Pada jaman kuno, pertempuran besar terjadi antara Dewa dan Iblis, yang menyebabkan dunia hancur.
Satu juta tahun setelah pertempuran itu terjadi. Dewa dan Iblis menghilang, seolah-olah menjadi dongeng untuk anak kecil yang diceritakan oleh orang tuanya.
Manusia-manusia semakin kuat, tumbuhan memiliki kesadarannya sendiri, bahkan suku binatang buas mulai bangkit berkuasa.
Mengisahkan tentang kisah seorang Tuan Muda keluarga Zhou yang terlahir dari orang tua nya yang merupakan dua keberadaan terkuat di Wilayah Timur. Namun, dia terlahir dengan kondisi Akar Spiritual yang cacat, membuatnya di anggap sebagai Aib keluarga, bahkan tunangannya pun memilih untuk membatalkan pernikahan mereka.
Di tengah-tengah rasa putus asa, dia bertemu dengan secercah kesadaran Dewa, yang memberinya kesempatan untuk bangkit, tetapi menanggung misi untuk menyalakan sembilan Api Jiwa sang dewa yang ikut terkubur di Reruntuhan Dewa.
Namun, di mana Reruntuhan Para Dewa dan Iblis itu berada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon APRILAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RPD: Chapter 8
Setelah menerima dua gulungan kuno, tempat yang kelam itu seketika runtuh, langit di atas seolah-olah menjadi kepingan kaca yang berjatuhan. Namun, langit biru yang begitu cerah dengan awan-awan putih yang menggantung di langit menggantikan langit yang sebelumnya kelabu.
Lautan luas yang tak berujung seketika berubah menjadi pegunungan. Di bawah kaki Zhou Xuan, altar batu dengan teks kuno yang misterius.
"Ternyata... bukan formasi teleportasi yang dibuat oleh para tetua Klan yang salah. Melainkan sesuatu yang secara khusus membawaku ke tempat itu." gumam Zhou Xuan, kepada dirinya sendiri.
Zhou Xuan pun menyimpan dua gulungan kuno itu ke dalam cincin ruang penyimpanan miliknya yang melingkar di jari tengahnya. Lalu, ia pun tak lagi banyak berpikir, kembali melanjutkan perjalanan nya untuk menuju kenalan lama ayahnya sendiri.
Dia sudah tahu ke mana dia harus pergi. Wilayah Selatan Kekaisaran Bintang Biru, Desa Embun Pagi, Tetua Fang San yang terkenal dengan julukannya si Tameng Baja. Dengan kondisi Zhou Xuan yang seperti itu, berlindung di balik Tameng Baja adalah pilihan terbaik untuk saat itu.
Zhou Xuan pun memutuskan untuk menuruni bukit altar batu itu. Dia pun berjalan menuju selatan.
Di perjalanannya, dia kembali mengingat kehidupan sebelumnya. Mengingat bahwa dia pernah banyak pada sesuatu yang akhirnya tidak terjadi. Dia sudah membayangkan jauh, menyusun kemungkinan, dan percaya semuanya akan berjalan sesuai rencana. Namun, kenyataannya berbeda, dan yang tersisa hanya rasa yang belum selesai. Dan dari situlah Zhou Xuan belajar, bahwa semua harapan tidak ditakdirkan untuk menjadi kenyataan.
Saat itu, alih-alih menjadi hari yang paling menyedihkan atas perpisahannya dengan semua kerabatnya, melainkan menjadikan Zhou Xuan yang mendapatkan keuntungan besar. Menerima hadiah yang sangat begitu berharga. Kini, dia benar-benar bisa berkultivasi, dan dalam waktu singkat itu, gelar Tuan Muda yang tak berguna seolah-olah telah meninggalkan nya.
Zhou Xuan merasa begitu banyak hal dalam dirinya yang berubah dengan begitu cepat. Tapi, dia belum tahu akan tumbuh menjadi siapa? Cara berpikir berbeda, cara melihat hidup juga tidak lagi sama, namun semuanya masih sangat terasa asing. Dan mungkin itulah yang membuatnya bingung... ketika perubahan terus terjadi, sementara diri masih sibuk mengenali bentuk barunya.
