NovelToon NovelToon
Misteri Sekolah Warisan

Misteri Sekolah Warisan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:167
Nilai: 5
Nama Author: Mustaqimah

Keinginan untuk menuntut ilmu di tempat terbaik membawa Elara, siswa berprestasi, menjejakkan kaki di Hantage School Academy—sekolah elit yang megah namun menyimpan aura dingin dan misterius. Berkat beasiswa penuh, ia merasa beruntung bisa bersekolah di sana, namun kebahagiaan itu segera berganti dengan ketakutan. Sejak hari pertama, Elara kerap mengalami hal-hal tak wajar: bisikan-bisikan tak kasat mata, bayangan gelap, dan kejadian mengerikan yang seolah menargetkan dirinya.

Bersama tiga sahabat barunya, Elara mulai menyelidiki asal-usul teror yang terjadi. Jejak demi jejak membawa mereka pada rahasia kelam masa lalu sekolah tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mustaqimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2-Teman Baru

Ternyata, gadis ceria di hadapannya ini bernama lengkap Keisha Aurelia Santoso. Siapa sangka, di balik tingkahnya yang lucu dan ramah, dia adalah putri tunggal dari keluarga super kaya, Keluarga Santoso, yang memiliki banyak perusahaan properti besar di kota ini. Meski lahir dari keluarga berada, Keisha sama sekali tidak memiliki kesan sombong seperti siswi-siswi lain yang tadi dilihat Elara.

"Oh iya, aku Elara salam kenal," kata Elara dengan sopan menjabat tangan Keisha.

"Oh ya, El! Kamu masuk ke kelas berapa nih?" tanya Keisha lagi.

Elara mengangkat bahu, wajahnya terlihat sedikit bingung. "Gak tahu nih, Kei. Aku belum dapet jadwal resmi. Makanya aku mau cari ruang Kepala Sekolah dulu buat verifikasi data dan minta surat pengantar ke kelas. Tapi... sekolahnya gede banget ya, aku jadi bingung mau cari ke mana."

Keisha terkekeh mendengarnya. "Hahaha iya lah, ini sekolah segede istana lho. Orang baru mah pasti nyasar. Ya udah gampang! Kamu bareng sama aku aja yuk! Kebetulan aku juga mau ke lantai 5 mau ambil surat izin juga nih."

"Wah, beneran? Nggak ngerepotin?" tanya Elara sungkan.

"Ah apaan sih, ngerepotin apanya! Lagian aku juga lagi seneng akhirnya nemu temen baru yang mukanya ramah gini," jawab Keisha ceria. "Yuk, jalan! Kita naik lift aja biar cepet. Ruangannya ada di lantai paling atas."

"Makasih banyak ya, Keish. Kamu baik banget," ucap Elara tulus.

"Santai aja, dong! Yuk ah!"

Mereka berdua pun berjalan menyusuri koridor utama yang sangat panjang itu. Keisha tampak sangat antusias menunjukkan sekeliling sekolah kepada Elara, layaknya seorang pemandu wisata.

"Nah itu lho, El, sebelah kiri itu Perpustakaan Besar. Buku-bukunya lengkap banget, sampe buku kuno ratusan tahun lalu juga ada. Tapi jangan berani-berani ribut di sana, penjaganya galak," cerita Keisha sambil menunjuk sebuah pintu ukir besar.

"Wah, keren banget," gumam Elara takjub.

"Terus yang di ujung sana itu Aula Besar dan Studio Musik. Fasilitasnya canggih semua. Pokoknya apa yang uang bisa beli, di sini ada semua," lanjut Keisha lagi. "Eh tapi hati-hati ya, banyak banget sudut-sudut sepi di sekolah ini. Katanya sih angker, tapi aku sih nggak percaya hahaha."

Elara hanya tersenyum mendengar ocehan Keisha yang tak henti-henti itu. Kehadiran gadis ini benar-benar membuat suasana menjadi lebih ringan dan menghilangkan rasa gugup Elara.

Tak lama kemudian, mereka sampai di depan sebuah lift besar yang terbuat dari kayu jati dan kaca tempered yang sangat mewah. Pintu lift terbuka otomatis saat mereka mendekat.

"Mari silakan, Nona Elara," kata Keisha sambil membungkuk lucu seperti pelayan.

