NovelToon NovelToon
Kisah Pedang Penakluk Tiga Ribu Dunia

Kisah Pedang Penakluk Tiga Ribu Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Action
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yuzuki chan

Kaisar Pedang Langit, Cang Yue, menemui ajalnya di ujung bilah sang saudara seperguruan, Feng Jiantian. Alih-alih lenyap menjadi abu, jiwanya menyeberangi lautan reinkarnasi dan menetap di tubuh Yan Xinghe—seorang pemuda lumpuh dengan meridian hancur di Benua Tanah Spiritual. Tanpa keajaiban instan, Xinghe harus memulai dari titik terendah. Bermodalkan ingatan masa lalu dan tekad baja, ia merangkak naik, menahan penderitaan luar biasa untuk menempa ulang tubuh fana-nya. Ini adalah epik perjalanan darah dan keringat menembus benua demi benua, membelah Tiga Ribu Dunia, demi merebut kembali takhta keabadian yang terampas.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuzuki chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 22 pembataian seratus serigala dan pasak guntur pembuka meridian

​Lang Feng mendengus kasar melihat keangkuhan pemuda berjubah hitam di hadapannya. Sebagai veteran medan perang militer yang telah menyaksikan puluhan ribu kematian di bawah bendera Faksi Naga Perak, ancaman lisan tidak lagi memiliki arti di matanya. Hanya kekuatan baja dan ketebalan energi spiritual yang menentukan siapa yang berhak mendikte hukum di atas tanah perbatasan ini.

​"Lepaskan panah peledak! Hancurkan kaki dan tangannya!" perintah Lang Feng dengan nada dingin yang penuh disiplin.

​SYUUT! SYUUT! SYUUT!

​Sepuluh anak panah mekanik raksasa melesat serentak dari atas tebing batu hitam. Anak-anak panah itu tidak terbuat dari kayu biasa, melainkan ditempa dari besi spiritual tingkat rendah yang bagian pangkalnya ditanamkan kristal energi peledak elemen api. Lintasan terbang mereka membelah kabut lembah, memancarkan rona kemerahan yang membawa niat membakar ekstrim.

​Xinghe tidak bergerak dari posisinya berdiri. Mata gelapnya terkunci lurus ke arah trajektori datangnya sepuluh anak panah peledak tersebut.

​Di dalam lautan energinya, sisa esensi Bara Api Gagak Emas yang menyatu dengan sumsum tulangnya meledak keluar. Xinghe tidak menggunakan langkah kaki untuk menghindar; ia menancapkan poros bawah Pedang Berat Tanpa Bilah miliknya ke tanah kerikil besi di depannya, lalu memutar gagangnya menggunakan kedua telapak tangan dengan kecepatan revolusi maksimal.

​"Seni Pedang Berat Penakluk Gunung: Tameng Badai Guntur Api!"

​Putaran balok logam seberat lima ribu kati itu menciptakan sebuah pusaran angin topan miniatur setinggi lima meter di depan Xinghe. Pusaran angin itu tidak hanya membawa massa fisik yang berat, melainkan dilapisi oleh jaringan percikan listrik ungu dan lidah api emas murni yang meledak keluar dari pori-pori kulitnya.

​BOOOM! BOOOM! BOOOM!

​Sepuluh anak panah mekanik berenergi peledak itu menghantam dinding pusaran pedang berat Xinghe secara bersamaan. Ledakan api kemerahan berskala besar meledak di tengah lembah, menciptakan kepulan asap hitam pekat dan gelombang kejut panas yang melelehkan batuan kapur di sekitarnya.

​Para prajurit Korps Serigala Hitam di atas tebing bersorak ganas, meyakini bahwa target mereka telah hancur menjadi serpihan daging hangus di dalam pusat ledakan peledak militer tersebut.

​Namun, sorak-sorai mereka terhenti mendadak layaknya leher yang dicekik paksa.

​Dari balik tirai asap hitam dan kobaran api yang mulai menipis, sosok Yan Xinghe melangkah keluar dengan ketenangan yang menakutkan. Jubah sutra hitamnya sama sekali tidak terbakar, hanya menyisakan beberapa noda jelaga kelabu di bagian ujungnya. Kulit porselen dari Tubuh Fana Tanpa Cacat miliknya memancarkan pendar cahaya keemasan pasif yang menyerap seluruh radiasi panas ledakan tanpa merusak satu sel daging pun.

​"Trik mainan militer yang sangat primitif," suara Xinghe memecah keheningan kabut asap, sehalus belaian sutra di leher sebelum eksekusi.

