Pada jaman kuno, pertempuran besar terjadi antara Dewa dan Iblis, yang menyebabkan dunia hancur.
Satu juta tahun setelah pertempuran itu terjadi. Dewa dan Iblis menghilang, seolah-olah menjadi dongeng untuk anak kecil yang diceritakan oleh orang tuanya.
Manusia-manusia semakin kuat, tumbuhan memiliki kesadarannya sendiri, bahkan suku binatang buas mulai bangkit berkuasa.
Mengisahkan tentang kisah seorang Tuan Muda keluarga Zhou yang terlahir dari orang tua nya yang merupakan dua keberadaan terkuat di Wilayah Timur. Namun, dia terlahir dengan kondisi Akar Spiritual yang cacat, membuatnya di anggap sebagai Aib keluarga, bahkan tunangannya pun memilih untuk membatalkan pernikahan mereka.
Di tengah-tengah rasa putus asa, dia bertemu dengan secercah kesadaran Dewa, yang memberinya kesempatan untuk bangkit, tetapi menanggung misi untuk menyalakan sembilan Api Jiwa sang dewa yang ikut terkubur di Reruntuhan Dewa.
Namun, di mana Reruntuhan Para Dewa dan Iblis itu berada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon APRILAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RPD: Chapter 26
Di bawah langit malam yang gelap dan bertabur ribuan bintang, terbentang lah Lembah Perbatasan yang legendaris.
Di sini, dua kekuatan besar dunia bertemu dalam keseimbangan yang rapuh namun indah. Sungai kristal yang mengalir tenang di tengah lembah menjadi garis batas alam sekaligus kekuasaan yang besar. Sebelah kiri sungai adalah wilayah Kekaisaran Bintang Biru, sementara sebelah kanan adalah tanah Kekaisaran Api Agung.
Air terjun raksasa yang mengalir deras dari puncak gunung tajam memancarkan cahaya perak lembut di bawah sinar bulan, seolah langit sendiri sedang membagi keadilan antara kedua kekaisaran. Kabut halus yang naik dari sungai berkilauan seperti debu bintang, memisahkan nuansa biru kehampaan di sisi kiri dengan nuansa hangat keemasan samar di sisi kanan.
Di tebing kiri sungai, berdiri megah sebuah bangunan kuno bercahaya keemasan lembut. Jendelanya menyala hangat, balkonnya menghadap langsung ke air terjun dan sungai perbatasan. Bangunan ini adalah pos perbatasan sekaligus menara pengawas Kekaisaran Bintang Biru, tempat para penjaga perbatasan menjaga keseimbangan agar api dari seberang tidak meluap, dan cahaya bintang tidak terlalu dingin.
Malam ini, angin membawa aroma bunga malam yang harum bercampur dengan bau tanah basah dan sedikit asap samar dari api unggun di seberang sungai. Pepohonan dan bunga-bunga di kedua sisi lembah bermandikan cahaya bulan, menciptakan pemandangan yang damai sekaligus tegang, keindahan yang bisa berubah menjadi medan pertempuran kapan saja.
Wilayah perbatasan itu penuh sesak. Berbagai macam kelompok kekuatan telah berkumpul, hampir memenuhi tempat itu. Bahkan, masih akan ada banyak lagi yang akan datang.
Saat itu, ada banyak kapal terbang berbentuk rumit dengan ciri khasnya masing-masing. Namun, pandangan semua orang di sana tertuju ke arah selatan dari Kekaisaran Bintang Biru. Kapal terbang Istana Awan Langit muncul dari kejauhan.
Jika di Sekte Embun Pagi kapal Istana Awan Langit begitu megah dan agung, tetapi di sini, ia nampak seperti kapal terbang biasa yang tak banyak di pandang kagum orang lain.
Namun, semua orang merasa terkejut akan kedatangan mereka!
Sekte Embun Pagi yang lemah, bahkan kini berani mengikuti gelombang besar ini.
Seorang pemuda berdiri dengan kedua tangan yang menyilang di dada, tubuh tegap, wajahnya sinis, menendang remeh. "Sekelompok orang-orang yang mencari kematian!" gumamnya, dengan nada yang rendah, ketika melihat kedatangan kapal terbang Istana Awan Langit.
