Larasati, gadis desa sederhana, percaya bahwa pernikahannya dengan Reza Adiguna akan membawa kebahagiaan. Namun semua harapan itu hancur di hari ia melahirkan—anaknya direbut, dirinya diceraikan, dan ia dicampakkan tanpa sempat memeluk buah hatinya.
Sendiri dan hancur, Larasati berjuang bertahan hidup di tengah kota yang asing. Hingga takdir mempertemukannya dengan Hajoon Albra Brajamusti, pria yang dulu pernah dikenalnya tanpa sengaja.
Dengan keberanian yang tumbuh dari luka, Larasati menyamar sebagai ibu susu demi bisa dekat dengan anaknya kembali.
Di tengah perjuangannya, hadir perasaan yang tak pernah ia duga.
Apakah Larasati sanggup merebut kembali anaknya sekaligus menemukan arti cinta sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih Rencana 16
"Jadi, seperti itu kejadiannya, Joon?"
"Iya Kak benar. Bahkan iblis saja mungkin minder sama itu orang karena lebih jahat dia dari pada iblisnya."
Hajoon terlihat menggebu-gebu sekali ketika menceritakan apa yang terjadi pada Laras kepada kakak sepupunya.
Ya saat ini Hajoon sedang berada di sebuah kantor pengacara yang cukup terkenal dan juga bergengsi dimana yang memiliki itu adalah putra dari pamannya.
Abinawa & Co, itu nama kantor pengacara yang saat ini Hajoon datangi. Dan sekarang dia tengah menceritakan semua yang terjadi pada Laras kepada Kieran atau yang kerap disama Ran oleh semua orang terdekatnya.
Kieran Shahna Abinawa, dia merupakan pengacara kelas satu dan sudah menangani ratusan kasus. Dia dulu juga pernah menjadi pengacara muda yang ditakuti karena sepak terjangnya yang tidak biasa saat pertama kali muncul.
Hajoon tentu langung mengingat sang kakak ketika berencana untuk membuat anak Laras jatuh ke dalam pengasuhannya.
"Baiklah Joon, aku mengerti. Jika ingin mendapatkan hak asuh anak sebenarnya itu bukan perkara sulit karena anak itu juga masih bayi. Dan bahkan kita juga bisa menuntut atas dasar penipuan juga karena katamu dia tidak tahu si pria ini sudah menikah. Namun, bukti harus di dapatkan dengan itu semuanya mejadi lebih jelas."
Ran menjelaskan tentang apa yang harus mereka lakukan lebih dulu dalam rangka mengambil hak asuh Elio. Bukan hanya soal bukti yang pasti, namun si ibu yakni Laras juga harus memiliki penghasilan yang tetap agar tidak dijadikan alasan bagi lawan untuk melawannya.
Karena orang tua yang memiliki penghasilan akan dianggap lebih layak membesarkan anak di mata pengadilan.
"Aku paham Kak, sekarang aku sedang mencari semua bukti tentang ketidak adilan si brengsek itu terhadap Laras,"sahut Hajoon. Memang benar demikian, dia sudah mulai bergerak untuk mencari semua bukti pendukung terkait apa yang dilakukan Reza terhadap Laras. Entah itu bukti rekaman kamera pengawas, hingga keterangan para saksi. Hajoon bertekad untuk mendapatkan semuanya.
"Wuiiiih mantap sekali. Aku saja yang pengacara belum bergerak apapun, tapi kamu malah sudah lebih dulu. Bagus bagus, tapi satu hal lagi Joon, kamu harus tanya kepada yang bersangkutan. Apakah akan membawa kasus ini jalur hukum atau tidak. Niatmu baik untuk membantu, namun ingat bahwa semua ini ada ditangan Laras."
Aaaah
Hajoon baru sadar dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Ran. Dia sudah bergerak banyak tapi lupa bertanya kepada Laras.
Dia lupa meminta izin dari wanita itu untuk melakukan ini semua.
"Aku lupa soal itu, Kak," ucapnya lirih.
"Tidak masalah. Kamu bisa mengatakannya setelah ini. Tapi melihat situasi Laras, sepertinya tunggu dulu sampai dia stabil sepenuhnya. Katamu hari ini dia first time kan mengunjungi rumah itu, jadi biarkan dulu. Biar dia merasakan kebahagiaan bertemu dengan anaknya. Sembari kamu tetap mencari bukti, kamu bisa mengatakan kepadanya secara perlahan.
