NovelToon NovelToon
Sistem Pilihan Takdir

Sistem Pilihan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dikelilingi wanita cantik / Sistem
Popularitas:956
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

​Sinopsis
​Di Alam Fana, hukum rimba adalah satu-satunya kebenaran. Lin Chen, murid pelataran luar Sekte Pedang Awan, menyadari kenyataan pahit ini sejak hari pertama. Bakatnya pas-pasan, sumber dayanya selalu dirampas, dan nyawanya tak lebih berharga dari rumput liar. Saat maut hampir merenggutnya di ujung tebing, sebuah anomali tanpa asal-usul bangkit di dalam benaknya: Sistem Pilihan Takdir.
​Sistem ini menolak memberikan kekuatan instan. Setiap krisis hanya akan memunculkan tiga jalur pilihan di matanya, masing-masing membawa risiko dan hadiah yang berbeda. Hadiah tersebut bukanlah pil dewa yang langsung membuatnya kebal, melainkan teknik dasar, petunjuk tersembunyi, atau sekadar kesempatan bertahan hidup sesaat. Semuanya menuntut Lin Chen untuk memeras keringat, darah, dan akalnya sendiri. Dari kerasnya Alam Fana, merangkak naik menuju kemegahan Dunia Tengah para immortal hingga akhirnya mengincar keabadian sejati di alam dewa , Lin Chen mengukir jalannya selangkah demi selang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 13 senandung logam patah dan urat nadi bumi

Kabut merah dari sisa ledakan serbuk halusinogen perlahan memudar, tersapu oleh angin lembap Rawa Bisikan. Di tengah genangan lumpur hitam yang meletup-letup, dua sosok berdiri saling berhadapan. Jarak delapan meter di antara mereka terasa seolah dipenuhi oleh ribuan bilah pisau tak kasat mata.

Mo Jue menyilangkan sepasang pedang pendek melengkungnya di depan dada. Ujung bilah senjata itu memancarkan aura kebiruan, tanda bahwa Qi tingkat enam puncaknya sedang dipompa hingga batas maksimal. Sebagai seorang algojo elit, Mo Jue telah membunuh puluhan kultivator. Ia tidak pernah merasakan tekanan psikologis seberat ini saat berhadapan dengan seseorang yang level kultivasinya jauh di bawahnya.

Di seberangnya, Lin Chen berdiri dengan postur sedikit merendah. Napasnya teratur, membentuk irama panjang dan konstan melalui teknik *Napas Karang Esensi*. Darah menetes perlahan dari sayatan melintang di dadanya, mewarnai jubah abu-abunya menjadi merah gelap. Rasa perih akibat luka tersebut diredam oleh ketangguhan fisik perunggu yang baru ia tempa di Lembah Akar Kering. Balok Baja Hitam Rawa seberat seratus kilogram di kakinya mengunci pergerakannya, memaksa telapak kakinya amblas beberapa sentimeter ke dalam lumpur rawa.

"Kau memiliki fisik yang tangguh untuk ukuran serangga tingkat tiga," desis Mo Jue memecah kesunyian. Suaranya terdengar seperti gesekan dua lempeng besi karatan. "Baja tidak akan berguna jika pemegangnya kehabisan darah. Aku akan mengulitimu selapis demi selapis."

Lin Chen tidak membalas provokasi murahan itu. Ia melempar pedang curian di tangannya yang sudah sumbing dan bengkok ke dalam lumpur. Senjata biasa tidak lagi mampu menahan benturan Qi tingkat tinggi. Ia akan mengandalkan senjata yang paling ia percayai: kepalan tangannya sendiri.

*Srak!*

Mo Jue mengambil inisiatif. Algojo kurus itu melesat membelah udara. Kecepatannya sangat mengerikan, murni didukung oleh kelincahan tahap tingkat enam. Ia meninggalkan jejak bayangan di belakangnya, bergerak menyamping untuk menyerang dari titik buta Lin Chen.

"Sayatan Bulan Sabit Kembar!"

Mo Jue meraung, melontarkan dua tebasan silang yang mengincar leher dan pinggang Lin Chen secara bersamaan. Gelombang Qi berbentuk bulan sabit melesat membawa daya hancur yang mampu memotong pohon raksasa menjadi dua.