Aneh rasanya, saat hidup mulai tenang tetapi... Zhou Xuan sangat sulit untuk menikmatinya. Tidak ada masalah besar. Tidak ada yang mengejar, namun hati tetap saja gelisah seperti biasa. Mungkin, itu karena Zhou Xuan terlalu lama hidup dalam tekanan. Sampai tenang terasa seperti sesuatu yang asing.
--------
Waktu terus berlalu. Zhou Xuan pun tiba di hutan kuno, ketika matahari mulai condong ke barat pada sore hari, cahaya keemasan menyusup lembut di antara dedaunan raksasa. Pohon raksasa berdiri kokoh dan tinggi menentang langit, seolah-olah pohon itu adalah Penjaga Abadi yang berdiri gagah di tengah-tengah lembah, batangnya yang berusia ribuan tahun meliuk-liuk seperti urat nadi bumi itu sendiri. Kulit kayunya yang tebal ditumbuhi lumut hijau tua, sementara akar-akarnya menjalar keluar seperti tangan raksasa yang memeluk tanah.
Sore ini, angin sepoi-sepoi membawa aroma tanah basah dan daun yang jatuh. Sinar matahari yang mulai memerah keemasan menyinari celah-celah daun, menciptakan tiang-tiang cahaya yang dramatis menembus kabut tipis. Partikel-partikel emas kecil melayang-layang di udara, seolah-olah hutan ini sedang bernapas dan mengeluarkan sihirnya.
Zhou Xuan, sosok kecil berselimut jubah usang dengan pedang di pinggangnya, berdiri terpana di ujung jalan setapak. Ia mendongak, matanya penuh kekaguman dan sedikit ketakutan. Di bawah cahaya sore yang perlahan memudar, bayangannya memanjang di tanah berlumut. Suasana terasa suci sekaligus misterius; burung-burung langka mulai bernyanyi pelan, serangga malam mulai bersiap, dan angin membawa bisikan-bisikan samar dari dahan-dahan tinggi.
Namun, di saat-saat Zhou Xuan tengah menikmati suasana yang begitu damai itu, tiba-tiba suara teriakan terdengar dari kejauhan.
"Tolong... selamatkan aku!"
Zhou Xuan mendengarnya samar. Dia berpikir bahwa itu hanyalah perasaan nya saja. Dia kembali memejamkan matanya, berdiri di hadapan pohon raksasa itu. Tetapi, suara itu kembali terdengar ditelinga nya.
"Tolong... siapa pun... tolong aku ...!!"
Zhou Xuan pun membuka kedua matanya dengan cepat, memalingkan pandangannya ke arah timur, tempat suara itu berasal.
"Ternyata benar-benar ada yang sedang membutuhkan pertolongan." gumam Zhou Xuan, terkejut.
Zhou Xuan pun tak berpikir lama. Dia langsung berlari ke arah sumber suara itu berasal. Berlari cepat dan lebih cepat lagi. Melompati akar-akar besar, melewati terowongan akar, hingga ia pun tiba di pedalaman hutan.
Di sana, ada suatu tempat seperti kawah berlumut. Semuanya di lapisi lumut hijau yang lembab. Namun, pandangan Zhou Xuan seketika terfokuskan kepada seorang pria yang nampak berusia tiga puluh tahunan, yang saat itu dalam posisi terlilit oleh akar yang hidup.
Pria di bawah sana menyadari kehadiran Zhou Xuan. Dia mengangkat tangannya tinggi, berharap Zhou Xuan untuk mendekat dan membantunya untuk terlepas.
Namun, apa yang bisa Zhou Xuan lakukan? Itu adalah tumbuhan yang memiliki kesadaran nya sendiri. Dan dengan kondisi Zhou Xuan yang baru menyambungkan akar spiritualnya, dan belum memiliki pengalaman bertarung nyata, dia jelas hanya akan membahayakan nyawanya sendiri, jika ia turun untuk ke tempat itu untuk menolong pria itu.
"A— apa yang ... apa yang harus aku lakukan?" gumam Zhou Xuan, bingung.
buat kalian yang mau sawer author bisa via Gopay: 081774888228
Dana juga bisa: 081774888229
dana sama gopay cuma beda belakang nya aja
Bisa juga lewat BCA: 3520695370
semuanya a.n APRILAH
Terimakasih sudah setia membaca karyaku 🙏🙏