Elara tertawa lalu masuk ke dalam lift. Keisha menekan tombol angka 5.

Ding!

Pintu lift tertutup rapat dan mulai bergerak naik dengan sangat halus, hampir tidak terasa getarannya sama sekali.

"Jadi El, kamu dapat beasiswa penuh ya? Wah hebat banget sih! Aku aja masuk sini pake 'jalan tiket' orang tua, terus belajar mati-matian biar nggak dikeluarin," cerita Keisha lagi di dalam lift. "Tapi kamu tenang aja ya, kalau ada yang berani jahat atau nyindir kamu soal uang, laporin ke aku! Aku bakal marahin mereka! Walaupun aku agak penakut sih kalau udah soal hantu-hantuan, tapi soal temenan aku berani kok!"

Elara tersenyum lebar. "Makasih ya, Keish. Aku seneng banget bisa ketemu kamu pas hari pertama. Jadi nggak ngerasa sendirian deh."

"Yaiyalah! Mulai sekarang kita BFF ya! Best Friend Forever!" seru Keisha sambil mengacungkan jari kelingkingnya. "Janji ya, jangan tinggalin aku!"

"Iya, janji!" Elara menyambungkan kelingkingnya dengan kelingking Keisha.

Ding!

Tiba-tiba lift berhenti dan pintunya terbuka. Mereka sudah sampai di Lantai 5. Setelah keluar dari lift, mereka berjalan beberapa langkah hingga berhenti tepat di depan sebuah pintu besar yang terbuat dari kayu jati berukir indah. Di samping pintu itu terdapat sebuah tombol bel kecil.

Keisha dengan sigap menekan tombol tersebut.

Ting...

Suara bel terdengar lembut namun jelas. Tidak butuh waktu lama, suara berat dan berwibawa terdengar menjawab dari balik pintu itu.

"Masuk!"

Sreeet...

Pintu kayu itu terbuka secara otomatis dengan mekanisme yang halus. Elara dan Keisha pun saling pandang lalu melangkah masuk ke dalam.

Ruangan ini sungguh luar biasa. Luas, tinggi, dan sangat mewah. Perabotan di sini semuanya terbuat dari kayu berkualitas tinggi dengan desain klasik yang elegan. Di dinding tergang beberapa sertifikat dan piala bergilir, serta sebuah rak buku besar yang memenuhi satu sisi dinding.

Di tengah ruangan, terdapat meja kerja raksasa yang sangat rapi. Duduk di balik meja itu adalah Bapak Herman, Kepala Sekolah Hantage School Academy. Pria paruh baya itu baru saja meletakkan gagang teleponnya, tampaknya baru saja selesai melakukan pembicaraan penting.

"Permisi, Pak Herman," sapa Keisha sopan sambil sedikit membungkuk, diikuti oleh Elara di sebelahnya.

Pak Herman menatap mereka dengan tatapan teduh namun tegas. "Ada apa, Keisha?"

"Ini, Pak. Saya bawain surat izin donasi tahunan dari Papa saya," jawab Keisha ceria sambil menyerahkan sebuah amplop cokelat tebal ke atas meja.

Pak Herman mengambil amplop itu lalu tersenyum tipis. "Oke, oke. Kebetulan sekali, tadi saya baru saja menerima telepon dari Papa kamu. Eh, kamunya udah datang bawa fisiknya. Cepat sekali."

"Hehehe, iya dong. Biar cepat beres urusannya," jawab Keisha cengengesan. Lalu ia menepuk bahu Elara pelan. "Oh ya, Pak! Ini Elara. Dia murid baru yang dapat beasiswa penuh itu, Pak. Tadi aku ketemu di lobi, dia bingung nyari ruangan ini."

"Oh iya, iya. Saya tahu," sahut Pak Herman mengangguk-angguk. Matanya menatap Elara dengan pandangan yang sulit diterjemahkan—seolah ia sudah mengenal gadis itu sejak lama. "Mari silahkan duduk, Elara."

"Terima kasih, Pak," jawab Elara sopan. Ia pun segera duduk di kursi tamu yang empuk tepat di hadapan meja kerja Pak Herman, sementara Keisha berdiri di sampingnya setia menunggu.