Lin Chen tidak membuang energi untuk melompat menjauh. Kakinya yang berat merupakan kelemahan sekaligus jangkar yang sempurna. Ia memfokuskan pandangannya, menangkap lintasan energi mematikan tersebut. Alih-alih menghindar total, pemuda itu memutar torsonya secara ekstrem ke arah kanan.

*Trang!*

Tebasan pertama meleset, hanya memotong beberapa helai rambut Lin Chen. Tebasan kedua mengenai sisi kiri pinggangnya. Kulit fisik perunggunya beradu dengan ketajaman Qi tingkat enam. Suara gesekan logam terdengar ngilu. Jubah Lin Chen robek seketika, menyisakan luka gores dalam yang memancarkan darah.

Lin Chen mengabaikan rasa sakit itu. Menggunakan momentum putaran tubuhnya dari tebasan musuh, ia memutar Qi di telapak kaki kanannya. Ledakan kecil tercipta di bawah lumpur. *Langkah Bayangan Berat* diaktifkan dalam jarak yang sangat pendek.

Tubuh Lin Chen melontar ke depan bagai peluru meriam, langsung masuk ke dalam zona pertahanan Mo Jue. Fragmen *Tinju Pemecah Batu* menyala merah di buku jarinya, menghantam lurus ke arah ulu hati sang algojo.

Mata Mo Jue membelalak. Ia tidak menyangka pemuda ini rela menukar luka demi mendapatkan jarak serangan frontal. Refleks tingkat enam puncaknya menyelamatkan nyawanya. Mo Jue menyilangkan kedua pedang melengkungnya di depan dada tepat sebelum tinju Lin Chen bersarang.

*BAM!*

Benturan dahsyat meledak. Kekuatan fisik Lin Chen yang disokong fondasi batu karang bertabrakan dengan pertahanan Qi Mo Jue.

Mo Jue terlempar mundur sejauh tiga langkah. Kedua tangannya bergetar hebat. Bilah pedang melengkungnya merintih menahan beban, nyaris patah akibat daya hancur *Batu Tumbuk*. Sang algojo menelan ludah dengan susah payah, menyadari bahwa satu pukulan telak dari monster ini bisa mengakhiri hidupnya, persis seperti yang dialami Li Kuang.

"Bocah gila!" umpat Mo Jue, langsung melompat mundur untuk menjaga jarak. Ia sadar pertarungan jarak dekat adalah wilayah kekuasaan Lin Chen.

Sang algojo mengubah strateginya. Ia memutar pedangnya, menembakkan belasan bilah angin dari jarak lima meter. Serangan beruntun ini dirancang untuk menguras stamina dan Qi Lin Chen secara perlahan.

Badai tebasan energi menghujani posisi Lin Chen. Lumpur hitam meledak ke udara, akar-akar pohon terpotong hancur.

Lin Chen menyilangkan kedua lengannya di depan wajah, membiarkan tubuh perunggunya menerima hujanan serangan tersebut. *Napas Karang Esensi* bekerja di luar batas, secara konstan memperbaiki sel-sel kulit yang robek. Setiap bilah energi yang mengenai lengannya meninggalkan sayatan berdarah. Pemuda itu terus didorong mundur, kakinya yang memakai pemberat meninggalkan jejak parit dalam di atas lumpur.

Dantian Lin Chen mulai bergolak. Menahan serangan tingkat enam secara pasif menguras energinya terlalu cepat. Jika ia terus membiarkan Mo Jue mendikte jarak pertarungan, ia akan mati kehabisan darah.

Pemuda itu menurunkan lengannya. Matanya memancarkan perhitungan matematis yang sangat dingin. Ia mengamati pola serangan Mo Jue, menghitung jeda waktu antara setiap tarikan napas sang algojo.

Satu detik. Dua detik. Tiga.

*Sekarang.*

Lin Chen meledakkan seluruh sisa Qi tingkat tiganya ke kaki kirinya. Ia melontarkan tubuhnya maju. Bukan lurus ke arah Mo Jue, melainkan ke arah sebuah akar gantung raksasa yang berada di sebelah kanan sang algojo.

