Larasati, gadis desa sederhana, percaya bahwa pernikahannya dengan Reza Adiguna akan membawa kebahagiaan. Namun semua harapan itu hancur di hari ia melahirkan—anaknya direbut, dirinya diceraikan, dan ia dicampakkan tanpa sempat memeluk buah hatinya.
Sendiri dan hancur, Larasati berjuang bertahan hidup di tengah kota yang asing. Hingga takdir mempertemukannya dengan Hajoon Albra Brajamusti, pria yang dulu pernah dikenalnya tanpa sengaja.
Dengan keberanian yang tumbuh dari luka, Larasati menyamar sebagai ibu susu demi bisa dekat dengan anaknya kembali.
Di tengah perjuangannya, hadir perasaan yang tak pernah ia duga.
Apakah Larasati sanggup merebut kembali anaknya sekaligus menemukan arti cinta sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cocok 15
Eva dan Rini langsung menuju ke kamar Baby El, dan benar saja apa yang dikatakan oleh wanita tadi bahwa Baby El tertidur pulas.
Rini dan Eva tersenyum dengan lebar mendapati bayi itu tenang. Ini adalah ketenangan yang tidak mereka dapatkan hampir 2 bulan ini.
"Sus, tadi bagaimana? Apa El benar-benar mau menyusu sama Mbak Saras?" tanya Eva, wajahnya sungguh menunjukkan rasa penasaran yang sangat dalam.
"Benar Bu, Baby El menyusu dengan sangat lahap. Dan dia bahkan langsung tidur,"jawab Suster Ani. Itu memang benar, bahkan Suster Ani saja sampai menatap lekat ke arah bayi yang begitu tenang di pangkuan wanita tadi.
"Aah syukurlah. Terus apa dia meninggalkan susu untuk El?" tanya Eva lagi.
Suster Ani mengangguk, dia memberikan beberapa kantong susu yang berisi ASI, dimana tadi baru saja di pumping langsung oleh Laras.
"Apa ASI dia banyak? Bukannya tadi dia nyusuin Baby El ya?" tanya Rini heran.
"Iya banyak Bu Rini. Yang sebelah di berikan kepada Baby El dan yang sebelah di pumping. Jadi setelah Baby El puas, masih ada satu kantong lagi hasil dari pumping."
Eva tersenyum cerah dengan jawaban Suster Ani. Dia sangat lega karena masih ada satu kantong susu yang bisa diminum oleh Baby El.
Kedamaian yang telah hilang sekian lama itu kini bisa kembali di rasakannya. Eva menatap lekat ke arah bayi yang ada di tempat tidurnya itu. Wajahnya sungguh terlihat damai, tidak seperti hari-hari sebelumnya.
"Kalau begitu, tolong jaga El. Kami ada yang mau dibicarakan dulu." Eva memberi instruksi kepada Suster Ani dan dijawab dengan anggukan kepala.
"Jadi, bagaimana Ma. Kita akan menerima wanita itu, siapa tadi namanya, Saras ya?" tanya Eva kepada Rini. Dia sangat senang sebenarnya karena telah menemukan ibu susu yang cocok bagi anak mereka. Bukan, lebih tepatnya anak dari suaminya-- Reza.
"Tentu saja kita harus menerimanya. Sudah sekian lama aku tidak merasa damai seperti ini. Nanti kalau Reza pulang kita langsung bilang saja,"sahut Rini.
"Langsung bilang apa, Ma?"
Reza melangkahkan kaki masuk ke rumah dengan mendengar sedikit ucapan Rini.
Pria itu juga sedikit merasa heran, pasalnya hari ini terasa seperti ada yang berbeda. Dari suasana rumah yang tenang ditambah senyum dari istri dan juga ibunya.
"Ah iya, kok sepertinya ada yang beda ya? Tapi apa?" gumam Reza.
"El, Mas. El sudah bisa tidur dengan tenang sekarang."
Aaaah
Jawaban Eva langsung membuat Reza mengerti bahwa yang membuat semuanya terasa beda adalah anak mereka. Baby El, dia tidak mendengar tangisan ketika pulang ke rumah kali ini.
"Iya benar, aku tidak mendengar El menangis. Bagaimana bisa?" tanya Reza dengan keheranan. Selama ini El selalu dan selalu menangis sehingga membuat Reza seolah tak betah untuk berada di rumah.
Bukannya membenci, namun dia merasa tidak sanggup saja mendengarkan tangis Elio yang terus menerus itu.