Hajoon menganggukkan kepala ketika mendengar kata-kata Ran karena sepenuhnya dia setuju dengan pendapat sang kakak sepupu itu.
(Guys meski di sini Brigitia dan Kai tidak ada hubungan darah. Brigita ibu Hajoon dan Kai ayah Kieran. Tapi mereka sudah seperti saudara ya karena hubungan Topan dan Ana. Kisah Topan, Ana, dan Brigita ada di judul : Suara Hati Sang Designer. Bagi yang mau baca silakan, yang tidak pun tidak masalah karena ceritanya tidak saling berhubungan. 🙏)
"Oh iya Kak, punya kenalan kan buat melindungi Laras. Aku khawatir meninggalkan Laras di rumah itu. Jadi aku berpikir untuk mengirim satu orang yang bertugas melindunginya."
Meski penyamaran Laras sempurna, tapi tetap saja Hajoon merasa was-was. Dia takut jika tiba-tiba Laras ketahuan. Dan jika itu terjadi, Hajoon takut Laras mendapat perlakuan buruk dari orang di rumah itu.
"Tenang, ada kok. Hari ini juga aku bisa mendapatkannya. Aku akan minta ke Nayaka. Hari ini juga aku akan minta dia untu mengirimkannya kepada mu."
"Terimakasih kak, Kak Ran memang the best,"ucap Hajoon dia sungguh senang memiliki orang-orang baik di sekelilingnya itu.
"Coba kamu bicara begitu pas ada Hyejin di depanmu,"sahut Kieran.
"Oiii, tidak masalah tahu. Noona kan juga menyukai Kak Ran. Dia dulu ngefans sama Kak Ran."
Hahahah
Keduanya tertawa bersama. Lalu setelah selesai membicarakan tentang kasus Laras, Hajoon kembali ke kantor. Sebenarnya dia ingin pulang saja. Akan tetapi Adli sedari tadi sudah sangat rusuh dengan terus mengiriminya pesan dan juga menelponnya.
"Aaah akhirnya Hyung Bos ku datang juga," ucap Adli dengan penuh rasa lega melihat sang tuan sudah ada di ruangannya.
"Ad, tahu nggakk, aku tuh cuapeeeek banget. Aku ingin pulang dan merebahkan tubuh ku tahu," ujar Hajoon, dia memandang tajam ke arah asistennya itu..
"Oiii itu pun sama Bos. Saya juga inginnya begitu, pulang terus rebahan. Capek tahu Bos apalagi dua malam ini saya kurang tidur karena tugas dari Bos. Nah sekarang ini saya harus memberi laporan pekerjaan. Ada laporan dari Korea dan menginginkan Bos untuk segera ke sana."
Haaah
Hajoon membuang nafasnya kasar. Perusahaan sang kakek yang ada di negara itu memang sudah jadi tanggung jawabnya. Mau tidak mau Hajoon pun harus berada ke sana untuk meninjaunya.
Dia memang selalu begini, bolak balik antara Indonesia dan Korea untuk terus bisa menjalankan tanggungjawabnya itu. Dan Hajoon baru sadar kalau bulan ini adalah gilirannya dia mengunjungi negeri gingseng tersebut.
Namun, rasanya kali ini terasa berat bagi Hajoon. Dia seolah enggan untuk pergi. Dia khawatir terhadap Laras. Apalagi kondisi Laras yang masih seperti ini dan baru akan menantang bahaya.
"Apa tidak bisa ditunda sampai bulan depan begitu, Ad?"
"Mohon maaf Tuan Hajoon, sepetinya tidak karena sebenarnya panggilan ini sudah sejak 3 hari yang lalu. Ini adalah rapat pemegang saham, jadi Anda mau tidak mau, suka tidak suka harus datang."
Ada kalanya Hajoon tidak bisa berkutik di depan Adli. Dan saat seperi ini lah dia merasa demikian.
Adli jika sedang seperti ini, akan sangat tegas dan itu membuat Hajoon pun tahu tentang kualitas dari sang asisten.
"Baiklah, pesan tiket untuk keberangkatan besok. Sampaikan pihak sana aku akan datang jadi mereka akan menyiapkan rapat lebih cepat."
"Siap!"
Adli langsung pamit undur diri dari ruangan Hajoon. Dia segera menjalankan tugas yang diperintahkan.
"Haaah, aku harap tidak ada sesuatu yang besar terjadi nanti saat aku tidak ada di sisi mu, Ras."
TBC