Mo Jue tertawa sinis melihat pergerakan itu. "Ingin melarikan diri? Kau sudah kehabisan napas!"

Algojo kurus itu melesat mengejar, menyiapkan jurus pamungkasnya. "Tarian Bayangan Sabit!"

Tubuh Mo Jue terbelah menjadi tiga bayangan ilusi yang bergerak dari arah berbeda, semuanya mengincar titik vital Lin Chen. Ini adalah teknik andalan Fraksi Pedang Darah yang telah memakan ratusan korban jiwa. Mustahil membedakan mana tubuh asli dan mana bayangan dalam kecepatan tinggi.

Lin Chen mendarat di atas akar gantung yang licin. Ia tidak melarikan diri. Posisinya sekarang berada tepat di tepi sebuah lubang lumpur besar yang permukaannya terus meletupkan gelembung gas hijau pekat—gas rawa halusinogen murni yang belum menguap.

Tepat saat ketiga bayangan Mo Jue menerjang ke arahnya, layar cahaya biru transparan berpendar seketika di retina Lin Chen.

**[Situasi Kritis: Serangan Fatal Mendekat.]**

**[Silakan tentukan pertaruhan hidup Anda:]**

**[Pilihan 1: Buka pengait Baja Hitam Rawa sekarang juga.

Hadiah: Kecepatan maksimal pulih seketika, memungkinkan Anda menghindar. Proses penyempurnaan tulang kaki Anda gagal total dan tidak bisa diulang seumur hidup.]**

**[Pilihan 2: Tebak salah satu bayangan secara acak dan luncurkan 'Batu Tumbuk' kekuatan penuh.

Hadiah: Kesempatan hidup 33%. Jika tebakan salah, kepala Anda akan terpenggal seketika.]**

**[Pilihan 3: Gunakan tubuh Anda sendiri sebagai umpan. Biarkan pedang musuh menusuk area non-vital, jepit senjatanya dengan otot, lalu ledakkan gas rawa di bawah Anda.

Hadiah: Pemahaman tingkat lanjut 'Tubuh Baja'. Kepastian membunuh musuh 100%.]**

Sistem selalu menyodorkan jalan yang diwarnai oleh darah. Pilihan pertama membuang segala penderitaan yang telah ia jalani selama berhari-hari. Pilihan kedua bertaruh pada keberuntungan konyol yang dibenci oleh Lin Chen. Pilihan ketiga menjanjikan kemenangan absolut, dengan bayaran rasa sakit yang luar biasa.

"Kemenangan tidak pernah murah," batin Lin Chen tajam. Ia mengabaikan layar biru tersebut.

Ketiga bayangan Mo Jue menyatu kembali menjadi satu sosok tepat di depan wajah Lin Chen. Mata sang algojo memancarkan kilat kemenangan. Sepasang pedang melengkungnya meluncur silang, mengincar jantung dan leher.

Lin Chen tidak mengangkat tangannya untuk memukul. Ia memutar pinggangnya sedikit, menggeser letak organ vitalnya secara presisi berdasarkan pengetahuan anatomi yang tajam.

*JLEB! SRAK!*

Satu pedang melengkung Mo Jue menembus bahu kiri Lin Chen hingga mata pedangnya mencuat di punggung. Pedang lainnya merobek sisi kanan perutnya, meleset beberapa sentimeter dari organ lambung.

Mo Jue menyeringai lebar. "Sudah kubilang, serangga akan mati sebagai serangga."

Senyuman sang algojo tidak bertahan lebih dari satu detik. Ia mencoba menarik pedangnya keluar untuk memberikan serangan tebasan akhir, senjatanya tidak bergerak sama sekali.

Mata Mo Jue membelalak. Ia menatap ke arah Lin Chen.

Pemuda berjubah abu-abu kotor itu tidak menjerit. Lin Chen menatap Mo Jue dengan mata hitam yang sedingin jurang es. *Napas Karang Esensi* diaktifkan melampaui batas maksimal. Otot-otot bahu dan perut Lin Chen mengeras secara brutal, menjepit kedua bilah pedang Mo Jue bagai tang gelembung baja. Mo Jue benar-benar terkunci, kedua tangannya tertahan pada gagang senjatanya sendiri.

