NovelToon NovelToon
Kisah Pedang Penakluk Tiga Ribu Dunia

Kisah Pedang Penakluk Tiga Ribu Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Action
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yuzuki chan

Kaisar Pedang Langit, Cang Yue, menemui ajalnya di ujung bilah sang saudara seperguruan, Feng Jiantian. Alih-alih lenyap menjadi abu, jiwanya menyeberangi lautan reinkarnasi dan menetap di tubuh Yan Xinghe—seorang pemuda lumpuh dengan meridian hancur di Benua Tanah Spiritual. Tanpa keajaiban instan, Xinghe harus memulai dari titik terendah. Bermodalkan ingatan masa lalu dan tekad baja, ia merangkak naik, menahan penderitaan luar biasa untuk menempa ulang tubuh fana-nya. Ini adalah epik perjalanan darah dan keringat menembus benua demi benua, membelah Tiga Ribu Dunia, demi merebut kembali takhta keabadian yang terampas.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuzuki chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 24 kehancuran sang jenderal dan penjarahan inti naga perak

Asap debu berwarna kelabu kehitaman yang sarat akan aroma belerang perlahan-lahan menipis di pelataran kompleks pekarangan tua distrik barat. Rintik gerimis malam yang tipis mulai turun dari langit Kota Batu Hitam, langsung menguap menjadi kepulan uap putih begitu menyentuh permukaan *Pedang Berat Tanpa Bilah* yang tertancap di sela-sela lantai batu vulkanik.

Jenderal Lei Zhan berdiri mematung dua langkah di depan Yan Xinghe. Sepasang lengan besarnya yang dibalut zirah perang perak murni gemetar hebat. Rasa kebas yang luar biasa dingin bercampur hawa menyengat merambat dari mata tombak panjangnya, menembus pergelangan tangan, hingga mengacaukan putaran energi di dalam lautan Dantiannya.

Sebagai seorang maestro yang telah menduduki puncak **Alam Pemadatan Inti Mistik Tingkat Akhir**, Jenderal Lei Zhan telah bertempur dalam ratusan pertempuran besar di bawah panji Kekaisaran. Logika kultivasinya menolak untuk menerima kenyataan bahwa hantaman tombak berkekuatan Inti Mistiknya baru saja dipantulkan dengan begitu mudah oleh seorang pemuda yang fluktuasi energinya jelas-selas baru menyentuh Tingkat Pertama Alam Pembukaan Meridian.

"Sengketa hukum fisik macam apa ini?!" Jenderal Lei Zhan menggeram rendah, matanya yang tajam menyipit menatap guratan emas-merah yang berdenyut di bilah tumpul pedang hitam Xinghe. "Energi spiritualmu sangat tipis, tetapi massa dan kepadatan fisikmu... seolah-olah aku baru saja menabrakkan tombakku ke fondasi gunung suci!"

Xinghe perlahan menarik pedang beratnya dari dalam lantai batu, tidak menimbulkan suara gesekan sedikit pun meskipun berat senjata itu mencapai lima ribu kati. Ia berdiri tegak lurus, membiarkan aliran energi guntur berlapis esensi logam baru mengalir lancar di sembilan meridian utamanya yang kini telah kokoh sempurna.

"Kau menghabiskan ratusan tahun memadatkan inti energimu, Jenderal," suara Xinghe mengalun tenang, sedingin es utara yang tak tersentuh fajar. "Namun kau melupakan fondasi utama bahwa energi tanpa wadah yang padat hanyalah asap yang berkibar ditiup angin. Di mataku, Inti Mistikmu tidak lebih dari sebutir kerikil rapuh yang siap kuhancurkan kapan saja."

"Lancang! Tetua Gu Mu, aktifkan Tali Pengikat Spiritual! Segel pergerakan nadinya!" raung Jenderal Lei Zhan, kesombongan militernya runtuh digantikan oleh kemurkaan yang tak terbendung.

Tetua Gu Mu yang berdiri di balik barisan prajurit segera melompat ke udara. Pria tua dengan janggut mengepak itu meledakkan energi spiritualnya, melemparkan seutas tali tambang berwarna emas ke arah Xinghe. Tali itu bergerak meliuk di udara seperti ular sanca spiritual, memancarkan ratusan aksara segel yang dirancang khusus untuk memutus aliran Qi praktisi buronan secara instan.

Jurus **"Ikatan Emas Penjerat Roh"**. Sebuah senjata spiritual tingkat menengah yang menjadi kebanggaan faksi perdagangan wilayah dalam.

