NovelToon NovelToon
Terpaksa Menjadi Istri Sang Miliarder

Terpaksa Menjadi Istri Sang Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

Hidup Arumi hancur saat ayahnya terjerat utang besar kepada keluarga konglomerat Wijaya. Untuk melunasi utang tersebut, ia terpaksa menikah dengan Renard, sosok miliarder dingin yang dikenal kejam dan penuh rahasia. Bagi Renard, Arumi hanyalah alat untuk memenuhi tuntutan keluarga. Namun, di balik topeng arogan dan gengsinya, Renard menyimpan sisi lembut yang ia sembunyikan dari dunia, termasuk hobi rahasia yang tidak sengaja terbongkar oleh Arumi. Tanpa Renard sadari, Arumi adalah sosok penyelamat masa kecil yang selama ini ia cari. Mampukah Arumi mencairkan hati sang miliarder sebelum masa kontrak pernikahan mereka berakhir dan rahasia masa lalu terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Kontrak yang Menjerat

Arumi masih mematung di ambang pintu. Angin malam yang berembus masuk melalui celah yang terbuka terasa menusuk pori-pori kulitnya, namun ia nyaris tidak merasakannya karena rasa dingin yang jauh lebih pekat kini tengah menjalar dari dalam hatinya.

"Menikah?" bisik Arumi, suaranya terdengar bergetar hebat. "Apakah ini sebuah lelucon yang kejam? Saya bahkan tidak mengenal siapa Tuan Muda Anda secara pribadi. Tidak masuk akal jika orang sekuat beliau membutuhkan saya."

Pria berjas yang mengaku sebagai pengacara keluarga Wijaya itu sama sekali tidak mengubah ekspresi wajahnya. Ia hanya melirik jam tangan peraknya sekilas, lalu meletakkan dokumen bersampul kulit itu di atas meja kecil di dekat pintu.

"Tuan Muda tidak memerlukan perkenalan emosional, Nona Arumi. Pernikahan ini murni transaksi bisnis. Beliau membutuhkan seorang istri yang latar belakangnya bisa dikendalikan sepenuhnya untuk meredam desakan keluarga besarnya, dan Anda membutuhkan uang tiga puluh miliar untuk menyelamatkan hidup Anda. Simbiosis mutualisme yang sangat rasional," jelas sang pengacara dengan nada datar. "Saya tinggalkan draf kontrak ini. Tuan Muda menunggu kedatangan Anda di kantor pusat Wijaya Group besok pagi tepat pukul sepuluh untuk penandatanganan final. Jika Anda tidak datang, eksekusi penyitaan akan langsung dijalankan."

Pengacara itu membungkuk sopan—sebuah formalitas yang terasa kosong—lalu berbalik pergi menembus kegelapan malam, diiringi oleh kedua pengawalnya. Suara deru mesin mobil mewah yang perlahan menjauh meninggalkan Arumi dalam kesunyian yang mencekam.

Arumi mengunci pintu dan kembali melangkah gontai ke dalam kamarnya. Ia duduk bersimpuh di atas lantai yang dingin, matanya menatap kosong ke arah layar laptop yang masih menyala. Di sana, kursor berkedip di akhir paragraf bab empat skripsinya yang membahas tentang dampak perilaku phubbing terhadap komunikasi antarmahasiswa. Sebuah penelitian yang sudah ia kerjakan mati-matian berbulan-bulan. Tenggat waktu pendaftaran yudisium sudah di depan mata, mengingatkannya bahwa ia sudah berada di semester akhir yang seharusnya menjadi garis finish perjuangannya.

Namun sekarang, memikirkan kelulusan terasa seperti lelucon yang menyedihkan. Gelar sarjana tidak akan bisa membayar tagihan rumah sakit ibunya yang semakin menumpuk, apalagi melunasi utang tiga puluh miliar peninggalan ayahnya. Arumi memejamkan mata. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh membasahi pipinya. Ia tidak punya pilihan lain. Takdir telah menyudutkannya ke tepi jurang terdalam, dan satu-satunya cara untuk tidak hancur berkeping-keping adalah dengan melompat ke dalam perangkap Sang Tuan Muda.

