NovelToon NovelToon
Sistem Pilihan Takdir

Sistem Pilihan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dikelilingi wanita cantik / Sistem
Popularitas:956
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

​Sinopsis
​Di Alam Fana, hukum rimba adalah satu-satunya kebenaran. Lin Chen, murid pelataran luar Sekte Pedang Awan, menyadari kenyataan pahit ini sejak hari pertama. Bakatnya pas-pasan, sumber dayanya selalu dirampas, dan nyawanya tak lebih berharga dari rumput liar. Saat maut hampir merenggutnya di ujung tebing, sebuah anomali tanpa asal-usul bangkit di dalam benaknya: Sistem Pilihan Takdir.
​Sistem ini menolak memberikan kekuatan instan. Setiap krisis hanya akan memunculkan tiga jalur pilihan di matanya, masing-masing membawa risiko dan hadiah yang berbeda. Hadiah tersebut bukanlah pil dewa yang langsung membuatnya kebal, melainkan teknik dasar, petunjuk tersembunyi, atau sekadar kesempatan bertahan hidup sesaat. Semuanya menuntut Lin Chen untuk memeras keringat, darah, dan akalnya sendiri. Dari kerasnya Alam Fana, merangkak naik menuju kemegahan Dunia Tengah para immortal hingga akhirnya mengincar keabadian sejati di alam dewa , Lin Chen mengukir jalannya selangkah demi selang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 8 percikan darah di paviliun kitab

Sinar matahari pagi menembus celah jendela gubuk, menyinari lantai kayu yang dipenuhi serpihan darah kering dan debu perak. Lin Chen berdiri di tengah ruangan. Ia memejamkan mata, merasakan perubahan fundamental yang bersemayam di balik kulitnya.

Qi di dalam Dantiannya tidak lagi berwujud kabut tipis yang liar. Energi itu kini mengalir tenang layaknya air raksa, berat, padat, dan sepenuhnya patuh pada kehendaknya. Konsolidasi menggunakan Batu Roh Tingkat Menengah telah membuahkan hasil sempurna. Luka-luka dalam akibat benturan energi dengan Ma Kun sembuh tanpa bekas. Jaringan ototnya merapat, memberikan sensasi ledakan tenaga fisik setiap kali ia menggerakkan persendian.

Kendati kekuatan fisiknya melonjak tajam, pikiran Lin Chen tetap dingin dan rasional.

"Tahap Kondensasi Qi tingkat tiga memang cukup untuk menghadapi kroco biasa," gumam Lin Chen seraya mengikatkan sabuk kainnya. "Menghadapi Zhao Tian yang berada di tingkat tujuh adalah cerita yang sama sekali berbeda."

Perbedaan empat tingkat di Alam Fana adalah sebuah jurang pemisah raksasa. Praktisi tingkat tujuh telah membuka sebagian besar meridian utama mereka, memungkinkan Qi untuk mengalir ke luar tubuh membentuk perisai pelindung setebal baja. Serangan fisik murni dari praktisi tingkat rendah biasanya akan memantul mentah-mentah sebelum sempat menyentuh kulit mereka.

Lebih jauh lagi, Lin Chen menyadari kelemahan fatal dalam gaya bertarungnya saat ini. *Napas Karang Esensi* memberinya ketahanan luar biasa dan regenerasi berkelanjutan. Jurus 'Batu Tumbuk' dari fragmen *Tinju Pemecah Batu* memberinya daya hancur mematikan dalam jarak dekat. Sayangnya, ia benar-benar buta soal teknik pergerakan. Kakinya lambat. Jika musuhnya menggunakan teknik serangan jarak jauh atau memiliki kelincahan tingkat tinggi, Lin Chen hanya akan menjadi samsak hidup yang menunggu kehancuran.

Ia membutuhkan sebuah teknik olah gerak.

Mengambil medali identitas sektenya serta sisa kepingan perak dan dua Batu Roh Tingkat Rendah hadiah dari Su Mei, Lin Chen melangkah keluar dari gubuk. Tujuannya hari ini sangat jelas: Paviliun Kitab Pelataran Luar.