Xinghe bahkan tidak menoleh ke arah datangnya tali emas tersebut. Tangan kirinya menjentikkan udara dengan ringan, melepaskan setitik percikan listrik ungu murni yang membawa serpihan *Niat Pedang Pembelah Langit*.

*BZZZZT!*

Setitik petir ungu itu melesat kilat, menghantam tepat di simpul nodal utama Tali Pengikat Spiritual di udara. Penguasaan mekanik energi tingkat kaisar milik Xinghe langsung membaca kelemahan struktur segel tersebut dalam sekejap. Tali emas yang bernilai ribuan koin emas itu mendadak kaku, aksara segelnya berkedip liar sebelum akhirnya seluruh jalinan tambang spiritual itu hancur berantakan menjadi abu emas yang luruh ke tanah lumpur.

Senjata spiritualnya dihancurkan hanya melalui sepeser jentikan jari.

Tetua Gu Mu memuntahkan seteguk darah segar, wajah tuanya seketika berubah menjadi seputih kertas begitu segel jiwanya yang tertanam di tali tersebut hancur terputus. "I-Ini... ini bukan kontrol Qi biasa! Dia bisa membaca struktur formasi senjataku hanya dalam sekali lihat!"

"Mati kau, Bocah Iblis!"

Jenderal Lei Zhan memanfaatkan fokus Xinghe yang terbagi. Ia melompat maju, memutar tombak panjang perak naganya dengan kecepatan ekstrem hingga menciptakan badai puyuh elemen logam setinggi sepuluh meter yang menggulung lantai batu pekarangan.

**"Jurus Tombak Naga Perak: Semburan Taring Pemecah Inti!"**

Mata tombak perak itu melesat keluar membelah kegelapan malam, memancarkan puluhan proyeksi kepala naga perak yang memekek saklar mengincar sembilan titik vital di tubuh Xinghe secara bersamaan. Daya hancur dari serangan penuh seorang jenderal militer ini sanggup merubuhkan menara benteng kota dalam sekali hantam.

Menghadapi kehancuran yang menerjang di depannya, Xinghe mengambil kuda-kuda kokoh dengan kedua kaki melebar menembus lantai batu. Kedua tangan pucatnya menggenggam erat gagang kulit *Pedang Berat Tanpa Bilah*.

Ia tidak menghindar, tidak melompat mundur. Ia menyambut puluhan mata tombak naga tersebut menggunakan sapuan vertikal penuh yang brutal dari bawah ke atas.

**"Seni Pedang Berat Penakluk Gunung: Pembelah Badai Kosmik!"**

*DUUUUAAAAARRRR!*

Benturan dua kekuatan transenden berskala besar meledak hebat di tengah pelataran kompleks. Gelombang kejut spasial yang dihasilkan meruntuhkan sisa bangunan tembok sayap barat menjadi puing-puing debu vulkanik dalam hitungan milidetik. Ribuan prajurit berzirah besi hitam yang mengepung di luar perimeter terlempar mundur sejauh belasan meter menahan gelombang panas dan getaran gempa yang merobek aspal jalanan.

Di pusat kawah ledakan, Jenderal Lei Zhan membelalakkan matanya ngeri. Puluhan proyeksi kepala naga perak miliknya hancur berantakan layaknya gelembung sabun saat bersentuhan dengan massa padat lima ribu kati dari meteorit hitam Xinghe.

Lebih mengerikan lagi, energi petir ungu bercampur sisa api emas Gagak Emas merambat cepat menyusuri gagang tombak peraknya, membakar habis zirah lengan bajunya hingga menjadi arang dan meremukkan beberapa tulang jarinya. Pria raksasa itu terpaksa melepaskan genggaman senjatanya, terhuyung mundur sejauh lima langkah dengan napas yang memburu kacau.

Xinghe berdiri di tengah kobaran api sisa ledakan, jubah sutra hitamnya berkibar konstan memancarkan tekanan absolut **Tubuh Fana Tanpa Cacat** yang telah dibaptis energi meridian.

"Kekuatan Inti Mistikmu terlalu keropos karena terlalu banyak mengonsumsi obat-obatan militer, Jenderal," suara Xinghe memecah keheningan debu, datar dan penuh penghinaan tirani. "Sekarang, waktunya menyerahkan inti naga perakmu untuk memperkaya kesuburan tanah pekarangan ini."

