NovelToon NovelToon
CEO DINGIN ITU MEMANJAKANKU

CEO DINGIN ITU MEMANJAKANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nacha Adhi

Sejak usia sembilan tahun, Naura harus menelan pahitnya hidup. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia diasuh Paman Surya dan Bibi Rina yang tidak mampu namun terobsesi pada kemewahan. Naura sering disiksa dan dimanfaatkan, dipaksa bekerja keras demi menghidupi dirinya sendiri dan membiayai sekolah. Meski demikian, ia tumbuh menjadi gadis yang kuat, jujur, dan cerdas hingga berhasil lulus kuliah.

Bekerja di sebuah perusahaan swasta pun tidak membuat hidupnya lebih mudah. Atasan iri memfitnahnya, sementara paman dan bibinya terus memeras gaji dengan ancaman. Saat dipecat secara tidak adil dan berjalan dalam kesedihan, ia hampir tertabrak mobil mewah milik Aldo Pratama—CEO muda yang dingin, berwibawa, dan disegani banyak orang. Pertemuan tak terduga itu mengubah segalanya.

bagaimana kisah menarik selanjutnya... ???? lanjut bacanya sampai akhir yaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Perjuangan Menembus Batas

Waktu terus berjalan, dan lima tahun telah berlalu sejak kejadian ketika Bibi Rina memaksanya berhenti bekerja di warung. Kini, Naura telah berusia empat belas tahun. Ia tumbuh menjadi gadis yang memiliki postur tubuh ramping, dengan wajah yang mulai memancarkan kecantikan alami meski sering tertutup debu dan lelah akibat bekerja keras setiap hari. Kulitnya yang kecokelatan karena sering terpapar sinar matahari justru membuatnya terlihat sehat dan kuat, sementara matanya yang besar dan jernih selalu memancarkan semangat yang tak pernah padam meski sering dihadapkan pada kenyataan yang pahit.

Seperti yang diancamkan oleh Bibi Rina, Naura benar-benar harus berhenti bekerja di warung makan dan mulai bekerja sebagai pembantu di rumah seorang pengusaha kaya yang tinggal di perumahan elit tidak jauh dari kota. Pagi-pagi sekali, sebelum matahari terbit dan udara masih terasa dingin menusuk tulang, Naura sudah harus bangun. Ia membersihkan rumah papan tempat tinggalnya dengan cepat, menyiapkan sarapan sederhana untuk Paman Surya dan Bibi Rina—yang biasanya hanya berupa nasi putih dan sedikit sambal—sebelum berjalan kaki sejauh empat kilometer menuju tempat kerjanya.

Rumah tempat ia bekerja sangat kontras dengan rumahnya sendiri. Bangunannya besar, kokoh, dan terlihat megah dengan halaman yang luas dipenuhi bunga-bunga berwarna-warni. Namun, kemewahan itu tidak membuat Naura merasa nyaman. Majikannya, Bu Lestari, adalah wanita yang sangat tegas, teliti, dan seringkali bersikap dingin. Ia mengawasi setiap gerak-gerik Naura, memastikan tidak ada satu pun sudut rumah yang terlewatkan dari pembersihan, dan seringkali memarahi Naura karena hal-hal kecil yang menurutnya tidak sempurna.

"Naura, lihatlah! Kaca jendela ini masih ada bekas airnya! Kamu bekerja dengan tidak hati-hati!" bentak Bu Lestari suatu sore, sambil menunjuk ke arah kaca jendela yang sebenarnya sudah terlihat bersih dari pandangan orang biasa.

Dengan napas yang tertahan, Naura segera mendekat dan memeriksa kaca tersebut. "Maaf, Bu. Saya akan membersihkannya kembali sampai benar-benar bersih," jawabnya dengan suara lembut namun tegas, tidak ada nada protes sedikit pun. Ia sudah terbiasa dengan perlakuan seperti ini. Baginya, yang terpenting adalah ia bisa mendapatkan uang untuk membayar biaya sekolahnya dan memenuhi tuntutan Paman serta Bibinya.