Perjalanan menuju pusat sekte memakan waktu setengah jam berjalan kaki. Paviliun Kitab berdiri megah di ujung utara alun-alun utama. Bangunan berbentuk pagoda segi delapan setinggi lima lantai ini terbuat dari kayu Ulin Besi hitam yang konon tahan terhadap api spiritual. Di sinilah seluruh teknik kultivasi tingkat fana kelas bawah dan menengah disimpan, dijaga ketat oleh formasi susunan rahasia dan beberapa tetua pelataran luar.

Memasuki lantai pertama, aroma kertas tua, tinta bambu, dan dupa penenang pikiran langsung menyergap penciuman. Ratusan rak kayu menjulang hingga ke langit-langit, dipenuhi oleh gulungan bambu, perkamen kulit hewan, dan beberapa slip giok kuno.

Lantai pertama ini cukup ramai. Puluhan murid tingkat rendah hilir mudik, membaca dengan kening berkerut, mencoba mencari pencerahan dari teknik-teknik dasar yang dibagikan secara gratis oleh sekte.

Di sudut ruangan dekat meja penjaga, seorang gadis muda duduk dengan postur tegak sempurna. Gadis itu mengenakan seragam abu-abu yang disetrika sangat rapi. Rambut hitam legamnya digulung ke atas dan ditusuk menggunakan jepit kayu melengkung sederhana. Jemari lentiknya yang sedikit ternoda tinta sedang menyalin aksara-aksara kuno ke atas perkamen baru. Namanya Yue Lin, salah satu murid magang yang ditugaskan merawat dan merestorasi kitab-kitab tua di paviliun ini.

Yue Lin bukanlah petarung garis depan. Bakatnya terletak pada ingatan fotografis dan pemahaman teori Dao yang tajam. Saat bayangan Lin Chen menutupi meja kerjanya, gadis itu bahkan tidak mendongak, matanya tetap terpaku pada ujung kuasnya.

"Lantai pertama berisi teknik tingkat rendah dasar, bebas dibaca di tempat. Jika ingin menyalin, biayanya satu keping tembaga per gulungan. Lantai kedua untuk teknik tingkat menengah, biayanya sepuluh poin jasa sekte atau lima keping perak untuk akses satu jam. Dilarang membuat keributan, dilarang merusak kitab," ucap Yue Lin datar, melafalkan peraturan tersebut seperti burung beo yang kebosanan.

"Aku mencari teknik olah gerak tingkat menengah," jawab Lin Chen. Suaranya yang tenang dan berwibawa membuat ujung kuas Yue Lin sedikit tertahan.

Gadis itu akhirnya mengangkat wajahnya. Ia menatap Lin Chen dari balik bulu matanya yang lentik. Intuisi teoritisnya seketika menangkap keanehan. Pakaian pemuda di depannya ini sangat sederhana, auranya memancarkan ketenangan yang terlalu dalam untuk ukuran seorang murid luar biasa. Lebih jauh lagi, kepadatan Qi yang merembes tipis dari pori-pori Lin Chen membuat udara di sekitarnya terasa sedikit lebih berat.

"Teknik olah gerak berada di lantai dua, rak bagian timur," ucap Yue Lin, kali ini dengan nada yang sedikit lebih sopan. "Kusarankan mencari gulungan 'Langkah Angin Puyuh'. Itu teknik standar yang paling mudah dikuasai untuk praktisi di bawah tingkat lima. Aman, tidak membebani meridian kaki terlalu keras."

"Terima kasih atas saranmu," Lin Chen mengangguk singkat, meletakkan lima keping perak di atas meja gadis itu, lalu berjalan menuju tangga kayu yang berderit pelan di sudut ruangan.

Yue Lin menatap koin perak di mejanya, lalu memandangi punggung Lin Chen yang perlahan menghilang ke lantai dua. Sesuatu dalam diri pemuda itu memancarkan aura seorang jagal yang menyamar menjadi cendekiawan, kontras yang membuat gadis itu diam-diam merasa penasaran.

Lantai dua paviliun jauh lebih sepi. Hanya ada sekitar tujuh atau delapan orang murid tingkat lanjut yang sedang bermeditasi di sudut ruangan sambil memegang slip giok di dahi mereka. Udara di sini terasa lebih murni, dilindungi oleh formasi pengumpul energi agar para murid bisa memahami teknik dengan pikiran yang lebih jernih.

