Mohon maaf sebelumnya, apabila karya cerpen ini memiliki kesalahan penulisan. Semoga kiranya, cerpen ini bisa menghibur pembaca 😄
Dan juga, mohon dukungannya 🙆❤️
🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿 E N J O Y 🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿
Kami berdua tidak memiki hubungan lagi, tapi dia malah kembali. Mengatakan kalau dia masih menyukaiku. Aku tak sepenuhnya percaya dengan ucapan-ucapan manis itu. Tapi, kurasa dia serius. Aku harus bagaimana ?
Seorang pemuda yang sedang berjalan memasuki taman bermain, terlihat berhasil menarik perhatian para pengunjung disana. Namun, sepertinya pemuda itu sedang sibuk mencari seseorang dengan membawa sebuah tas.
"Astaga, ada-ada aja aku disuruh kesini" Gumam pemuda itu.
Saking fokusnya mencari, pemuda itu terkesan dingin dan tidak peduli dengan keadaan sekitarnya. Sampai-sampai, dia juga tidak sadar diperhatikan oleh seseorang dari kejauhan.
Lelah mencari, si pemuda akhirnya memutuskan untuk menggunakan handphonenya. Kemudian, menghubungi orang yang dicarinya sekaligus yang membuatnya kerepotan seperti sekarang ini.
"Halo?" Terdengar bahwa, panggilannya diterima oleh orang yang dihubunginya.
"Halo, kak Allen"
"Oh, sudah sampai ya Senho?"
"Sudah sampai dari mana, aku malah nyasar nih kayaknya" Jawabnya, sambil berteduh dibawah pohon dari teriknya matahari.
"Hahaha, sekarang kamu dimana? Kira-kira, wahana apa yang ada di depanmu?" Tanya sang kakak, diiringi oleh suara tawa.
"Kan, malah di ketawain. Sekarang, aku di depan wahana roller-coaster kak"
"Waduh, jauh juga kamu nyasarnya dek. Tunggu disana ya, ini kakak jemput kamu sekarang"
"Hati-hati, kak"
Sesudah selesai berbincang dengan sang kakak, Senho mematikan sambungan teleponnya. Saat sedang menunggu, tiba-tiba seorang anak kecil yang berusia sekitar enam tahun menarik perhatiannya.
Dilihatnya, sang anak kecil itu sedang mengendap-endap dari para penjaga wahana untuk masuk ke daerah wahana roller-coaster. Senho tersenyum kecil, karena memang tingkah laku anak kecil itu terlihat sangat menggemaskan di matanya.
"Hai, adik kecil. Nanti kalau ketahuan mengendap-endap, kamu bisa di penjara lho" Senho berlari kecil, menghampiri anak kecil tersebut sebelum memasuki wahana roller-coaster.
Anak kecil tersebut terkejut karena, di datangi oleh Senho. Maklum, dia terlihat seperti raksasa di mata anak kecil berumur enam tahun. Tingginya saja, kira-kira sekitar 185 cm.
"HU.. HUWAAAAAAAA" Karena ketakutan, anak kecil itu pun menangis cukup kencang.
'Waduh, kok malah nangis??' Batin Senho.
Mendengar suara tangisan yang cukup kencang, dua penjaga wahana pun menghampiri Senho dan anak kecil itu. Senho sejujurnya, cukup canggung kalau berada di tempat banyak orang. Dan sekarang, dia malah dihampiri dua penjaga wahana.
"Selamat siang kak, ada apa ya?"
"Selamat siang pak, ini si adik nangis sewaktu saya tegur"
Entah hanya perasaan Senho saja atau memang sepertinya, kedua penjaga wahana yang menghampirinya menatap dirinya dengan penuh kecurigaan. Seolah-olah, dia adalah seorang penculik anak.
"Bisa saya lanjutkan ucapan saya, pak?" Tanya Senho dengan sopan, setidaknya dia tidak boleh melupakan tata krama yang selalu diajarkan kakaknya.
"Boleh, silahkan saja"
"Jadi, tadi saat saya berada di seberang sana. Saya melihat adik kecil ini, sepertinya mau masuk ke wahana roller-coaster dengan mengendap-endap. Akhirnya, saya putuskan untuk menahan niatan anak ini lalu memanggil penjaga wahana" Ucap Senho, berusaha meyakinkan para petugas bahwa ia tidak berbohong.
"Ternyata seperti itu, baiklah. Mungkin, kakak bisa ikut kami dulu ke kantor taman bermain ini"
Senho menghela nafas, memang percuma saja dia jelaskan panjang lebar begini. Nyatanya, lagi-lagi tidak ada yang percaya padanya. Sama saja, tidak ada bedanya seperti dulu.
"PAK, MAAF" Teriak seorang wanita sambil berlari menuju tempat Senho dan para petugas wahana tersebut.
