NovelToon NovelToon
Blazing Asura: The Untamed God

Blazing Asura: The Untamed God

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kelahiran kembali menjadi kuat
Popularitas:836
Nilai: 5
Nama Author: fandy syahputra

Di puncak tertinggi Sembilan Ranah, Yu Fan adalah legenda—seorang Master Tingkat 9 yang menyentuh ranah kedewaan. Namun, kepercayaan adalah pedang bermata dua; ia dikhianati oleh sahabat masa kecilnya dan dibuang ke Dunia Fana dalam keadaan hancur.
Setelah 50.000 tahun tersegel dalam kegelapan yang sunyi, Yu Fan terbangun di dunia yang telah berubah total. Kekuatannya sirna, ingatannya terkikis, namun api amarah di jiwanya tetap membara. Di dunia baru ini, sang pengkhianat dipuja sebagai Dewi Kebajikan, dan sekte yang membantainya telah menjadi penguasa tunggal yang paling disegani.
Mengenakan jubah hitam dan memikul kutukan energi Yin yang dingin, Yu Fan harus memulai kembali perjalanannya dari titik terendah. Di antara kepingan ingatan yang hilang dan dunia yang penuh kebohongan, Sang Ashura akan bangkit kembali—bukan untuk menjadi pahlawan, melainkan untuk menghancurkan langit yang telah memuarakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fandy syahputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Reruntuhan Kuno dan Bayangan Masa Lalu yang Tercecer

​Pagi itu, gerbang utama Akademi Langit Biru dipenuhi dengan suasana perpisahan yang mengharukan namun penuh rasa hormat. Delegasi dari Akademi Saint-Aurelius telah bersiap dengan kereta kuda mereka yang megah. Matahari yang masih rendah memancarkan cahaya keemasan, menyinari zirah Sir Alaric yang berdiri tegap di samping Yu Fan.

​Kali ini, suasana terasa sedikit berbeda. Lin Xueru dan Putri Yuexin tidak terlihat di sana. Keduanya telah dikirim oleh dekan untuk menjalankan misi darurat yang berbeda sesaat setelah perjamuan semalam berakhir.

​Sir Alaric menepuk pundak Yu Fan dengan mantap, genggamannya kuat, mencerminkan persahabatan yang lahir dari pertarungan hidup dan mati. "Yu Fan, kekalahan kemarin adalah pelajaran berharga bagiku. Aku akan pulang dan menempa diriku lebih keras lagi di bawah badai Barat. Aku berjanji, saat kau menginjakkan kaki di tanah Barat suatu hari nanti, aku akan menantangmu lagi. Dan saat itu, aku tidak akan membiarkanmu menang dengan mudah."

​Yu Fan tersenyum tipis, membalas tatapan Alaric dengan tenang. "Aku akan menantikannya, Alaric. Jangan biarkan pedangmu tumpul, karena aku juga tidak akan berhenti melangkah."

​Alaric melirik ke arah Yan Er yang berdiri tak jauh dari mereka, tampak gelisah sambil memilin ujung jubah birunya. Alaric, yang mengerti situasi, berdehem kecil. "Sepertinya ada yang ingin mengucapkan selamat tinggal secara pribadi. Ayo semuanya, naik ke kereta! Kita tunggu di depan gerbang perbatasan!"

​Setelah rombongan Alaric menjauh, Yan Er berjalan mendekati Yu Fan. Wajahnya yang cantik tampak sedikit sembab, namun ia berusaha tersenyum. Ia menyodorkan sebuah bungkusan kain sutra dan sebuah boneka kecil yang terbuat dari jerami kering yang dianyam rapi.

​"Ini makanan manis untuk bekalmu, dan... ini boneka pelindung," ucap Yan Er lirih. "Aku sangat khawatir padamu, Yu Fan. Kekuatan yang kau tunjukkan kemarin... itu terasa begitu asing dan berat. Berjanjilah padaku untuk selalu berhati-hati. Aku akan berlatih sekuat tenaga di Barat, aku akan meyamai levelmu agar kelak aku bisa berdiri di sampingmu, melindungimu, bukan hanya menjadi beban."

