/
total 1 replies
Sri Rahayu
ditunggu lanjutan nya Thorr 😘😘😘
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: lanjut besok ya kak 😉
total 1 replies
Teh Euis Tea
huhhh mulai dah pada julid, bilang aj iri sm Nanda ya ibu ibu
Teh Euis Tea
Nanda mirip ayu Ting Ting klu LG meluk Tristan 😁
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: oalah, kok bisa 😊
total 1 replies
Teh Euis Tea
huhhh lagi lagi si Bella biang keroknya, enaknya di gantung x ya biar kapok
Teh Euis Tea
ada rahasia apa si dre? jd penasaran ini
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: iya kak gpp, ikh selow aja sama aku mah 😉😊
total 3 replies
Nar Sih
semoga dgn kejujuran dan terbongkar nya mslh ini nanda bisa memaaf kan semua
Nar Sih
mkin pensaran dgn rahasia yg kau simpan andre
Nar Sih
semoga ini pertemuan yg akan membawa ananda dan putra nya bahagia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!