NovelToon NovelToon
Gagal Jadi Istri Gus, Dinikahi Kakaknya

Gagal Jadi Istri Gus, Dinikahi Kakaknya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mur Diyanti

Rela menunggu kepulangan seorang lelaki selama 5 tahun. Alisa harus dihadapkan dengan kenyataan pahit bahwa gadis yang akan Gus Hafidz nikahi, bukanlah dirinya.

Sebagai salam perpisahan terakhir, Alisa rela menjadi bridesmaid pengantin wanita sebelum ia memilih untuk pergi dari pesantren.

Namun ternyata, kakaknya, Zefano. Pria yang baru pulang dari luar negeri itu jatuh cinta pada Alisa pada pandangan pertama. Dan berusaha menjerat Alisa agar menjadi miliknya. Hingga melakukan hal diluar nalar demi menjadikan Alisa istri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mur Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rasa bersalah Hafidz

Mendidih langsung darah Fatimah. Tubuhnya terpaku, tatapan yang semula panik langsung berubah tajam.

"Apa kamu bilang?! Gus Hafidz ngelamar perempuan lain?! Lah terus hubungan kalian selama ini buat apa?!"

Alisa menggeleng lemah, merunduk dalam, tangisnya semakin nyaring dan menyayat hati. Membuat Fatimah yang mendengarnya ikut merasakan sesak yang sama.

Fatimah langsung menarik tubuh Alisa ke dalam pelukannya. Tak membiarkan temannya itu menahan sesak hatinya sendirian.

"Ya Allah...Kalo memang bukan Alisa tujuannya seharusnya jangan dikasi harapan lebih! 5 tahun itu bukan perkara lama doang, tapi juga harapan terakhir kamu ke masa depan. Kok bisa dia mengganti perempuannya segampang itu!" Seru Fatimah kesal.

"Ya Allah, Alisa? Fatimah Alisa kenapa menangis?!" Tanya Bu Hanna, pengurus santri putri. Berjalan cepat duduk di ranjang Alisa.

Alisa tak menjawab, ia terus menangis di pelukan temannya. Sementara Fatimah langsung menjelaskan semuanya. Bahkan beberapa santriwati yang baru pulang dari masjid ikut mendengarkan ucapannya.

"Ya Allah...Kasihan sekali kamu, Alisa." Lirih Bu Hanna, ikut berbela sungkawa, mengelus lengan Alisa lembut.

"Kok ya jahat banget gitu main ganti ngga bilang-bilang. Pulang-pulang langsung ngomong mau nikah sama yang lain." Ucap Nadira, ikut kesal.

"Kamu bener, Ra. Aku paling tau gimana Gus Hafidz dulu merjuangin Mba Alisa. Sampe jadi perbincangan hangat santriwati lho. Udah kaya cerita dalam novel-novel. Tapi endingnya malah begini." Imbuh Nanda, menatap Alisa cemas.

Semua orang merasakan hal yang sama. Mereka tau betul hubungan antara Alisa dan Gus Hafidz sedekat apa.

"Alisa, kamu disuruh menghadap Kiai di rumahnya."

Tubuh Alisa langsung menegang saat mendengar ucapan pengurus asrama yang lain, Mba Laila. Membuat aksi menangisnya terhenti.

Ia buru-buru mengusap air matanya cepat. Mencoba memasang wajah setenang mungkin. Membuat Fatimah dan yang lainnya menatap iba pada Alisa.

"Baik, Mba." Balasnya, buru-buru turun dari ranjang.

"Kamu yakin sanggup, Alisa." Lirih Fatimah khawatir, mengelus lengan Alisa lembut.

Alisa paksakan sudut bibirnya terbit, mengangguk kecil, "Iya, Insyaallah aku sanggup, Fatimah. Makasih yah, semuanya." Ucapnya, menatap semua teman-temannya. Membuat mereka semakin sedih dan cemas.

Alisa berjalan dengan langkah berat menuju rumah kediaman kiai pendiri pondok. Ia tahu betul perangai Kiai Hakim. Namun meski begitu, ia tetap memberanikan diri untuk menghadap. Tak perduli akan seperti apa nantinya.