​Sebelum Lang Feng sempat memproses keterkejutannya, tubuh Xinghe telah menghilang dari tempatnya berdiri. Ia mengeksploitasi kecepatan ledakan fisik maksimal dari tingkat Penyempurnaan Tubuh Sempurna, meninggalkan sepasang bayangan ungu-emas yang tertinggal di udara kosong.

​Ia muncul tepat di tengah-tengah barisan sayap kanan yang terdiri dari tiga puluh prajurit golok Faksi Serigala Hitam.

​Xinghe tidak melayangkan tebakan pedang yang rumit. Ia memegang gagang Pedang Berat Tanpa Bilah miliknya menggunakan kedua tangan, lalu melakukan satu ayunan horizontal penuh sejauh tiga ratus enam puluh derajat membelah kerumunan.

​"Seni Pedang Berat: Pembantaian Massa Tanpa Batas!"

​DUUUUAAAAARRRR!

​Ayunan tunggal dari balok logam seberat lima ribu kati yang dialiri sisa energi api Gagak Emas itu menciptakan efek domino penghancuran yang mengerikan. Tiga puluh prajurit zhirah hitam di sayap kanan tidak memiliki kapasitas waktu untuk berteriak. Golok besar, zhirah pelindung dada, dan struktur tubuh fisik mereka hancur berkeping-keping menjadi lumpur daging dan serpihan tulang abu-abu seketika saat tersambar oleh lintasan tumpul pedang berat Xinghe.

​Semburan kabut darah merah menyiram dinding-dinding batu hitam lembap di sekitarnya, menciptakan hujan merah yang menodai lantai lembah. Tiga puluh nyawa terhapus dari tatanan fana dalam waktu kurang dari satu tarikan napas penuh.

​"Monster! Tembak dia dari jarak dekat!" jerit pemimpin regu sayap kiri, wajah garangnya kini berubah menjadi topeng kengerian murni.

​Sisa tujuh puluh prajurit bersama sepuluh pemanah mekanik mencoba memutar arah serangan mereka, namun ritme pergerakan mereka terlalu lambat di mata seorang mantan kaisar. Xinghe bergerak layaknya hantu kelaparan di tengah ladang gandum matang. Setiap kali pedang berat hitamnya diayunkan turun atau disodorkan ke depan, suara remuknya tulang dan hancurnya zhirah baja selalu menggema tanpa henti.

​BUM! Kepala lima prajurit hancur menjadi abu akibat hantaman sisi datar pedang.

KRAK! Dua puluh prajurit tombak terbelah menjadi potongan-potongan kaku di bagian dada hanya karena tekanan angin tebal dari ayunan horizontal Xinghe.

ZRAASH! Sisa pemanah di atas tebing dihantam oleh hujan kerikil besi yang ditendang Xinghe menggunakan Langkah Hantu, menembus dahi dan jantung mereka dengan akurasi matematis tingkat tinggi.

​Tiga menit berlalu penuh dengan jeritan penderitaan bisu dan pancuran merah darah. Seratus prajurit elit Korps Serigala Hitam—pasukan veteran yang disegani di perbatasan barat—kini telah berubah menjadi tumpukan daging cincang tak bernyawa yang berserakan memenuhi dasar Lembah Kapur Hitam. Aroma anyir darah yang sangat pekat mengalahkan aroma asam belerang di udara.

​Xinghe menghentikan pergerakannya di tengah lautan merah tersebut, ujung tumpul pedang hitamnya meneteskan darah segar musuh ke atas tanah kerikil besi yang basah. Wajah pucat pemuda itu tidak dihiasi oleh kepuasan atau kemarahan; ekspresinya tetap datar seolah-olah ia baru saja menyelesaikan tugas remeh membersihkan debu dari jubahnya.

​Kini, di dalam radius lima puluh meter dasar lembah, hanya tersisa dua orang yang masih bernapas. Yan Xinghe dan Komandan Lang Feng.

​Lang Feng berdiri mematung di posisi semula. Pedang Serigala Perak di tangan kanannya bergetar hebat, bukan karena ketegangan otot, melainkan karena naluri bertahan hidup di dalam jiwanya sedang menjerit histeris memperingatkan bahwa ia sedang berdiri di hadapan entitas dewa iblis yang tidak bisa diukur menggunakan logika dunia fana. Pembantaian seratus pasukannya dalam waktu tiga menit murni menggunakan kekuatan mekanik fisik adalah demonstrasi tirani yang menghancurkan seluruh pandangan hidupnya sebagai seniman bela diri.