"Ada ibu susu yang cocok dengan El. Namanya Saraswati. Dan apa kamu tahu Za, dia adalah keponakan seorang Brigita Almeida."
Mata Reza seketika menyipit. Nama Brigita Almeida tentu bukan nama yang pasaran dan semua orang tahu bahwa dia merupakan seorang designer besar bersama sang adik.
Reza tak serta merta percaya dengan ucapan Rini, dan menganggap bahwa Rini hanya bercanda.
"Itu sungguhan, Mas. Apa yang dikatakan Mama itu benar. Tadi bahkan Nyonya Brigita datang sendiri ke sini untuk mengantarkan keponakannya. Dan ajaib, El langsung terdiam dan tertidur nyenyak saat disusui oleh Saras."
Ucapan dari Eva membuat Reza percaya. Tapi entah mengapa rasanya ada yang mengganjal. Namun dia menepis perasaan tidak enaknya itu.
"Bagus kalau begitu, akhirnya sekarang kita mendapat Ibu Susu yang cocok dengan El. Dan soal bayarannya bagaimana?"
"Itu belum dibahas, Mas. Mungkin nanti kali ya kalau dia datang kemari."
Ting Tong
Bel rumah berbunyi sangat nyaring. Salah seorag asisten rumah tangga segera berlari menuju ke pintu dan membukakannya. Tak lama, ia menghampiri si pemilik rumah sembari membawa sebuah goodie bag.
"Pak, Buk, ini ada kiriman,"ucapnya.
Eva langsung meraih tas tersebut. Dia pun segera membukanya. Ternyata di dalam sana ada beberapa kantong ASI. Dan ada sebuah catatan juga.
INI ASI UNTUK MALAM INI. BESOK SAYA AKAN DATANG UNTUK MENG-ASI-HI BABY EL.
SARASWATI
Mata Eva berbinar-binar melihat apa yang ia dapatkan. Seolah dia menemukan harta karun yang sangat berharga.
"Waaah Mas, lihat. Dia mengirimkan beberapa kantong ASI. Aku yakin malam ini El tidak akan rewel,"ucapnya riang.
"Ya syukurlah kalau begitu. Ya sudah aku masuk dulu mau mandi," sahut Reza lalu melenggang pergi ke kamar.
Eva menganggukkan kepala, dan bukan hanya dia yang senang melainkan Rini juga.
Sedangkan di sisi lain, seseorang tengah menangis. Dia bukannya sedih tetapi senang. Bahkan tangisnya sudah terjadi sejak dia meninggalkan kediaman Adiguna.
"Akhirnya Bu, akhirnya tangan ini memeluknya. Aaaah anakku."
Brigita hanya bisa diam, yang dia lakukan hanya membawa Laras dalam pelukannya dan mengusap punggung anak itu. Dia tidak menyangka bahwa rasanya akan sesakit dan sesulit ini hanya untuk bertemu dengan anak sendiri.
Tapi Brigita sangat salut, Laras ketika di rumah Adiguna tadi bisa menahan emosinya. Dia tidak menangis, dia juga tidak menunjukkan sikap yang berlebihan ketika bertemu dengan bayinya dan tetap bersikap tenang. Sungguh peran yang sempurna.
"Akhirnya kamu bisa bertemu dengan putramu, Nak. Ibu ikut senang. Kamu harus kuat, dan kamu harus hati-hati juga agar bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan. Tidak boleh lengah karena ini semua baru lah permulaan,"ucap Brigita pada akhirnya.
"Iya Bu, aku mengerti. Terimakasih Bu, terimakasih banyak sudah banyak membantu saya,"sahut Laras dengan mata yang basah dan isakan yang masih sangat kuat.
Apa yang dikatakan Brigita itu memang benar adanya bahwa semua ini hanyalah permintaan. Dia jelas tidak akan menyerah untuk kembali merengkuh anaknya. Dia tidak akan membuat usaha dan bantuan Hajoon menjadi sia-sia.
Maka dari itu ada satu hal yang jadi sebuah syarat bagi Laras nanti jika menjadi ibu susu tetap Elio. Dia tidak tinggal di rumah itu. Dia hanya akan berada di kediaman Adiguna dari pagi hingga sore hari.
Walaupun sebenarnya dia ingin berada di sisi putranya selama 24 jam, tapi itu tidak bisa dilakukan untuk meminimalisir identitasnya ketahuan nantinya.
"Aku, aku akan berusaha sebisa ku. Tunggu Ibu sayang, besok Ibu akan datang lagi untuk memelukmu."
TBC