​Yu Fan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa sedikit canggung dengan ketulusan yang meluap-halus dari gadis di depannya. "Terima kasih, Yan Er. Jaga dirimu baik-baik di sana. Jangan terlalu memaksakan diri, kau sudah sangat hebat."

​Tiba-tiba, tanpa aba-aba, Yan Er maju selangkah dan memeluk Yu Fan dengan erat. Kepalanya bersandar di dada Yu Fan, menghirup aroma pemuda itu untuk terakhir kalinya sebelum berpisah jauh. Yu Fan tersentak, tubuhnya kaku seketika. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya saat ia mendengar bisik-bisik dari murid-murid akademi yang masih berlalu-lalang di sekitar situ.

​Gawat... kalau gosip ini sampai ke telinga Yuexin, aku benar-benar akan dikuliti hidup-hidup, batin Yu Fan meronta. Namun, ia bisa merasakan bahu Yan Er bergetar. Gadis itu menangis.

​"Bagiku, kau adalah laki-laki nomor satu, selamanya. Jika suatu saat dunia membelakangimu, aku siap memberikan nyawaku untukmu," bisik Yan Er tajam namun penuh cinta.

​Yu Fan menghela napas lembut, rasa iba mengalahkan ketakutannya. Ia membalas pelukan itu dengan tepukan pelan di punggung Yan Er. "Pergilah. Dunia menantimu di sana."

​Yan Er melepas pelukannya, mengusap air matanya dengan cepat, lalu memberikan lambaian tangan paling ceria yang bisa ia berikan. Ia melompat ke udara, memacu energinya, dan terbang menyusul rombongan keretanya sambil terus menoleh ke belakang. Yu Fan menatap siluetnya hingga menghilang di cakrawala. Ia tahu, ketenangan ini hanya sementara.

...****************...

​Sesampainya di dalam akademi, Yu Fan segera menuju gedung utama. Di dalam ruangan yang dipenuhi aroma dupa gaharu, Dekan dan Wakil Dekan telah menunggunya dengan ekspresi yang sangat serius.

​"Yu Fan," buka Dekan dengan suara berat. "Pertandingan kemarin menyisakan banyak pertanyaan. Saat kau berubah, auramu... itu bukan sekadar teknik kultivasi. Itu adalah manifestasi dari sesuatu yang jauh lebih tua. Apakah kau sadar saat itu?"

​Yu Fan membungkuk hormat. "Sejujurnya, Senior, aku berada di alam bawah sadarku. Aku bertemu dengan sosok yang sangat mirip denganku, namun penuh dengan amarah dan kekuatan gelap. Dia menawarkan bantuan untuk memenangkan pertarungan, dan aku... aku menyetujuinya."

​Wakil Dekan mengelus janggut putihnya yang panjang. "Aura merah gelap yang sangat dingin... tidak ada dalam catatan sejarah resmi manapun. Namun, aku teringat sebuah legenda lama tentang Reruntuhan Lembah Spiritual di hutan sebelah barat. Pintu masuk reruntuhan itu dilindungi oleh segel kuno yang auranya persis dengan apa yang kau pancarkan kemarin."

​Ia melanjutkan, "Mungkin di sana kau bisa menemukan jawaban siapa dirimu sebenarnya. Kami menugaskanmu untuk pergi ke sana sendirian. Ini adalah perjalanan penemuan jati diri."

​Wakil Dekan memberikan beberapa botol porselen berisi pil pemulihan tingkat tinggi, sementara Dekan menyerahkan sebuah pedang kuno dengan sarung berwarna hitam pekat. "Ini adalah Pedang Yin, warisan akademi yang menolak banyak tuan. Namun aku merasa, ia akan patuh padamu. Dan satu hal lagi, jika kau menemukan batu giok merah bersinar di sana, bawalah kembali. Kami membutuhkannya untuk penelitian ramuan."