​"Kau... siapa kau sebenarnya, Yan Xinghe?!" suara Lang Feng pecah melengking, kehilangan seluruh wibawa komandan militernya. Keringat dingin mengalir deras membasahi dalam zirah peraknya. "Kekuatan fisikmu... ini bukan Penyempurnaan Tubuh! Ini adalah konstitusi tubuh dewa terlarang!"

​Xinghe perlahan mengangkat kepalanya, sepasang mata gelapnya yang kini memancarkan kilatan ungu guntur murni menatap lurus ke dalam manik mata Lang Feng yang ketakutan.

​"Pertanyaanmu tidak memiliki nilai untuk dijawab oleh orang mati, Komandan Lang Feng," suara Xinghe mengalun tenang, sehalus es utara. "Kau membawa seratus pasukan untuk memburu nyawaku demi koin emas Tanah Suci. Sekarang, klan serigalamu telah musnah, dan kau... harus membayar sisa hutang darah dari kalimat ancamanmu terhadap keluargaku kemarin."

​"Mati kau bersamaku, Monster!"

​Keputusasaan memicu kegilaan terakhir di dalam pikiran Lang Feng. Menyadari lari dari tempat sempit ini adalah kemustahilan absolut, ia meledakkan seratus dua puluh persen dari sisa energi lautan Dantian Alam Meridian Tingkat Kedelapannya.

​Pufff!

​Lang Feng memuntahkan seteguk esensi darah murni ke atas bilah Pedang Serigala Perak-nya, memicu teknik terlarang militer "Pembakaran Jiwa Serigala Perak". Aura angin abu-abu di sekeliling tubuhnya meledak membesar setinggi lima meter, berubah bentuk menjadi proyeksi kepala serigala purba raksasa yang matanya menyala hijau beracun.

​Zhirah perak di tubuhnya retak hancur akibat tekanan internal energi yang berlebihan. Lang Feng melesat maju melampaui kecepatan suara, meninggalkan parit dalam di lantai lembah, melayangkan tebasan diagonal penuh yang membawa seluruh sisa kekuatan hidup dan esensi meridiannya untuk memenggal leher Xinghe.

​Jurus "Tebasan Taring Serigala Pembelah Kosmos". Sebuah serangan tunggal berkekuatan penuh yang sanggup merobek pertahanan praktisi di tahap awal Alam Pemadatan Inti Mistik.

​Menghadapi terkaman serigala gila di ambang kematian tersebut, Xinghe tidak bergeser mundur satu milimeter pun. Sepasang kakinya berdiri kokoh bak akar pohon purba yang tertanam di pusat bumi fana.

​Ia melepaskan pegangan tangan kirinya dari pedang beratnya, membiarkan tangan kanannya sendiri yang memegang lilitan kulit gagang Pedang Berat Tanpa Bilah. Di dalam tubuh sempurnanya, sisa esensi Inti Monster Elemen Besi yang baru ia rampat dari badak tadi tiba-tiba dipaksa meledak di dalam Dantiannya menggunakan metode ekstraksi paksa.

​Sebuah energi elemen logam yang luar biasa padat, berat, dan murni mengalir deras menyelimuti seluruh jaringan otot lengannya, menstabilkan tiga meridian petirnya yang retak dalam sekejap mata.

​Xinghe mengayunkan pedang berat hitamnya dari kiri ke kanan dalam satu gerakan sapuan horizontal yang pendek, rileks, namun diresapi oleh Dua Puluh Persen Niat Pedang Pembelah Langit miliknya yang sesungguhnya.

​ZWAAAASH!

​Tidak ada cahaya ledakan warna-warni yang menggelegar. Dunia di dalam ngarai Lembah Kapur Hitam seolah-olah kehilangan seluruh gelombang suaranya selama satu detik penuh, menyisakan keheningan mutlak dari dimensi eksistensi yang lebih tinggi.

​Garis lintasan tumpul dari pedang berat hitam Xinghe memotong lurus membelah ruang udara ngarai.

​Proyeksi kepala serigala purba raksasa milik Lang Feng terhenti seketika di udara kosong, terpotong rapi secara horizontal menjadi dua bagian sebelum sempat melayangkan taring energinya. Pedang pusaka Serigala Perak hancur berantakan menjadi jutaan partikel debu besi halus tertiup angin ngarai.

​Mata Lang Feng membelalak lebar menampilkan kengerian dan penyesalan terdalam yang tidak akan pernah sempat diucapkan oleh mulut fana. Garis merah tipis muncul melingkari pinggang berzirah peraknya.