Lin Chen melangkah ke arah rak bagian timur. Terdapat lusinan gulungan bambu yang mencantumkan nama-nama teknik pergerakan. Mengikuti saran Yue Lin, matanya menemukan gulungan bertuliskan *Langkah Angin Puyuh*. Saat tangannya nyaris menyentuh gulungan tersebut, layar cahaya biru transparan meledak di depan retinanya.

**[Pemilihan Teknik Olah Gerak Terdeteksi.]**

**[Kondisi Pengguna: Fondasi sangat padat. Kebutuhan: Kelincahan pertempuran jarak dekat dan daya ledak pendek.]**

**[Silakan tentukan jalan kultivasi Anda:]**

**[Pilihan 1: Mengambil 'Langkah Angin Puyuh'. Teknik standar, melayang seringan daun.

Hadiah: Anda akan menguasainya dalam waktu seminggu. Pergerakan Anda menjadi sangat mudah ditebak. Tubuh Anda yang padat akan menolak teknik ringan ini, membatasi kecepatan maksimal Anda di bawah rata-rata.]**

**[Pilihan 2: Menyelinap ke tangga lantai tiga, mencuri akses paksa ke teknik kelas tinggi 'Bayangan Ilahi'.

Hadiah: Anda memicu formasi pertahanan paviliun. Tubuh Anda dihancurkan oleh petir spiritual dalam hitungan detik. Tamat.]**

**[Pilihan 3: Abaikan rak utama. Berjalanlah ke sudut utara ruangan, temukan gulungan kayu lapuk yang digunakan untuk mengganjal kaki rak buku yang patah. Ambil teknik 'Langkah Bayangan Berat'.

Hadiah: Pemahaman awal teknik terlarang. Anda diwajibkan mengikat beban besi seberat lima puluh kilogram di masing-masing kaki siang dan malam. Hadiah penyelesaian: Ledakan kecepatan jarak pendek absolut dan peningkatan kepadatan tulang kaki dua kali lipat.]**

Layar biru itu menghilang sama cepatnya dengan saat ia muncul. Lin Chen menarik kembali tangannya dari rak utama.

Pilihan pertama mengonfirmasi kecurigaannya. Tubuhnya telah ditempa oleh metode sekeras batu karang. Menggunakan teknik pergerakan yang mengandalkan keanggunan angin sangatlah bertentangan dengan struktur ototnya. Berjalan di udara seperti daun yang tertiup angin mungkin terlihat indah, keindahannya tidak memiliki nilai guna saat menghadapi tebasan pedang musuh yang kejam.

Ia memutar tumitnya, mengabaikan rak bagian timur, dan melangkah lurus menuju sudut utara ruangan yang gelap dan dipenuhi debu. Di sana, sebuah rak tua berisi catatan sejarah sekte tampak miring. Kaki bagian kiri depan rak tersebut patah, diganjal kasar menggunakan sebuah gulungan bambu hitam yang setengah hancur.

Lin Chen berjongkok, menggunakan satu tangan untuk mengangkat sudut rak buku kayu yang berat itu dengan mudah, sementara tangan lainnya menarik gulungan pengganjal tersebut.

Gulungan itu dipenuhi debu dan sarang laba-laba. Beberapa bilah bambunya telah retak dan tintanya memudar. Di bagian atas, tersisa ukiran tiga karakter usang: *Langkah Bayangan Berat*.

Ia membuka gulungan tersebut dengan hati-hati agar tidak menghancurkannya. Teks di dalamnya tidak terlalu banyak, isinya cukup membuat sebagian besar kultivator waras melemparnya kembali ke tong sampah.

Metode *Langkah Bayangan Berat* bukan mengajarkan cara memperingan tubuh, melainkan sebaliknya. Teknik ini memaksa penggunanya menanamkan beban qi murni ke telapak kaki, membiarkan tubuhnya ditekan oleh gravitasi secara ekstrem, lalu memanfaatkan daya tolak tanah untuk meluncur maju layaknya meriam yang ditembakkan. Proses pelontaran tersebut sangat merusak pembuluh darah di bagian paha dan betis, membutuhkan pemulihan yang sangat menyakitkan.

Mata Lin Chen bersinar dingin. Bagi orang lain, teknik ini adalah sampah yang merusak tubuh. Bagi dirinya yang memiliki regenerasi brutal dari *Napas Karang Esensi*, teknik ini adalah potongan teka-teki yang paling sempurna. Ia tidak butuh terbang layaknya burung; ia hanya butuh melesat menembus pertahanan lawan dalam satu kedipan mata untuk mendaratkan tinjunya.

