Bagi Raka Aditya, menyendiri adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dari tekanan dunia yang melelahkan. Ia merasa asing dan tak dimengerti, hingga akhirnya beberapa orang datang menawarkan persahabatan yang tulus. Perlahan, cara pandang Raka mulai berubah. Ia pun belajar bahwa untuk menemukan tempatnya di dunia, ia harus lebih dulu belajar menerima dirinya sendiri dan orang lain apa adanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RS Star, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8
Di kafe keluarga yang terasa cukup cozy buatku pada sore hari, aku berkeringat cukup deras meski AC ruangan sudah mendinginkan seluruh ruang kafe ini. Ide Maya untuk mencarikan aku seorang teman di sekolah membuat aku merasa dia sudah gila, hanya karena di kehidupan sebelumnya aku pernah berbicara sama Luna, itu bukan berarti aku bisa dengan mudah menjalin komunikasi lagi sama Luna di kehidupan kedua ini.
“Tunggu dulu!! Bukannya langsung mulai dari cewek itu sangat susah?!! Pikirkan juga perasaanku!!!” bentakku pada Maya, aku ingin dia mengurungkan ide gilanya itu
“Itu benar kalau kamu normal, lagian bagimu pasti sama sulitnya kan?” dengan entengnya Maya mengucapkan kalimat hinaan itu padaku
“Bukan itu masalahnya!! Kamu nih ngerti gak sih?!!” panik dan gusar aku mencoba untuk memberi pengertian padanya, namun aku tidak tahu lagi harus berkata apa agar dia mengerti perasaan serigala penyendiri seperti aku ini.
“Apa yang kamu khawatirkan?” tanya Maya terdengar bingung, aku menghela nafas lalu mencoba menata kalimat di dalam kepala yang mungkin bisa dengan mudah untuk dia mengerti.
Kami terdiam namun aku tidak lagi menatap matanya, aku menundukkan kepala sambil terus berpikir keras harus bagaimana lagi aku menjelaskan pada cewek batu ini. Sifat egosentrisnya sudah pada tahap dewa, dia tidak mungkin mau memahami jika kalimatku tidak tertata sederhana dan mudah di mengerti seperti saat kami bertemu di rooftop sekolah siang tadi.
“Bagaimana kalau dia akan menuntutku setelah aku mengajaknya bicara?” tanyaku sambil aku kembali menatap wajahnya, namun Maya terdiam dengan wajah datar tanpa ekspresi apa pun.
Kami saling terdiam lagi dan hanya terdengar suara pengunjung lain, begitu dingin suasana mejaku jika dibandingkan meja lain yang terisi oleh orang – orang dengan teman mereka masing – masing. Aku juga tidak mengerti kenapa Maya tiba – tiba diam dengan ekspresi wajah seperti itu menatapku, apa aku mengatakan hal aneh ya? Perlahan dia menatapku seperti menatap sesuatu hal yang begitu suram dan menyedihkan, sungguh perubahan ekspresi wajah yang mengejutkan.
“Emangnya apa yang ada dikepalamu yang akan kamu sampaikan ke Luna? Kenapa sampai ke pikiran dia bakal menuntutmu?” tanya Maya dengan emosi, aku meletakkan kedua jari di dagu yang menggambarkan aku sedang berpikir keras di hadapan Maya.
“Hmm... kata – kata yang mungkin aku sampaikan ke seorang cewek yang baru pertama kali aku temui...” gumamku sambil berpikir, lalu seketika aku terpikirkan ide yang bisa aku katakan kepada Luna tidak lama setelah berpikir keras.
“Hai Luna, rambutmu wangi sekali. Shampo apa yang kamu pakai? Yah kurang lebih seperti itu yang aku pikirkan saat ini” ucapku dan kembali Maya mengganti raut wajahnya seolah dia benar – benar jijik padaku.
“Kalau itu yang kamu katakan ke Luna, aku yang akan menuntutmu ke polisi!!! Kamu seperti penguntit atau om – om gatel di tempat umum!!” timpal Maya dengan bentakan dan terdengar sebagai ancaman, haaah... aku sudah tidak memahami lagi cara berkenalan dengan orang baru yang baik dan benar.
“Lupakan soal Luna, aku gak mau jadikan dia batu loncatan buat cari teman. Aku bakal ngerasa gak enak sama dia, terus kehidupan sekolahku bakal makin hancur kalau sampai dia yang membenciku” tegas aku menolak ide Maya, tidak lama aku mendengar Maya menghela nafas berat sebelum menanggapi penolakanku.