​Tanpa membuang waktu, Yu Fan berangkat. Ia terbang dengan kecepatan penuh, menempuh jarak 500 km melintasi pegunungan dan sungai-sungai besar.

...****************...

​Setelah beberapa jam penerbangan, Yu Fan tiba di Lembah Spiritual. Tempat itu tampak seperti potongan surga yang jatuh ke bumi; pepohonan rimbun dengan bunga-bunga yang memancarkan cahaya biru, udara yang begitu murni hingga setiap tarikan napas terasa seperti meminum nektar dewa.

​Di tengah lembah, berdiri sebuah kompleks istana kuno yang sudah ditelan lumut dan akar pohon. Pagoda-pagoda tinggi menjulang, namun di puncaknya, sebuah bunga raksasa berwarna merah darah mekar dengan megahnya, memancarkan denyut cahaya merah secara periodik.

​Saat Yu Fan mendekati pintu masuk yang dilindungi penghalang transparan, auranya tiba-tiba bergejolak tanpa diperintah. Secara ajaib, penghalang itu bergetar dan membuka sebuah celah lebar, seolah-olah menyambut sang tuan rumah yang telah lama pergi.

​Yu Fan masuk ke dalam. Ia melihat banyak batu giok merah tertanam di dinding. Ia segera menambangnya dan memasukkannya ke cincin dimensi. Namun, saat ia sampai di aula utama yang sangat luas, ia melihat sebuah pola lingkaran sihir di lantai—sebuah segel yang meminta persembahan darah.

​Yu Fan menyayat jarinya. Tetesan darahnya jatuh ke pusat segel.

​RUMBLEEEE!

​Seluruh aula bergetar hebat. Debu jatuh dari langit-langit. Tiba-tiba, suara-suara kuno yang berat menggema dari segala arah, berbisik dalam harmoni yang mengerikan:

​"Para Dewa, Para Manusia, Para Iblis, dan Roh adalah satu kesatuan dalam kehampaan yang abadi..."

​"Apa maksudnya?" gumam Yu Fan, kepalanya mulai berdenyut sakit.

​Lantai aula itu terbelah, menampakkan tangga melingkar yang turun jauh ke bawah tanah, seolah menuju ke pusat bumi. Obor-obor sihir menyala otomatis saat Yu Fan melangkah turun. Di sepanjang dinding tangga, terdapat prasasti gambar yang menceritakan perang kolosal: makhluk bersayap dari langit bertempur melawan pasukan hitam dari dunia bawah.

​Setiap gambar yang ia lihat memicu kilasan ingatan samar yang menyakitkan. Ia melihat dirinya berdiri di tengah medan perang yang hancur, namun semuanya segera sirna.

​Di dasar tangga, Yu Fan menemukan sebuah perpustakaan kuno yang luar biasa besar. Anehnya, ia bisa mengerti teks-teks kuno yang seharusnya sudah punah. Salah satu buku menceritakan tentang sebuah pedang yang tertancap di Alam Iblis, menunggu tuannya selama puluhan ribu tahun. Namun, bagian yang menjelaskan identitas tuan tersebut telah sobek.

​Ia melanjutkan perjalanan hingga ke bagian terdalam reruntuhan. Di sana, ia menemukan akar raksasa dari pohon yang ada di atas. Energi di sini begitu padat hingga ia terpaksa duduk bersila dan bermeditasi.

​Dalam kultivasinya, ia kembali melihat taman persik itu. Gadis kecil itu tertawa, mengajaknya bermain. Namun tiba-tiba, taman itu terbakar. Mayat-mayat bergelimpangan. Di kejauhan, seorang pria berbaju hitam yang terluka parah berdiri sendirian dikelilingi oleh sosok-sosok bercahaya para Dewa. Wajah pria itu tidak jelas, namun ia menoleh ke arah Yu Fan.