"Kau..." Mo Jue akhirnya merasakan teror murni merayapi sarafnya. Ia berhadapan dengan iblis yang mengabaikan keselamatan nyawanya sendiri demi menciptakan satu celah serangan.

"Waktumu habis," bisik Lin Chen perlahan, darah segar mengalir dari sudut bibirnya.

Lin Chen mengangkat kaki kanannya yang terbelenggu Baja Hitam seberat seratus kilogram. Ia tidak menendang Mo Jue. Ia menghentakkan kaki besinya itu sekuat tenaga ke atas permukaan akar gantung yang keras, menciptakan gesekan ekstrem yang memercikkan bunga api.

Bunga api itu jatuh tepat ke dalam lubang lumpur gas rawa hijau di bawah mereka.

*BOOOM!*

Ledakan gas rawa yang sangat dahsyat meletus, menciptakan tiang api dan lumpur yang membumbung setinggi sepuluh meter. Gelombang kejutnya menghantam kedua petarung yang sedang terkunci itu dalam jarak nol sentimeter.

Kekuatan ledakan menghempaskan Mo Jue. Ia melepaskan gagang pedangnya karena kepanikan dan rasa panas yang membakar kulitnya. Algojo kurus itu terlempar ke udara, melayang tanpa perlindungan dalam kondisi bingung dan terbakar.

Lin Chen membiarkan ledakan itu melontarkan tubuhnya sendiri ke udara, menyusul arah terbang Mo Jue. Fisik perunggunya menahan luka bakar ledakan jauh lebih baik daripada tubuh musuhnya.

Di udara, tanpa pijakan sama sekali, Lin Chen menarik tangan kanannya ke belakang. Sisa Qi terakhir di Dantiannya diperas habis, mengalir deras ke buku jarinya. Magma kemerahan dari *Tinju Pemecah Batu* menyala sangat terang, mengalahkan cahaya api rawa di bawah mereka.

Mo Jue melihat tinju maut itu mendekat ke arah wajahnya. Ia tidak memiliki ruang untuk menghindar, tidak memiliki senjata untuk menangkis, dan Qi-nya telah kacau balau akibat ledakan.

"T-Tidaaak!" jeritan putus asa Mo Jue menggema membelah kabut Rawa Bisikan.

*KRAAAK!*

Tinju Lin Chen menghantam tepat di tengah wajah sang algojo dengan kekuatan meteor jatuh. Tulang tengkorak Mo Jue melesak hancur seketika. Ledakan energi spiritual menyapu bersih isi kepalanya. Tubuh tanpa nyawa itu terhempas layaknya boneka kain yang rusak, menabrak batang pohon kristal raksasa, lalu melorot jatuh tertelan oleh lumpur hitam rawa.

Pertarungan berakhir.

Gaya gravitasi menarik Lin Chen jatuh. Ia menghantam tanah berbatu di pinggir rawa dengan keras. Tubuhnya berguling beberapa kali sebelum akhirnya berhenti.

Sunyi kembali menyelimuti Rawa Bisikan, hanya diselingi letupan kecil lumpur mendidih dan suara napas Lin Chen yang tersengal-sengal.

Pemuda itu berbaring telentang, menatap langit ungu kelabu Hutan Ilusi. Seluruh persendian tubuhnya menjerit kesakitan. Dua bilah pedang Mo Jue masih tertancap di bahu kiri dan perut kanannya. Darah menggenang di bawah tubuhnya. Dantiannya benar-benar kosong, tidak menyisakan satu tetes energi pun. Jika ada satu saja murid tingkat pertama yang lewat saat ini, Lin Chen akan mati tanpa bisa melawan.

**[Pilihan 3 diselesaikan.]**

**[Pemahaman 'Tubuh Baja' tingkat lanjut tercapai. Kepadatan otot Anda meningkat secara permanen.]**

Lin Chen mengatupkan rahangnya. Menggunakan sisa tenaga fisiknya yang menolak untuk mati, ia meraih gagang pedang di perutnya. Menarik napas dalam-dalam, ia mencabut bilah logam itu dengan satu sentakan kasar.

