NovelToon NovelToon
Aku Ini Istrimu

Aku Ini Istrimu

Status: sedang berlangsung
Genre:KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Penyesalan Suami
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author:

Aku nggak pernah membayangkan kalau gaun putih ini bakal terasa seberat rantai besi. Menikah dengan Bara Adiwangsa bukan mimpi indah yang jadi nyata, tapi awal dari sandiwara panjang yang nggak tahu kapan selesainya.

Bara itu suamiku, tapi dia yang paling sering bikin aku merasa nggak berharga. Dia bisa bersikap manis di depan orang tuanya, lalu berubah jadi orang lain yang kasar saat dia bersamaku.

Capek? Banget. Karena suamiku mungkin berpikir dia bisa menginjak-injak harga diriku hanya karena dia merasa telah "membeliku". Dia bisa saja menatapku dengan jijik, mengacuhkanku seolah aku hanyalah pajangan mati di pojok ruangan. Dia bisa memuja masa lalunya atau mencari pelarian pada orang lain, tapi ada satu kenyataan pahit yang tidak akan pernah bisa dia hapus, sekeras apa pun dia mencoba.

"Tatap aku, Bara. Hina aku sesukamu, tapi jangan pernah lupa satu hal... Aku Ini Istrimu."

Bab 11 Perasaanku Tidak Baik

"Halo..."

Suara Bara terdengar di ujung telepon, ia mengecilkan volume musik mobilnya. Suasana di meja makan seketika hening, semua mata tertuju pada ponsel Renata yang tergeletak di tengah meja.

Renata menarik napas, mencoba menjaga suaranya agar tetap tenang meski dadanya bergemuruh. "Kamu lagi di mana, Mas? Jam segini kok belum pulang juga? Di sini Papa, Mama, Om Chandra, terus Reno, dan Tante Rika sudah nungguin kamu buat makan malam."

Di seberang sana, Bara sempat terdiam sejenak. Ia melirik wanita di sampingnya yang sedang tersenyum licik sambil memainkan ujung rambut. Dengan nada yang dibuat seolah-olah sedang sangat lelah, Bara akhirnya menjawab.

"Duh, maaf banget, Ren. Aku nggak bisa pulang dulu malam ini. Sumpah... ini dadakan banget, soalnya ada urusan proyek yang bermasalah dan aku harus meluncur berangkat ke luar kota sekarang juga," ucap Bara mantap.

Mendengar kata 'luar kota', suasana di ruang makan langsung berubah tegang. Papah Baskoro yang sedari tadi menahan sabar, kini tak bisa lagi membendung emosinya. Wajahnya memerah, tangannya terkepal di atas meja.

"Sini, kasih ponselnya ke Papa!" pinta Papah dengan nada tegas yang tak bisa di bantah.

Renata dengan tangan gemetar menyodorkan ponsel itu ke arah mertuanya. Begitu berpindah tangan, suara menggelegar Baskoro langsung memenuhi ruangan.

"Halo, Bara! Apa-apaan kamu ini?!" bentak Papah.

Di ujung telepon, Bara tersentak. Suaranya mendadak gagap dan bergetar hebat. "I-iya, Pa... Halo..."

"Kamu ini kenapa tidak ada kabar dari sore? Orang rumah semuanya pada cariin kamu! Kamu ini... bikin semua orang khawatir, terutama istrimu! Kenapa baru sekarang kamu ngabarin?!" semprot Papah tanpa ampun.

Bara menelan ludah, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. "Maaf, Pa... beneran maaf. HP-ku tadi lowbat total dan baru aktif sekarang, baru bisa di-charge juga. Terus ini beneran darurat, Pa. Kalau Papa nggak percaya aku ada kerjaan di luar kota, tanya aja sama Reno. Dia tahu kok kalau urusan ini memang nggak bisa ditunda!"

Mendengar namanya disebut sebagai "jaminan" kebohongan, Reno yang sedang memegang gelas air mineral hampir saja menjatuhkannya. Ia membeku, menatap Om Baskoro dengan wajah kaku.

Baskoro terdiam sejenak, matanya yang tajam kini beralih menatap Reno yang sedang duduk mematung di depannya. Suasana di meja makan menjadi sangat mencekam, hanya suara detak jam dinding yang terdengar seolah menghitung detik-detik kehancuran sandiwara mereka.

"Iya, Reno emang udah bilang kalau kamu ada urusan kerja! Tapi kenapa baru sekarang ngabarin kalau kamu mau ke luar kota?!" semprot Papah lagi, suaranya naik satu oktav hingga membuat suasana meja makan makin mencekam. "Apa susahnya kasih kabar sebentar ke Papa atau istrimu? Kamu itu laki-laki, apalagi udah berumah tangga! Emang kamu nggak ada khawatir-khawatirnya sama orang ya?!"