​Angin ngarai bertiup pelan melewati celah tubuhnya. Tubuh bagian atas Komandan Korps Serigala Hitam itu tergelincir jatuh dari pinggangnya, membentur lantai kerikil besi dengan suara kaku, sebelum tubuh bagian bawahnya ikut ambruk bersimbah darah. Penguasa korps tentara bayaran terbesar Kota Batu Hitam telah tewas mengenasan di bawah hukum rimba besi sang penakluk.

​Xinghe menarik kembali senjatanya, menancapkan poros bawah meteorit hitam itu ke tanah lumpur berdarah untuk menopang berat fisiknya. Wajahnya sepucat kertas beras, dan setetes darah segar kembali menetes dari sudut bibirnya. Pengerahan Dua Puluh Persen Niat Pedang di ranah Penyempurnaan Tubuh telah memberikan umpan balik kelelahan saraf yang luar biasa ekstrem bagi jiwanya.

​"Waktunya membuka gerbang..." bisik Xinghe seraya mendudukkan diri dalam posisi bersila tepat di tengah-tengah lautan merah darah musuh.

​Ia tidak membuang waktu sedetik pun untuk membersihkan pelataran. Dari kantong penyimpanan sutra birunya, Xinghe mengeluarkan Inti Monster Elemen Besi Tingkat Keenam milik Badak Besi tadi, meletakkannya tepat di atas ulu hatinya menempel langsung pada kulit dadanya yang putih bersih.

​"Seni Penempaan Tulang Sembilan Kesengsaraan: Putaran Keenam. Pasak Guntur Pembuka Meridian!" raung Xinghe di dalam inti jiwanya.

​Ia meledakkan seluruh sisa energi guntur murni di dalam Dantiannya untuk menghancurkan cangkang kristal inti monster logam tersebut secara internal. Seketika itu juga, esensi energi elemen besi cair yang luar biasa padat, berat, dan bersuhu sedingin es kutub menyerbu masuk merambat menembus pori-pori kulit dadanya.

​BZZZZT! SHHHH!

​Tubuh Xinghe mengejang hebat, urat-urat emas-biru di leher dan wajahnya menonjol keluar hampir pecah menahan volume energi transenden yang meroket masuk. Sembilan Meridian Petir miliknya membuka gerbangnya secara serempak layaknya jembatan bendungan raksasa yang dibuka paksa di tengah banjir bandang.

​Esensi logam purba dari badak bertindak sebagai semen spiritual yang melapisi setiap inci dinding meridiannya, melindunginya agar tidak robek saat arus energi spiritual alam dari luar mulai tersedot masuk secara masif ke dalam tubuhnya.

​Di atas langit Ngarai Lembah Kapur Hitam, sekelompok awan pusaran energi spiritual alam berskala raksasa sepanjang beberapa mil mulai terbentuk berputar lambat, menciptakan pilar pusaran cahaya ungu keemasan yang menembus turun lurus menghantam ubun-ubun kepala Yan Xinghe.

​Proses transisi menuju Alam Pembukaan Meridian resmi dilepaskan sore itu di bawah kesaksian tumpukan mayat seratus serigala. Sang Kaisar Pedang telah berhasil merebut kembali anak tangga pertama menuju takhta keabadian Tiga Ribu Dunia, mengukir sejarah kecil yang akan menggetarkan seluruh fondasi Kekaisaran Naga Langit dalam waktu dekat.

​Daftar Istilah Kultivasi dalam Bab Ini:

​Alam Pembukaan Meridian (Alam Baru MC): Ranah kultivasi tingkat kedua di mana praktisi mampu mengalirkan energi spiritual alam semesta secara konstan di dalam pembuluh darah spiritual.

​Seni Pedang Berat Penakluk Semesta: Rangkaian teknik martial art orisinal kaisar yang diadaptasi khusus untuk memaksimalkan berat absolut material meteorit.

​Pembakaran Jiwa Serigala Perak: Teknik terlarang militer lokal yang mengorbankan esensi darah dan umur untuk memicu lonjakan energi sesaat.

​Pasak Guntur Pembuka Meridian: Metode rahasia putaran keenam Seni Penempaan Tulang yang menggunakan esensi monster logam sebagai perisai internal perlindungan jalur energi.

​[Bab 22 selesai. Yan Xinghe yang telah membuka meridiannya akan segera kembali ke Kota Batu Hitam sebagai ancaman mutlak bagi faksi militer lokal.]

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!