Darah memuncrat. Ia segera menekan titik meridian di sekitarnya menggunakan jari-jarinya untuk menghentikan pendarahan. Proses yang sama ia lakukan pada pedang di bahu kirinya. Ritual penyiksaan diri yang sudah menjadi kebiasaannya.

Ia menyeret tubuhnya yang hancur, merangkak menghampiri mayat Mo Jue yang setengah tenggelam di lumpur. Menggeledah pakaian algojo itu, Lin Chen menemukan sebuah kantong penyimpanan tingkat menengah. Membukanya, ia menemukan puluhan botol pil penyembuh kualitas tinggi, seratus keping Batu Roh Tingkat Rendah, dan sebuah peta rahasia Fraksi Pedang Darah.

Perhatian Lin Chen beralih pada sistem peringatan yang sebelumnya menyebutkan tentang hadiah Batu Urat Roh Kualitas Tinggi.

Ia mengamati sekitar titik tempat Mo Jue terhempas. Tepat di bawah akar pohon kristal yang sebagian hancur akibat ledakan gas, sebuah cahaya keperakan memancar redup dari balik bongkahan lumpur.

Lin Chen menggali lumpur tersebut menggunakan pedang Mo Jue. Sebuah kristal sebesar kepalan tangan, berbentuk seperti miniatur jantung yang berdenyut dengan energi murni elemen bumi, tergeletak di sana. Itulah Urat Nadi Bumi, batu roh alami kualitas tinggi yang menjadi tujuan utama seluruh murid dalam perburuan ini. Nilainya setara dengan sepuluh Batu Roh Tingkat Menengah biasa.

Ia menyimpan kristal itu dan seluruh barang jarahannya ke dalam kantong pribadinya.

Beban di kakinya terasa semakin menyiksa. Tubuhnya meminta untuk diistirahatkan. Hutan Ilusi tidak mengenal kata istirahat. Kabut merah dan ledakan tadi pasti akan menarik perhatian binatang buas atau kelompok murid lainnya.

Memaksa tubuhnya bangkit, Lin Chen menggunakan pedang Mo Jue sebagai tongkat penyangga. Ia harus segera mencari gua atau ceruk tersembunyi. Tiga puluh elit Fraksi Pedang Darah telah dimusnahkan. Zhao Tian telah kehilangan taring utamanya di pelataran luar. Kemenangan ini belum lengkap sebelum ia memulihkan kekuatannya dan menggunakan Urat Nadi Bumi itu untuk menerobos ke tingkat empat.

Tertatih-tatih, sang pemburu bayangan berjalan semakin dalam ke jantung Hutan Ilusi, meninggalkan lautan mayat di Rawa Bisikan sebagai saksi bisu kebangkitan sang Iblis Pelataran Luar.

Tiga hari berlalu sejak pembantaian di Rawa Bisikan. Hutan Ilusi menyimpan rahasianya dengan baik, menelan mayat-mayat tersebut di bawah lapisan lumpur dan kabut. Kabar hilangnya kelompok Mo Jue belum menyebar luas, dimensi ini sangat luas dan setiap kelompok sibuk mempertahankan nyawa mereka sendiri dari serangan hewan buas atau perebutan sumber daya.

Di bagian utara Hutan Ilusi, tersembunyi di balik tebing curam yang tertutup sulur berduri, sebuah gua kecil memancarkan cahaya keperakan redup. Pintu masuk gua itu telah ditutupi batu besar dan ditaburi bubuk pengusir binatang buas.

Di dalam gua tersebut, Lin Chen duduk bersila tanpa mengenakan atasan. Luka tusuk di bahu dan perutnya telah menutup sepenuhnya, meninggalkan bekas luka merah muda yang terlihat mencolok di atas kulit perunggunya. Pil penyembuh kualitas tinggi milik Mo Jue, dipadukan dengan regenerasi *Napas Karang Esensi*, memotong waktu pemulihannya secara drastis.