"Asalamualaikum, Kiai. Alisa sudah saya jemput." Ucap Mba Laira, menggugupkan Alisa.

Kiai Hakim hanya mengangguk saja. Menatap datar Alisa yang masuk ke dalam ruang tamunya merunduk khidmat.

"Silahkan duduk, Alisa."

Saat Alisa mendongakkan kepala. Dadanya lagi-lagi seperti dihantam ribuan palu beton. Bagaimana tidak, disana, ia melihat Gus Hafidz, pria yang baru beberapa jam tadi membatalkan janji mereka. Duduk bersanding dengan seorang wanita yang begitu cantik disisinya. Menatap ke arahnya dengan senyuman penuh kemenangan.

Tubuh Alisa gemetar, meski begitu ia tetap memaksakan kakinya untuk terus melangkah. Memberi salam kepada orang-orang di ruang tamu itu.

"Asalamualaikum, Abah..." Yang diangguki datar oleh Kiai Hakim. Duduk dengan tenang di kursi yang dipersilahkan.

Alisa tatap nanar sosok Hafidz yang sengaja sekali tak ingin melihat ke arahnya. Alisa merunduk tenang, tak sanggup menahan tawa getirnya.

"Yah...siapa juga yang mau mengakui wanita lain di depan perempuan yang akan menjadi calon istrinya." Pikirnya dalam hati.

"Jadi....Alisa, kamu pasti sudah dengar kan kabar dari Hafidz. Ini dia, calon istri yang nantinya akan menemani Hafidz di pondok pesantren ini. Ning Anisa Alaydrus. Putri dari Kiai salah satu pendiri pondok pesantren di Malang." Ucap Kiai Hakim dengan datar.

Alisa tau betul, Kiai Hakim sedang menguji perasaannya. Memperlihatkan kasta mereka yang jauh berbeda.

Sedari awal, Kiai Hakim memang kurang menyetujui hubungan putranya dengan seorang yatim piatu yang dilancarkan orang tuanya di gerbang pondok.

Alisa mengangguk kecil, memaksakan senyum manisnya terbit, padahal bahunya gemetar hebat, menahan tangis agar tidak luruh.

Alisa beranikan diri menatap sepasang pria dan wanita yang sebentar lagi akan menjadi suami istri.

"Selamat yah, Gus Hafidz dan Ning Anisa." Ucapnya dengan bibir gemetar.

Hafidz tatap Alisa gugup. Dalam hati, ia merasa tak tega sekaligus sedih. Bukan seperti ini sebenarnya ending yang dia inginkan. Namun apapun boleh buat, keputusan Abah sudah mutlak, dan tidak bisa diganggu gugat.

"Terimakasih, Alisa." Jawab Hafidz ragu-ragu.

Kiai Hakim mengangguk-angguk saja. Sejauh ini, akting mereka berdua cukup baik di depan putri teman seperguruannya.

"Yasudah, Hafidz. Berhubung sudah malam. Antarlah Ning Anisa ke rumahnya. Abah takut, Kiari Banjari khawatir putrinya tidak kunjung pulang." Ucap Kiai Hakim, tersenyum ke arah Ning Anisa.

Demi apapun. Rasanya benar-benar sakit. Sangat berbeda respon Kiai Hakim pada Alisa dan Anisa. Meski begitu, apa yang bisa ia perbuat?

Pada akhirnya, Alisa hanya bisa tersenyum getir dan menerima takdirnya dengan lapang dada.

"Baiklah kalo begitu, saya izin undur diri, Abah Yai.... Asalamualaikum." Lirihnya bangkit, merunduk hormat sebelum akhirnya memilih keluar dari tempat yang menguras tenaganya itu cepat.

Hafidz tatap Alisa gugup. Buru-buru bangkit, menoleh cepat ke arah Kiai Hakim, "Abah, aku izin keluar—"

"Hafidz!" Bentak sang Abah, mendelik tajam. Mengurungkan niat Hafidz untuk memberontak, "Antar Ning Anisa pulang." Finalnya.