**[Pilihan 3 diselesaikan.]**

**[Hadiah didistribusikan: Salinan pengetahuan 'Langkah Bayangan Berat' masuk ke lautan spiritual. Tantangan beban lima puluh kilogram diaktifkan.]**

Saat Lin Chen berdiri dan bersiap membawa gulungan itu ke lantai bawah untuk disahkan oleh penjaga, sebuah suara tawa kasar bergema memecah keheningan lantai dua.

"Lihat siapa yang kita temukan di sini. Bukankah ini tikus selokan yang berani menggigit tangan tuannya?"

Lin Chen menghentikan langkahnya perlahan. Ia menoleh ke arah tangga.

Dua orang pemuda berjubah abu-abu berjalan santai menaiki anak tangga terakhir. Di lengan kiri mereka, terikat sebuah kain berwarna merah darah bergambar sebilah pedang—lambang Fraksi Pedang Darah. Fraksi ini dikenal sebagai kumpulan algojo bayaran pelataran luar yang gemar melakukan kekerasan untuk menegakkan hegemoni mereka.

Pemuda yang berbicara berdiri di depan, memiliki bahu lebar dan kepala pelontos yang dipenuhi tato garis-garis hitam. Fluktuasi Qi-nya sangat agresif, memancar jelas di level Tahap Kondensasi Qi Tingkat Empat. Namanya Sun Hai, salah satu petarung barisan depan milik Zhao Tian.

Di belakangnya, seorang murid kurus bermata licik tersenyum mengejek, memutar-mutar sebilah belati di tangannya.

Kehadiran mereka langsung membuat beberapa murid yang sedang membaca di lantai dua membereskan barang-barang mereka dengan tergesa-gesa. Mereka menyingkir ke sudut ruangan, menghindari tatapan Sun Hai seperti menghindari wabah penyakit. Reputasi Fraksi Pedang Darah terlalu menakutkan untuk dilawan oleh murid-murid biasa yang tidak memiliki dukungan.

Sun Hai melangkah mendekati Lin Chen, menghentikan langkahnya tepat dua meter di depan pemuda itu. Matanya yang buas memindai Lin Chen dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan merendahkan.

"Kakak Zhao Tian sedang mencarimu, Sampah," desis Sun Hai, meludah di atas lantai kayu paviliun. "Dia sangat marah karena anjing peliharaannya, Zhao Feng, kehilangan lengan gara-gara trik murahanmu. Kakak Zhao mengirim kami untuk mengantar sebuah pesan: Patahkan kedua kakimu sendiri hari ini, merangkaklah menuju asramanya, dan memohonlah seperti anjing. Jika kau melakukannya, dia mungkin akan membiarkanmu hidup sebagai pelayan."

Lin Chen membalas tatapan Sun Hai dengan ekspresi wajah yang sepenuhnya datar. Alih-alih merespons ancaman tersebut, pandangannya justru tertuju pada genangan ludah Sun Hai di lantai paviliun.

"Ini adalah Paviliun Kitab, tempat suci untuk mencari pencerahan," suara Lin Chen terdengar tenang, tanpa emosi, menusuk kesunyian udara di lantai tersebut. "Orang yang meludah sembarangan di sini biasanya tidak memiliki pendidikan, atau tidak memiliki umur panjang."

Sun Hai tertegun sejenak, mengira pendengarannya bermasalah. Kesunyian pecah oleh tawa keras dari pemuda pelontos itu. Tawanya menggema, dipenuhi kesombongan absolut.

"Pendidikan? Umur panjang? Kau pikir kau siapa, berani mengajariku?!" urat leher Sun Hai menonjol. Amarahnya tersulut seketika. "Aku berada di tingkat empat. Menghancurkan tingkat tiga sepertimu semudah meremas serangga. Kau menolak tawaran belas kasihan Kakak Zhao? Kalau begitu, aku akan mematahkan tulang rusukmu satu per satu di tempat ini juga!"

Aturan larangan bertarung di dalam paviliun jelas terpampang, arogansi Fraksi Pedang Darah sering kali membuat mereka merasa kebal hukum. Sun Hai mengira penjaga paviliun akan menutup mata selama ia tidak merusak properti secara fatal.