Kini, seluruh fokusnya tertuju pada batu kristal seukuran kepalan tangan yang melayang lambat tepat di depan dadanya. Batu Urat Roh Kualitas Tinggi.

"Energinya terlalu masif," gumam Lin Chen, keringat dingin membasahi pelipisnya.

Berbeda dengan Batu Roh Tingkat Menengah yang ia gunakan sebelumnya, Urat Nadi Bumi ini memiliki 'kehendak' elemen alam liar. Jika diserap secara sembarangan, energi bumi ini akan membatu (petrify) meridian penggunanya, mengubah daging menjadi bongkahan batu dalam hitungan jam. Sebagian besar murid yang menemukannya akan menyerahkannya ke sekte untuk ditukar dengan poin jasa, karena proses penyerapannya membutuhkan pengawasan tetua ahli.

Menyerahkan harta berharga ini kepada sekte tidak pernah terlintas dalam pikiran Lin Chen. Sekte hanya akan memberinya imbalan yang jauh di bawah nilai aslinya, lalu mempersembahkan batu ini kepada kandidat pelataran dalam seperti Zhao Tian.

Layar biru transparan kembali berpendar, menawarkan panduannya yang tegas.

**[Kondisi Penyerapan Urat Nadi Bumi Terdeteksi.]**

**[Peringatan: Energi berelemen tanah purba akan menyebabkan petrifikasi jika tidak dikelola dengan benar.]**

**[Silakan tentukan metode terobosan Anda:]**

**[Pilihan 1: Bawa keluar dimensi, serahkan ke Paviliun Misi.

Hadiah: Anda menerima 5000 Poin Jasa. Aman dari risiko. Kultivasi Anda tidak mengalami kemajuan pesat dalam waktu dekat.]**

**[Pilihan 2: Giling batu tersebut menjadi bubuk, campur dengan air minum selama tiga puluh hari.

Hadiah: Penyerapan lambat dan tidak merata. Anda perlahan mencapai Tingkat Empat, dengan potensi kerusakan ginjal spiritual jangka panjang.]**

**[Pilihan 3: Gunakan tekanan dari beban Baja Hitam di kaki Anda. Alirkan seluruh energi bumi tersebut dari kepala langsung ke kaki. Biarkan benturan antara gravitasi baja dan energi bumi menghancurkan dinding meridian utama Anda, memaksa formasi pelebaran absolut.

Hadiah: Anda menerobos Tahap Kondensasi Qi Tingkat Empat Puncak. Membangkitkan bakat bawaan: 'Akar Tanah Besi'.]**

Lin Chen membaca pilihan ketiga dengan napas tertahan. 'Akar Tanah Besi'. Bakat bawaannya yang selama ini dianggap cacat—elemen Kayu dan Tanah kualitas rendah—bisa dievolusi. Sistem menawarkan sebuah jalan modifikasi talenta murni melalui rasa sakit yang brutal. Mengalirkan energi alam yang liar langsung menabrak beban fisik seratus kilogram adalah konsep penghancuran yang gila.

Ia menatap kedua kakinya yang masih terbelenggu erat oleh Baja Hitam Rawa. Tiga hari penuh di dalam gua membuatnya perlahan terbiasa dengan berat tersebut.

"Pilihan ketiga," suaranya menggema tegas di dalam gua yang sunyi.

Layar menghilang. Panduan sirkulasi yang rumit tercetak di lautan spiritualnya.

Lin Chen mengatupkan giginya. Ia menempelkan telapak tangannya pada kristal Urat Nadi Bumi yang melayang. Tidak menggunakan tarikan perlahan, ia justru memaksa Dantiannya berputar terbalik, menciptakan ruang hampa, menyedot seluruh energi kristal itu sekaligus dalam satu tarikan napas panjang.

*WUUUSSS!*

Kristal di tangannya seketika retak dan berubah menjadi debu perak.

Gelombang energi yang sangat kolosal meledak membanjiri tubuh Lin Chen. Hawa dingin yang teramat sangat menyelimuti setiap selnya, disusul oleh sensasi kaku yang mengerikan. Kulitnya perlahan mulai berubah warna menjadi abu-abu pucat, tanda petrifikasi mulai menjalar.