Hari-hari Naura dijalani dengan rutinitas yang hampir sama setiap harinya. Ia bekerja dari pagi hingga sore, membersihkan seluruh bagian rumah, mencuci pakaian, menyetrika, hingga membantu menyiapkan makan malam. Setelah selesai bekerja, ia harus berjalan kaki pulang sambil membawa selembar amplop berisi gaji yang sebagian besar sudah ditentukan untuk diserahkan kepada Bibi Rina. Sesampainya di rumah, ia tidak bisa langsung beristirahat. Masih ada pekerjaan rumah tangga yang harus diselesaikan sebelum ia akhirnya bisa duduk di sudut ruangan, menyalakan lampu minyak yang remang-remang, dan membaca buku pelajaran hingga larut malam.

Suatu hari, saat menerima gaji bulanan dari Bu Lestari, Naura merasa hatinya sedikit lega. Gaji bulan ini sedikit lebih banyak dari biasanya karena ia mendapatkan bonus atas kerja kerasnya selama sebulan. Dalam hatinya, ia berencana untuk menyisihkan sebagian kecil uang itu untuk membeli buku tulis baru yang sudah mulai tipis dan rusak. Namun, harapan itu segera pudar saat ia tiba di rumah dan disambut oleh tatapan tajam Bibi Rina yang sudah menunggunya di teras.

"Bagaimana? Sudah terima gajimu? Cepat berikan semuanya!" perintah Bibi Rina tanpa basa-basi, tangannya sudah terulur ke depan.

Dengan hati yang berat, Naura menyerahkan amplop itu. Namun, sebelum Bibi Rina sempat menghitungnya, Naura dengan berani berkata, "Bibi, bolehkah Naura menyisihkan sedikit saja? Naura butuh membeli buku tulis dan alat tulis lainnya untuk sekolah. Yang ini sudah rusak semua." Ia menunjukkan buku tulisnya yang halamannya sudah terlipat-lipat dan sampulnya sudah sobek di beberapa bagian.

Mendengar permintaan itu, wajah Bibi Rina langsung berubah menjadi marah. Ia meremas amplop itu dengan kasar lalu berteriak, "Buku tulis? Itu hal sepele! Kami butuh uang ini untuk membayar utang ke warung dan membeli baju baru untuk pesta besok. Kamu bisa meminjam buku temanmu atau menulis di kertas bekas! Jangan banyak menuntut!"

"Tapi Bibi..."

"Cukup! Jangan membantah! Ingat, kamu hidup dan makan dari kami. Semua yang kamu dapatkan adalah milik kami juga!" potong Bibi Rina dengan nada mengancam. Ia kemudian mengambil sebagian uang itu dan melemparkan selembar uang kertas bernilai kecil ke lantai. "Ini cukup untukmu. Jangan harap lebih banyak!"

Naura menunduk dalam, menahan air matanya agar tidak tumpah. Ia mengambil uang itu dari lantai dengan tangan gemetar. Ia tahu, berdebat lebih lama hanya akan membuatnya mendapatkan amukan yang lebih hebat. Namun, di dalam hatinya, tekadnya semakin menguat. Ia tidak akan membiarkan keadaan mematahkan semangatnya untuk bersekolah. Ia akan mencari cara lain untuk mendapatkan uang tambahan.

Keesokan harinya, sepulang bekerja, Naura tidak langsung pulang. Ia berkeliling lingkungan perumahan tempat ia bekerja, menawarkan jasanya untuk membantu tetangga yang membutuhkan bantuan. Ada yang memintanya mencuci pakaian, membersihkan halaman, atau bahkan mengantar pesanan makanan. Bayarannya tidak seberapa, tapi bagi Naura, setiap rupiah sangat berharga. Dengan cara ini, perlahan namun pasti, ia berhasil mengumpulkan uang yang cukup untuk membeli buku tulis dan alat tulis yang dibutuhkannya.

Tiga tahun berlalu dengan perjuangan yang tak kenal lelah. Kini, Naura telah berusia tujuh belas tahun dan baru saja lulus dari Sekolah Menengah Atas dengan predikat terbaik di sekolahnya. Ia berhasil mendapatkan beasiswa penuh untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri ternama di kota tersebut. Kabar ini membuatnya sangat bahagia, namun sekaligus membuatnya khawatir. Ia tahu, Paman dan Bibinya pasti akan menentang rencananya untuk kuliah karena mereka menginginkannya bekerja penuh waktu agar bisa memberikan lebih banyak uang.

Benar saja, saat ia menyampaikan kabar itu kepada Paman Surya dan Bibi Rina, reaksi mereka sangat buruk.