Tetua Gu Mu yang melihat Jenderal Lei Zhan terdesak menyadari situasi telah berada di ambang bencana. Sambil menelan pil penstabil darah, sepasang matanya yang licik beralih menatap bangunan batu utama tempat Shen Yulan dan Yan Xiaoxiao bersembunyi.

"Bocah pemotong kayu, minggir dari jalanku jika kau ingin ibumu tetap bernapas!" raung Tetua Gu Mu, tubuh tuanya melesat cepat ke arah pintu bangunan kayu, memegang sebilah belati beracun hitam untuk menyandera keluarga Yan.

Yan Qingshan yang sedari tadi bersiaga di depan ambang pintu tidak menunjukkan kepanikan sekecil debu pun. *Teknik Pernapasan Harimau Penelan Bumi* di dalam tubuhnya meraung di tingkat maksimal. Urat-urat kecokelatan menonjol di sekujur lengan kekarnya, menyerap seluruh esensi elemen tanah dari runtuhan tembok batu hitam di sekitarnya.

"Anjing tua, kau salah memilih lawan jika ingin menyentuh ibuku!" raung Qingshan buas.

Ia tidak menggunakan senjata kapaknya; Qingshan melangkah maju satu langkah besar, menghentakkan kaki kanannya hingga lantai kayu teras hancur, lalu melayangkan pukulan lurus *Tinju Harimau Meruntuhkan Bumi* tepat menuju dada Tetua Gu Mu.

*BUMMM!*

Pukulan mentah yang didukung oleh kepadatan elemen tanah Tingkat Ketiga Penyempurnaan Tubuh itu membawa bobot ribuan kati tenaga fisik murni. Belati beracun milik Gu Mu patah menjadi dua bagian seketika saat berbenturan dengan buku jari Qingshan. Tenaga pukulannya terus melaju, menghantam telak pelindung dada sang tetua hingga melubang ke dalam.

Tetua Gu Mu memuntahkan darah segar bercampur potongan gigi, tubuh tuanya terlempar sejauh lima meter menghantam tiang batu teras hingga tiang tebal itu retak terbelah dua. Pria tua itu jatuh terkapar menahan ngeri, tidak memercayai seorang pemuda pemotong kayu fana memiliki kepadatan zirah otot sedahsyat ini.

"Kerja bagus, Kakak," suara Xinghe terdengar dari arah kawah tengah arena.

Xinghe tidak lagi memberikan waktu bagi Jenderal Lei Zhan untuk mengatur napasnya. Ia melompat ringan ke udara, memutar tubuhnya setengah lingkaran, lalu menjatuhkan *Pedang Berat Tanpa Bilah* miliknya dari atas ke bawah menggunakan kedua tangan yang dialiri seratus persen energi Pembukaan Meridian Tingkat Pertamanya.

**"Seni Pedang Berat: Palu Dewa Pemutus Takdir!"**

Tekanan angin dari atas menekan seluruh tubuh Jenderal Lei Zhan menembus lantai batu, membuat kedua lutut berzirah perak sang jenderal berderak patah seketika sebelum pedang mendarat. Pria raksasa itu berteriak histeris, mengangkat kedua tangan kirinya yang tersisa untuk menahan hantaman maut tersebut.

*DUUUUAAAAARRRR!*

Hantaman berat lima ribu kati bercampur wawasan Niat Pedang absolut menghancurkan seluruh sisa energi pelindung Inti Mistik Jenderal Lei Zhan dalam sekejap. Bilah tumpul pedang hitam Xinghe menghantam telak dahi hingga meremukkan seluruh jaringan tulang belakang sang jenderal menembus rongga dadanya.

Suara remuknya organ dalam menggema memekakkan telinga. Jenderal Lei Zhan, penguasa mutlak Kota Batu Hitam dan komandan Faksi Militer Naga Perak, tewas mengenasan dengan tubuh yang amblas sedalam setengah meter ke dalam kawah batu vulkanik hitam. Inti energinya meledak hancur di dalam Dantian akibat transfer getaran energi guntur Xinghe.

Keheningan malam yang luar biasa mencekam seketika mencengkeram seluruh penjuru distrik barat. Ribuan prajurit berzirah besi hitam yang mengepung di luar perimeter pekarangan mematung kaku. Nyali bertarung korps militer elit itu pecah berkeping-keping menjadi serpihan debu begitu melihat siluet jenderal agung mereka tewas mengenasan di bawah injakan pemuda berjubah hitam tersebut.