Tanpa basa-basi lagi, Sun Hai menerjang ke depan. Telapak tangannya berubah menyerupai cakar beruang, dilapisi oleh Qi tingkat empat yang pekat dan tajam. Ini adalah seni bela diri 'Cakar Pemecah Tengkorak'. Angin berdesing tajam saat cakarnya mengincar langsung ke arah dada kiri Lin Chen, bertujuan menembus rusuk dan melukai organ dalamnya.

Murid-murid yang menonton menahan napas. Perbedaan kekuatan antara tingkat tiga dan tingkat empat mencakup perbedaan batas kapasitas sirkulasi Qi. Tingkat empat biasanya mampu melindas tingkat tiga murni melalui tekanan energi berlebih.

Kenyataannya, berdiri di depan Lin Chen sama dengan menghadapi tembok baja berduri.

Lin Chen tidak mundur selangkah pun. Mata tajamnya menangkap lintasan serangan Sun Hai dengan sangat jelas. Kecepatan murid tingkat empat ini sedikit lebih lambat dari terjangan Serigala Angin yang pernah mengancam nyawanya.

Alih-alih membuang waktu menghindar, Lin Chen mengambil langkah maju. Ia mengaktifkan *Napas Karang Esensi*. Seluruh jaringan otot di dada kirinya menegang seketika, mengeras hingga melampaui kepadatan batu granit alam.

*BANG!*

Cakar Sun Hai menghantam dada Lin Chen dengan kekuatan penuh. Suara benturan yang terdengar tidak seperti daging yang terkoyak, melainkan seperti besi tumpul yang menghantam balok batu solid. Pakaian di bagian dada Lin Chen robek, serangan itu hanya meninggalkan lima garis merah dangkal di atas kulitnya. Kulit pemuda itu tidak berhasil ditembus sama sekali.

Raut wajah Sun Hai berubah drastis dari ganas menjadi ngeri. Jari-jarinya terasa mati rasa. "Tubuh fisik macam apa..."

Ia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya.

Memanfaatkan jarak yang sangat dekat, Lin Chen mengangkat tangan kanannya. Qi murni dari dalam Dantiannya yang telah dikonsolidasi melesat bagai anak panah menuju kepalan tangannya. Fragmen *Tinju Pemecah Batu* diaktifkan seketika. Buku jarinya berpendar merah panas.

Dalam sepersekian detik, pukulan itu dilontarkan. Tidak ada gerakan indah, murni ledakan tenaga mematikan yang efisien.

*BAM!*

Tinju Lin Chen bersarang tepat di tengah wajah Sun Hai.

Terdengar suara retakan keras memuakkan. Tulang hidung pemuda pelontos itu hancur berkeping-keping dan melesak ke dalam. Tubuh besar Sun Hai terangkat dari lantai, terhempas sejauh tujuh meter ke udara bagai karung pasir usang, lalu menghantam salah satu pilar penyangga paviliun dengan keras.

Tubuh pemuda itu melorot jatuh ke lantai, tidak sadarkan diri seketika. Darah segar mengalir deras dari hidung dan mulutnya, menodai lantai kayu bersih tempat ia membuang ludah beberapa saat sebelumnya.

Hanya dengan satu serangan pukulan biasa, tanpa menggunakan senjata. Petarung tingkat empat telah dilumpuhkan.

Keheningan yang sangat pekat menyelimuti lantai dua Paviliun Kitab. Para murid yang menonton menatap Lin Chen dengan rahang yang nyaris jatuh. Konsep perbedaan tingkat kultivasi seakan telah diinjak-injak dengan brutal tepat di depan mata mereka.

Pemuda kurus yang memegang belati di dekat tangga gemetar hebat. Ia menatap rekan bosnya yang terkapar, lalu menatap sosok Lin Chen yang berdiri tegap tanpa menunjukkan ekspresi kemenangan sedikit pun. Niat liciknya menguap seketika, digantikan oleh naluri primitif untuk melarikan diri.

Sebelum murid kurus itu sempat memutar langkah, sebuah tekanan energi yang luar biasa besar turun dari arah langit-langit paviliun. Tekanan ini tidak kasar, terasa sangat menyesakkan hingga membuat oksigen di dalam paru-paru serasa dihisap paksa. Seluruh murid di ruangan itu, termasuk murid kurus, jatuh terduduk di lantai dengan lutut bergetar.