"Ada apa yang bisa kami bantu, bu?" Tanya petugas satunya, sementara petugas kedua tetap memperhatikan Senho.
'Memangnya, aku terlihat bisa kabur di situasi seperti ini?' batin Senho.
"Maaf pak, tapi dia ini anak saya yang kabur tadi" Sang ibu pun berlutut, kemudian memeluk erat anaknya.
"Hiks.. Mama.."
"Tidak apa-apa, mama disini sekarang"
Bisa Senho lihat, sang ibu sangat menyayangi dan melindungi anaknya. Rasanya, sekarang ia jadi merindukan ibunya. Memang, tidak ada yang bisa mengalahkan kasih sayang seorang ibu.
"Dek, apa benar ini mamamu?" Sebagai seorang petugas, tentu mereka harus memastikan terlebih dahulu.
"Benar, pak. Ini.. Mama.." Jawab sang anak, sembari berlindung di belakang ibunya.
"Saya mohon maaf ya pak, sudah merepotkan"
"Tidak bu, sudah tugas kami. Sebenarnya, tadi pemuda ini yang melihat dan menghalangi anak ibu saat ingin menaiki wahana roller-coaster"
Saat sang petugas menunjuk kearah belakang, ibu itu langsung berbalik dan berterima kasih pada si pemuda. Padahal, mereka belum saling melihat wajah satu sama lain sedikitpun.
"Terima kasih, sudah menyelamatkan anak saya. Dan, maaf sudah mengganggu waktunya"
"Ah, bukan apa-apa. Untungnya, saya sedang lewat ke arah sini"
"Senho..?" Gumam sang ibu, yang tentunya masih bisa terdengar jelas oleh Senho.
"Maaf, anda tahu nama saya dari.." Senho dengan cepat memfokuskan matanya, mengedipkan matanya berulang kali.
"Angela?!"
"Astaga, ternyata benar Senho!"
"Oh, ternyata saling kenal. Kalau begitu, saya permisi dulu. Tolong lebih di awasi lagi ya anaknya, bu"
"Baik, terima kasih pak"
Merasa masalah sudah selesai, kedua penjaga wahana tadi kembali ke tempat mereka. Sementara, Senho sedang kebingungan sekaligus terkejut. Karena, bisa bertemu dengan seseorang yang bertahun-tahun ia coba lupakan.
Mantan.
"Hei, Senho??" Angela melambaikan tangannya di depan wajah Senho, karena sepertinya mantan kekasihnya itu termenung.
"Oh, y.. ya?"
"Ayo, biar aku traktir kopi dulu. Sebagai, ucapan terima kasih sudah membantu tadi"
"Baiklah"
Memang ya, yang namanya hati dan pikiran itu tidak pernah selaras. Pikiran memang menyuruh Senho untuk menolak, namun sayangnya jauh di dalam lubuk hatinya Senho ingin mengetahui kabar mantan kekasihnya itu.
"Kamu mau pesan apa, Senho? Masih sama seperti dulu?"
"Iya, masih sama.."
"Cappuccino" Ucap Angela dan Senho, secara bersamaan.
"Haha, dasar Senho. Tidak pernah berubah ya, aku pesan dulu ya"
Mungkin jika sekilas, orang-orang akan percaya dan menganggap bahwa mereka seperti pasangan suami istri. Karena, sejujurnya mereka memang sangat cocok satu sama lain.
'Ya, setidaknya menjadi teman tidak masalah' Batin Senho.
"Ini dia, Cappuccinonya" Angela memberikan segelas kopi ke arah Senho, kemudian duduk di depannya.
"Makasih ya, Angela"
"Kaku amat, panggil aja Angel kayak dulu Sen"
"Mana bisa begitu, Angela. Sekarang aja, kamu sudah punya anak"
"Bisa kok, Sen. Lagi pula, sejujurnya.."
Ingatlah, Senho itu tidak bodoh. Dia tahu apa maksud tatapan dan arah tujuan pembicaraan Angela sekarang. Namun, Senho hanya ingin menguji sedikit kepribadian mantannya itu.
"Sejujurnya?" Dengan sengaja, Senho memancing Angela.
"Sejujurnya, aku masih suka sama kamu dari dulu Senho" Angela tersipu malu, kemudian menggengam kedua tangan Senho yang berada diatas meja.
"Memangnya, kemana suamimu Angela?" Senho melepaskan tangan Angela dengan sopan.
"Ck, dia itu cerewet Senho. Kerjaannya, minta aku ngurusin rumah terus" Angela cemberut, saat tahu Senho melepaskan tangannya begitu saja.
"Kamu sudah menikah, selama tidak memaksa berlebihan. Wajar saja, suamimu seperti itu"
"Tapi, aku gak cinta sama dia Senho! Aku cintanya sama kamu!"
