menceritakan seorang raja kehidupan yang tertarik dengan sang ratu kematian yang dia baca di sebuah buku legenda sang ratu kematian yang sangat cantik dan dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leona athena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 2 : penguasa yang tak tersentu
Jauh di seberang sana, di tempat di mana cahaya matahari tidak pernah berani menginjakkan kaki, terbentanglah Obsidian Empire. Udara di sini dingin menusuk tulang, dipenuhi kabut hitam yang tebal, dan kesunyian yang terasa begitu berat.
Di puncak istana megah yang terbuat dari batu obsidian hitam, di dalam ruang takhta yang luas dan gelap, duduklah sosok yang menjadi pusat dari segalanya.
Ratu Elara.
Ia duduk dengan anggun namun penuh wibawa mematikan di atas singgasana yang terbuat dari kristal hitam dan duri tajam. Gaun panjangnya mengalir turun menutupi seluruh tubuh hingga ke lantai, berwarna hitam legam yang menyatu dengan kegelapan ruangan. Rambutnya yang panjang dan hitam terurai indah, namun tatapan matanya... tatapan itu cukup untuk membuat dewa sekalipun gemetar ketakutan.
Di sekelilingnya, berdiri tegak beberapa sosok tinggi besar.
Mereka bukan manusia. Mereka adalah The Shadow Guards — Perajurit Bayangan. Tubuh mereka terbuat dari asap pekat yang padat, tidak memiliki wajah yang jelas, hanya dua titik merah menyala di tempat mata seharusnya berada. Mereka diam tak bergerak, bagaikan patung hidup, namun aura mematikan yang mereka pancarkan sangat nyata.
Merekalah penjaga setia yang selalu menjaga Ratu Elara dan seluruh kastil ini selama ribuan tahun. Tidak ada musuh yang bisa melewati barisan mereka. Tidak ada suara yang bisa terdengar di ruangan ini tanpa izin sang Ratu.
Elara menghela napas panjang, embun putih keluar dari mulutnya karena suhu yang sangat rendah.
"Hening..." gumamnya pelan, suaranya lembut namun bergema jelas di seluruh ruangan yang luas itu. "Aku bosan dengan keheningan ini."
Salah satu Perajurit Bayangan di sebelah kanannya sedikit menundukkan kepalanya, sebagai tanda hormat. Mereka tidak bisa berbicara, mereka hanya mengerti perintah dan melaksanakannya tanpa suara.
"Selama ribuan tahun... tidak ada perubahan. Semua orang takut. Semua orang lari. Tidak ada satu pun yang berani datang ke hadapanku kecuali untuk memohon ampun atau mengutuk nasib mereka," lanjut Elara dengan nada dingin dan sinis. Tangannya yang putih dan ramping bermain-main dengan sebuah bola energi hitam kecil yang melayang di atas telapak tangannya.
Tiba-tiba...
Alis Elara terangkat sedikit.
Kepalanya menoleh perlahan ke arah langit-langit istana yang tinggi, seolah ia bisa menembus dinding batu dan melihat jauh ke luar angkasa, melihat ke arah dunia yang terang di mana Raja Xavier berada.
Ada getaran aneh yang mengalir di dalam darahnya. Sebuah panggilan halus... sebuah pemikiran yang kuat... yang menyebut namanya.
Elara...
Ratu Elara...
"Hah?" desis Elara, matanya yang hitam pekat menyempit. Aura di sekelilingnya tiba-tiba berubah menjadi ganas. Kabut hitam mulai berputar liar di sekitar singgasana.
"Siapa...?" suaranya turun menjadi rendah dan berbahaya. "Siapa yang berani memanggil namaku dengan nada seperti itu?"
Bukan rasa takut yang ia rasakan dari panggilan itu. Bukan juga rasa benci.
Itu adalah rasa... penasaran. Rasa kekaguman. Dan itu membuat Elara merasa sangat tersinggung sekaligus penasaran. Selama ini, semua orang hanya memanggil namanya dengan gemetar atau dengan kebencian. Tapi suara di kepalanya tadi... terdengar hangat. Terdengar lembut.
"Dalam kegelapanku... ada cahaya yang berani menyebut namaku?" bisik Elara. Ia mengepalkan tangannya, menghancurkan bola energi hitam di tangannya menjadi debu.
Ia menatap tajam ke arah para pengawalnya.
"Kalian dengar itu?" tanyanya.
Para Perajurit Bayangan hanya mengangguk kaku. Mereka juga merasakan gangguan kecil pada keseimbangan alam. Ada sesuatu yang baru. Sesuatu yang asing.
Elara tersenyum miring. Senyum yang cantik namun sangat menakutkan. Ada kilatan amarah sekaligus tantangan di matanya.
"Bagus... sungguh bagus."
Ia bersandar kembali ke singgasana, menyilangkan kakinya dengan anggun.
"Akhirnya ada sesuatu yang menarik. Ada yang berani menginginkanku... ada yang berani mencari tahu tentangku." Elara tertawa kecil, tawanya bergema di ruangan sunyi itu. "Biarkan dia datang. Biarkan cahaya kecil itu mencoba menembus kegelapanku."
Mata Elara memancarkan aura membunuh yang pekat.
"Tapi ingat... sekali dia melangkah ke kerajaanku... tidak ada jalan kembali. Aku akan menelannya utuh-utuh. Aku akan membuatnya lupa cara pulang."
"Jaga gerbang," perintah Elara singkat kepada para pengawalnya.
Kreeek...
Dengan gerakan serempak, para Perajurit Bayangan menangkupkan tangan mereka di dada, memberikan hormat militer yang kaku dan mengerikan. Mereka siap. Siap menghancurkan siapa saja yang berani mengganggu sang Ratu.
"Biarkan dia datang..." bisik Elara lagi, matanya menatap jauh ke dalam kegelapan. "Aku akan menunggunya di sini. Di singgasana kematianku. Dan aku akan menunjukkan padanya... betapa dinginnya hatiku yang sebenarnya."
Bersambung.....