Bara di seberang telepon terdengar semakin menciut. Suaranya memohon-mohon, mencoba meredam amarah sang ayah. "Iya, Pa... Bara minta maaf banget baru bisa bilang sekarang. Kan tadi Bara udah jelasin, HP-nya mati total dan baru bisa di-charge di mobil. Ini beneran mendadak, Pa."

Melihat napas Baskoro yang mulai memburu karena emosi, Nyonya Sarah yang duduk di samping suaminya, ia segera mengelus lengannya. Mencoba menenangkan keadaan agar acara makan malam keluarga ini tidak hancur total.

"Sudah, Mas... sabar. Yang penting anak kamu udah bisa dihubungi dan kita tahu dia di mana," ucap Nyonya Sarah lembut.

Ia lalu mengambil alih ponsel dari tangan Baskoro dan berbicara langsung pada putranya. "Yaudah, Bara. Kamu hati-hati di sana. Lain kali, jangan diulangi lagi ya, kalo sempet kamu harus kabarin orang rumah dulu ya," ucapnya dengan nada tenang.

Namun, di balik suara lembutnya itu, batin Nyonya Sarah berkecamuk. Sebagai seorang ibu, ia memiliki insting yang kuat. Ia tahu persis ada yang tidak beres dengan nada bicara anaknya. Ia tahu apa yang sebenarnya sedang dilakukan Bara di luar sana, tapi ia memilih untuk menutupinya demi menjaga martabat keluarga di depan iparnya, Chandra dan Rika.

Baskoro menghela napas panjang, mencoba membuang sisa kekesalannya. "Yaudah, hati-hati di sana!" ketusnya singkat sebelum akhirnya memutuskan panggilan.

Pip.

Layar ponsel Renata kembali gelap. Kesunyian melanda meja makan selama beberapa detik. Renata hanya bisa menunduk, menatap piringnya yang masih bersih. Ia merasa dadanya sesak—bukan hanya karena kebohongan Bara, tapi karena ia tahu mertuanya pun sebenarnya sedang bersandiwara.

"Nah, sekarang udah jelas? Kalo Bara belom bisa datang," ucap Om Chandra mencoba mencairkan suasana. "Ayo, ayo, keburu dingin ini rendang masakan Bi Sumi sam Mbak Sarah. Kita mending makan dulu, baru kita lanjutin lagi obrolannya."

Renata mencoba tersenyum paksa, meski hatinya terasa hancur berkeping-keping. Ia tahu, di luar sana, suaminya mungkin sedang menertawakan kebodohan mereka semua.

Sementara di dalam mobil yang masih terparkir di pinggir jalan, Bara mengembuskan napas panjang, ia berhasil membuat alesan, sehingga orang rumah pun pada percaya.

Maya, yang sejak tadi menyimak dengan senyum kemenangan, mengelus lengan Bara dengan manja. "Good job, sayang. Emang kamu paling pinter kalau buat alasan. Papa kamu sampai percaya gitu," pujinya dengan nada suara yang rendah dan menggoda.

Bara terkekeh pelan, rasa bangga menyelimuti dirinya karena berhasil mengelabui ayahnya yang keras itu. "Iya dong, ini semua demi kamu, sayang. Aku nggak mau waktu kita diganggu terus sama mereka," jawab Bara sambil mengecup dahi Maya singkat.

Bara kemudian menyalakan mesin mobilnya kembali, lampu dasbor menyala menerangi wajah mereka berdua. "Terus, sekarang kita ke mana lagi, sayang? Masih mau jalan-jalan?"

Maya menatap Bara dengan tatapan yang sulit diartikan, lalu ia bertanya balik dengan nada manja, "Emang kamu maunya ke mana lagi?"

"Yah... kalau aku sih sejujurnya maunya istirahat. Capek juga seharian kita udah keliling," jawab Bara jujur sambil meregangkan otot lehernya yang kaku.

Mendengar kata istirahat, mata Maya langsung berbinar. Sebuah ide muncul di kepalanya. "Kalau begitu, gimana kalau kita staycation aja di hotel yang waktu itu? Kamu ingat, kan?"

Bara terdiam sejenak, mencoba mengingat-ingat sebelum akhirnya tersenyum lebar. "Oh, hotel yang itu ya? Yang pemandangannya langsung ke arah kota?"

"Nah, itu kamu ingat!" seru Maya senang. Ia segera menyandarkan kepalanya di bahu Bara, merasa sudah memenangkan hati pria itu sepenuhnya malam ini. "Di sana kita bisa istirahat tenang tanpa ada yang ganggu, cuma kita berdua deh, pokonya... beres. "

Bara mengangguk setuju, ia memutar kemudi dan mulai melajukan mobilnya menuju hotel mewah yang dimaksud. Di kepalanya, ia sama sekali tidak membayangkan bahwa di rumah sana, Renata sedang menatap piring makannya dengan hati yang hancur, dikelilingi oleh keluarga yang sedang ia bohongi demi harga diri suaminya yang sedang bersenang-senang dengan wanita lain.