​BOOM!

​Energi emas dan merah gelap dalam tubuh Yu Fan berputar seperti simbol Yin dan Yang yang sempurna. Dalam satu ledakan energi, Yu Fan berhasil menembus kemacetan kultivasinya dan melompat ke Master Tingkat 4 Tahap Akhir.

​Tiba-tiba, akar-akar pohon itu bergerak seperti ular, menyerang Yu Fan dengan ganas. "Berhenti!" teriak Yu Fan. Ia menebas akar-akar itu dengan Pedang Yin. Tak lama, seekor Ular Roh Hijau raksasa keluar dari balik akar, menyemburkan racun korosif.

​Yu Fan mencoba kekuatan barunya. Ia bergerak begitu cepat hingga bayangannya tertinggal. Dengan satu tebasan vertikal yang dilapisi energi Master tingkat akhir, ia membelah ular itu menjadi dua tanpa kesulitan berarti.

​Setelah pertarungan usai, akar-akar itu perlahan menyusut dan membuka sebuah bongkahan batu giok emas di tengah ruangan. Di dalamnya, tersegel seorang anak perempuan berusia sekitar 8 tahun. Wajahnya sangat cantik, dengan kulit seputih porselen dan nafas yang teratur.

​Yu Fan menyentuh giok itu, dan giok tersebut pecah seketika. Anak itu jatuh ke pelukan Yu Fan. "Siapa anak ini? Kenapa... kenapa hatiku terasa begitu sesak saat melihatnya?"

​Yu Fan memberikan pil penyembuhan dari Wakil Dekan. Anak itu masih tidur pulas. Yu Fan mengikat anak itu di dadanya dengan kain, mengumpulkan sisa dokumen penting, lalu terbang keluar dari reruntuhan dengan perasaan yang sangat bingung.

...****************...

​Dalam perjalanan pulang, saat melintasi hutan perbatasan, mata tajam Yu Fan menangkap sosok yang sangat ia kenali. Lin Xueru.

​Wanita itu terbaring di tanah dengan jubah putih yang koyak dan berlumuran darah. Ia tampaknya baru saja menyelesaikan pertarungan yang sangat berat. Saat Yu Fan mendarat, Xueru terbangun dengan waspada, namun ia segera menurunkan senjatanya saat melihat Yu Fan.

​"Kau... terluka lagi?" tanya Yu Fan khawatir. "Tugas macam apa yang sebenarnya kau jalankan?"

​Xueru menatap anak perempuan di gendongan Yu Fan dengan tatapan terkejut dan penuh tanda tanya, namun ia tidak bertanya. Ia bangkit dengan sisa tenaganya, wajahnya sedingin es seperti biasanya.

​"Bukan urusanmu, Yu Fan," jawab Xueru singkat. Tanpa sepatah kata pun penjelasan atau ucapan terima kasih, ia memanggil platform teratainya dan melesat pergi dengan kecepatan tinggi menuju akademi.

​Yu Fan hanya berdiri mematung. "Wanita itu... dia benar-benar penuh misteri. Dan sekte teratai putih itu, sepertinya mereka menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih besar dari yang ku bayangkan."

​Ia menunduk melihat wajah anak kecil di dadanya yang mulai bergerak sedikit. "Dan kau... siapa kau sebenarnya? Apakah kau kunci dari ingatanku yang hilang?"

​Dengan seribu pertanyaan di kepalanya, Yu Fan memacu energinya, terbang membelah awan menuju akademi, membawa rahasia besar yang mungkin akan mengubah tatanan dunia kultivasi selamanya.

1
WER
semangat author 👍👍👍👍
Fandi Syahputra: 💪 semangat 45
total 1 replies
Fandi Syahputra
hehehe🤭 support terus
T28J
cocok sama saya Thor... 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!