Bahkan, tidak hanya pemuda itu yang memandang remeh kedatangan kapal Istana Awan Langit.
Di atas kapal, Ketua Sekte Fang San, tetua Gao Li, Chen Xuan, Chen Dong, Xiao Ling'er, Shen Mu, dan empat tetua lainnya yang ikut serta mendatangi wilayah perbatasan ini, berdiri di dek kapal.
"Banyak sekali orang hebat." ujar Chen Xuan, pandangannya berkeliling, melihat kelompok-kelompok kultivator yang tak terhitung jumlahnya.
"Benar! Ini adalah pertama kalinya sekte kita mengikuti hal sebesar ini." sahut Shen Mu.
Namun, ketika Shen Mu baru saja menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba sebuah dentuman menghantam kapal Istana Awan Langit. Membuat kapal itu berguncang dan hampir jatuh turun, bahkan udara disekitarnya seolah-olah berguncang, bahkan di beberapa tempat, udara itu seolah-olah seperti kaca yang retak-retak tetapi kembali pulih dengan cepat.
Saat itu, seseorang tiba-tiba naik ke kapal Istana Awan Langit. Sosok yang bijaksana dan penuh dengan wibawa, berdiri di hadapan Fang San juga Chen Xuan.
Semua orang yang berada di tempat itu pun menyaksikannya.
Gao Li, empat Tetua Sekte Embun Pagi, dan rekan-rekan Chen Xuan, seketika melompat mundur penuh siaga. Tetapi Chen Xuan dan juga Fang San, tetap berdiri di tempatnya, walaupun tubuh Chen Xuan bergetar begitu hebat.
"Lama tidak bertemu, Senior Fang!" bahkan sosok yang bijaksana dan penuh wibawa itu memanggil Fang San dengan sebutan Senior.
"Lama tidak bertemu, Pencuri Celana Dalam!" sahut Fang San dengan nada yang rendah. Mereka saling memandang dengan tatapan yang dingin dan serius.
"A— ayah ...?!" kata Chen Xuan dengan nada yang bergetar antara campuran rasa senang atas kerinduan dan takut atas dirinya yang telah mempermalukan Zhou Xiaowang saat itu.
Zhou Tianxuan pun menoleh kepada Chen Xuan, namun dengan cepat kembali memfokuskan pandangan dinginnya terhadap Fang San.
Para tetua Sekte Embun Pagi dan rekan-rekan Chen Xuan pun sontak terkejut.
"Hahhh... a— ayah ...?!" kata Xiao Ling'er, ekpresi wajahnya sangat begitu terkejut.
"Di— dia ... ayahmu, adik?" tanya Chen Dong, ekpresi wajahnya tak kalah terkejut dari Xiao Ling'er. Bahkan, telunjuknya menunjuk pria yang berdiri tegap dengan penuh wibawa di hadapannya. Namun, Shen Mu dengan cepat menepis tangan Chen Dong, lalu berbicara, "Jangan tidak sopan!" bentak Shen Mu.
Shen Mu pun menjadi orang yang pertama membungkuk memberi salam hormat kepada ayah Chen Xuan 'Zhou Tianxuan', diikuti dengan para Tetua Sekte Embun Pagi, yang juga memberikan salam hormat kepada Zhou Tianxuan.
Namun, Zhou Tianxuan seolah-olah acuh tak acuh kepada mereka, ia hanya fokus saling memandang dengan Fang San.
Itu membuat suasana menjadi begitu tegang. Chen Xuan yang melihat ekspresi wajah ayah dan juga gurunya yang tak memperlihatkan keramahan, ia pun sontak berbicara, "A— ayah... aku ...." perkataan Chen Xuan terhenti, ketika Zhou Tianxuan dan juga Fang San yang tertawa terbahak-bahak bersamaan.
"Ha ha haa..."
buat kalian yang mau sawer author bisa via Gopay: 081774888228
Dana juga bisa: 081774888229
dana sama gopay cuma beda belakang nya aja
Bisa juga lewat BCA: 3520695370
semuanya a.n APRILAH
Terimakasih sudah setia membaca karyaku 🙏🙏