“Luna itu anak yang baik hati, kalau sampai dia membencimu, aku yakin seratus persen itu adalah kesalahanmu” timpalnya, aku pun mengangguk beberapa kali menyetujui perkataannya.
"Setuju" tegas aku katakan itu
“Hmmm... laki – laki dikelas 1A, ya? kalau gak salah ada Reza dari klub basket, kan? Bukannya nanti di kelas tiga kita akan jadi teman sekelas?” tanya Maya, aku melipat kedua tangan sambil menatap langit – langit mencoba mengingat siapa Reza yang disebut Maya.
Setelah lama berpikir, aku langsung teringat sama anak yang memperkenalkan diri saat MPLS dengan mengatakan jika dia baru saja menginjak e'ek kucing saat perjalanan menuju ke sekolah, e'ek kucing yang terinjak itulah yang membuat aku yakin kalau aku benar – benar diseret kembali ke masa tiga tahun lalu gara – gara sebuah kecelakaan.
“Buat apa aku mengingat kenangan saat kelas tiga? Lagian, kayaknya emang ada anak laki – laki bernama Reza dikelasku, orangnya berisik dan menyebalkan” jawabku lalu kembali menatap Maya
“Apa maksudnya berisik dan menyebalkan?” tanya Maya mencoba memastikan apa yang aku labeli ke Reza.
“Aku gak bisa berurusan sama orang ekstrovert itu, frekuensi bicaraku dan dia bagai bumi dan langit” jawabku sambil menghela nafas, aku sudah cukup lelah dengan semua paksaan Maya padaku.
“Ya lagian siapa juga yang bisa menjadi bumi dalam hal komunikasi sepertimu di sekolah” timpal Maya dengan kesal dan juga sindiran
“Pokoknya aku lebih baik menggigit lidahku sendiri sampai putus daripada harus mengobrol sama dia” ucapku dengan ekspresi wajah seolah aku benar – benar akan melakukannya kalau Maya sampai memaksaku akrab dengan Reza
“Sampai senekat itu?!!!” bentak Maya terdengar sangat kesal padaku, aku hanya mengangguk beberapa kali menjawab pertanyaannya.
“Ya udah ya udah!!! Gimana sama Wisnu? Dia sekelas sama kita pas kelas dua, dia juga seorang wibu sama kayak kamu. Harusnya kamu bisa akrab kan sama orang seperti itu?” masih tidak menyerah juga Maya buat memilihkan aku seorang teman, aku kembali berpikir dan mengingat nama orang yang Maya sebut.
“Seingatku memang dulu aku pernah bicara padanya, hobi kita juga hampir sama” jawabku, tiba – tiba Maya menggebrak meja lalu menunjukku.
“Nah benar, kan? Kenapa gak mulai dari ngobrol sama dia?” tanya Maya dengan tekanan seolah dia sudah menemukan orang yang tepat untukku jadikan teman, tapi Maya melupakan hal penting ketika itu.
“Tidak!” dengan tegas aku mengatakannya, Maya pun tersentak yang aku tahu dari raut wajah yang menunjukkan segalanya.
“Orang itu penggemar genre isekai sedangkan aku suka genre romantis komedi modern, begitu juga orang – orang yang bergaul sama Wisnu dan aku tidak akan pernah cocok berada di lingkaran mereka” jelasku kenapa Wisnu adalah jalan buntu untuk menjadi seorang teman, kemudian Maya menatapku dengan heran dan kebingungan.
“Bukannya sama aja ya? Itu tetap sebuah anime, manga, dan novel kan?” tanya Maya bingung, aku menggoyangkan jariku didepannya dan menandakan bahkan pemikirannya yang polos itu salah tentang menjadi seorang wibu.
“Tidak semua wibu itu bisa jadi satu kelompok, tau? Kami dibagi menjadi beberapa jenis wibu. Jadi...” belum selesai aku berkata, Maya memotong.
“Gak usah jelaskan, aku gak butuh penjelasanmu!!” bentaknya dan aku pun berhenti bicara karena kaget dapat bentakan itu.
Setelah bentakan itu kami saling terdiam, Maya juga masih terlihat berpikir keras sambil meminum teh di dalam gelas dari sebuah sedotan. Matanya terlihat menatap ke jendela luar kafe, aku pun akhirnya tertarik untuk menatap keluar jendela juga dan aku dapati hari sudah semakin gelap. Senja di kafe... aku tidak menyangka di kehidupan SMA-ku yang kedua, aku akan mengalami juga hal seperti ini. Bahkan aku rasa ini adalah yang terbaik karena aku bersama bintang utama di sekolahku.
