Sebuah trauma kelam di usia dua belas tahun mengubah hidup Lova sepenuhnya. Sejak kejadian mengerikan itu, ia menderita fobia akut yang membuatnya ketakutan setengah mati, bahkan hanya untuk sekadar berdekatan atau disentuh oleh seorang pria. Baginya, semua pria adalah ancaman.
Sampai akhirnya, takdir mempertemukannya dengan Arnold, seorang psikiater genius dengan reputasi mentereng. Berbeda dengan pria lain, pembawaan Arnold yang sedikit gemulai justru memberikan rasa aman yang tak pernah Lova rasakan sebelumnya. Arnold menjadi satu-satunya pria di dunia ini yang bisa menyentuh kulit Lova tanpa memicu kepanikannya.
Demi menyembuhkan trauma Lova secara total dan sah di mata hukum, Arnold mendesak sebuah keputusan nekat: *Pernikahan Medis*.
Sebuah pernikahan yang menutupi alasan sebenarnya, menikahi wanita penuh trauma bahkan tak dicintai.
Bagaimana kedok psikiater pecinta lagu India ini? Apakah ia berhasil menyembuhkan Lova? Atau ia sendiri terjebak dalam rencana yang ditutup rapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Kehadiran Pria Masa Lalu
20 tahun kemudian
Tok
Tok
Tok
Pintu dibuka oleh wanita paruh baya. Di sana tampak wanita yang memilih duduk meringkuk bersandar di kepala ranjang.
"Za—eh, maksud Mama, Lova..." wanita paruh baya itu langsung mengoreksi panggilannya. Semenjak kejadian itu, putrinya menolak dipanggil dengan panggilan masa kecilnya. Nama yang selalu mengingatkannya pada malam hujan paling mengerikan dalam hidupnya.
Namun, tak ada reaksi berarti dari sang putri yang masih mengunci diri tak menanggapi kehadirannya.
"Lova ... Ayolah ... Mama mohon padamu. Ini udah yang keenam kalinya. Ingat umurmu! Kamu itu sudah tidak bisa dikatakan gadis belia lagi!" ucap sang ibu terlihat putus asa.
Di sisi lain tepat di ambang pintu, tampak sedang berdiri pria berpakaian rapi memeluk buket bunga yang sangat indah. Ia menatap ibu dari wanita yang ingin dipinangnya, memberikan senyuman tipis menandakan bahwa dirinya baik-baik saja.
"Nak Teddy, tante minta maaf ya. Semenjak Lova diculik dulu, ia menjadi gadis pemurung. Ia takut, pada lelaki. Dan, di usianya yang sudah menginjak 32 tahun ini, kamu adalah lelaki keenam yang datang ke rumah ini untuk mempersuntingnya."
Dalam beberapa waktu, Teddy diam mengamati wanita yang memang ia perhatikan semenjak masa SMA dulu. Dalam bayangannya, terulas kenangan di saat gadis bernama Zarisha Allova itu yang selalu menyendiri.
Setiap ada siswa laki-laki mendekat, wajahnya menjadi semakin dingin, sorot matanya berubah waspada penuh ketakutan, akhirnya memutar badan dan pergi.
Setelah ia kembali dari pendidikan di luar negeri, ia sungguh merasa lega, cinta pertamanya ternyata masih sendiri hingga hari ini. Kali ini, Teddy tak ingin hanya menjadi lelaki diam yang hanya memandangnya dari jauh.
Bertahun-tahun berlalu, tetapi Zarisha Allova masih terlihat sama. Masih sunyi, masih rapuh, dan masih menjaga jarak dengan dunia.
"Tante, apa boleh saya berbicara berdua dengan Lova?"
Kepala Lova yang sedari tadi tertunduk, kini mulai terangkat memerhatikan sosok bersuara berat yang asing. Kedua mata pun bertemu dan Teddy mengulas senyum tulus padanya.
"Hai," sapa Teddy ringan.
Kening Zarisha mengerut, refleks kepalanya menggeleng cepat. "Kenapa ada laki-laki di sini?"
"Loh? Masa kamu lupa? Ini Teddy loh? Teman sekolahmu dulu," sela sang ibu.
"Teddy?" gumam Lova pendek.
Nama itu terasa samar di kepalanya. Namun perlahan, potongan-potongan masa putih abu-abu mulai muncul dalam ingatannya. Setiap hari, ada saja yang unik di meja kelasnya. Terkadang ada cemilan favoritnya yang tak pernah ia ungkapkan kepada siapa pun. Terkadang ada gelang unik dan pernak-pernik remaja yang ia sendiri tak pernah beli.
Dan ia tahu semua itu diberikan oleh siswa lelaki yang tak pernah menampakkan dirinya.
"Itu Teddy yang naruh," ucap Veny, teman sebangkunya.
Hari ini, ia datang ke rumah ini dengan membawa buket bunga. Senyum gugup terlihat jelas meski ia berusaha tampak tenang.
"Teddy? Dari kelas sebelah?" celetuknya memastikan.
Teddy sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu. "Apa kamu mengingatku?" umpannya gugup.