Tepat pukul 19:35 WIB, mobil Bara berhenti di basement hotel mewah. Kemudian mereka turun bersaman, lalu berjalan santai, seolah tidak ada beban dosa yang tertinggal. Sesampainya di meja resepsionis, Bara memesan satu kamar untuk semalam. Petugas hotel menyerahkan sebuah kartu akses berwarna emas dengan nomor kamar 027 yang berada di lantai dua.

Langkah kaki mereka meredam di atas karpet tebal koridor hotel. Begitu kartu ditempelkan, pintu kamar 027 terbuka lebar. Wangi aromaterapi melati langsung menyambut mereka.

Bara, yang memang merasa pusing dan cape setelah seharian bersandiwara, langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur Ia mengembuskan napas panjang, menatap langit-langit kamar dengan perasaan lega yang luar biasa. Tak lama kemudian, setelah pintu tertutup rapat. Maya menyusul, berbaring di sampingnya sambil menopang dagu dengan tangan, menatap Bara dengan tatapan penuh.

"Akhirnya... bisa rebahan," gumam Bara. Tangannya bergerak perlahan, mengelus rambut Maya dengan lembut, lalu turun menyentuh pipi wanita itu.

Maya tersenyum manja, ia membiarkan tangan Bara megelus wajahnya. "Kamu capek banget ya, Sayang? Maafin aku ya kalau hari ini ngerepotin kamu..."

Bara menggeleng pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. "Nggak apa-apa. Selama itu buat kamu, aku pasti usahain. Kamu tahu kan, kalo kamu ada di dekat aku... aku merasa bener-bener nyaman."

Maya semakin merapatkan tubuhnya, menyandarkan kepalanya di dada bidang Bara yang masih terbalut kemeja yang sedikit kusut. "Sama aku juga, aku nggak bisa hidup kalau aku tanpa kamu. Rasanya kehidupan aku itu sepi banget... Ish."

Bara mengeratkan pelukannya, menghirup wangi parfum Maya yang selalu berhasil membuatnya mabuk kebayang. Di dalam kamar yang kedap suara ini. Hanya ada mereka berdua, diiringi suara pendingin ruangan yang berdesis halus, menciptakan suasana yang perlahan-lahan mulai membeku.

Waktu tak terasa  jam sudah menunjukkan pukul 20:00 WIB. Jamuan makan malam yang penuh sandiwara itu akhirnya usai. Di depan pagar rumah yang menjulang tinggi, Baskoro dan Menantunya berdiri berdampingan, melambaikan tangan saat mobil keluarga Om Chandra  perlahan menghilang di tikungan jalan.

Setelah suasana jalanan kembali sunyi, mereka berdua melangkah masuk kembali ke dalam rumah yang mendadak terasa terlalu luas dan sepi tanpa kehadiran Bara.

Baskoro menghela napas panjang sambil membetulkan letak kacamatanya. "Kayaknya suami kamu nggak bakal pulang malam ini, Renata," ucapnya dengan nada gusar.

"Papa yakin kalau udah jam segini, dia pasti malas banget nyetir balik ke rumah. Alasannya takut ngantuk di jalan, dan malah lebih milih menginap di hotel."

Nyonya Sarah yang sedang merapikan taplak meja makan menyahut dengan nada menyindir yang halus, "Ya memang begitu kebiasaan anak kamu, Mas. Persis sama kayak Papanya kalau udah urusan kerja, kelarnya tengah malam pasti milih tidur diluar, emang tipe laki-laki yang nggak sayang istri."

Mendengar perdebatan kecil mertuanya, Renata segera menengahi dengan suara lembut yang menenangkan. "Nggak apa-apa kok, Pa, Ma. Justru malah bagus kalau Mas Bara nggak maksain buat pulang malam ini. Kalau dia pulang dalam keadaan ngantuk berat, Renata malah takut nanti ada apa-apa di jalan. Bahaya kan kalau nyetir dalam keadaan ngantuk."

Baskoro menoleh ke arah menantunya, raut wajahnya yang tadi tegang seketika melunak. Ada binar kebanggaan di matanya melihat betapa dewasa dan perhatiannya Renata terhadap suaminya.

"Pinter emang menantu Papa ini. Selalu mikirin keselamatan suaminya dulu daripada egonya sendiri," sahut Papah sambil menepuk bahu Renata pelan. "Bara itu beruntung sekali punya istri sesabar kayak kamu, Renata."