Keesokan harinya, matahari bersinar terik ketika Arumi melangkahkan kakinya memasuki lobi utama gedung pencakar langit Wijaya Group. Gedung raksasa berlapis kaca itu tampak seperti monster besi yang siap menelannya bulat-bulat. Suasana di dalam sana sangat sibuk namun kaku; puluhan karyawan berlalu-lalang dengan wajah tegang, seolah satu kesalahan kecil saja bisa berakibat fatal.

Seorang sekretaris wanita berwajah tegas mengantarnya naik lift khusus menuju lantai tertinggi, tempat di mana ruang eksekutif berada. Begitu pintu ganda berbahan kayu mahoni raksasa itu terbuka, Arumi disambut oleh ruangan yang sangat luas, bernuansa monokromatik yang dingin, dan dikelilingi jendela kaca yang menampilkan seluruh lanskap kota Jakarta dari ketinggian.

Di balik meja kerja marmer yang membentang luas, duduklah seorang pria dalam balutan setelan jas abu-abu gelap. Pria itu tengah fokus membaca sebuah laporan di tabletnya. Rahangnya kokoh, garis wajahnya tegas bak pahatan patung Yunani, dan rambutnya tersisir rapi tanpa satu helai pun yang berantakan.

Itu dia. Renard Wijaya.

"Duduk," perintah Renard tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tablet. Suaranya rendah, bariton, dan memancarkan aura otoritas mutlak yang membuat udara di sekitar Arumi mendadak terasa tipis.

Arumi menarik kursi kulit di hadapan meja kerja itu dengan hati-hati. Tangannya berkeringat dingin. Setelah beberapa detik yang terasa seperti keabadian, Renard akhirnya meletakkan tabletnya. Ia menatap Arumi dengan sepasang mata elang yang setajam silet. Tatapan itu terasa seperti sedang memindai setiap inci kelemahan Arumi, menelanjangi rasa takutnya.

"Kamu datang sepuluh menit lebih awal dari jadwal. Setidaknya kamu tahu bagaimana menghargai waktu orang lain," ucap Renard memecah keheningan. Ia membuka laci mejanya, mengeluarkan kontrak asli yang harus ditandatangani Arumi dan mendorongnya ke tengah meja beserta sebuah pena berukir emas.

"Sebelum kamu menandatanganinya, aku akan mempertegas aturan mainnya secara langsung," lanjut Renard, mencondongkan tubuhnya ke depan. "Pertama, pernikahan ini akan dilangsungkan secara tertutup akhir pekan ini. Kedua, selama satu tahun ke depan, namamu adalah milikku. Kamu akan tinggal di rumahku dan berperilaku layaknya Nyonya Wijaya yang terhormat di depan publik. Jangan pernah berbuat hal memalukan yang bisa merusak harga diriku."

Arumi menelan ludah, berusaha mengumpulkan suaranya yang seolah tercekat. "A-apakah setelah satu tahun... saya benar-benar bebas?"

Renard mendengus pelan, sebuah senyuman sinis tercetak di bibirnya. "Tentu saja. Aku tidak punya niat untuk menahan wanita sepertimu lebih lama dari yang kubutuhkan. Jangan pernah bermimpi untuk membangun ikatan emosional denganku di rumah itu. Kita hanya akan hidup di bawah atap yang sama sebagai dua orang asing yang terikat kertas bermeterai. Paham?"

Kalimat itu meluncur begitu dingin, menyayat harga diri Arumi. Namun, Arumi mengangkat dagunya perlahan. Ia mungkin miskin dan terpuruk, tapi ia tidak akan membiarkan pria arogan ini merendahkannya sepenuhnya.

"Saya paham, Tuan Renard. Saya juga tidak memiliki ketertarikan sedikit pun untuk mencampuri urusan pribadi Anda. Begitu utang ayah saya lunas, saya akan menjalankan peran ini sebaik mungkin sebagai bentuk profesionalitas," jawab Arumi dengan nada yang diusahakan setegas mungkin.

Renard tampak sedikit terkejut melihat kilat keberanian di mata wanita yang tampak kelelahan itu, namun dengan cepat ia menyembunyikannya di balik ekspresi datarnya.

"Bagus. Tanda tangani sekarang," perintahnya singkat.

Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Arumi mengambil pena emas itu. Dalam satu tarikan napas panjang, ia membubuhkan tanda tangannya di atas materai. Tanda tangan yang secara resmi menyerahkan kebebasannya ke dalam sangkar emas milik sang miliarder berdarah dingin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!