Lin Chen berdiri tegak. Otot-otot di kedua kakinya menegang luar biasa. Ia mengalirkan seluruh kekuatan *Napas Karang Esensi* untuk menahan tubuhnya agar tidak berlutut. Punggungnya basah oleh keringat dingin, rahangnya terkatup rapat. Tekanan ini berasal dari eksistensi yang jauh melampaui pelataran luar, mungkin setara atau lebih kuat dari Su Mei.

Dari balik rak buku di bagian terdalam ruangan, muncul sesosok wanita tua berambut perak yang berjalan menggunakan tongkat kayu hitam. Ia mengenakan jubah kelabu polos yang terlihat usang namun sangat rapi. Matanya memancarkan kebijaksanaan dan ketegasan mutlak. Beliau adalah Tetua Hua, penjaga Paviliun Kitab.

"Apakah peraturan Paviliunku hanyalah pajangan belaka bagi anak-anak muda zaman sekarang?" suara Tetua Hua tidak keras, setiap suku kata menggema langsung ke dalam tulang telinga orang-orang di sana.

Tetua Hua melirik ke arah murid kurus yang sedang meringkuk. "Bawa sampah ini pergi dari tempatku. Jika ada anjing dari Fraksi Pedang Darah yang berani membuat kekacauan di Paviliun Kitab lagi, aku akan mematahkan tulang punggung pemimpin kalian."

Murid kurus itu mengangguk panik berkali-kali. Ia merangkak dengan susah payah menghampiri tubuh Sun Hai yang pingsan, menarik kerah temannya itu, lalu menyeretnya turun ke lantai satu seperti menyeret karung rongsokan. Tidak ada sedikit pun keberanian tersisa untuk membantah.

Tekanan di udara memudar perlahan, membuat para murid lain menghembuskan napas lega.

Tetua Hua mengalihkan pandangannya pada Lin Chen. Matanya yang tua dan tajam mengamati pemuda itu lekat-lekat. Lin Chen tetap berdiri tegak, membalas tatapannya dengan rasa hormat namun tanpa sikap tunduk yang berlebihan.

"Menarik," guman Tetua Hua perlahan, setengah berbisik pada dirinya sendiri. "Tubuh fisik yang ditempa melalui jalan penyiksaan berdarah. Pemuda, membela diri bukanlah kesalahan, memecahkan kepala orang di wilayahku tetaplah melanggar aturan kebersihan. Apa yang akan kau katakan?"

Lin Chen menangkupkan kedua tangannya di depan dada, membungkuk dengan takaran yang pas. "Murid Lin Chen meminta maaf karena telah mengotori lantai Paviliun yang dijaga Tetua. Tangan ini bertindak karena terdesak untuk membela martabat tempat suci ini dari ludah tak beradab."

Alis Tetua Hua terangkat sedikit. Pemuda ini cerdik, mengemas kekerasannya sebagai bentuk pertahanan atas kehormatan paviliun. Ia tidak melanjutkan interogasi. Matanya justru tertuju pada gulungan kayu lapuk yang dipegang oleh Lin Chen.

"Langkah Bayangan Berat," ucap Tetua Hua, nadanya berubah menjadi sedikit nostalgik bercampur sinis. "Teknik cacat ciptaan orang sinting dari masa lalu. Banyak murid ambisius yang mencoba mengambilnya. Sebagian besar kembali mengembalikannya keesokan hari sambil menangis memegangi urat kaki mereka yang putus. Kau yakin ingin mengambil jalan bunuh diri itu?"

"Ketajaman sebuah pedang lahir dari seberapa keras palu pandai besi menghantamnya, Tetua," jawab Lin Chen datar. "Murid ini tidak mencari kenyamanan."

Sebuah senyuman sangat tipis yang sulit disadari terbentuk di sudut bibir keriput Tetua Hua. Menemukan benih dengan mentalitas setajam ini di pelataran luar bagaikan menemukan mutiara di tengah lautan lumpur. Ia tidak memujinya, dunia kultivasi tidak membutuhkan pujian, melainkan bukti.

"Turunlah ke bawah. Bayar biaya pendaftarannya pada Yue Lin. Jangan buat keributan lagi." Tetua Hua memutar tubuhnya perlahan, melangkah kembali ke dalam kegelapan rak buku dan menghilang seperti kabut.

