Bagi Raka Aditya, menyendiri adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dari tekanan dunia yang melelahkan. Ia merasa asing dan tak dimengerti, hingga akhirnya beberapa orang datang menawarkan persahabatan yang tulus. Perlahan, cara pandang Raka mulai berubah. Ia pun belajar bahwa untuk menemukan tempatnya di dunia, ia harus lebih dulu belajar menerima dirinya sendiri dan orang lain apa adanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RS Star, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22
Jam demi jam berlalu setelah percakapan antara aku dan Elma sempat terhenti karena Elma salah paham, entah benar atau tidak tapi itu yang aku rasa dan aku lihat. Dari semua obrolan itu aku akhirnya mengerti dari mana ketertarikan Elma terhadap Manga, anime maupun novel bergenre romantis komedi berasal, memang jarang ada seorang cewek yang menyukai genre ini karena sering kali diselipkan adegan – adegan tidak senonoh di dalamnya yang biasa disebut dengan fanservis (Bentuk adegan yang sengaja dimasukkan untuk menyenangkan pembaca).
Kembali ke awal bagaimana Elma jadi suka genre romantis komedi, sepertinya memang pengaruh kakak laki – lakinya sangat besar. Dari kecil Elma sudah sering membaca Manga dan novel milik kakak laki – laki Elma yang tersusun rapi di rak buku dalam kamar kakaknya, aku menduga kakak laki – laki Elma adalah seorang wibu sama sepertiku. Barulah ketika kelas satu SMA, Elma mulai membeli sendiri buku untuk dirinya dan hari di mana itu terjadi adalah saat aku dan Elma bertemu secara tidak sengaja di toko buku.
Aku pun merasa iri dengan hubungan Elma dengan kakak laki – lakinya, anggota keluarga dengan hobi yang sama... sayangnya aku dan Vanya tidak memiliki hubungan seperti itu, wajar kan aku merasa iri dengan Elma dan kakak laki – lakinya itu. Tapi aku sekarang sudah tidak boleh iri dengan kehidupan orang lain, aku seharusnya sadar kalau saat ini aku sedang membicarakan hobi yang aku sukai dengan orang lain untuk pertama kalinya di sepanjang hidupku.
...Ini terjadi dimasa SMA meski aku harus melalui dua kehidupan...
Di hadapanku saat ini, Elma dengan cerewetnya membahas tentang Manga yang sempat menjadi alasan kenapa Elma memilih untuk berhenti sekolah di kehidupanku yang pertamaku. Aku sempat berpikir ‘Apa mungkin hal seperti ini akan tetap terjadi kalau di kehidupan pertama aku juga menyelamatkan Elma?’ perlu diingat kembali, kalau saat itu aku merasa tidak punya alasan untuk berbicara dengannya. Jadi aku mengabaikannya yang duduk terdiam di kelas seorang diri lalu berlari kencang menuju kelas berikutnya...
...Dan sejak saat itu aku kehilangan Elma di kehidupanku yang pertama...
Elma tersenyum begitu manis sambil berkata ‘Bagus ya~’ aku pun mengangguk menyetujui perkataannya padahal sejak tadi aku tidak terlalu mengerti apa yang dari tadi dia katakan, bukan... bukan karena aku terpesona olehnya ataupun karena aku tidak tertarik dengan pembahasannya, tapi karena aku merasa bahagia untuk pertama kalinya dalam hidup dengan alasan karena aku memiliki seorang teman.
Jujur saja... aku sedikit melamun sambil terus memandangi wajah Elma yang terlihat begitu bahagia karena membahas tentang Manga yang sama - sama kami gemari... aku juga sama bahagianya seperti dia, hanya saja mentalku sebagai seorang serigala penyendiri selama tiga tahun berturut – turut telah membuatku bisa menekan rasa bahagia dengan sangat baik, sehingga aku tidak akan lepas kendali dan merasa kegirangan.
Meski aku tidak benar – benar menanggapi kebahagiaan Elma membahas Manga yang sedang dia baca, itu karena sesekali aku merasa Elma hanya butuh seseorang yang mau mendengarkannya saja tanpa perlu timbal balik. Jadi Elma masih bisa terus dengan semangatnya membahas semua topik yang ingin dia bicarakan di depanku, aku hanya perlu menyetujui, mengangguk, ikut tertawa dan kadang memberi komentar singkat yang kebetulan terlintas di pikiranku.