Akhirnya Hafidz mengangguk pasrah. Bangkit dari duduknya bersama calon istrinya, Anisa. Mengantarnya pulang.

"Anu, Anisa. Saya izin ke toilet sebentar yah." Lirihnya.

Anisa mengulum senyum tipis, mengangguk ramah, "Iya, Mas. Hati-hati." Jawabnya lembut, yang segera di angguki oleh pria itu.

Hafidz segera pergi dari sana. Meninggalkan Anisa sebentar di mobilnya.

Sepanjang jalan, netranya celingukan mencari sosok Alisa. Dalam hati ia merasa salah besar sekali. Ia benar-benar tidak tenang sebelum menemui gadis itu.

"Ahh! Itu dia!" Hafidz segera berlari saat melihat Anisa berjongkok di tempat sepi, bersandar pada dinding sembari membenamkan wajahnya pada tangan yang terlipat di atas lutut.

Langkah Hafidz melemah. Ia yang semula ingin memanggil dengan intonasi tinggi. Sontak terhenti saat mendengar isakan gemetar dari gadis di ujung sana.

"Alisa..." Lirihnya tercekat, menatap cemas sosok gadis yang dulu berhasil mendobrak pintu hatinya itu.

"Alisa...." Panggilnya lirih saat sudah di depan Alisa.

Mendengar suara pria yang sedang ia fikirkan. Alisa sontak bangkit, buru-buru mengusap air mata tanpa menatap ke arah lawan bicaranya.

"Gus Hafidz, ngapain kesini? Lebih baik anda tidak menemui saya. Saya tidak mau dilihat orang dan di cap perempuan penggoda lelaki yang akan menjadi suami orang."

Hafidz yang khawatir itu sontak menyentuh bahu Alisa. Namun dengan cepat gadis itu tepis.

"Jaga perilaku anda, Gus! Apa kata orang nanti jika melihatnya!" Seru Alisa, mundur menjauh.

Alisa yang kini di hadapannya benar-benar gadis asing. Alisa yang Hafidz kenal, selalu bertutur lembut dan menatap matanya saat berbicara. Namun sekarang, gadis itu mampu berkata ketus, dan tak mau menatap matanya. Membuat Hafidz dilanda gundah gulana.

"Alisa, aku tau kamu sakit gara-gara aku. Sebenarnya aku tadi sudah melarang Abah untuk memanggilmu, tapi—"

"Yang berlalu biarlah berlalu, Gus. Lebih baik anda pergi sekarang. Jangan sampai Ning Anisa lihat dan salah paham tentang kita berdua. Saya pamit, Asalamualaikum."

"Alisa...! Alisa..!"

Alisa terus berlari tanpa menggubris panggilan Hafidz. Memang seharusnya seperti ini. Mereka tidak boleh dekat apalagi mengobrol di tempat sepi begini. Bagaimanapun, mereka bukan lagi sepasang manusia yang saling mengharapkan. Hafidz—akan menjadi milik orang lain.

1
falea sezi
pergi sejauhnya biar suami. goblok mu klo uda inget pasti kelabakan🤣 sebel liat laki oon gini pengen tak timpuk🤭 lanjut banyak thor q ksih hadiah deh
Dynhz: hihihi masyaallah, makasih banyak sayang🤗🤗
total 1 replies
falea sezi
pergi aja Alisa biar klo dia inget mampus uda telat🤣 laki. goblok gini males bgt bkin Alisa pergi thor biar gk kayak ikan terbang
Dynhz: hhhi siap, aku juga klo jadi Alisa pergi sih😭
total 1 replies
Winny
👍
AsLan 🦁
diawal-awal udah bagus makin kesini makin pret kaya sinetron ikan terbang, basiiii
Dynhz: maaf yah kalo cerita saya kaya ikan terbang😁🙏🏻makasih sudah mampir😁🙏🏻
total 1 replies
AsLan 🦁
preeeetttlaaaghh
falea sezi
yaa kemana si zafano😕 msak hanyut nanti amnesia lagi😕
falea sezi
lanjut donk
Dynhz: uwokeee😍👍
total 1 replies
falea sezi
jahat bgt si hafiz makan aja itu ning nong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!