DEG
Seketika, Senho membatu dan suara disekitarnya tidak terdengar lagi. Kira-kira seperti, hanya ada dia dan Angela di ruangan ini. Untungnya, akal sehat Senho menamparnya dengan fakta untuk kembali ke kenyataan.
"Tolong, jangan begini Angela. Ingat, ada anak kamu disini"
"Biarin aja, Senho. Aku capek, aku mau balik sama kamu. Kamu tau kan, aku sayang banget sama kamu. Kamu itu cowok terbaik, diantara semua cowok yang aku kenal" Tidak kehabisan akal, Angela semakin menahan Senho dan memaksanya kembali padanya.
"Angela, hentikan semua omong kosong ini" Senho menatap tajam Angela, sampai Angela tidak berani mengucapkan apapun.
"Hiks, salah aku apa Senho? Aku cuman, mau balik sama kamu. Aku cinta sama kamu, Senho!"
"Aku mencintaimu, tapi itu dulu..."
"Angela, coba kamu pikirkan perasaan anakmu. Pikirkan juga, masa depannya. Jangan seperti ini, aku tau kamu sayang sama anakmu. Jangan hanya karena keegoisan sesaat, kamu menghancurkan masa depan dan kebahagiaan anakmu sendiri"
Mendengar ucapan Senho, Angela kembali menangis. Mengingat betapa bodohnya ia dulu, malah melepaskan lelaki sebaik dan penyabar seperti Senho. Hanya karena, sebuah harta yang tidak membawa kebahagiaan untuknya.
"Aku harap kalian bahagia, aku pergi dulu. Terima kasih, sudah pernah hadir"
Senho berjalan keluar dari toko kopi tersebut, kemudian kembali menuju tempat wahana roller-coaster untuk menunggu kakaknya. Dari kejauhan, Senho bisa melihat kalau kakaknya yang sekarang sedang menunggunya.
"Disuruh tunggu disini, malah jalan-jalan entah kemana anak ini" Sindir sang kakak, yang sebenarnya khawatir pada adiknya itu.
"Ada apa? Kok diam saja? Ada masalah?" Melihat Senho yang hanya termenung, sang kakakpun menanyakan keadaan Senho.
TES
Sebulir air mata tiba-tiba mengalir dari mata Senho, membuat sang kakak semakin panik. Takut, telah terjadi hal buruk pada adiknya. Ditambah lagi, mereka hidup tanpa orang tua selama sepuluh tahun belakangan ini.
"Maaf kak, padahal aku laki-laki. Seharusnya, gak menangis kayak gini"
"Kata siapa laki-laki gak berhak menangis? Kita itu sama-sama manusia, mau laki-laki ataupun perempuan. Setiap orang, pasti punya masalah dan perasaan lelahnya masing-masing"
"Iya deh, kak" Mendengar kakaknya yang tiba-tiba bijak, Senho sedikit tertawa.
"Jadi, ada apa sebenarnya?"
"Tadi.. Aku ketemu sama Angela, kak"
"Apa?! Mantan kamu yang mutusin kamu karena, lelaki kaya itu? Setelah itu, dengan seenaknya bikin rumor aneh-aneh sampai kamu dikeluarkan dari kampus?"
"Sudahlah kak, kan itu semua masa lalu"
"Gini nih, punya adik terlalu baik. Entah baik atau naif, dia bilang apa memang?"
"Dia bilang, ingin balikan denganku. Karena, lelah dengan kehidupannya yang sekarang. Padahal, dia sudah punya anak"
"Huft, lalu kamu jawab apa?"
"Aku menolak, karena terkadang seseorang di pertemukan kembali oleh masa lalu bukan untuk bersama. Tapi, untuk berdamai" Sekilas, bisa Allen lihat bahwa adiknya sudah bisa tersenyum bebas.
"Ayo, kita mau makan apa sekarang?" Melihat adiknya semakin dewasa, Allen jadi ikut tersenyum dan senang.
"Makan steak, tapi kak Allen yang traktir!"
"Hahaha, iya dek"
Senho tersenyum dengan bebas, rasanya seperti sudah terlepas dari rantai yang memberatkannya selama ini. Walaupun lama, namun setidaknya ada hasil.
"Aku harap kalian bahagia, aku pergi dulu. Terima kasih, sudah pernah hadir" Dan, itulah kata-kata terakhir Senho kepada Angela. Karena setelahnya, mereka tidak pernah bertemu lagi.
💫 QUOTES 💫
"Berdamai dengan masa lalu itu memang sulit, tapi melegakan jika kita berusaha"
-Allen-
"Karena, terkadang seseorang di pertemukan kembali oleh masa lalu bukan untuk bersama. Tapi, untuk berdamai"
-Senho-
THE END.
💔 HeartbrokenVersary #MantanKekasih
Kalian suka cerpennya? Jangan lupa, tolong di like untuk dukungannya 🙆❤️ terima kasih banyak!! 🙌
~BacaCeritaKuDong~