Lin Chen menghela napas panjang. Beban di bahunya terasa terangkat. Menghadapi praktisi yang terlalu kuat di luar pemahamannya selalu memberikan pengingat bahwa ia masihlah semut yang merangkak.

Ia turun kembali ke lantai pertama. Yue Lin sedang membersihkan noda tinta yang meluber akibat keterkejutannya mendengar suara benturan keras dari atas sebelumnya. Gadis itu menatap Lin Chen yang turun tanpa goresan berarti, sementara beberapa menit yang lalu ia melihat dua anggota Fraksi Pedang Darah menyeret rekannya yang setengah mati keluar dari pintu utama.

Lin Chen meletakkan gulungan kayu lapuk itu di atas meja Yue Lin beserta medali identitasnya.

Yue Lin membaca judul gulungan tersebut. Dahinya mengerut tajam. Ia mengusap kacamata kristal pelindung debu yang ia kenakan untuk memastikan penglihatannya tidak salah.

"Kau mengalahkan anjing pelacak Zhao Tian, dan sekarang kau ingin mematahkan kakimu sendiri dengan teknik cacat ini?" protes Yue Lin, nadanya kini penuh ketidakpercayaan yang murni. "Apa kepalamu ikut terbentur di atas sana? Teknik ini membutuhkanmu membawa beban besi lima puluh kilogram di setiap kakimu selama proses pelatihan. Meridianmu akan meledak!"

"Daftarkan saja, Nona Yue," potong Lin Chen santai. Kepraktisan yang ia tunjukkan sangat berlawanan dengan kepanikan sang gadis penjaga. "Lima keping perak untuk salinannya, bukan?"

Yue Lin menghela napas frustrasi. Ia mengambil kuasnya, mencelupkannya ke dalam tinta, lalu mencatat nama Lin Chen dan teknik tersebut ke dalam buku log sekte dengan gerakan cepat dan kesal.

"Sudah tercatat. Salin isinya sekarang, dan kembalikan gulungan aslinya padaku," gerutu Yue Lin sambil menyerahkan perkamen kosong. "Jika kakimu lumpuh minggu depan, jangan datang merengek padaku."

Lin Chen tidak menanggapi omelan itu. Ia mengambil kuas dan mulai menyalin setiap aksara dari gulungan kayu tersebut dengan kecepatan konstan. Tulisannya rapi dan tegas, berbanding lurus dengan kepribadiannya. Ia mencatat bagian penting mengenai formasi sirkulasi Qi terbalik di pembuluh darah kaki, metode tekanan beban gravitasi, hingga teknik ledakan gaya pegas dari tumit.

Setelah selesai, ia menyerahkan gulungan asli kembali kepada Yue Lin, lalu memasukkan salinan perkamen tersebut ke dalam balik jubahnya.

Berjalan keluar dari Paviliun Kitab, cahaya matahari siang terasa lebih menyengat dari sebelumnya. Lin Chen menyipitkan mata. Ia tahu, kabar hancurnya Sun Hai akan sampai ke telinga Zhao Tian dalam waktu kurang dari satu jam. Arogansi Fraksi Pedang Darah tidak akan membiarkan penghinaan terbuka semacam ini berlalu begitu saja. Penantang yang sesungguhnya kini sedang menyusun rencana di balik dinding pelataran luar.

Tingkat tiga melawan tingkat tujuh bukanlah sesuatu yang bisa dimenangkan sekadar dengan modal keberanian. Lin Chen membutuhkan setiap tetes potensi kekuatan yang bisa ia gali dari dalam tubuhnya. Tantangan beban dari Sistem telah diaktifkan, dan rasa sakit dari metode pelatihan yang baru saja ia peroleh menanti untuk menyiksanya.

"Zhao Tian..." desis Lin Chen perlahan, sudut bibirnya menyeringai penuh antisipasi. "Mari kita lihat sekeras apa tulang keluarga Zhao."

Ia mempercepat langkahnya, menghilang di antara barisan gedung asrama, bersiap menempa kedua kakinya menjadi sepasang meriam yang tak terbendung. Langkah selanjutnya bukan menuju medan perang, melainkan menuju bengkel pandai besi sekte untuk memesan alat penyiksaan pribadinya. Permainan bertahan hidup kini bergeser menjadi ajang perburuan tingkat tinggi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!