Perlahan, pertahanan Lova mulai mengendur. Kaki yang tadi terlipat di di dada, kini perlahan terbuka.
Lova mengangguk pelan. “Tentu saja aku ingat,” jawab Lova lirih.
Suara itu begitu pelan hampir tak terdengar meski suasana kamar itu terasa sunyi. Namun, jawaban itu cukup membuat Teddy melebarkan mata tak percaya.
Sudah bertahun-tahun ia membayangkan kemungkinan terburuk. Bahwa dirinya hanyalah lelaki asing yang pernah diam-diam memiliki rasa yang takut ia ungkapkan. Hanya bisa menatap Zarisha Allova dari kejauhan. Mungkin juga, segala perhatian kecil yang ia beri, tak pernah dianggap ada.
Namun, nyatanya ... dia masih mengingatnya.
Teddy tersenyum kecil. “Aku kira kamu benar-benar lupa.”
Lova tak langsung menjawab. Tatapannya justru beralih pada buket bunga di tangan pria itu.
“Mama yang nyuruh kamu datang?”
Pertanyaan polos itu membuat Teddy terkekeh pelan.
“Bukan.” Ia menggeleng cepat. “Aku datang karena keinginanku sendiri.”
“Untuk apa?”
“Melihatmu kembali.”
Jawaban itu membuat kening Lova kembali mengerut. Jujur saja, ia tak mengerti alasan masih saja ada lelaki yang mau bertemu dengannya.
Ia terlalu dingin. Terlalu aneh. Terlalu sulit untuk dekat dengan siapa pun.
“Kenapa? Aku ini tak sama dengan yang lain. Aku ... aku ...,” Lova kembali terdiam. Ia tak tahu harus mengatakan apa pada seorang pria, yang selalu berusaha untuk jauh.
Di ambang pintu, sang ibu hanya bisa menahan napas. Tak biasa, putrinya bersedia berbicara selama ini dengan lelaki yang datang menemuinya. "Sepertinya, mereka akan baik-baik saja," ucap sang ibu meninggalkan mereka.
Teddy menarik napas pendek sebelum melangkah perlahan mendekat. Namun, ia tahu, gadis putih abu-abu dulu, adalah orang yang sama dengan wanita yang ada di hadapannya saat ini. Ia memastikan jarak, agar Lova tak merasa risih karena kehadirannya.
“Kamu tak perlu mengatakan apa pun. Apa pun tentang dirimu, aku tahu.”
Lova mendongak perlahan.
“Yang pasti aku juga tahu, kamu itu bukan perempuan jahat.”
Sunyi kembali memenuhi kamar itu.
Lova menggigit bibir bawahnya pelan. Kalimat sederhana itu justru membuat dadanya terasa sesak. 'Apakah ada pria yang bisa memahami aku? Apa selama ini aku salah menganggap semua laki-laki itu jahat?' batinnya.
“Oh, iya ... Aku juga tahu kamu telah menjadi seniman yang hebat," ucapnya Teddy berusaha mencairkan suasana.
Lova menatap Teddy langsung ke bola matanya. Ia menggeleng pelan. “Bukan. Lukisan itu hanya sekedar isi dalam pikiran yang tak mampu aku ungkapkan."
Teddy perlahan menaruh buket bunga yang sedari tadi ia peluk, di sisi Lova. "Oh, sekarang aku mengerti maksud lukisanmu itu."
“Kamu memang suka menggambar semenjak dulu," tambahnya.
Untuk pertama kalinya, mata Lova berbinar di hadapan lawan bicaranya. Meski hanya sedikit, pertahanannya mulai runtuh tanpa ia sadari.
Namun belum sempat suasana menghangat—
Bruk!
Di luar pintu, tampak kantung hitam terjatuh. Melihat benda itu, membuat tubuh Lova refleks menegang hebat.
Napasnya langsung terasa sesak.
Matanya langsung melebar panik.
Bahu wanita itu bergetar sebelum tanpa sadar mendorong Teddy menjauh darinya.
“Lova?” Teddy langsung tampak kebingungan.
“Ja-jangan mendekat!” pekik Lova. Wajah teduh milik Teddy tadi, segera berubah seperti pria yang dulu menyakitinya.
Sang ibu buru-buru masuk ke kamar. “Astaga... ada apa lagi ini?”
Namun Lova kembali meringkuk menutup kedua telinganya kuat-kuat.
Wajahnya pucat.
“Karung hitam...” gumamnya gemetar. “Ja-jangan masukan aku ke sana lagi! Jangan ... Tolong!"
kalau memang kamu udah ga bisa sembuhin lova
lepas aja lah🥹
judulnya terapi cantik ku yg rupawan
itu aja Thor
gemulai mah... terlalu klise😍😍
jadi bayangin
aduuh ternoda dah pikiran aye cyiiin🤣🤣🫣
lova si udah mulai sembuh
ga terlalu perlu lu juga si...
tapi gimana yaaa???
keplak kali palanya biar balik normal🤣🤣
cyiin nya diilangin🫣🤣🤣
geplak lagi ninpake anduk
vote otw ka😍
kyk korban pelecehan
🫣🤣🤣🤣