Dari semua pembicaraan ini juga pada akhirnya aku tahu alasan kenapa selama ini aku dan Maya tidak pernah bertemu sama Elma di Kafe ini, padahal kami rutin mengunjungi kafe setiap hari Senin sepulang sekolah. Elma mengatakan kalau dia libur kerja sambilan di hari Senin untuk sekedar beristirahat atau bermain bersama teman – temannya, semua itu dia kerjakan untuk mencari uang saku tambahan demi bisa membeli buku baru yang sedang dia incar. Sungguh anak yang pekerja keras...
Aku jadi semakin mengenal sosok yang dulu sempat aku takuti ini... Elma si anak bandel di kelas... dia ternyata orang yang hangat, lucu, sedikit lemot (Lemah Otak) dan yaah si blonde yang cantik luar dalam...
Di hari ini aku merasa Elma sudah sangat terbuka kepadaku, dia banyak menceritakan tentang dirinya... apa ini boleh aku sebut sebagai teman pertama di dua kehidupanku?
...Aku tidak berlebihan kan ketika mengatakan itu?
“Ooh sudah jam sembilan lebih” ucapku ketika Elma berhenti bicara untuk minum, sepertinya tenggorokannya sudah mulai sangat kering setelah bercerita banyak hal.
“Eeh~ sebaiknya kita pulang, kafe akan tutup sebentar lagi” timpal Elma, aku setuju dan kami pun bersiap untuk pulang.
Di luar kafe aku sudah melihat tidak ada lagi cahaya matahari dan sepenuhnya digantikan dengan cahaya lampu jalanan yang menerangi, aku rasa hari ini aku sudah kelewatan bermain sejak pulang sekolah. Aku berharap ayah dan ibu tidak memarahiku karena hal ini, begitu pula dengan Vanya yang cerewet itu. Tidak pernah terjadi di sepanjang hidup aku akan pulang terlambat seperti ini, ada hal yang berubah lagi di kehidupanku yang kedua ini.
“Hei” celetuk Elma yang saat itu ada di belakangku, kami baru saja keluar dari kafe dan masih ada didalam area halaman kafe.
Aku berbalik untuk menatap Elma, ketika itu dia memberikan ponselnya kepadaku dengan senyum yang terkesan malu – malu. Aku sempat terdiam beberapa saat sambil terus menatap wajah Elma, aku bingung dengan apa yang diinginkan Elma yang hanya menyodorkan ponselnya dan sebuah kata ‘Hei’ kepadaku.
“Kasih tau aku WA kamu donk~” pintanya, aku terkejut dan menatap dengan heran.
“Emang apa untungnya kamu berteman sama aku di WA?” tanyaku heran, seketika Elma terlihat panik sambil melambaikan kedua tangannya seolah meminta aku untuk tidak berpikiran yang aneh – aneh.
“Be... begini, bukan!! Jadi, kamu suka baca Manga, anime dan novel, kan? Aku ndak punya teman buat ngobrolin itu semua... jadi... aku akan sangat senang kalau Raka mau berbagi nomor WA biar sesekali kita bisa mendiskusikan anime, Manga, ataupun novel keluaran terbaru ke depannya” jawab Elma, dia terdiam beberapa saat lalu memberikan aku sebuah tatapan memelas yang sulit untuk tidak membuat luluh meski hatiku sekeras baja sekalipun.
“Apa boleh?” pinta Elma dan suaranya terdengar begitu imut, hati serigala penyendiri ini sudah benar – benar diujung tanduk untuk tidak ingin salah paham atas sikap manis Elma...
...Aku berpikir... ‘Apa Elma suka padaku?’ Tidak!!! Itu tidak mungkin terjadi, kan?!!’
Tapi Elma bilang akan sangat senang kalau dia bisa mengobrol denganku meski hanya sesekali lewat WA, walau begitu aku tidak boleh menjadi seorang pria yang terguncang dan jatuh cinta secara membabi buta kepada wanita hanya karena dia mengatakan hal seperti itu. Aku menguatkan hatiku agar tidak beraksi dengan bodoh, karena secara mental aku ini sudah setara pria dewasa yang telah lulus SMA dan telah merasakan getaran yang biasa orang sebut dengan 'Cinta'.
Aku pun menguatkan hatiku dengan menanamkan kata ‘Tidak! Jangan berpikir Elma menyukaiku, Elma sudah tegas bilang kalau dia hanya ingin membahas anime, Manga dan novel denganku karena dia tidak memiliki teman untuk membahas itu semua. Jangan berpikiran bodoh, Raka... jangan salah sangka!!’ yaah begitulah, aku tidak ingin kelihatan jadi orang kegirangan hanya karena sebuah kalimat mematikan seperti itu diucapkan oleh cewek cantik seperti Elma.