"Pak, saya mau bertanya, saya masuk ke kelas mana ya?" tanya Elara langsung pada intinya.

"Hm, sebelum itu, apa kamu sudah membawa surat verifikasi data dan berkas administrasi dari rumah?" tanya Pak Herman.

"Iya, Pak. Sebentar ya," jawab Elara. Ia segera membuka resleting tas ranselnya, merogoh ke dalam, dan mengeluarkan sebuah map berwarna biru yang berisi dokumen-dokumen penting. Dengan hati-hati ia menyerahkannya kepada Bapak Kepala Sekolah.

"Baiklah. Kita cek dan verifikasi dulu ya datanya ke sistem, nanti baru ketahu kamu masuk di kelas dan jurusan mana," ucap Pak Herman.

Ia pun mulai memasukkan data-data dari surat tersebut ke dalam komputer canggih yang ada di hadapannya. Jari-jarinya yang gemuk mengetik dengan cepat di atas keyboard. Suara klik-klik dan tung-tung terdengar bersahutan di ruangan yang hening itu.

Elara duduk dengan tegap, tangannya ia lipat di atas pangkuan. Ia mencoba terlihat tenang, tapi jantungnya sebenarnya berdegup cukup kencang. Ia sangat berharap bisa satu kelas dengan Keisha agar tidak merasa kesepian.

"Sabar ya, El. Sistemnya lagi loading mungkin," bisik Keisha pelan di telinga Elara, berusaha menghibur.

"Iya, makasih Kei," balas Elara berbisik.

Layar komputer memproses data itu, Beberapa menit berlalu, suara ketikan keyboard akhirnya berhenti. Pak Herman menatap layar monitornya dengan senyum puas, lalu menoleh ke arah Elara.

"Nah, verifikasi data kamu udah lengkap dan selesai," ucap Pak Herman tegas. "Secara resmi, nama kamu sekarang tercatat sebagai siswa Hantage School Academy. Selamat ya, Elara."

"Alhamdulillah, terima kasih banyak, Pak!" seru Elara lega, senyumnya mengembang lebar. Beban di pundaknya terasa hilang seketika.

"Dan untuk penempatannya... kamu bakal masuk ke kelas XII - SCIENTIAE MAGISTER," lanjut Pak Herman.

Mendengar nama kelas itu, mata Keisha seketika berbinar-binar sangat terang. Ia langsung melompat kecil kegirangan sambil menepuk-nepuk bahu Elara dengan antusias.

"Wah! Serius, Pak? SCIENTIAE MAGISTER? Berarti kita SATU KELAS dong, El!!" teriak Keisha senang bukan main. "Horeee! Aku nggak sendirian lagi deh di kelas itu!"

Pak Herman tertawa kecil melihat tingkah laku Keisha yang ceria itu. "Iya, iya. Jadi nanti kamu tolong kasih tahu dia ya, Keish, apa aja pelajarannya, siapa saja temannya, dan gimana aturan di kelas. Bantu teman baru kamu ya."

"Siap, Pak Herman! Pasti aku jaga baik-baik!" jawab Keisha penuh semangat sambil memberi hormat lucu.

Namun, suasana sedikit berubah menjadi lebih serius saat Pak Herman kembali menatap Elara dengan tatapan tegas.

"Tapi ingat ya, Elara. Kelas Scientiae Magister itu adalah kelas unggulan, kelas terbaik di sekolah ini. Standarnya sangat tinggi. Kamu harus bisa mempertahankan nilai minimal 90 ke atas agar peringkatmu tetap A+. Kalau sampai kamu dapat nilai E atau F secara terus-menerus, maka aturan sekolah tetap berlaku: kamu dinyatakan gagal dan beasiswa kamu akan dicabut."

Elara mengangguk mantap, tidak sedikit pun terlihat gentar. Ia menatap balik mata Pak Herman dengan penuh keyakinan.

"Saya siap, Pak. Saya janji akan belajar sekeras mungkin dan tidak akan mengecewakan Bapak serta sekolah ini," jawab Elara lantang.

"Bagus. Saya suka semangat kamu," puji Pak Herman. Ia pun merogoh laci mejanya dan mengeluarkan beberapa benda penting.