Xinghe menarik kembali pedang beratnya, bersandar ringan pada bilah tumpul hitam yang kini bersimbah darah musuh. Wajah pucatnya tetap tenang tanpa ekspresi, sepasang mata gelapnya beralih menatap Tetua Gu Mu yang sedang merangkak ketakutan di dekat tiang batu.

"P-Penatua Yan... ampuni aku... tolong..." rengek Tetua Gu Mu dengan suara bergetar hebat, air mata dan darah bercampur di wajah tuanya. Kesombongannya sebagai utusan farsi perdagangan besar telah musnah tak berbekas digantikan ketakutan telanjang akan maut. "Aku memiliki akses menuju gudang logistik rahasia kota ini! Aku bisa menyerahkan seluruh batu spiritual tingkat tinggi kepadamu! Semuanya!"

Xinghe melangkah perlahan menghampiri pria tua itu, menyeret pedang berat hitamnya yang meninggalkan jejak parit panjang berasap di atas lantai batu.

"Orang mati tidak membutuhkan gudang logistik untuk menyimpan penyesalan, Tetua Gu Mu," suara Xinghe terdengar sangat lembut, menyamarkan kekejaman mutlak seorang penguasa sejati.

Tanpa mengayunkan senjatanya, Xinghe hanya menjentikkan setitik api emas Gagak Emas dari sela jarinya ke arah dada sang tetua. Dalam sekejap mata, seluruh tubuh Tetua Gu Mu berkobar hebat terbakar api suci purba, mereduksi nyawa dan seluruh dosa kelicikannya menjadi tumpukan abu hitam dalam kurun waktu tiga tarikan napas penuh.

Xinghe tidak membuang waktu. Ia berjongkok di samping mayat Jenderal Lei Zhan, dengan cekatan merogoh cincin penyimpanan perak murni yang melingkar di jari raksasa sang jenderal.

Mengirimkan seutas kesadaran spiritualnya untuk menghapus paksa sisa segel energi Lei Zhan yang telah melemah, Xinghe memindai isi ruang penyimpanan tersebut. Di dalam dimensi saku sebesar kamar besar itu, tersimpan lima ribu batu spiritual tingkat tinggi, belasan botol pil pembuka meridian militer kualitas unggul, sebuah lencana komando Naga Perak terbuat dari besi meteorit, dan sebuah gulungan peta kuno yang memuat rute rahasia menuju wilayah dalam Kekaisaran Naga Langit.

"Panen yang cukup lumayan untuk membersihkan satu ekor lalat militer," gumam Xinghe tulus, menggantungkan cincin perak tersebut di pinggang jubah hitamnya.

Ia berdiri, menyapu pandangan dinginnya ke arah ribuan prajurit berzirah hitam di luar pekarangan yang kini mulai mundur teratur dengan langkah seribu, melarikan diri terbirit-birit menjauhi pekarangan seakan sedang dikejar oleh dewa kematian. Faksi militer Naga Perak di Kota Batu Hitam telah lumpuh total malam ini akibat hilangnya komandan tertinggi mereka.

Ye Ling’er melompat turun dari atas atap bangunan batu, wajah mungilnya yang cerdas dipenuhi oleh rona ketakutan bercampur kekaguman yang semakin fanatik. "Penatua Yan, pembunuhan Jenderal Lei Zhan akan memicu mobilisasi tiga pasukan korps Naga Perak dari wilayah provinsi dalam waktu dua puluh empat jam. Kota Batu Hitam ini akan segera dikunci total oleh otoritas militer pusat."

"Maka kita harus menguras habis sisa isi perbendaharaan kota ini sebelum mereka sempat mengunci gerbangnya," seutas senyum tirani terukir di bibir pucat Xinghe. Ia menoleh ke arah Qingshan yang baru saja keluar memapah Shen Yulan dan Xiaoxiao. "Kakak, bawa Ibu dan Xiaoxiao menuju pedati logistik kita. Malam ini, kita tidak akan melarikan diri secara diam-diam. Kita akan berjalan melewati jalan utama kota ini sambil membawa seluruh harta karun yang ditinggalkan oleh faksi Naga Perak sebagai biaya perjalanan kita menuju wilayah dalam."

Kata-kata tegas sang kaisar memecah keheningan malam perbatasan, menandai dimulainya babak penjarahan berskala besar yang akan menghapus tatanan kekuasaan faksi militer lokal dari sejarah perbatasan Kekaisaran Naga Langit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!