Di saat bersamaan aku jadi benar – benar ke pikiran ide Maya tentang berteman dengan Wisnu, bagiku mempunyai teman dengan hobi yang sama itu pasti akan jauh lebih menyenangkan daripada aku harus menikmati hobi itu sendiri. Tapi berteman di lingkaran Wisnu itu mustahil dari pengalamanku di kehidupan sebelumnya, grup Wisnu itu dipenuhi dengan orang – orang elite dan tekanan teman sebaya.
Seingatku mereka itu selalu mengikuti anime – anime populer yang sedang hits meski berbeda - beda genre dan jika aku mengatakan aku tidak menonton karena tidak menyukai genre atau alur ceritanya, maka Wisnu dan kelompoknya akan menertawaiku. Bahkan Wisnu sampai akan mengucapkan kata ‘Serius nih? Itu yang lagi rame di season ini, tahu? Orang yang gak nonton itu gak punya hak untuk mengaku sebagai seorang wibu’ aku tidak mengerti kenapa mereka bisa berpikiran aneh seperti itu.
Lebih dari itu, jauh di dalam lubuk hati, aku ini tidak mau menjadi seorang wibu. Aku cuma menyukai anime, manga, dan novel hanya karena aku adalah seorang serigala penyendiri, itu satu – satunya caraku untuk lari dari kenyataan jika aku ini adalah seorang penyendiri. Aku tidak bisa berurusan dengan mereka lagi, aku sudah tahu akan bagaimana hubunganku dengan mereka pada akhirnya.
“Pokoknya aku gak mau berurusan sama Wisnu dan antek – anteknya, lebih baik aku gantung diri saja” tegas aku katakan itu dan keheningan di antara aku dan Maya pun kembali pecah, aku dan Maya saling tatap namun kali ini dia hanya diam sambil menghela nafas berat.
“Ya udah balik aja ke rencana awal dan ngobrol sama Luna, semoga beruntung ya” timpal Maya terdengar pasrah
“Oke, serahkan padaku” dengan percaya diri aku mengucapkannya dan seketika aku tersadar telah mengucapkan kalimat yang salah... belum juga aku mau meluruskan kalimat tadi, tiba – tiba Maya langsung menimpalinya.
“Lalu kamu mau ke mana? Rasanya kalau aku gak memotong jalur ka.... gak membuat rencana matang, kamu akan menunda – nunda rencana ini” celetuknya menimpali perkataanku sebelumnya, pakai acara dia menutupi niat busuknya pula...
“Kamu tadi mau bilang ‘memotong jalur kaburku’ kan?” dengan kesal aku tanyakan itu, dia benar – benar tidak ingin aku mengabaikan rencananya.
“Hal baik gak bagus buat di tunda – tunda, sebaiknya kamu ngobrol dengannya besok. Setelahnya, kita akan diskusi tentang rencana ini apa berjalan dengan baik atau tidak” ucap Maya mengalihkan pembicaraan, senyumnya juga terangkat dan dia sepertinya sudah tidak sabar menunggu hari berganti.
“Terserah lah, kalau aku harus ngobrol dengannya maka waktu yang paling tepat adalah ketika jam istirahat sekolah” ucapku dan tiba – tiba Maya menyeringai, aku sampai terdiam untuk menatap dan mencoba menerka – nerka arti senyum licik yang dia tampakkan padaku.
“Wah~ pemberani banget ya...” ucap Maya terdengar seperti gumaman, namun aku bisa mendengarnya dengan jelas.
“Hah? Apa maksudnya?” tanyaku keheranan dan di saat bersamaan bulu kudukku berdiri... seperti sesuatu yang menakutkan sedang mengintai..
“Bukan apa – apa~ gak ada masalah selama kamu setuju. Kita lihat besok saat jam istirahat sekolah ya, nanti aku akan lihat dari depan kelasmu untuk memeriksa keadaan” jawabnya tenang dan datar namun senyum menyeringai itu membuatku ke pikiran.
Setelah menghabiskan minuman dan makanan kami, aku dan Maya berpisah di depan cafe itu. Sepanjang perjalanan aku menuju rumah aku terus memikirkan kenapa Maya tersenyum aneh seperti itu, kayaknya aku melewatkan sesuatu yang penting yang membuatnya bisa mengerjaiku lebih kejam daripada yang seharusnya. Apa yang aku lewatkan? Kenapa dia tersenyum seperti itu? Apa aku malam ini bisa tidur?!! Ooh sial, apa yang harus aku lakukan?!!