"Kuliah? Untuk apa? Sudah cukup sekolah sampai SMA! Lebih baik kamu bekerja di pabrik atau kantor, gajinya pasti lebih besar dan bisa kami gunakan untuk memperbaiki kehidupan kami!" kata Paman Surya dengan nada tegas.

"Betul kata pamanmu. Kuliah itu memakan waktu bertahun-tahun dan tidak ada jaminan kamu akan sukses. Kami butuh uang sekarang, bukan nanti!" tambah Bibi Rina dengan wajah tidak setuju.

"Tapi Paman, Bibi... ini kesempatan emas. Saya dapat beasiswa jadi tidak perlu membayar uang sekolah. Saya juga tetap bisa bekerja paruh waktu untuk membantu biaya hidup. Kalau saya lulus kuliah nanti, saya bisa bekerja dengan gaji yang lebih besar dan pasti bisa membantu kalian lebih banyak lagi," jelas Naura dengan suara bergetar namun penuh keyakinan. Ia berusaha meyakinkan mereka, berharap mereka bisa memahami masa depannya.

Namun, Paman dan Bibi tetap tidak bergeming. Mereka mengancam akan mengusir Naura dari rumah jika ia tetap bersikeras untuk kuliah. Malam itu, Naura menangis sendirian di sudut kamarnya yang sempit. Ia merasa terjebak. Di satu sisi, ia sangat ingin melanjutkan pendidikan untuk mengubah nasibnya, namun di sisi lain, ia tidak memiliki tempat tinggal lain selain rumah ini.

Setelah bermalam-malam memikirkan keputusan yang harus diambil, akhirnya Naura memutuskan untuk tetap melanjutkan kuliahnya. Ia sadar, ini adalah satu-satunya jalan yang bisa membebaskannya dari belenggu penderitaan selama ini. Keesokan harinya, dengan hati yang tegar namun sedih, ia memberitahu keputusannya kepada Paman dan Bibinya.

"Maafkan saya, Paman, Bibi. Saya tetap akan kuliah. Saya berjanji akan tetap bekerja dan memberikan sebagian uang saya untuk kebutuhan rumah, tapi saya tidak akan berhenti belajar," ucap Naura dengan suara mantap.

Mendengar itu, kemarahan Paman dan Bibi meledak. Mereka memarahi Naura dengan kata-kata kasar, menyebutnya anak tidak tahu berterima kasih, dan mengancam akan memotong segala bentuk bantuan. Namun, Naura tidak mundur. Ia mulai mencari pekerjaan paruh waktu yang lebih fleksibel, bekerja sebagai kasir di kafe dan membantu mencatat pembukuan di toko kelontong. Hidupnya menjadi sangat padat—kuliah di pagi hingga siang hari, bekerja di sore hingga malam hari, lalu baru belajar hingga larut malam.

Meskipun sangat lelah dan seringkali harus menahan lapar karena uang yang didapatnya seringkali harus diserahkan kepada Bibi Rina, Naura tidak pernah menurunkan prestasinya. Ia selalu menjadi mahasiswa terbaik di kelasnya, membuat para dosen sering memujinya dan mengagumi ketabahannya. Teman-teman sekelasnya ada yang merasa kasihan, namun banyak juga yang memandangnya rendah karena penampilan dan latar belakangnya yang sederhana.

Namun, hal itu tidak membuat Naura merasa minder. Ia tahu siapa dirinya dan apa yang sedang ia perjuangkan. Ia terus melangkah maju, membawa harapan di dalam hatinya bahwa suatu hari nanti, semua perjuangan ini akan terbayar lunas. Ia belum menyadari bahwa perjalanan hidupnya akan segera memasuki babak baru, ketika ia akan bertemu dengan seseorang yang kelak mengubah seluruh takdirnya—seseorang yang saat ini masih hidup di dunia yang sangat berbeda, di balik tembok gedung pencakar langit dan kemewahan yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.

1
elfanaya 💞
kamu udh dpt gaji mending keluar dari rumah yg berasa seperti neraka itu
Kim Borahae
seru😍. semangat terus ya 💪

Btw, saya pun baru mula menulis novel kalau ada masa boleh tinggalkan komen. Tinggal tekan profile saja, terima kasih /Joyful/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!