"Ini, ID Card atas nama kamu," kata Pak Herman sambil menyerahkan sebuah kartu akses berwarna perak yang terlihat sangat eksklusif. "Kamu bisa pakai ini buat absen, buka loker, akses perpustakaan, dan pakai fasilitas apa pun di sekolah ini. Jangan sampai hilang ya, kalau hilang susah buat gantinya."

"Siap, Pak. Akan saya jaga baik-baik," ucap Elara menerima kartu itu dengan hati-hati lalu menyimpannya ke dalam dompetnya.

"Terus yang ini..." Pak Herman mengambil sebuah kartu kunci elektronik berbentuk persegi panjang. "Ini kunci akses buat kamar asrama kamu. Kamu ditempatkan di Asrama Putri Blok A. Kamu satu kamar sama Keisha dan satu lagi teman kita, namanya Dinda. Jadi bertiga sekamar."

"ASYIKKK!!" Keisha lagi-lagi bersorak, kali ini lebih keras. "Berarti kita sekelas, satu kamar juga! Asyik banget sih ini! Nanti malam kita bisa ngobrol lama-lama ya, El!"

Elara pun ikut tersenyum bahagia. Rasanya seperti mimpi, di tempat asing dan seram ini, ia justru mendapatkan kemudahan dan teman yang baik.

"Terima kasih banyak untuk semuanya, Pak Herman. Bapak sangat baik," ucap Elara tulus.

"Sama-sama. Sekarang tunggu sebentar ya, saya bakal teleponkan wali kelas kalian buat antar kamu ke kelas biar nggak nyasar," kata Pak Herman.

Ia pun segera mengangkat gagang telepon kuno yang terbuat dari kayu dan menekan nomor internal.

Tut... tut... tut...

"Halo, Bu Melda? Ya, ini saya Pak Herman. Tolong datang ke ruangan saya sebentar ya. Ada murid baru mau saya antar ke kelas XII-Scientiae Magister. Ya, terima kasih."

Pak Herman meletakkan kembali gagang teleponnya.

"Sudah ditelpon. Bu Melda sebentar lagi datang. Kalian tunggu saja di sini dengan tenang," perintah Pak Herman sambil kembali sibuk dengan tumpukan berkas di mejanya.

"Siap, Pak!" jawab Elara dan Keisha serempak.

Mereka pun duduk dengan rapi, menunggu kedatangan wali kelas mereka, sambil sesekali Keisha berbisik-bisik memberitahu hal-hal seru tentang sekolah itu kepada Elara, membuat suasana menjadi sangat akrab dan hangat.

Tidak butuh waktu lama, pintu ruangan kembali terbuka. Seorang wanita berpenampilan rapi dan anggun melangkah masuk. Ia mengenakan setelan blazer warna navy blue yang disesuaikan dengan seragam, rambutnya diikat kuncir kuda sangat rapi, dan wajahnya terlihat tegas namun tetap ramah. Itu adalah Bu Melda, Wali Kelas untuk jurusan unggulan.

"Permisi, Pak Herman," sapa Bu Melda sopan sambil sedikit membungkuk.

"Oh, Bu Melda. Tepat sekali," jawab Pak Herman. Ia menunjuk ke arah Elara. "Ini Elara, murid baru yang tadi saya bicarakan. Dia masuk di kelas Ibu, XII - Scientiae Magister."

Elara segera berdiri dan menyapa dengan sopan. "Selamat pagi, Bu. Saya Elara Nirmala Putri."

"Baiklah, Elara. Saya Bu Melda, wali kelas kalian. Senang bertemu denganmu," jawab Bu Melda ramah sambil tersenyum tipis.

"Baik, Bu Melda. Tolong antarkan dia ke kelas ya, dan jelaskan semua aturan sekolah serta aturan asrama yang wajib dipatuhi. Jangan sampai ada yang terlewat," pesan Pak Herman tegas.

"Siap, Pak. Mengerti," jawab Bu Melda sigap. "Ayo Elara, Keisha. Kita berangkat, nanti bel masuk berbunyi sebentar lagi."

"Saya permisi dulu ya, Pak," pamit Elara.

"Silahkan," jawab Pak Herman sambil kembali menunduk memandangi layar komputernya, melanjutkan pekerjaannya seolah tidak terjadi apa-apa.