Sesuai instruksi Sistem, Lin Chen tidak membiarkan energi itu berlama-lama di dalam Dantian. Menggunakan kekuatan tekadnya yang telah ditempa oleh siksaan tanpa akhir, ia mendorong seluruh massa energi batu itu turun layaknya air terjun, melewati paha, betis, dan menghantamkannya tepat ke area pergelangan kakinya.

Di sanalah beban Baja Hitam Rawa menahan tekanannya.

*BAM!*

Benturan antara energi bumi purba dari dalam dan gravitasi logam baja dari luar terjadi di dalam sumsum tulangnya.

"AAARGH!"

Jeritan kesakitan Lin Chen menggelegar tertahan di dinding gua. Tubuhnya mengejang hebat. Meridian di kedua kakinya hancur berkeping-keping. Pembuluh darahnya pecah, menyemburkan darah segar dari pori-pori kulitnya. Rasa sakitnya melampaui segala yang pernah ia alami. Ia merasa seperti tubuhnya dimasukkan ke dalam mesin giling batu berukuran raksasa.

Dinding meridiannya runtuh. Di tengah keruntuhan tersebut, esensi dari Urat Nadi Bumi meresap masuk, melapisi reruntuhan meridian itu, lalu membangunnya kembali menjadi jalur energi yang sepuluh kali lipat lebih lebar dan setebal dinding benteng.

Kekakuan petrifikasi di kulitnya pecah layaknya cangkang telur.

Pusaran energi di dalam Dantiannya meledak dan mengembang pesat. Kapasitas energinya meluap, memecahkan batas tingkat tiga, mengalir deras memasuki tingkat empat, dan terus mendaki dengan kecepatan mengerikan hingga berhenti stabil di ambang pintu tingkat lima.

**Tahap Kondensasi Qi Tingkat Empat Puncak.**

Udara di dalam gua beriak ganas. Pusaran angin kecil terbentuk di sekitar tubuh Lin Chen, menyapu debu dan kerikil. Cahaya perunggu di kulitnya kini memiliki corak keabu-abuan logam, tanda bahwa 'Akar Tanah Besi' telah aktif secara permanen. Bakat bawaannya tidak lagi masuk kategori sampah; fondasi tanahnya kini sekeras baja ilahi.

Berjam-jam kemudian, saat pusaran energi itu mereda, Lin Chen perlahan membuka matanya. Pandangannya begitu tajam hingga seolah mampu memotong udara di depannya.

Ia berdiri. Kali ini, tidak ada suara lutut yang bergetar. Tidak ada langkah yang terseret.

Meskipun beban seratus kilogram Baja Hitam masih terikat di kakinya, Lin Chen melangkah dengan tenang dan stabil layaknya berjalan di atas awan. Kepadatan otot, kelebaran meridian, dan pasokan Qi tingkat empat puncaknya telah sepenuhnya menaklukkan beban tersebut. Ia telah berevolusi menjadi wujud predator yang sempurna di ranah tingkat menengah.

Pemuda itu mengikat rambutnya dengan seutas kain bersih yang ia rampas. Ia menendang bongkahan batu besar penutup pintu gua hingga hancur berkeping-keping hanya dengan satu ayunan kaki kasarnya, membiarkan cahaya ungu Hutan Ilusi menerangi wajahnya.

Tujuh hari perburuan baru berjalan separuhnya. Masih banyak murid yang berkeliaran mengumpulkan harta. Masih banyak nyawa yang bisa ia jadikan pijakan.

"Zhao Tian, kau tidak perlu menungguku kembali ke pelataran luar," gumam Lin Chen, senyum iblis yang sejati akhirnya merekah sempurna di wajahnya. "Aku akan membawa neraka ini langsung kepadamu."

Meninggalkan tempat persembunyiannya, sang Iblis Pelataran Luar melesat menembus kanopi hutan dengan kecepatan yang tidak lagi bisa dilihat oleh mata telanjang. Hari-hari persembunyian telah usai. Fase pembantaian massal yang akan mengguncang pondasi Sekte Pedang Awan resmi dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!