“Boleh” dengan tenang aku jawab pertanyaan Elma sambil mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana
“Asyiiik~” terdengar girang Elma mengucapkannya, apa dia benar – benar sesenang itu bisa berbagi nomor denganku?
Melihat senyum merekah dan rona merah di pipi Elma ketika nomor WA kami saling terhubung, hatiku kembali terasa luluh dan luapan kebahagiaan ini sudah mau meledak. Aku kembali menguatkan hati dengan berkata ‘Jangan lakukan tindakan memalukan, Raka! Jangan kegirangan cuma masalah sepele begini, nanti malah membuat Elma ilfeel lalu dia menjauhimu gara – gara melihat tingkah bodohmu’ Haah.... berbicara dengan diri sendiri lagi.
“Kalau begitu sampai jumpa di sek...olah...” perkataan Elma terputus di bagian akhirnya, tangannya yang awalnya melambai kepadaku pun perlahan turun, senyumnya juga perlahan menghilang... ada apa?!! Apa aku melakukan kesalahan?!!
Awalnya aku berpikir seperti itu, tapi tiba – tiba aku teringat lingkar pertemanan Elma di sekolah dan mungkin itu yang menyebabkan Elma menghentikan kalimatnya...
“Rasanya kalau di sekolah gak bisa, aku masih dibenci sebagai penguntitmu dan gosip itu masih sangat panas di sekolah” timpalku, Elma tertawa garing sambil matanya berputar ke sana kemari.
“Ah ahaha... maksudnya... gak seburuk itu kan seharusnya...? ya kan?” tanya Elma mencoba meyakinkanku, dia masih berpikir kejadian tadi siang tidak memiliki dampak buruk terhadapku mungkin.
“Aku yakin kamu tahu itu buruk banget, dari caramu bicara tadi, aku yakin kamu paham seburuk apa kejadian tadi siang” timpalku lagi dan seketika tatapan mata Elma juga raut wajahnya menjadi begitu sedih.
Dia menundukkan kepala dan terlihat kalau Elma sangat menyesali apa yang telah terjadi tadi siang, sebenarnya sudah aku katakan berkali – kali sejak kami bertemu di kafe bahwa aku akan baik – baik saja dan tidak mempermasalahkan hal itu. Tapi... kesedihan itu mungkin bukan karena penyesalan, aku mencoba bersikap menjadi pria yang peka... berharap apa yang aku pikirkan benar – benar yang diinginkan Elma...
“Haah... kalau ada apa – apa kamu boleh hubungiku lewat WA kapan pun kamu mau” celetukku memecah keheningan sambil menunjuk ke arah ponsel yang aku pegang, Elma terlihat kaget dan dia kembali menatapku dengan raut wajah terkejutnya.
“Lalu lain kali kita bisa datang kesini lagi buat ngobrol, gimana?” usulku padanya sambil menunjuk kafe tempat kami mengobrol tadi.
Elma terdiam masih dengan ekspresi kagetnya menatapku, perlahan garis bibirnya terangkat dan matanya pun menunjukkan dia akan tersenyum. Di tengah gelapnya malam dan hanya diterangi cahaya lampu, aku bisa melihat rona merah di pipinya dan dia pun berkata..
“Iya.. kamu benar... baiklah...” terbata Elma mengucapkannya, Elma pun menunjuk arah belakangnya sambil menundukkan kepala sedikit.
“Aku pulang lewat sini, sampai nanti” ucapnya dan inilah akhir pertemuanku sama Elma di hari ini, aku mengangguk dan sepertinya arah pulang kami berlawanan.
“Iya, sampai nanti” timpalku sambil membalik badan untuk berjalan pulang
Hingga sampai di persimpangan jalan, aku teringat kenangan buruk ketika aku tertabrak truk untuk menyelamatkan Maya. Rasanya rasa sakit akibat tabrakan itu masih bisa dengan jelas aku rasakan di sekujur tubuh seolah tubuhku ini memiliki trauma tersendiri dengan persimpangan jalan, aku sampai merinding dibuatnya. Namun di tengah lamunanku mengingat kejadian itu, aku merasa seseorang sedang memperhatikanku dari arah belakang.
Aku pun menoleh ke belakang dan aku dapati Elma masih berdiri di dekat pagar kafe sedang menatapku, dalam hati aku berkata ‘Jangan bilang dia dari tadi menatapku seperti itu’ aku pun buru – buru untuk menghadap ke depan lagi agar tidak terlalu lama bertatapan sama Elma, jujur... aku merasa malu mendapatkan tatapan dan ekspresi aneh seperti itu... apa maksudnya Elma menatapku seperti itu?