Mereka bertiga pun keluar dari ruangan dan berjalan menyusuri koridor lantai 5 yang sangat hening dan berkarpet tebal. Suara langkah kaki mereka terdengar lembut.

"Jadi Elara," mulai Bu Melda sambil berjalan santai di samping gadis-gadis itu. "Di Hantage ini aturannya cukup ketat lho. Pertama soal seragam, harus rapi dan lengkap setiap hari. Kedua, soal jam malam di asrama: pukul 9 malam gerbang asrama sudah ditutup, dan jam 10 malam semua harus sudah mati lampu dan istirahat."

"Wah, ketat juga ya Bu," komentar Elara sambil mengangguk-angguk mencatat dalam hati.

"Iya, demi keamanan dan kenyamanan bersama," lanjut Bu Melda. "Terus, untuk fasilitas, kamu bisa pakai apa saja selama ada ID Card tadi. Tapi ingat, dilarang keras masuk ke area yang ditandai 'Terlarang' atau area yang sedang direnovasi, terutama sayap timur gedung dan ruang bawah tanah. Itu sangat berbahaya."

"Iya Bu, saya ingat," jawab Elara patuh.

"Terus di asrama nanti ya El," potong Keisha seru. "Kamar kita luas kok, ada tiga ranjang, lemari masing-masing, dan kamar mandi sendiri. Pokoknya nyaman banget deh. Cuma... kadang kalau malam kedengeran suara aneh-aneh gitu, tapi itu cuma angin kok kali ya hahaha."

Bu Melda menatap Keisha tajam. "Keisha, jangan menakut-nakuti teman baru. Itu kan cuma mitos."

"Hehe iya Bu, maaf," Keisha tertawa canggung.

Mereka terus berjalan, dan Elara berusaha fokus mendengarkan setiap penjelasan Bu Melda dengan sungguh-sungguh. Namun... perlahan-lahan, ada perasaan tidak nyaman yang mulai merayap di punggungnya.

Sejak tadi, Elara merasa seolah-olah ada yang memperhatikannya dari belakang. Bukan cuma dilihat, tapi rasanya ada sesuatu yang berjalan mengikuti langkah kakinya. Hawa dingin terasa menyelinap di lehernya, membuat bulu kuduknya meremang seketika.

Elara mencoba mengabaikannya, berjalan terus maju. Tapi perasaan itu semakin kuat. Ia merasa ada bayangan gelap yang bergerak cepat melewati pinggir pandangannya.

Stop.

Tiba-tiba Elara menghentikan langkahnya secara mendadak.

Dengan gerakan cepat, ia menoleh tajam ke arah belakang.

Hening. Koridor itu panjang dan kosong melompong. Tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya dinding-dinding berukir dan lampu-lampu yang menyala terang. Tidak ada orang, tidak ada bayangan.

"Kamu kenapa, El?" tanya Keisha yang berhenti dan menatap heran. "Kaget lihat apa?"

Bu Melda juga ikut berhenti dan menoleh. "Ada apa, Elara? Kamu kehilangan sesuatu?"

Elara mengerjap beberapa kali, lalu menggeleng pelan, berusaha menenangkan jantungnya yang tiba-tiba berdegup kencang.

"Nggak... nggak apa-apa kok, Bu, Keish," jawab Elara berbohong sedikit. "Cuma... kayaknya aku salah lihat aja. Seperti ada orang di belakang, ternyata kosong."

"Hahaha, pasti karena kamu belum terbiasa sama suasana sekolah ini yang agak kuno dan sepi gitu ya," kata Keisha mencoba mencairkan suasana. "Sini sini, jalan lagi yuk, nanti kesorean lho."

"Iya, ayo. Jangan pikirkan hal aneh-aneh dulu, fokus ke kelas," kata Bu Melda lembut tapi tegas.

Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan menuju lift. Namun, Elara tidak bisa menghilangkan rasa was-was itu. Ia yakin tadi bukan sekadar salah lihat. Ada sesuatu... atau seseorang yang benar-benar ada di sana, mengawasinya sejak ia menginjakkan kaki di sekolah ini.

1
Felita Gunawan
wah penasaran bgt ni ayo kak lanjut cerita nya
Mustaqimah: Makasih udah baca cerita ku, Kakak/Smile//Smile//Smile/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!