Renata hanya tersenyum, senyuman tipis di bibirnya, sebuah lengkungan hambar yang menyimpan ribuan duri di dalamnya. Ia hanya bisa menunduk saat mertuanya melontarkan pujian setinggi langit, padahal di dalam dadanya, kesabaran yang ia pupuk selama ini sudah hampir habis, mengering hingga ke akarnya.

Langkah kaki Papah Baskoro dan Nyonya Sarah bersamaan, membawanya ke sebuah kamar, hingga akhirnya suara pintu kamar mereka tertutup rapat. Seketika itu juga, keheningan yang menyesakkan langsung menyergap ruang tengah. Renata kini benar-benar sendirian, terduduk di sofa panjang yang terasa terlalu luas. Matanya menatap kosong ke arah ponsel yang tergeletak pasrah di atas meja, benda mati yang masih saja bungkam, tidak memberikan tanda-tanda kehidupan sedikit pun dari suaminya.

Kesunyian itu pecah saat adik iparnya, muncul dari balik pilar ruang tengah dengan langkah santai namun penuh maksud. Ia berhenti tepat di depan Renata, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Lo kenapa, Kak? Kayaknya.... lagi sedih banget ya?" tanya Siska. Nadanya terdengar seperti peduli, tapi ada selipan sinis yang tak bisa ia sembunyikan.

Renata tersentak, lalu buru-buru memasang wajah datar. "Nggak kok, gue biasa aja."

Siska mendengus, sebuah tawa kecil yang mengejek keluar dari bibirnya. "Cih... kasihan banget... Suaminya belum pulang juga," ketus Siska sambil melipat tangan di dada.

Renata hanya diam, mencoba menahan emosinya agar tidak meledak di depan adik iparnya yang memang selalu mencari gara-gara itu adik iparnya. Namun, kalimat Siska selanjutnya benar-benar membuat jantung Renata mencelos.

"Kayaknya... gue tau deh, Kak Bara lagi dimana?" tanya Siska sambil mencondongkan badannya, menatap Renata dengan tatapan penuh rahasia.

Renata mengerutkan kening, mencoba terlihat tidak tertarik meski hatinya berdebar kencang. "Sok tahu banget lo. Kaya tahu aja lo ini."

Siska tertawa puas melihat keraguan di wajah Renata. "Lah, justru gue yang tahu di mana Kak Bara sekarang. Gue tahu Kak Bara sama siapa di luaran sana, nggak kayak lo yang cuma bisa nungguin kabarnya doang," ucap Siska dengan nada penuh kemenangan.

Setelah berkata seperti itu, Siska langsung berbalik dan berjalan santai menuju kamarnya.

"Siska! Tunggu! Maksud lo apa?!" panggil Renata dengan suara yang sedikit meninggi, ia berdiri dari sofanya hendak mengejar.

Renata mematung di tengah kesunyian ruang tengah yang mendadak terasa mencekam. Bunyi pintu kamar Siska yang tertutup keras masih terngiang di telinganya, membawa serta keraguan yang kini membakar dadanya. Kalimat Siska barusan bukan sekadar gertakan; ada nada kemenangan di sana yang membuat bulu kuduk Renata meremang.

Tanpa pikir panjang, ia menyambar ponselnya di atas meja. Jemarinya yang gemetar segera mencari kontak suaminya. Ia tidak akan menunggu lagi. Renata menekan tombol panggil, menempelkan ponsel itu ke telinganya sambil mondar-mandir gelisah, menunggu nada sambung yang terasa abadi.

Di saat yang bersamaan, tepat di bawah remang lampu kamar 027, nada dering yang sama memecah momen intim yang baru mau mulai. Sebab ponsel di atas meja itu bergetar hebat, lampunya berkedip-kedip menampilkan nama "Renata" di tengah kegelapan. Maya, yang posisinya sudah berada di atas tubuh Bara, ia melirik layar itu dengan tersenyum licik. Merasa tidak terganggu, justru malah merasa ini adalah tantangan baginya.

Dengan gerakan cepat, Maya meraih ponsel tersebut. Bukannya menolak panggilan, ia justru menggeser ikon hijau untuk menerima panggilan itu. Ia menempelkan ponsel tersebut tepat di telinga Bara, memaksanya untuk mendengarkan suara istrinya sendiri di tengah situasi yang tak semestinya dia dengar.

Sambil membiarkan sambungan telepon itu terbuka lebar, tangan Maya mulai mengelus paha Bara dengan gerakan lihai, naik perlahan hingga menyentuh milik pria itu yang kini mulai menegang hebat di bawah sentuhannya.

Bara membeku, napasnya tertahan di tenggorokan saat mata predator Maya menatapnya tepat di depan wajah. Di saat yang sama, suara cemas Renata meluncur keluar dari pengeras suara telepon, menembus gendang telinganya.

1
Nanda
salam kenal yah...
neng aja
bintang 5 buat renata hehehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!